
Pagi ini Aiman agak siang datang ke kantor karena dia bangun kesiangan akibat insomnia semalam. Aiman melangkahkan kakinya di ruang lobi. Wajah dinginnya selalu menghiasi. Memang tipikal Aiman yang pelit senyum. Walaupun begitu aura ketampanannya tetap terpancar.
Tidak ada wanita yang berani mendekatinya karena sebelum mendekat pun dia yang akan menjauh. Ah karena sikapnya itu dia pun digosipin sebagai pria BPJS.
Masuk ke ruangannya Aiman mengedarkan pandangannya. Lantainya sudah mengkilat. Meja kerjanya juga tak berdebu dan sudah ada bunga segar di sana.
'Sejak kapan ada bunga di atas meja ku' gumam Aiman.
Aiman mengeluarkan ponselnya dan menelpon Bobi. Tak sampai 10 menit pintu ruangannya diketuk.
Tok.Tok.Tok
"Masuk!" perintah Aiman.
Aruna yang mendapat perintah dari Bobi untuk menemui Aiman di ruangan, dia pun langsung menuju kesana.
"Ada apa pak?" tanya Aruna polos.
Pekerjaannya sudah beres seperti biasa, apa yang mau bosnya itu komplain kan.
"Kamu yang menaruh bunga ini disini?" tunjuk Aiman.
'Aduh ini karena ide mba Meri, sudah ku bilang dia nggak bakalan suka' Aruna menarik napas pelan.
"Iya pak. Kalau bapak nggak suka biar saya buang saja" tangan Aruna meraih vas bunga yang ia beri beberapa kuntum mawar pink yang sudah tidak ada durinya lagi.
"Eh... Nggak apa disitu. Saya hanya bertanya saja" ralat Aiman agar Aruna tidak salah mengartikan ucapannya.
"Oya pak, saya mau kasih ini ke bapak" ujar Aruna menyodorkan kotak kecil yang terbungkus kertas kado.
"Apa ini?" tanya Aiman mengambil kotak kecil itu.
"Hm bapak jangan marah ya. Itu sebagai tanda maaf dari saya" ucap Aruna bingung.
"Maaf?" Aiman mengeryitkan dahinya.
"Iya waktu saya bawa jas dan kemeja bapak untuk dicuci kan ada dasinya. Nah dasinya itu..."
Aruna menggantung ucapannya takut Aiman marah. Padahal Aiman tidak ingat sama sekali soal dasi itu karena dia punya banyak stok dasi.
"Kenapa dengan dasinya?" tatap Aiman penasaran.
"Da...dasinya terbakar kena setrika" jawab Aruna pelan.
"Tapi bapak jangan marah...saya sudah menggantinya" lanjut Aruna memohon sambil menunjuk ke arah kotak yang dipegang Aiman.
Aiman tersenyum, menatap Aruna tidak percaya. Hal yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya malah menjadi pikiran gadis itu.
"Makanya kamu menghindari saya" Aiman berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Aruna.
"Ah itu...tidak kok" elak Aruna salah tingkah.
"Sakit perut lah, datang lebih pagi, menunggu saya pulang lebih dulu" ucap Aiman semakin mendekati Aruna.
Aruna menggelengkan kepalanya. Padahal Aruna memang sengaja tidak mau bertemu dengan Aiman lagi.
"Kenapa menghindari ku?" tatap Aiman.
"Tidak pak...itu hanya perasaan bapak saja"
Aruna masih saja ngeles. Padahal dia setengah mati tidak mau bertemu Aiman lagi.
"Perasaan ku? Jadi hanya aku yang merasakan?" tatap Aiman kesal.
Gadis di depannya ini benar-benar tidak peka. Aruna tersenyum keki. Dia benar-benar bingung.
"Aruna. Kau sudah membuat jantung ku bermasalah!" ujar Aiman hampir berteriak.
"Hah!!" Aruna sangat terkejut.
"Ya Tuhan. Maafkan saya pak. Lebih baik saya dipecat saja daripada harus membiayai penyakit jantung bapak. Saya tidak punya uang, pak" ujar Aruna lugu dengan wajah memelas.
"Aruna!!" teriak Aiman mengusap wajah tampannya. Dia benar-benar kesal dengan sikap lugu gadis di hadapannya itu.
"Bapak jangan teriak-teriak nanti jantungnya tambah bermasalah" ujar Aruna cemas.
Aiman lalu berbalik menarik napas kasar. "Sudah sana kembalilah ke ruangan mu" perintah Aiman dengan wajah menahan rasa kesalnya.
