Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 6: Berbohong



Haikal menemui Harun yang sedang duduk santai di taman belakang rumahnya.


"Ada info apa?" tanya Harun.


"Dia ada di perusahaan anda, Tuan" jawab Haikal berbisik.


Harun pun berdiri dari tempat duduknya menatap Haikal tidak percaya.


"Maksudmu dia bekerja di perusahaan ku?" tanya Harun kurang yakin. Haikal mengangguk.


"Karena hanya lulusan SMA dia hanya karyawan di Office Girl" Ada guratan sedih di wajah Harun mendengar ucapan Haikal.


"Apa dia sudah bertemu dengan Aiman?" tanya Harun lagi.


"Iya tuan, dia malah bertugas membersihkan ruangan Aiman" jawab Haikal.


Harun manggut-manggut. "Biarkan saja mereka berinteraksi secara alami" ucap Harun.


"Ku dengar juga dia sering buat masalah dengan kecerobohannya dalam bekerja" info Haikal lagi sambil tersenyum.


"Pastikan tidak ada yang boleh memecatnya"tatap Harun. Haikal menganggut mengerti.


" Satu lagi, jangan sampai dia melihat mu disana" sambung Harun.


"Baik Tuan"


"Amanda, maaf kan aku. Aku akan mengembalikan posisi yang seharusnya" gumam Harun.


***


"Mba Meri aku pasti dipecat mba" rengek Aruna, dia tidak berani datang bekerja.


"Lho kamu buat masalah apalagi, Na?" tanya Meri bingung.


"Dengan CEO mba"


"Hah dengan pak Aiman?" tanya Meri kurang yakin. "Kok bisa?"


"Aku nabrak dia waktu lagi ngepel, terus dia langsung keluar gitu" jawab Aruna hampir menangis.


"Ssst udah. Pak Aiman belum bilang kata pecat kan. Terus kamu juga belum dipanggil pak Bobi kan?"


Aruna menggeleng. "Ya udah kerja aja. Anggap nggak terjadi apapun. Kalau kamu dipanggil big bos baru tanda-tanda bakalan dipecat" jelas Meri.


"Jadi mba, aku kerja seperti biasa saja" ujar Aruna berbinar.


"Yups" balas Meri tersenyum. "Ayo cepetan kalau mau pergi bareng" ajak Meri.


'Ah lega sekali rasanya cerita sama mba Meri' lirik Aruna melihat Meri sibuk dengan ponselnya.


Tiba di pintu utama perusahaan, Aruna ingin berbelok ke arah belakang menuju area parkiran.


"Eh Na, lewat sini saja. Lebih cepet sampainya ke ruangan kamu" ajak Meri menarik tangan Aruna.


Melewati lobi, Aruna melihat sekilas pria jangkung berdiri di dekat meja resepsionis. Aruna segera memalingkan mukanya. Jangan sampai pria itu melihatnya.


Tiba di ruangannya Aruna menarik napas. Pagi-pagi dia udah sport jantung.


"Na, tumben datang siang. Ruangan pak Aiman belum dibersihkan tuh" ujar Popy.


"Pop orangnya udah datang. Aku nggak berani masuk ruangannya" balas Aruna.


"Kenapa?" tanya Popy heran.


"Arunaaa!!" teriakan Bobi menggema di ruangan Office Boy.


Aruna belum sempat menjawab pertanyaan Popy, jeritan bosnya memanggil adalah warning besar buat Aruna.


"Iya pak. Ada apa?" tanya Aruna mendekati Bobi sebelum laki-laki itu mengobrak-abrik ruangan Office Boy.


"Pak Aiman meminta kamu membersihkan ruangannya. Kenapa belum dibersihkan hah" bentak Bobi.


"Benar Pop?" tatap Bobi tajam.


"Iya pak, kasihan tuh Aruna badannya lemes karena udah bolak-balik ke toilet" jawab Popy menyakinkan.


"Ya sudah saya akan cari penggantinya" ujar Bobi keluar dari ruangan.


Ugh...Aruna terduduk menarik napas lega. Mereka berdua tosan tangan.


"Makasih Pop udah bantu acting"


"Hahaha biasa aja, sekali-sekali kita kerjain bos jutek kayak pak Bobi" balas Popy tertawa.


***


Aiman menghempaskan badannya ke kursi empuknya. Ruangannya bersih tapi bukan Aruna yang melakukannya. Bobi memberitahu bahwa gadis itu sakit perut.


"Bukannya dia datang siang dan terlihat baik-baik saja" gumam Aiman.


'Tadi juga aku seperti melihatnya di cafetaria, sepertinya dia sengaja menghindari ku. Hmm'


Aiman mengambil ponselnya dan menelpon Bobi. Aruna tidak akan bisa menghindar lagi kalau dia sudah memberi perintah.


[Apa? Dia sudah pulang? Siapa yang menyuruhnya pulang?]


[Badannya kurang enak pak, makanya saya suruh pulang saja]


[Tidak usah bersihkan ruangan saya sore nanti!!]


Aiman menutup telponnya kesal. 'Dia baik-baik saja, kenapa Bobi mudah sekali dibohongi gadis itu?'


Di Kostan


'Ya Tuhan hari ini benar-benar deh aku terpaksa berbohong. Aku nggak mau ketemu dia. Tapi kan salah ku juga ya. Harusnya aku minta maaf bukannya menghindar begini' pikir Aruna menyadarkan punggungnya di kursi.


'Aruna kenapa jadi begini? Pak Aiman pasti tambah marah kalau dia tahu aku udah bohongi dia' Aruna menepuk jidatnya sendiri.


Aruna tersenyum sendiri. Tidak ada yang bisa menghubunginya karena dia tidak punya ponsel.


'Kalau uang ku sudah cukup aku akan membeli ponsel'


Tok.Tok.Tok.


Aruna terlonjak kaget bangun dari kursi tempat dia duduk. 'Siapa?'


"Assalamualaikum" suara laki-laki terdengar di luar pintu.


"Waalaikumsalam. Iya sebentar" sahut Aruna. Gadis itu mengintip dulu dari balik gorden.


"Cari siapa mas?" tanya Aruna membukakan pintu.


"Ini mba, ada paket atas nama Aruna Salwa"


"Iya saya sendiri. Paket dari siapa ya?" tanya Aruna heran. Dia sama sekali tidak memesan barang online atau sebagainya.


"Nggak tau mba, saya hanya menyampaikan saja. Ini paket dari Toko Hape mba" jelas si kurir.


"Oh ya udah. Makasih mas"


Aruna pun menerima paket itu karena memang tertulis nama lengkapnya disana.


Aruna menutup rapat pintu rumah. Dia pun segera membuka paket yang baru saja diterimanya.


"Wah...ponsel. Ya Allah dari siapa ini?" gumam Aruna tidak percaya.


Aruna membolak-balik pembungkus paket namun tidak ditemukan siapa gerangan yang telah membelikannya ponsel mahal seperti itu.


"Aduh, gimana cara pakenya ya?"


Aruna jadi bingung sendiri melihat benda pipih canggih di tangannya itu.