Ecstasy

Ecstasy
Part 33



“Aku pulang ....” Brandon sengaja meninggikan suara saat mengucapkan itu. Supaya kedua orang tuanya yang sedang asyik karaoke bisa mendengar dan melihat ke arahnya.


Tapi, kenyataan tak seindah harapan. Setidaknya, kalau tidak menjemput, sambutlah dengan riang, pelukan layaknya orang tua pada anak. Namun, kenyataannya? Ia masih diabaikan sampai detik ini.


Brandon mengayunkan kaki, mendekati orang tuanya yang duduk di sofa sembari memegang sebuah microphone. “Mom, Dad?” Ia memanggil seraya menyentuh pundak keduanya.


Barulah Tuan dan Nyonya Brooks menengok. Keduanya biasa saja saat melihat putra mereka sudah berkumpul lagi di mansion.


Padahal, Brandon telah merentangkan tangan, berharap akan mendapatkan pelukan dan mimik haru dari orang tuanya. Ternyata, yang didapat sungguh diluar ekspektasi.


“Oh,” ucap Tuan dan Nyonya Brooks.


Saat itu juga Brandon langsung memudarkan senyum karena merasakan kalau reaksi orang tuanya sangat dingin. Ia mengayunkan kaki untuk mematikan televisi. Sepertinya perlu berbicara akan hal ini.


“Kenapa kau merusak kesenangan kami?” omel Nyonya Brooks.


Brandon tidak peduli kalau Mommy dan Daddynya marah. Dia justru ikut duduk di sofa hingga bisa melihat wajah orang tuanya. “Anak kalian pulang, apa tak ingin menyambutku dengan pelukan?”


“Untuk apa? Memberikan selamat karena kau bekas pecandu?” Sinis sekali Tuan Brooks menjawab pertanyaan putranya.


“Setidaknya peluk aku, meskipun tak menjemput atau menjengukku di pusat rehabilitasi. Justru kalian menjadi sangat dingin padaku.” Brandon tentu saja mengeluh, tidak ada kehangatan keluarga yang didapatkan saat ini. Padahal dia sangat membutuhkan itu.


“Kau sudah membuat nama baik keluarga ini buruk! Pikir saja, bahkan kalau bisa, aku tak ingin menganggapmu sebagai anak lagi. Tidak pernah sekalipun ku ajarkan kau mengkonsumsi obat terlarang.”


Brandon mengepalkan tangan ketika Daddynya mengeluarkan kalimat tersebut. Begitu menyayat. Sudah seperti anak pungut saja dia. “Aku tahu kalau salah. Tapi, aku sudah sembuh dan tak menjadi pecandu. Lagi pula, aku dijebak, bukan atas keingan sendiri.”


“Sudahlah, kami sedang malas diganggu.” Nyonya Brooks menggandeng sang suami untuk diajak pergi. Masih sakit hati dia karena ulah Brandon, membuatnya menjadi dipandang sebelah mata dan dikucilkan oleh kumpulan sosialita yang diikuti.


Brandon menghela napas kasar. Mencoba memahami perasaan orang tuanya yang kecewa. Tapi, sekecewanya mereka, setidaknya harus bahagia kalau mendengar kabar gembira. “Apa kalian tahu, aku memiliki anak, tandanya itu adalah cucu kalian.”


“Kami sudah tahu.”


Tidak ada raut gembira sedikit pun yang tergambar di wajah dua paruh baya tersebut. Membuat Brandon berdiri untuk menahan kedua orang tuanya supaya tak jadi masuk ke dalam kamar.


“Tak masalah kalian tidak menyambutku saat terbebas. Tapi, ini cucu keluarga Brooks? Apa tetap mau mengabaikan juga?” Brandon sampai menggelengkan kepala dan tidak habis pikir dengan pola pikir keluarganya.


“Mendapatkan cucu dari cara menghamili wanita yang sudah kau nodai secara paksa? Apa kami harus bahagia? Mau ditaruh mana muka Mommy dan Daddymu pada keluarga mereka? Bagaimana anggapan orang lain? Keluarga Brooks gagal mendidik putranya?” Nyonya di mansion itu menggelengkan kepala dengan tatapan kecewa pada anaknya. “Hancur hatiku sebagai orang tuamu saat tahu ternyata kelakuanmu begitu buruk.” Dia menangis seraya memukul dada sendiri seakan semua yang terjadi sangat memilukan.


...*****...


...Sian amat lu Gendon, Mamak sama Bapak kau tak da akhlak...