Ecstasy

Ecstasy
Part 51



“Tentu saja tidak, aku masih waras, mana mungkin ku foto saat transaksi, bisa jadi masalah dan barang bukti kalau tertangkap polisi,” kilah Brandon. Aman, banyak alasan yang sudah dipersiapkan. Bahkan telah latihan juga menjawab tanpa gugup dan cenderung santai supaya tidak dicurigai. Orang yang biasa mengelabuhi, berbohong, dan berbuat licik, sudah pasti tak mudah percaya. Maka dari itu, semua telah diantisipasi.


“Oh, ku pikir kau memotret saat transaksi.”


“Tidak.”


“Lalu, foto yang kau maksud itu apa?” Alex menginterogasi sangat detail. Tidak semudah itu langsung bertemu dengan penjahat kelas kakap.


“Pas fotonya, untuk berjaga-jaga mereka kabur tanpa memberikan setoran padaku, maka ku potret kartu identitasnya.”


“Oh, ya? Coba ku lihat.”


Brandon mengeluarkan ponsel, menunjukkan sekitar tiga puluh kartu identitas. Alex nampak kembali menghubungi bosnya tapi tetap di depannya. Jadilah bisa terdengar apa yang dibicarakan.


“Dia sungguh memiliki pengedar, ku rasa memang wajar bisa menghabiskan sebanyak itu dalam waktu satu minggu karena tidak bekerja sendiri.”


‘Benar seperti dugaan, pasti mereka meragukan kalau aku bisa menjual habis,’ gumam Brandon dalam hati.


Brandon tiba-tiba menaikkan sebelah alis ketika Alex melirik ke arahnya. Sepertinya pria itu sedang diperintahkan untuk bertanya.


“Dari mana kau dapatkan semua pengedar itu?” tanya Alex.


“Aku mencari pemuda pengangguran yang senang mabuk tapi tak memiliki uang, ku janjikan mereka penghasilan kalau berhasil menjual permen ini dalam waktu kurang dari satu minggu,” jelas Brandon. Sengaja suara lebih dikeraskan agar bos narkoba yang sedang ditelepon oleh Alex bisa mendengar.


Alex terlihat mematikan ponsel. “Bosku mau bertemu denganmu, untuk memberikan kau anggota khusus. Kebetulan dia sedang ada misi memperluas pasar sampai Asia, Australia, Amerika, dan Timur Tengah. Jadi, bawa para pengedarmu, mereka akan berguna untuk melakukan penyelundupan.”


Brandon tidak boleh menunjukkan rasa puas, tetap memasang wajah sedatar mungkin. “Sekarang?”


“Bukan, tapi besok malam.”


“Gudang milik bosku, kau tak akan tahu lokasinya, maka datanglah ke sini dan ku antar ke sana.”


“Oke, akan ku hubungi mereka agar ikut.”


Brandon tidak langsung pergi dari kediaman Alex. Dia mengobrol sejenak, memperbincangkan bagaimana menjadi bandar tapi tak pernah terciduk oleh polisi, lebih tepatnya berhasil menghindar dari pihak berwajib.


...........


Brandon baru pulang ketika tengah malam, mengecek ponsel ternyata sudah ada panggilan tidak terjawab sebanyak lebih dari dua puluh kali. Selena sampai mengirimkan pesan berupa pertanyaan.


‘Ini sudah satu minggu, kenapa kau tidak segera pulang? Apakah urusannya belum selesai?’ Ada pesan yang tersemat sebuah rasa khawatir seorang istri pada suaminya.


Brandon melihat kontak istrinya sedang online pun akhirnya akan menjawab melalui telepon. Hanya butuh waktu satu detik, langsung diangkat.


“Aku mencemaskanmu.” Pertama kali kalimat yang langsung diucapkan oleh Selena adalah itu.


“Iya, maaf, sepertinya aku belum bisa pulang, masih butuh waktu sebentar lagi. Mungkin tiga hari.”


“Kenapa lama sekali?”


“Ternyata tidak semudah yang ku bayangkan untuk menyelesaikan misi ini, mereka penjahat kelas kakap yang tak sembarang orang bisa menemui.”


Selena merubah mode panggilan suara menjadi video. Keduanya kini bisa saling menatap satu sama lain dari layar.


“Bisakah kau pulang saja? Berhentilah mengurus ini, biarkan pihak berwajib yang menyelesaikan. Setiap hari hatiku selalu berdebar karena takut kau terluka. Yang dihadapi bukan orang biasa, ini penjahat yang pasti bisa nekat melakukan apa pun.” Selena sampai memohon dengan suaminya. Entah kenapa memiliki firasat yang tak enak akhir-akhir ini.