
Pulang dari kantor setelah berganti pakaian casual Aiman langsung tancap gas ke rumah sakit. Sudah lima hari Aruna belum sadarkan diri. Tiba di rumah sakit Aiman hanya melihat mamanya saja yang menjaga Aruna.
"Ma..." panggil Aiman masuk ke dalam kamar inap.
"Man, Aruna belum sadar juga" ucap Amanda dengan raut wajah sedih.
"Kita banyak-banyak berdoa saja, ma. Oya tante Hesti dimana?" Aiman duduk di samping Amanda.
"Mama suruh pulang istirahat di rumah saja. Disini dia susah tidur" jawab Amanda.
"Mama juga istirahat, biar aku yang jaga Aruna" ujar Aiman.
"Nggak apa, Man. Justru di rumah mama malah tidak bisa tenang" tolak Amanda.
Aiman mendekati ranjang Aruna dan duduk di sampingnya. Wajah gadis itu masih saja pucat namun tetap terlihat cantik.
"Aruna, apa kabar kamu hari ini?" tanya Aiman.
"Mama lho yang jagain kamu setiap hari, aku bisanya besuk kamu setelah pulang dari kantor" ucap Aiman mengelus kepala Aruna yang berbalut jilbab.
Setiap Aiman membesuk Aruna, dia selalu saja berbicara dengan Aruna meskipun Aruna tidak meresponnya. Amanda menitikkan air matanya setiap kali melihat Aiman mengajak Aruna berkomunikasi. Dia baru menyadari betapa Aiman sangat mencintai putrinya itu.
"Ma, malam ini aku saja yang jaga Aruna ya" toleh Aiman ke arah Amanda. Aiman tidak tega melihat Amanda, matanya tampak cekung begitu.
"Baiklah. Mama tunggu papa kesini baru ikut pulang" ucap Amanda tersenyum melihat ketulusan Aiman.
"Oya besok ayah dan ibuku akan kesini" ujar Aiman memberitahu Amanda.
Amanda hanya mengangguk, terlihat sekali di wajah cantik wanita itu kurang tidur.
***
Malam harinya, Aiman tampak asik membaca beberapa email yang masuk. Sesekali dia juga menerima telpon dan berbicara cukup lama, tanpa dia sadari jari jemari Aruna bergerak perlahan. Aruna membuka matanya pelan.
'Dimana aku?' tanya batin Aruna sembari mengerjapkan matanya.
Sayup-sayup Aruna mendengar suara laki-laki yang tidak asing lagi di telinganya sedang bercakap-cakap tidak jauh dari ranjangnya.
Aruna memiringkan kepalanya dan melihat sosok laki-laki jangkung yang sedang membelakanginya itu.
'Mas Aiman? Apa aku tidak salah lihat. Aww' Aruna menahan rasa pusing di kepalanya.
[Iya. Baiklah besok kita bertemu di kantor saja. Oke sampai jumpa besok Mr. Andrew]
Aiman menutup percakapannya di telpon lalu berbalik melihat ke arah ranjang Aruna. Sebelum Aiman membalikkan badannya Aruna sudah memejamkan kembali matanya sehingga Aiman mengira kalau gadis itu belum sadar.
Aiman duduk kembali di dekat ranjang Aruna sambil menatap lekat wajah gadis yang dia cintai itu.
"Aruna, kapan aku bisa mendengar suara mu lagi.Aku sangat merindukan itu. Cepatlah sadar agar kita bisa segera menikah" ucap Aiman.
Deg. Telinga Aruna yang mendengar ucapan Aiman membuat denyut jantungnya berdetak cepat.
"Kamu tahu tidak. Ternyata papa kamu memang akan menjodohkan kita berdua. Untungnya kita bukan mahram. Jika tidak, aku tidak mau menjadi kakak kamu" gumam Aiman lagi.
'Apa!! Jadi aku dan mas Aiman tidak ada hubungan darah?' Aruna hanya bisa membatin.
