
"Pak Bobi, saya mau izin ke rumah sakit. Please" ujar Popy memohon setelah menyelesaikan tugasnya mengepel lobi.
"Tidak bisa...pengganti Aruna saja belum ada jadi kamu yang harus menghandle nya" bentak Bobi.
"Ada apa ini?" tanya Rafli melintasi mereka yang sedang beradu mulut.
"Pak Rafli. Ini pak...mau izin pulang" jelas Bobi melirik Popy.
"Pak teman saya kecelakaan dan koma, di rumah sakit dia tidak ada keluarga yang akan menjaganya" timpal Popy dengan wajah memelas melihat Rafli.
"Siapa teman kamu itu, bagaimana bisa dia tidak punya keluarga. Kamu kan bisa menghubungi keluarganya ?" ujar Rafli tidak percaya.
"Aruna pak, dia juga pernah bekerja di perusahaan ini" jawab Popy.
"Apa kamu bilang? Aruna?" tanya Rafli tidak percaya.
"Iya pak. Dua hari yang lalu saya bertemu dengannya dan katanya mau pulang ke desa. Ketika lihat berita ada bis kecelakaan saya lihat di tv bis itu bis yang sama dinaiki oleh Aruna. Dan ternyata benar..." jawab Popy dengan wajah sedih.
"Ya Tuhan..." Rafli memejamkan matanya.
"Ikut saya dan kita ke rumah sakit sama-sama" ajak Rafli meninggalkan Bobi yang tampak bengong.
'Siapa Aruna itu? Sampai pak Rafli mau melihatnya juga' batin Bobi melihat Popy mengiringi langkah Rafli keluar dari lobi.
[Man, aku ke rumah sakit]
Rafli mengabari Aiman setelah di dalam mobil.
[Ngapain ke rumah sakit pagi-pagi, Raf?]
[Man, susul aku kalau tidak kau akan menyesal]
Tut...Tut...Tut
Rafli sudah menutup sambungan telponnya. Rafli pun sudah memberitahu kamar yang akan dikunjunginya kepada Aiman.
Tiba di rumah sakit
"Aruna" gumam Rafli.
Rafli terkejut melihat gadis berjilbab yang sedang terbaring dengan alat pernapasan yang menopang hidupnya karena gadis itu sedang koma.
"Saya tidak tahu dimana harus menghubungi orang tuanya. Dompet Aruna tidak ditemukan. Jadi tidak ada identitas lain untuk bisa menghubungi keluarganya" cerita Popy.
Rafli terduduk di samping ranjang Aruna. Dia pun mengirim pesan kepada papanya, Haikal.
"Saya tunggu di luar" ujar Rafli keluar kamar. Popy hanya mengangguk.
Di luar kamar Rafli menunggu kedatangan Aiman. Tak lama dari jauh tubuh jangkung Aiman sudah terlihat berjalan menghampirinya.
"Raf, siapa yang sakit?" tanya Aiman.
Sebenarnya dia malas menyusul Rafli ke rumah sakit dengan info tidak jelas seperti itu. Tapi karena kalimat Rafli bernada ancaman Aiman jadi penasaran juga.
"Masuklah dan lihat sendiri" tatap Rafli serius memberi tanda agar Aiman masuk ke dalam kamar inap.
"Eh...pak Aiman" sapa Popy melihat Aiman big bos Circle Corp masuk ke dalam.
Aiman pun tampak kaget melihat Popy, bukankah dia temannya Aruna. Pandangan Aiman pun beralih ke ranjang pasien. Jantungnya berdetak kencang ketika melihat wajah pasien yang sedang terbaring tak berdaya itu.
"Aruna!" Aiman mendekati ranjang dan duduk di sampingnya.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Aiman cemas.
"Aruna koma. Kecelakaan bis yang ku ceritakan itu ternyata salah satu korbannya adalah Aruna" jawab Rafli.
"Ya Tuhan!" Aiman mengusap wajahnya.
"Papaku sudah dikabari?" tanya Aiman.
"Sudah. Mungkin tidak lama lagi mereka akan sampai" jawab Rafli.
Popy bingung melihat pemandangan di depannya. Dua laki-laki tampan sedang membicarakan Aruna. Sebenarnya siapa Aruna itu? Kenapa mereka begitu peduli?
"Pop...kamu pulang saja. Keluarga Aruna akan segera datang. Terima kasih karena kamu, Aruna bisa bertemu dengan keluarganya" ucap Rafli tersenyum.
"Baiklah pak kalau begitu saya mau kembali bekerja" balas Popy.
"Eh tidak usah. Kamu langsung pulang saja ke rumah" perintah Rafli.
"Terima kasih pak" ujar Popy tersenyum lalu meninggalkan kamar inap Aruna.
***
Harun, Amanda, Haikal dan istrinya segera ke rumah sakit setelah mendapat kabar tentang Aruna yang sedang koma.
Tiba di rumah sakit Harun meminta kepada pihak rumah sakit agar Aruna dipindahkan ke ruangan VVIP. Lagi pula Harun memiliki beberapa persen saham di rumah sakit swasta tersebut.
Di kamar inap yang baru, Amanda tak kuasa memandang wajah pucat Aruna yang tidak berdaya.
'Pantas saja wajah gadis itu sangat mirip dengan ku' batin Amanda menangis.
"Dokter sudah bicara kepada papa" ujar Harun melihat Amanda.
Amanda menghapus air matanya dan siap mendengarkan apa yang sudah disampaikan oleh dokter kepada suaminya. Begitu juga dengan Aiman dia menunggu berita tentang kondisi Aruna. Harun menarik napas lalu menoleh ke arah Aruna.
"Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin. Kondisi Aruna stabil walaupun masih dibantu alat pernapasan, benturan di kepalanya juga tidak ada masalah...kita hanya menunggu takdir" ucap Harun.
"Tapi Aruna tetap harus dijaga ketat tuan jangan sampai ditinggal sendirian karena dia masih bergantung dengan alat bantu bernapas itu, kalau sampai terjadi sesuatu bisa fatal akibatnya" ujar Haikal mengingatkan.
"Aku akan menjaga Aruna" sela Aiman.
"Man, kamu tidak mungkin menjaga Aruna setiap hari. Perusahaan butuh pemimpin" toleh Harun.
"Kalian tidak usah khawatir mama dan tante Hesti yang akan menjaga Aruna"
Amanda membuka suara sambil melirik suaminya. Harun pun mengangguk.
Setelah berembuk tentang siapa yang stand by menjaga Aruna, Rafli mengajak Aiman ke kantin rumah sakit. Perutnya sudah lapar sekali.
"Aku tidak menyangka ternyata Aruna anak pemilik Circle Corp yang sebenarnya dan kamu adalah sepupu ku" gumam Rafli menyeruput es lemon tea yang dia pesan tadi.
"Aku juga masih belum percaya, Raf. Tapi mama sudah menyakiti hati Aruna ketika mereka pertama kali bertemu"
"Tante Amanda tidak setuju hubungan kalian karena dia belum tahu siapa Aruna sebenarnya" ujar Rafli membela.
"Ya tidak harus begitu...memang mama sifatnya angkuh sih" gumam Aiman.
"Beliau bakal jadi mertua mu lho. Bisa buat judul film kisah kalian, Man. Mama ku ternyata Mertua ku." Rafli terkekeh sendirian.
"Iya, kamu produsernya" balas Aiman dongkol.
Rafli masih tertawa kecil sambil melihat wajah kesal sepupunya itu.