Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 23: Masih Malu-malu Kucing



Malam pertama di rumah orang tua Aiman berlalu begitu saja. Aiman tidur lebih dulu karena menemani ayahnya dan Ardian adiknya membereskan halaman yang dipakai untuk tamu undangan berkumpul ketika acara akad nikahnya. Sementara Aruna membantu ibunya membereskan peralatan dapur dan halaman belakang rumah yang tampak semrawut bekas hajatannya pagi tadi.


Alhasil ketika Aruna menyusul ke kamar dilihatnya Aiman sudah tertidur pulas di atas ranjangnya. Aiman hampir saja tidak memberi ruang untuk Aruna tidur di sebelahnya ya karena ranjang Aruna bukanlah king size. Aruna mencoba menggeser badan Aiman sedikit saja namun tenaganya tidak mampu membuat Aiman bergerak sedikit pun.


Apa boleh buat Aruna meringkuk ditepi ranjang asalkan dia tidak jatuh.


"Dasar mas Aiman. Kebiasaan tidur di kamar mewah, nggak mikirin orang lain lagi" dengus Aruna menatap wajah tampan suaminya yang sedang terlelap tidur.


Aruna menyunggingkan senyuman. "Emang dasar cakep mau tidur gaya apa aja tetap cakep juga" gumam Aruna geleng kepala.


Aruna mencoba memejamkan mata dengan posisi tidur yang sangat tidak nyaman jika dia tidak hati-hati dia bisa jatuh terjengkang ke lantai.


Ke esokan paginya


Aiman menyipitkan matanya ketika mendengar suara alarm bernada murotal  Quran milik Aruna berbunyi.


"Apaan ini kok berat sih" gumam Aiman membuka matanya melihat sesuatu yang menimpa perutnya.


"Aruna!!" Pekik Aiman.


Aiman begitu kaget melihat Aruna menyilangkan kakinya di atas perut ratanya. Badannya telah menjadi bantal guling bagi Aruna. Aiman lalu tersenyum geli melihatnya. Dia pun mengangkat tangannya agar merapatkan badan Aruna lebih dekat dengannya. Bisa dipastikan istrinya itu pasti akan kaget ketika bangun tidur sedang memeluk dirinya.


Alarm Aruna yang disetel sebelum adzan subuh berkumandang berbunyi kembali. Aruna menggerakkan badannya sembari membuka matanya perlahan. Sementara Aiman pura-pura tidur kembali.


Mata Aruna terbuka lebar setelah menyadari kakinya berada di atas perut Aiman dan tangannya sedang memeluk Aiman. Aruna melihat wajah Aiman yang begitu dekat dengan mata yang masih terpejam.


'Oh my God kenapa aku bisa memeluknya begini ?' batin Aruna tidak percaya dengan kelakuannya ketika tidur.


Aruna pelan-pelan mengangkat kakinya dari atas perut Aiman.


'Semoga dia tidak bangun' jerit hati Aruna sambil memejamkan mata lalu mengintip sedikit melihat apakah Aiman bangun atau tidak.


Ketika Aruna ingin mengangkat badannya, tangan Aiman segera menahannya lalu memeluk Aruna. Aiman membuka matanya dan tersenyum lebar menatap  Aruna.


"Diam-diam ada yang tidur sambil peluk-peluk nih" goda Aiman masih menyunggingkan senyuman.


"Ih siapa yang peluk-peluk" elak Aruna tersipu malu.


"Masih nggak mau ngaku" ujar Aiman menjawil hidung mancung Aruna.


"Semua karena mas Aiman tidur nggak bagi-bagi tempat lagi. Aku kan takut jatuh tau nggak" ujar Aruna memberi alasan.


"Hmm makanya kamu peluk mas ya" goda Aiman lagi.


Allahuakbar. Allahuakbar....


Suara adzan subuh sayup-sayup terdengar di bawa angin kadang besar kadang kecil suaranya.


"Tau ah. Udah adzan tuh mas" sungut Aruna beranjak dari atas ranjang tapi badannya masih terkurung oleh tangan Aiman yang memeluknya. Pipi Aruna sudah merah merona.


"Maksudnya?" Tanya Aiman tersenyum menatap Aruna.


"Sholat mas!" Jawab Aruna seenaknya sambil memencet hidung Aiman.


"Jadi pagi ini pun lewat...?" Gumam Aiman tersenyum kecut.


"Apanya yang lewat?" Tanya Aruna lugu menatap heran Aiman. Aiman lalu mengacak rambut Aruna karena gemas.


"Ayo mas. Ayah pasti nungguin mas untuk sholat ke mushola" ujar Aruna.


"Iya istriku sayang. Cup" tiba-tiba Aiman mendaratkan ciuman di pipi Aruna sebelum dia melepaskan tangan dari pinggang Aruna.


"Ih kesempatan deh" ucap Aruna lalu turun dari ranjang meninggalkan Aiman.


"Tentu saja aku akan selalu cari kesempatan, sayang" gumam Aiman lalu menyusul Aruna keluar dari kamar.


***


Pukul sembilan sopir papa Aruna sudah datang menjemput. Aruna berkemas membawa pakaiannya.


"Mas, kita tinggal dimana?" Tanya Aruna sambil melipat pakaiannya dan meletakkannya ke dalam travel bag milik Aiman.


"Ke rumah orang tua kamu, sayang. Rumah itu besar nggak ada orang lain selain mereka. Masa kita mau cari rumah lain" jawab Aiman sembari mengenakan baju kaos yang ngepas di badan sehingga terlihat bentuk badannya yang atletis.