"Maafkan mama, beliau juga sangat terpukul setelah tahu kebenarannya karena kamu hidup dalam kesusahan. Mama tidak pernah meninggalkan mu di rumah sakit, baru malam ini aku menyuruh mama untuk pulang beristirahat" ucap Aiman tersenyum meskipun Aruna masih memejamkan matanya.
'Maafkan aku mas, aku belum bisa menerimanya sebagai ibu ku' Aruna hanya membatin saja.
'Apa aku harus membangunkan mas Aiman ya?' pikir Aruna melihat Aiman tidur pulas di sofa yang tidak jauh darinya. Aruna menggeleng.
Tangannya meraih gelas yang berada di nakas yang ada di samping ranjangnya. Namun sayang gelas itu tidak kuat dia genggam dan akhirnya jatuh.
Prang!!!
Aiman terkejut dan bangun dari tidurnya mendengar suara benda pecah di lantai.
"Aruna!" gumam Aiman bangkit dari sofa lalu mendekati ranjang Aruna.
"Aruna kamu sudar sadar. Alhamdulillah" ucap Aiman ketika pandangan mata mereka bertemu.
"Kamu mau minum?" tanya Aiman.
Aruna hanya mengangguk pelan.
Aiman lalu mengambilkan air minum yang baru. Dia meninggikan kepala ranjang agar Aruna dapat minum. Aruna pun meminum habis air putih yang Aiman berikan, gadis itu benar-benar haus setelah bangun dari koma yang cukup lama.
"Mau makan?" tawar Aiman melihat wajah Aruna yang masih tanpa ekspresi itu. Aruna lagi-lagi hanya mengangguk.
Aiman berdiri lalu mengambilkan makanan untuk Aruna. Aiman hanya menatap Aruna yang makan dengan tatapan kosongnya.
'Kenapa dia diam saja? Apa Aruna tidak mengenaliku?' tanya batin Aiman.
"Aruna" panggil Aiman.
Aruna menghentikan aktivitas makannya lalu menoleh melihat Aiman dengan tatapan seolah menanyakan 'ada apa?'
"Kamu masih ingat sama mas kan?" tanya Aiman ragu.
Aruna tersenyum kecil. "Masih lah mas, mantan bosku yang galak tapi baik hati"
Aiman tersenyum lega mendengar jawaban Aruna, hatinya sudah cemas tadi takut Aruna tidak ingat akan dirinya.
"Masih ingat dengan janjiku akan mengenalkan kamu sama kedua orang tuaku?" tanya Aiman lagi.
"Masih. Tapi nggak perlu karena aku sudah kenal baik dengan orang tua mas" jawab Aruna menundukkan kepalanya.
Ingin rasanya Aiman menggenggam tangan Aruna untuk menguatkannya namun terhalang karena mereka belum halal.
"Kamu masih mau jadi istri ku kan meskipun sebenarnya aku bukan anak orang kaya?" tanya Aiman serius.
Aruna mengangkat kepalanya melihat Aiman. "Mas, aku bukan seperti mama ku" ujar Aruna dengan suara bergetar menatap tajam Aiman.
Sesaat mata mereka bertemu lalu Aruna berpaling karena sudut matanya sudah menggenang.
"Maaf" ucap Aiman merasa bersalah.
Aruna menghapus air matanya.
"Bagaimana mas dulu mencintaiku sebelum tahu kebenaran ini, begitu juga aku mencintai mas sekarang" ujar Aruna.
Aiman tersenyum bahagia mendengar jawaban Aruna, memang sifat Aruna berbeda dengan mamanya, Amanda.
"Hmm kamu istirahatlah. Sudah subuh nanti aku pulang setelah papa datang"
Aruna mengangguk. Sementara Aiman kembali ke sofa untuk melanjutkan tidurnya. Meskipun dia sulit untuk memejamkan matanya kembali karena bahagia melihat Aruna sudah sadar.