
Aruna hampir tidak percaya kalau dia sedang hamil. Rasanya ingin tertawa sendiri, wajahnya chubby dan perutnya gendut ternyata karena dirinya sedang hamil.
'Buat apa aku mengurangi makan kalau tau begini' batin Aruna.
Aruna masih tiduran di ranjang. Meskipun dokter Farah membolehkannya pulang namun dia tetap harus istirahat di rumah untuk berapa hari.
"Hei, udah bangun" tegur Aiman keluar dari kamar mandi.
Sudah sholat subuh tadi, Aruna meringkuk lagi di tempat tidur karena badannya belum terlalu fit.
"Lapar, Mas" cicit Aruna.
"Mau makan apa ? Nanti Mas ambilkan di bawah ?" Tanya Aiman.
"Apa aja yang ada tapi minumnya jus jeruk hangat, ya" jawab Aruna tersenyum.
"Baiklah istri ku, Sayang. Tunggu, ya" ujar Aiman sambil mengenakan baju kaos tipis yang ngepres di badannya sebagai pengganti kaos dalam.
Aiman segera turun menuju ruang makan. Di sana Mama dan papa mertuanya sudah menunggu.
"Bagaimana keadaan Aruna, Man?" Tanya Harun.
"Belum terlalu fit, Pa. Ini makanannya mau ku antar ke atas saja" ujar Aiman.
"Udah kamu sarapan sana. Biar Mama yang bawa sarapan Aruna ke atas" tawar Amanda.
"Iya, Ma. Oya, minumnya mau jus jeruk hangat, Ma" pesan Aiman.
Amanda ke kitchen room meminta Lusi untuk membuatkan jus jeruk permintaan Aruna. Setelah selesai Amanda menuju ke kamar Aiman.
"Aruna..." Panggil Amanda memasuki kamar yang tidak terkunci itu.
"Mama...kok malah Mama yang bawa, sih" ujar Aruna terkejut menoleh ke arah pintu kamar.
"Nggak apa. Aiman lagi sarapan, nanti dia terlambat ke kantor lagi karena ngurusin kamu" Amanda duduk di sisi tempat tidur dan memberikan sarapan untuk putrinya itu.
"Makasih, Ma" tatap Aruna tersenyum.
"Kamu harus banyak makan makanan bergizi supaya bayinya sehat dan pintar" pesan Amanda.
Aruna hanya mengangguk sambil menyesap jus jeruknya lalu melanjutkan makan.
***
Di kantor
"Duh, senyum terus yang istrinya sedang hamil" goda Rafli.
"Apa sih, Raf"
Aiman meletakkan ponselnya di atas meja setelah melihat foto-foto dia bersama Aruna di galeri.
"Gimana Aruna, udah baikan?" Tanya Rafli.
"Harus istirahat dulu di rumah. Aku nggak mau dia capek, badannya juga belum terlalu fit untuk kerja lagi" jawab Aiman.
"Emang Aruna masih mau jadi asisten mu, setelah tahu dia hamil ?"
"Aku yang mau dia tetap di samping ku walaupun nggak kerja, supaya makannya terpantau. Untung cepat ketahuan kalau nggak anak ku bisa kurang gizi karena Aruna mengurangi porsi makannya begitu" cerita Aiman.
"Kok bisa nggak ketahuan kalau istri mu hamil, Man?"
"Awal nikah, Aruna selalu periksa dan hasilnya negatif. Bulan kedua juga sama. Akhirnya dia nggak mau ngecek lagi. Ya aku juga nggak terlalu mikirin itu toh kami juga baru nikah, kan. Makanya Aruna juga ikut cuek bulan berikutnya. Eh, nggak taunya malah dia hamil" jelas Aiman.
"Raf, aku mau telpon Aruna dulu, ya" lanjut Aiman. Rafli mengangguk lalu pamit keluar dari ruangan Aiman.
Aiman pun menghubungi nomor kontak Aruna.
[Gimana keadaan kamu?] Tanya Aiman sambil bersandar di kursi kerjanya.
[Nggak enak, Mas. Kepala ku tambah pusing]
Aruna senyam-senyum menggoda Aiman. Dia ingin melihat reaksi suaminya itu panik atau tidak.
[Mama ada, kan di rumah?] Tanya Aiman masih biasa saja.
[Nggak tau, aku dari tadi di kamar saja. Kalau aku pingsan lagi pasti nggak ada yang tau, deh]
Aruna menahan diri agar tidak tertawa.
[Na, Mas masih ada kerjaan. Kamu baik-baik ya di rumah]
Aruna hanya diam saja. Suasana hening membuat hati Aiman mulai cemas. Jangan-jangan Aruna pingsan lagi.
[Aruna...Sayang, kamu masih dengar, kan?]
Aruna mengangguk tanpa menjawab di ponselnya. Kemudian ponselnya dia lempar di atas tempat tidur dalam keadaan masih menerima panggilan dari Aiman.
[Aruna!!] Aiman masih memanggil Aruna di telpon.
Tut.Tut.Tut.
