Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 2: Kehilangan Jejak



"Mas, aku masih inget alamat mas Haikal di kota. Sudah ku tulis di buku catatan takut lupa. Tapi nomor telponnya aku lupa" ujar Wardah sambil mengurut kaki suaminya.


"Terus kamu mau menyuruh Aruna ke kota begitu, dia itu anak gadis Bu" ucap Abid tidak setuju.


"Bagaimana dengan perekonomian kita Yah, sejak musibah banjir itu ayah sudah tidak bisa kerja lagi. Aruna juga tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Untung saja otak anak itu cerdas. Anak kita Ardian mau sekolah saja susah" curhat Wardah sedih.


Abid tidak bisa berjalan normal lagi karena musibah banjir yang menimpa keluarga mereka 10 tahun yang lalu. Kakinya tertimpa batang kayu ketika mereka menyelamatkan diri dari banjir bandang. Aruna yang mendengar ucapan ibunya ikut merasa sedih. Dia harus membantu orang tuanya dengan mencari pekerjaan di kota.


Keesokan harinya.


Aruna mencari alamat pakdenya di kota yang disimpan oleh  ibunya di buku.


"Aha ketemu juga!" seru Aruna.


Gadis berjilbab itu tersenyum telah menemukan alamat pakdenya. Aruna pun berpamitan dengan menulis surat saja. Jika berpamitan langsung pastilah ayahnya tidak akan mengizinkan. Berbekal uang pinjaman yang pas-pasan dari sahabatnya Lula, Aruna berangkat ke kota. Aruna mencari alamat kos-kosan kakak Lula, Meri untuk tinggal sementara disana.


Tiba di kota


"Ayah mu apa nggak marah Na, pergi kok nggak pamit langsung?" tanya Meri setelah bertemu dengan Aruna.


"Yah, pasti marah mba. Tapi aku nggak bisa diam saja melihat keluarga ku susah. Aku mau membantu mereka mba" jawab Aruna sedih.


"Jadi kamu mau cari kerja dulu atau mau cari pakde mu ?" tanya Meri lagi.


"Cari pakde sekalian cari kerja" jawab Aruna nyengir kuda.


"Oke. Nanti mba bantu, siapa tau ada lowongan buat kamu" ujar Meri.


"Makasih ya mba" balas Aruna tersenyum bahagia.


"Iya, sana kamu istirahat dulu"


Aruna merasa beruntung bisa bertemu Meri di kota besar yang sekalipun dia belum pernah mendatanginya. Dia memang gadis yang dibesarkan di desa. Tidak tahu apa-apa kehidupan di kota.


Selesai sholat subuh Aruna membuat sarapan untuk Meri karena sudah diberi tumpangan gratis nggak mungkin kan dia bersantai ria.


"Mba Meri kerja apa sih?" tanya Aruna ingin tahu. Karena tempat kos yang Meri sewa lumayan bagus juga, pastilah mahal sewanya di kota besar seperti ini.


"Sekretaris Na"


"Wah hebat mba, di perusahaan besar ya?" tanya Aruna lagi. Meri hanya mengangguk.


"Makasih ya udah buatin sarapan. Mba duluan nanti kamu kunci saja rumah. Mba bawa kunci cadangannya kok" ujar Meri mengambil tasnya lalu pergi.


Melihat penampilan Meri yang rapi memakai blezer dan rok, Aruna jadi melihat dirinya sendiri yang memakai tunik longgar dan rok panjang, orang kampung banget.


Setelah mengenakan jilbab, Aruna pun keluar rumah. Tujuannya adalah mencari alamat pakdenya.


Aruna tiba di depan rumah yang cukup besar. Pintu pagarnya tampak digembok. Aruna pun berjalan ke rumah sebelahnya untuk mencari informasi.


"Maaf neng, rumah ini sudah lama dijual" ujar ibu-ibu tetangga di sebelah rumah pakde Aruna.


"Dijual!" seru Aruna kaget melihat rumah itu.


"Mereka pindah kemana?" tanya Aruna lagi.


"Kurang tahu juga. Coba neng cari di Circle Corp saja" jawab ibu itu.


