
Di perusahaan
Para karyawan heboh dengan undangan pesta dari pemilik Circle Corp yang tak lain orang tua Aiman. Harun akan mengadakan pesta 25 tahun pernikahannya dengan Amanda. Semua karyawan dari Manajer dan stafnya hingga para OB pun diundang.
"Wah bakalan ada pesta besar di rumah" ujar Rafli senang.
Aiman hanya diam. Dia paling tidak suka pesta, pasti akan banyak wanita yang hadir disana.
"Aku rencananya mau pergi kemana ya" ucap Aiman berpikir.
Pluk!! Rafli melempar Aiman dengan gumpalan kertas tepat mengenai kepalanya.
"Nggak sopan banget jadi anak. Masa orang tua ngadain acara anaknya malah kabur" omel Rafli.
"Kamu tahu sendiri kan, akan banyak wanita yang hadir di pesta nanti. Aku bisa semaput tau nggak!!" balas Aiman.
"Derita kamu Man, punya penyakit kok aneh banget" ledek Rafli.
"Sialan kamu Raf"
Aiman melempar kepala Rafli dengan kertas yang sama dari Rafli tadi.
"Eh Man, tapi kamu kalau ada Aruna kok nggak semaput?" tanya Rafli.
Laki-laki itu menatap Aiman penuh tanda tanya. Aiman tak berkutik. Kenapa Rafli sampai bertanya begitu ya.
"Jangan-jangan jodoh mu seorang Office Girl,Man" ledek Rafli.
"Tapi Aruna itu cantik juga, hanya perlu dipoles sedikit wah si Wina bisa kalah jauh" sambung Rafli menjentikkan jarinya.
Aiman mengacuhkan ucapan Rafli. Dia pun sedang memikirkan Aruna, sudah berapa hari ini dia tidak melihat wajah gadis itu sejak Aruna beralasan sakit perut dia belum bertemu lagi. Tapi Bobi bilang Aruna tetap membersihkan ruangannya.
'Jam berapa gadis itu datang kalau pagi? Sore aku juga tidak melihatnya. Oya kalau sore aku kebetulan selalu tidak di ruangan' batin Aiman.
"Mikirin apa, Man? Aruna?" ledek Rafli lagi.
"Kenapa kamu jadi cerewet kayak cewek saja?" sungut Aiman.
Rafli hanya terkekeh melihat tingkah Aiman. Sepertinya atasan sekaligus teman kecilnya itu sudah jatuh cinta dengan Aruna, si gadis ceroboh.
***
Di Kostan
Meri sedang bersiap-siap akan menghadiri undangan pesta pemilik Circle Corp.
"Aku nggak datang mba" ujar Aruna.
"Ya Ampun Aruna, kamu jangan sampai nggak datang. Rugi tahu nggak!!" seru Meri.
"Aku nggak punya baju bagus, malu mba datang di pesta orang kaya tapi..."
"Oya waktu kamu lagi mandi, ada yang kasih ini deh. Bentar..."
Meri berdiri mengambil paper bag yang disimpannya. Ada seseorang yang mengantar paper bag dan tertulis untuk Aruna.
"Apa ini mba?" tanya Aruna melihat Meri.
"Buka saja, itu tertulis di paper bag nama kamu kan?"
"Iya mba" tanpa pikir panjang Aruna membuka isi paper bag itu.
Aruna lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Mulutnya menganga tidak percaya.
"Aruna, cantik sekali gaun ini" seru Meri melihat gaun berwarna pink yang dipegang Aruna.
"Iya mba, pasti gaun ini mahal sekali harganya. Bahannya halus dan adem banget. Mba ada jilbabnya juga...Ya Tuhan siapa yang sudah berbaik hati dengan ku?" ujar Aruna tidak percaya.
Aruna seperti mendapat durian jatuh.
Kemarin ada yang mengiriminya ponsel mahal. Sekarang gaun pesta yang juga tentunya mahal. Gajinya saja tidak akan cukup untuk membeli gaun itu.