Tanpa pikir lama, Aruna segera keluar dari ruangan Aiman. Aiman pun menghempaskan badannya di kursi kerjanya.
Bhuahahaha. Tawa Rafli menggema di ruangan Aiman setelah mendengar cerita langsung dari atasannya itu.
"Lugu banget gadis itu" ucap Rafli masih menahan tawa.
Aiman menatap sebal ke arah Rafli. Bagus sekali! Ceritanya barusan memang sangat lucu luar biasa didengar oleh Rafli.
"Tapi serius Man, kamu suka sama Aruna?" tanya Rafli.
"Nggak ada gunanya aku bilang iya sama kamu" jawab Aiman cuek.
"Aruna itu cantik juga, kalau terus diperhatikan lama-lama mirip tante Amanda" gumam Rafli.
"Bedanya Aruna punya dua lesung pipit kalau dia tersenyum manis sekali" lanjut Rafli memuji Aruna.
"Di dekatnya badan ku tidak bereaksi apa-apa. Maksud ku, alergi ku tidak kambuh, Raf" ujar Aiman mengingat kejadian kemarin-kemarin ketika dia berada di dekat Aruna.
"Wah bisa jadi kamu emang cocok sama dia, tapi apa om dan tante setuju apalagi kalau tahu status Aruna di perusahaan ini" ujar Rafli seolah-olah sedang berpikir.
"Ah bodo amat!!"
Rafli terkekeh. 'Sepertinya Aiman sudah jatuh cinta berat dengan gadis itu'
Pulang dari kantor, Aiman membuka kotak kecil pemberian Aruna tadi. Aiman tersenyum sambil memegang kotak kecil itu yang ternyata isinya berupa dasi berwarna navy dengan list tipis berwarna putih.
"Apa gajinya masih bersisa sudah membelikan dasi ini?" gumam Aiman melihat merk yang sama persis dengan dasi miliknya.
"Untuk hal itu ku akui dia sangat peka tapi soal perasaan...hmm polos dan lugu"
Aiman menyimpan dasi pemberian Aruna di lemari pakaiannya. Besok dia akan memakai dasi itu.
Keesokan paginya
Rafli bergegas menemui Aiman. Hari ini dia membeli koran langsung di pinggir jalan ketika lampu merah. Beritanya membuat Rafli menahan tawa.
"Man, lihat headline berita ini" ujar Rafli melempar koran yang dibelinya tadi ke meja Aiman.
"Ada berita apa?" tanya Aiman datar.
"Lihat headlinenya" tunjuk Rafli.
Aiman membulatkan matanya membaca judul headline tentangnya. CEO muda Circle Corp menderita penyakit jantung.
"Arunaaaa!!!" teriak Aiman kesal.
Rafli segera menelpon Bobi jika Aiman sudah berteriak begitu. Tidak lama Aruna sudah ada di ruangan Aiman. Aruna sendiri tidak tahu kenapa lagi dia dipanggil. Aiman dan Rafli mengamati wajah polos Aruna.
"Baca koran itu!" perintah Aiman melempar koran ke sudut mejanya agar Aruna mengambilnya.
"Untuk apa pak?" tanya Aruna bingung.
"Baca halaman depannya" ketus Aiman menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ceo muda Circle Corp menderita penyakit jantung" ujar Aruna membaca judul yang terpampang jelas di halaman depan koran.
"Ceo Circle Corp kan bapak" tunjuk Aruna lugu melihat Aiman.
"Ck...Semua orang juga tahu Aruna!!" dengus Aiman.
"Yang pak Aiman maksud berita itu dimuat gara-gara kamu kan?" sela Rafli.
"Ti...tidak pak. Kenapa bapak menuduh saya" elak Aruna takut.
'Aku kan hanya cerita di ruangan OB masa teman-teman di OB langsung memasukkannya ke koran' batin Aruna berpikir panjang.
"Kamu boleh pergi" ujar Aiman daripada dia bertambah kesal. Aruna pun segera keluar dari ruangan Aiman.
"Kayaknya dia jujur, Man" toleh Rafli setelah Aruna pergi meninggalkan ruangan mereka.
"Lantas siapa?" Aiman memicingkan matanya.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan. Ayo ke cafetaria sebentar makan cemilan atau apalah" ajak Rafli.
Aiman pun menurut toh dia juga tadi di rumah belum sempat sarapan.
Selama di cafetaria ponsel Aiman tidak berhenti berdering karena banyak pihak dan rekan bisnisnya meminta konfirmasi kepadanya perihal berita yang ada di koran pagi ini. Aiman pun mematikan ponselnya karena pusing menanggapi berita itu.