"Oh iya makasih bu" balas Aruna lalu meninggalkan lokasi itu dengan wajah kecewa.


"Circle Corp itu apa ya? Daerah perumahan atau apa" gumam Aruna bingung. Kenapa aku tidak tanya tadi ya.


Aruna kembali lagi ke kosan, dia sudah capek berkeliling mencari alamat rumah tadi eh ternyata sudah dijual.


Kalau pakdenya tidak ketemu pilihan keduanya adalah mencari pekerjaan. Aruna tidak mungkin pulang ke desa dengan tangan hampa.


***


"Gimana? Ketemu alamat pakde mu" tanya Meri sambil membersihkan mukanya dengan toner. Ritual yang selalu dia lakukan setelah pulang kerja.


"Eh Na, kalau kamu mau kerja di perusahaan tempat mba bekerja ada karyawan yang berhenti, tapi kamu mau nggak ya" lirik Meri.


"Emang di bagian apa mba?"


"Pendidikan kamu kan cuma tamat SMA, jadi yang ada ya dibagian bersih-bersih gitu"


"Nggak apa mba, daripada aku nganggur" ucap Aruna setuju.


"Ya udah besok kamu langsung datang saja ke kantor bareng mba"


"Iya...iya mb"


Aruna sudah seneng banget dapat pekerjaan walaupun hanya tukang bersih-bersih. Toh di desa juga dia sudah biasa beberes meskipun dia punya penyakit alergi debu. Hah kayak anak orang kaya saja si Aruna pake alergi debu segala.


***


Di kediaman Harun


"Usianya sekarang sudah 25 tahun, dimana dia? Apakah masih hidup?" tanya Harun.


Haikal yang berada tidak jauh darinya pun mendengarkan.


"Entahlah Tuan, kalau mereka masih hidup. Adik ku pasti sudah mencari ku" jawab Haikal sendu.


"Kau memberi tahu alamat baru mu ke tetangga lama mu?" tanya Harun.


"Emm tidak" jawab Haikal.


"Astaga Haikal!! Bagaimana kalau ada keluarga mu yang mencari?" teriak Harun kesal. Bagaimana bisa Haikal tidak memikirkan itu.


Haikal memang tidak sempat memberi tahu kepada tetangganya perihal  alamat rumah barunya. Bagaimana kalau adiknya mencarinya. Tapi sudah sepuluh tahun berlalu tidak ada telpon atau kabar lainnya tentang adiknya itu, jadi Haikal sudah menganggap adik dan keluarganya sudah tiada.


Karena kepikiran dengan ucapan Harun, akhirnya Haikal mendatangi rumah lamanya dan menemui tetangganya.


"Pak Haikal, apa kabar? Lama tidak ketemu" sapa Herman tetangga lamanya.


"Baik pak Herman"


"Oya ada gerangan apa pak Haikal datang ke sini?"


"Saya hanya mau menanyakan apakah ada orang yang mencari saya? Soalnya saya lupa menitipkan alamat tempat tinggal baru saya kepada pak Herman"


"Oh ya...ya. Memang beberapa hari yang lalu kata istri saya ada seorang gadis berjilbab menanyakan pak Haikal, katanya dia dari kampung"


Jantung Haikal berdetak kencang.


'Apa mungkin itu dia?' batin Haikal.


"Siapa nama gadis itu?"


"Wah saya kurang tahu pak, istri saya juga lupa siapa namanya" jawab Pak Herman.


"Apa gadis itu wajahnya sama dengan ini?" Haikal menunjukkan foto seorang gadis di ponselnya.


"Nanti saya panggil istri saya dulu, karena dia yang bertemu langsung dengan gadis itu" ujar Herman, lalu memanggil istrinya.


"Bu lihat foto ini, mirip nggak dengan gadis yang ketemu ibu tempo hari?" tunjuk Herman ke ponsel Haikal.


"Ah iya mirip banget pak, ini kayaknya foto masih SMP ya?" tanya istri pak Herman.


"Iya, lain kali kalau dia datang. Tolong berikan alamat ini dan nomor telpon saya" ujar Haikal.


Herman dan istrinya mengangguk.


Haikal pun tidak sabar untuk memberitahu Harun bahwa gadisnya masih hidup.