"Na, siapa ya yang udah ngasih kamu barang-barang mewah ini. Jangan-jangan kamu ada pengagum rahasia" ujar Meri.
"Aku juga nggak tahu mba. Mba kan tahu sendiri aku tidak punya kenalan lain selain mba. Atau punya cowok kayak mba" jelas Aruna. Dia juga merasa heran.
"Ayo...kita siap-siap" ajak Meri.
Meri mengeluarkan alat tempur pestanya. Peralatan make up yang lengkap.
Meri memakai dress berwarna cream. Rambutnya sedikit digelung dengan hiasan jepit bunga mawar.
Sementara Aruna memakai gaun berwarna pink senada dengan jilbabnya. Aruna terlihat begitu anggun. Meri memberi polesan make up tipis di wajah Aruna, gadis itu pun semakin cantik.
"Gila Na, make up sedikit saja kama udah tambah cantik begini. Kamu nggak kelihatan kayak orang desa" puji Meri.
"Kayak apa sih mba?
"Kayak anak konglomerat" Meri tertawa kecil. Aruna pun ikut tertawa.
Meri sudah memesan taksi. Mereka pun berangkat menggunakan taksi. Tiba di kediaman Harun, mobil-mobil mewah parkir di halaman rumah yang begitu luas. Sementara kedua gadis itu berjalan kaki dari pintu pagar karena naik taksi.
"Mba udah rame. Semua tamu pakai mobil mba!" seru Aruna.
"Nggak apa. Ada juga kok yang naik taksi, Na" ujar Meri celingak-celinguk mencari mobil seseorang.
Tamu-tamu undangan sudah berdatangan di kediaman Harun. Di ruang tamu yang luas semua tamu berdiri sambil menikmati kudapan atau minum sambil berbincang-bincang. Dari lantai atas Aiman hanya menyaksikan para tamu yang semakin ramai berdatangan.
***
"Man, kamu harus turun. Masa ceo ngumpet di lantai atas begini" ledek Rafli mendekati Aiman.
"Ini kan acara papa dan mama ku. Nggak masalah kalau aku nggak ada disana" ujar Aiman datar sambil menatap ke bawah.
Fokus mata Aiman pun tertuju kepada seorang gadis berbaju pink yang baru saja memasuki ruang tamu.
"Kamu lihat siapa kayak terpesona begitu?" tanya Rafli melihat ekspresi Aiman seperti terpaku melihat ke bawah.
Rafli pun ikut melihat ke bawah. Ramainya manusia membuat matanya berkunang-kunang. Rafli tidak menemukan apa yang dilihat oleh Aiman.
"Aku mau turun" ucap Aiman meninggalkannya.
Rafli bengong melihat Aiman tiba-tiba merubah keputusannya tadi untuk tetap di atas. Rafli lalu menyusul ke bawah setelah sadar Aiman tidak ada lagi di dekatnya.
"Meri" sapa seorang pria.
"Eh mas udah datang" balas Meri melihat pria yang menyapanya.
"Na, tunggu disini ya" ujar Meri meninggalkan Aruna di tengah para tamu lainnya.
"Ya mana teman-teman OB lainnya kok nggak kelihatan. Jangan-jangan aku saja yang kepedean datang di pesta mewah ini" gumam Aruna memutar bola matanya.
Aiman melihat Aruna dari jauh. Dia hanya melihat gadis itu sambil memegangi dadanya.
'Tadi baik-baik saja kenapa setelah melihatnya jantung ku tidak normal begini' batin Aiman.
Aiman masih memperhatikan Aruna, gadis itu sedang berbicara dengan salah satu manajernya.
"Pak Aiman" tegur seorang laki-laki.
"Ya ada apa?" tanya Aiman dengan mata masih melihat ke arah Aruna.
"Saya ingin menyampaikan pesan" ujarnya.
Aiman melihat Aruna tidak ada lagi di tempat semula. Gadis itu sudah berjalan melewati ramainya tamu.
