Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 19: Kembali Ke Desa



Aiman kembali beraktivitas ke kantor. Wajahnya tidak kusut lagi karena memikirkan Aruna yang belum sadar-sadar dari koma kemarin.


"Ehem senyum-senyum sendiri. Dapat rezeki nomplok Bro?" tegur Rafli menyadarkan lamunan Aiman.


"Aruna sudah sadar Raf" jawab Aiman. "Sadarnya waktu aku jagain dia" lanjut Aiman tersenyum.


"Alhamdulillah, emang kalau jodoh nggak kemana yah" ujar Rafli ikut tersenyum.


"Bagaimana keadaannya? Terus kalau kamu disini, siapa yang menjaganya disana?" sambung Rafli duduk di depan meja kerja Aiman.


"Keaadaannya baik makanya ketika dia sadar aku tidak memanggil dokter. Papa udah disana, makanya aku bisa pulang" jawab Aiman.


"Gimana Aruna ya? Udah mau terima om dan tante tidak?" gumam Rafli.


"Entahlah Raf, kalau melihat perlakuan mama dengan Aruna yang sudah keterlaluan. Aku rasa Aruna sulit untuk menerimanya tapi semoga saja Aruna tidak seperti itu" balas Aiman.


"Terus rencana kamu apa setelah Aruna ketemu dan sadar kembali?" tanya Rafli.


"Hm aku akan melamarnya langsung ke papa"


"Yakin bakalan diterima? Apalagi oleh tante Amanda. Kamukan bukan keluarga kaya raya" ledek Rafli lalu terkekeh.


Aiman hanya tersenyum geli. "Papa sudah lama mau menjodohkan aku dengan anaknya kok"


"Hmm aku baru tahu rencana om Harun. Meskipun anaknya ditukar, toh menantunya juga tetap kamu. Harta kekayaan warisan untuk Aruna juga bakalan jadi milik kamu karena kamulah yang tahu seluk beluk perusahaan jadi tidak mungkin Aruna yang akan mengambil alih perusahaan makanya Om Harun menjodohkan anaknya dengan kamu. Kalau Aruna sampai menikah dengan laki-laki lain harta kekayaan Om Harun bisa terancam" jelas Rafli.


"Sepertinya begitu" balas Aiman.


***


Orang tua Aiman datang membesuk Aruna. Aruna berkeras mau ikut ayah dan ibu Aiman yang audah membesarkannya pulang ke desa.


"Aruna, kita pulang ke rumah. Mama sudah menunggu di rumah" bujuk Harun.


"Tidak! Aku tidak mau tinggal di rumah kalian. Aku tidak butuh harta kalian" tolak Aruna dengan mata berkaca.


"Ayah, ibu ayo kita pulang ke desa" ajak Aruna mengenggam tangan Wardah. Aruna menatap mereka seolah memohon kepada Abid dan Wardah agar segera membawanya pergi dari rumah sakit.


"Iya, kamu ikut ayah dan ibu" balas Wardah tersenyum menenangkan Aruna.


"Pak Harun, biarlah Aruna ikut bersama kami dulu untuk menenangkan hatinya. Sepertinya dia masih shock setelah tahu siapa keluarganya" ucap Abid.


"Baiklah. Sopirku akan mengantar kalian pulang" ujar Harun mengalah.


***


Akhirnya Abid dan Wardah membawa Aruna pulang ke desa. Sudah lama Aruna tidak kembali ke desa. Kamar yang ditinggalkannya masih sama seperti dulu.


"Na, kamu istirahatlah" ujar Wardah mengelus puncak kepala Aruna dengan kasih sayang.


Aruna pun masuk ke kamarnya dan berbaring di ranjangnya.


Tidak ada yang berubah sikap orang tua Aiman setelah tahu bahwa Aruna anak orang kaya.


"Mau bagaimana lagi bu, Aruna masih belum bisa menerima mereka. Kita tidak bisa memaksa Aruna. Biarkan dia tenang dan berpikir jernih. Lagipula dia kan baru saja sembuh dari kecelakaan itu" balas Abid.


"Aiman cerita sama ibu Yah, kalau dia akan melamar Aruna" toleh Wardah melihat suaminya.


"Pede sekali anak itu. Kita bukan keluarga yang sepadan dengan Aruna, lihat bagaimana Nyonya Amanda menolak Aruna sebelum tahu kalau gadis itu adalah anaknya" ujar Abid mengingatkan.


"Ayah, pak Harun sendiri yang cerita kepada Aiman, kalau anaknya akan dijodohkan dengan Aiman. Siapa lagi kalau bukan Aruna, ya kan?"


"Benar begitu, bu?" tanya Abid tidak percaya. Wardah hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kapan Aiman akan melamar Aruna?" tanya Abid lagi.


"Waktu itu cerita kalau Aruna sadar, nah Aruna sekarang sudah sehat kembali. Ya mungkin nggak lama lagi. Ayah tanya anaknya saja biar pasti" jawab Wardah.


Abid mengangguk, nanti dia akan menghubungi Aiman kapan anaknya itu akan melamar Aruna.


***


Pulang dari kantor Aiman segera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Aruna. Tapi sayang kamar yang ditempati Aruna sudah kosong tak berpenghuni. Aiman pun segera pulang. Mungkin Aruna sudah dibawa pulang oleh papa Harun.


Tiba di rumah Aiman bergegas menemui papanya. Eh ternyata papa dan mamanya sedang duduk di ruang keluarga.


"Pa, Aruna sudah pulang ya?" tanya Aiman sambil melirik mama Amanda.


"Iya, Man" jawab Harun singkat.


Melihat mimik mama Amanda yang tidak enak, pasti telah terjadi sesuatu. Pikir Aiman.


"Dimana Aruna?" tanya Aiman lagi. Aiman ingin bertemu dengan gadis itu.


"Di rumah orang tuamu" tatap Harun datar.


Aiman sangat terkejut mendengar jawaban papa Harun. Kenapa Aruna malah kembali ke rumah ayah dan ibunya?


"Aruna belum bisa menerima kami, Man" timpal Amanda dengan mata berkaca.


"Dia tidak mau pulang ke sini" tambah Amanda.


"Mama dan papa sabar ya. Aku akan membujuk Aruna" hibur Aiman.


"Benar Man?" tatap Amanda. Aiman mengangguk.


"Mama akan melakukan apa saja agar Aruna mau memaafkan mama" lanjut Amanda sudah berlinang air mata.


"Iya ma, tapi tidak bisa express ya. Kalau soal hati tidak bisa dipaksakan" ujar Aiman.


"Pa, aku mau mandi dulu setelah itu ada yang mau aku bicarakan dengan papa dan mama" sambung Aiman sebelum meninggalkan ruang keluarga.


Harun dan Amanda saling pandang. Apa yang sebenarnya mau dibicarakan Aiman?