Suara panggilan sudah diputus oleh Aiman. Laki-laki tampan itu segera meninggalkan ruangannya dan bergegas pulang ke rumah.
Tiba di rumah suasana rumah tampak sepi. Tidak terlihat mama dan papa mertuanya. Dari luar rumah juga Aiman tahu kedua mertuanya itu tidak di rumah karena mobil mereka tidak ada di rumah.
Ceklek!
Aruna keluar dari kamar mandi. Mereka sama-sama terkejut dan saling pandang. Aruna tidak menyangka kalau Aiman akan segera pulang. Padahal dia hanya mau mengetes Aiman saja. Hmm.
"Sayang. Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Aiman cemas mendekati Aruna.
"Ehm, seperti yang Mas lihat" jawab Aruna nyengir.
Aiman memicingkan matanya. "Kamu nggak sedang becandain Mas, kan?"
Aruna menutup mulutnya dengan tangan menahan tawanya. Aiman pasti marah dengannya.
"Aruna..." Tatap Aiman tajam sambil berjalan mendekati Aruna.
Aruna tidak mau menjawab dia hanya tersenyum geli sambil menahan diri agar tidak tertawa.
"Sini kamu...beraninya main-main seperti itu" Aiman menarik pinggang Aruna lalu mengangkat badannya.
"Eh, Mas turunin!!" Teriak Aruna tidak tahan ingin tertawa melihat wajah cemas Aiman tadi.
Aiman membaringkan Aruna di atas tempat tidur. Dia membuka jas dan melemparnya ke sembarang tempat.
"Maksudnya apa ini?" Bisik Aiman mendekatkan wajahnya.
"Aku kangen aja sama Mas. Kalau aku sengaja minta Mas pulang cepat. Mas pasti nggak mau, kan" jelas Aruna menatap Aiman lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Aiman.
Aiman mengembangkan senyuman. Bagaimana mungkin dia mau marah dengan ulah Aruna yang sedang mengerjainya itu.
"Mas, sudah di sini terus kamu mau apa?" Tantang Aiman membalas tatapan Aruna.
"Mau..." Aruna tidak lepas menatap mata Aiman, sambil ke dua tangannya turun membuka kancing kemeja Aiman.
"Mau apa?"
"Membuka baju, Mas" jawab Aruna tersenyum masih fokus menatap wajah tampan suaminya itu.
"Terus..."
"Terserah, Mas" ucap Aruna manja.
Dia sudah selesai membuka kemeja Aiman. Kini laki-laki itu bertelanjang dada.
Karena Aruna sudah berani menggodanya terang-terangan maka permainan akan dilanjutkan oleh Aiman. Aiman mendekatkan wajahnya lalu mencium Aruna.
Aiman tersenyum melepas ciumannya.
"Sudah berani nakal, ya" goda Aiman menjawil hidung mancung Aruna.
Aruna tertawa kecil sembari menggelitik pinggang Aiman. Dia jadi malu sendiri. Entah kenapa dia selalu ingin dekat dengan Aiman. Berada dalam pelukan hangat suaminya itu.
Drrrt.Drrrt.Drrrrt.
Suara ponsel Aiman berbunyi di tengah-tengah asiknya mereka yang sedang memadu kasih.
'Shit!! Lupa ku matikan lagi' batin Aiman.
"Mas, ponselnya bunyi tuh" ujar Aruna.
"Biarin aja, Sayang" balas Aiman cuek lalu menyelesaikan tugasnya sebagai seorang suami.
***
Tak lama ponsel Aiman berbunyi kembali. Aruna yang masih berada dalam dekapan Aiman di balik selimut pun mulai terganggu.
"Mas. Ponselnya bunyi lagi, tuh. Mungkin penting. Diangkat dulu sana" gumam Aruna.
"Ambilin dong, kan dekat sama kamu" ujar Aiman melihat ponselnya di atas nakas yang tidak jauh dari ranjang.
Aruna menjangkau ponsel Aiman di atas nakas kemudian memberikannya langsung kepada Aiman setelah melihat di layar ponsel ternyata panggilan dari Rafli.
[Ada apa, Raf ?] Tanya Aiman.
[Man, kamu balik lagi ke kantor nggak? Jam dua nanti ada meeting, lho] Rafli coba mengingatkan Aiman.
Aiman melirik Aruna yang sedang memperhatikannya berbicara dengan Rafli di telpon.
[Bentar, ya]
Aiman mengalihkan ponselnya lalu bertanya kepada Aruna apakah dia bisa pergi ke kantor lagi. Aruna hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Aiman sudah malas mau kembali lagi ke kantor.
[Cancel aja besok pagi, Raf]
[Oke, deh]
Tut.Tut.Tut.
Rafli sudah mengakhiri percakapan. Aruna menatap heran suaminya.
"Mas. Kok nggak balik lagi ke kantor, sih?"
"Yang buat ulah begini siapa coba?" Tatap Aiman balik bertanya.
Aruna hanya mesem-mesem menatap wajah tampan Aiman. Laki-laki itu menarik kepala Aruna ke dadanya, tersenyum kecil.