"Kamu sampaikan kepada Rafli saja, saya ada urusan sebentar" tinggal Aiman mengejar Aruna yang sudah hilang dari pandangannya.
***
"Maaf, bisa saya numpang ke toilet?" tanya Aruna kepada seorang pelayan yang ada di kitchen room.
"Oh silahkan nona" jawabnya ramah sambil menunjukkan arah toilet.
"Terima kasih"
Aruna masuk ke dalam toilet. Aruna merasa risih menggunakan lipstik Meri. Gadis itu ingin menghapusnya.
"Tuan..." sapa pelayan di kitchen room ketika melihat Aiman.
"Apa ada gadis yang masuk kesini?" tanya Aiman kepada pelayan yang ada di kitchen room itu.
"Eh iya tuan, dia sedang di toilet" jawabnya.
"Tinggalkan ruangan ini"
Aiman mengangkat tangannya agar pelayan yang ada di ruangan itu segera meninggalkannya sendirian.
"Baik!" mereka semua keluar dari kitchen room.
"Ya Tuhan, udah dihapus juga masih kelihatan berwarna begini" omel Aruna keluar dari kamar mandi.
Ketika Aruna membalikkan badannya, dia terpaku melihat pria yang berhasil dihindarinya berdiri di depannya dengan wajah dinginnya.
Aruna menjadi salah tingkah sendiri apalagi ketika Aiman melihat penampilannya sok kaya banget padahal hanya upik abu.
"Eh...pak a...apa kabar?" tanya Aruna tersenyum tidak enak berjalan pelan mencari sela agar bisa pergi dari hadapan manusia berwajah dingin itu.
"Kabarku buruk sekali" jawab Aiman datar masih menatap Aruna.
'Ya Tuhan. Apa dia sakit? Buruk bagaimana?' tanya batin Aruna cemas. Apa jangan-jangan karena ulahnya, itu yang membuat Aruna cemas.
Aiman berjalan mendekati Aruna. Aruna pun mundur hingga badannya membentur dinding.
'Di...dia mau apa?' batin Aruna cemas.
Gadis itu melihat Aiman dengan wajah takut. Apalagi Aiman semakin mendekatkan badannya ke arah Aruna.
'Kemana semua pelayan tadi? Kenapa jadi sepi begini?'
Aiman mengambil tangan Aruna dan menempelkannya ke dada Aiman. Mata Aruna membulat. Tangannya bisa merasakan detak jantung Aiman yang bergemuruh.
"Kau sudah membuat jantung ku berdetak tidak normal" ucap Aiman menatap tajam Aruna. Aruna segera menarik tangannya dari dada Aiman.
"Dan bermasalah" lanjut Aiman dengan nada pelan.
Badan Aruna sudah panas dingin berdiri di hadapan Aiman dengan aroma tubuh yang begitu harum menusuk hidungnya.
"Ja...jadi bapak sakit jantung?" gumam Aruna menunduk.
"Iya. Kenapa kau menghindari ku?" tanya Aiman.
"Bukannya bapak marah dengan ku" jawab Aruna.
"Marah? Kenapa?" tanya Aiman bingung.
"Waktu aku menabrak bapak di kantor, bapak kan pergi begitu saja" jawab Aruna lagi.
Aiman mengingat kejadian yang dimaksud Aruna. Dia pergi bukan karena marah tapi karena dia tidak mau semakin lama berada di dekat gadis itu jantungnya bisa bermasalah.
"Ck kau ini tidak bisa membaca sikap orang lagi marah atau tidak" ucap Aiman kesal.
"Pak...bisa mundur sedikit" ujar Aruna menggerakkan tangannya agar Aiman sedikit menjauh darinya.
Aiman pun mundur selangkah dari hadapan Aruna.
Aruna jadi serba salah berdua saja di dapur dengan laki-laki yang merupakan atasannya itu. Kalau ada yang melihat bisa-bisa orang akan berpikiran negatif dengannya.