Aruna mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Aiman. Dia pun tidak banyak komentar lagi. Aiman bisa mengerti bagaimana perasaan Aruna terlebih kepada mama Amanda, justru Aiman akan membantu mendekatkan anak dan ibu itu.


Tak lama Aruna dan Aiman keluar dari kamar untuk berpamitan kepada Wardah dan Abid selaku orang tua Aiman.


"Na, ibu tunggu kabar dari kalian ya" lirik Wardah tersenyum.


"Kabar apa Bu?" Tanya Aruna bingung.


"Kabar ayah dan ibu dapat cucu" jawab Wardah melihat Aruna.dan Aiman.


Aruna tersenyum malu sambil melirik ke arah Aiman. Jantungnya berdebar kencang melihat Aiman yang menatapnya sambil tersenyum.


"Jangan lupa berkunjung ke desa, Man. Kami tidak bisa ke kota karena keterbatasan kendaraan. Ayah dan ibu sudah tua, perjalanan jauh membuat kami mudah lelah" ingat Abid kepada anaknya.


"Iya Yah. Insya Allah" balas Aiman. 


Aruna dan Aiman duduk di belakang sopir.  Pak Anto sudah lama menunggu segera menjalankan mobilnya.


"Mas Aiman dan mba Aruna udah ditunggu Tuan dan Nyonya lho" ucap Anto.


"Tuh kan sayang, mama dan papa udah nungguin kita" toleh Aiman ke arah Aruna yang duduk tepat di belakang Anto.


Aruna hanya memanyunkan bibirnya tanda dia tidak suka.


"Duduknya deket-deket sini kenapa?" sindir Aiman melihat Aruna seperti menjaga jarak.


Aruna tersenyum lalu menggeser badannya mendekati Aiman hingga bersentuhan.


"Pengantin baru itu harus kayak gini" Aiman mengambil tangan Aruna dan menggenggam jari-jemarinya.


"Harus mesra" lanjut Aiman.


Aruna melihat Aiman lalu melihat Anto, di dalam mobil itu kan tidak hanya ada mereka berdua. Aruna jadi malu dibuatnya.


"Mas, lepasin. Malu sama pak Anto" bisik Aruna.


"Ssst ngapain malu, cuma pegang tangan doang" tolak Aiman semakin mengeratkan genggamannya.


Aruna sudah panas dingin dibuatnya. Maklum Aruna belum pernah pegang-pegangan tangan dengan laki-laki manapun. Waktu itu dengan Aiman pernah ketika membantunya berdiri setelah jatuh terpeleset karena ulah Aruna sendiri tapi itu pun dia memakai sarung tangan.


Jadi ketika Aiman  menggenggam tangannya dia seperti mendapatkan sengatan listrik.


***


"Pa, mama harus bagaimana? Aruna masih bersikap dingin dengan mama" ucap Amanda sedih ketika Aruna dan Aiman tiba di rumah mereka.


"Mama harus sabar. Untung saja Aruna mau tinggal bersama kita" balas Harun menghibur istrinya.


Amanda mengangguk pelan sambil bersandar di pundak Harun.


Di kamar Aiman


Aruna duduk di tepi ranjang king size. Matanya berputar melihat betapa luasnya kamar Aiman dibandingkan dengan kamarnya di desa selama tinggal dengan orang tua Aiman. Aiman hidup dengan fasilitas lengkap sementara dia penuh kekurangan tapi Aruna merasa beruntung dibesarkan oleh ayah dan ibu Aiman sehingga dia tidak menjadi orang yang angkuh seperti mamanya, Amanda.


"Hey kenapa melamun?" Tegur Aiman melihat Aruna tampak bengong duduk di tepi ranjang.


"Eh..." Aruna tersentak kaget mendengar suara Aiman yang ikut duduk di sampingnya


"Apa yang kamu lamunkan?" Ulang Aiman.


"Kamar mas Aiman besar sekali, sangat jauh dibandingkan dengan kamar ku di desa" jawab Aruna menunduk.


"Sayang, ini kamar kamu juga" ucap Aiman memegang pundak Aruna. Aruna membisu.


"Aku tahu kamu belum terbiasa. Maafkan aku jika semua kemewahan ini harusnya kamu yang merasakannya,bukan aku" sambung Aiman mengerti bagaimana kehidupan Aruna dari lahir hingga dewasa dalam keterbatasan fasilitas dari orang tuanya.


Aruna mendongakkan kepalanya melihat wajah sedih Aiman. Sungguh dia tidak bermaksud menyinggung perasaan Aiman tentang nasibnya yang tertukar.


"Mas, aku tidak bermaksud menyinggung tentang itu. Ini sudah takdir kita" balas Aruna meraih tangan Aiman dan menggenggamnya.


"Aku hanya merasa asing dengan semua ini. Aku tidak pernah berkhayal tinggal di rumah sebesar ini dengan banyak pembantu dan fasilitas mewah lainnya" sambung Aruna menatap manik Aiman.


"Aku tahu. Semua ini milik kamu dan kamu harus membiasakannya. Aruna yang sekarang adalah putri tunggal Harun pemilik Circle Corp" ucap Aiman mencubit pipi Aruna.


"Aww sakit mas!!" Tatap Aruna cemberut.


"Ayo sayang, mas temani keliling rumah sebelum makan siang. Selesai makan siang mas mau ke kantor sebentar" ajak Aiman menarik tangan Aruna agar turun dari ranjang.


Aruna pun mengikuti langkah Aiman keluar dari kamar. Lalu Aiman berceloteh memberitahu ruangan-ruangan yang ada di dalam rumah. Setelah itu Aruna di ajak keluar rumah, dari ke kolam renang hingga ke taman belakang rumah.