Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 10: Aku Suka Kamu



Di Cafetaria perusahaan


"Boleh saya duduk disini" ucap seorang laki-laki yang tak lain manajer HRD Circle Corp, Tristan.


Aruna dan Popy saling pandang setelah melihat laki-laki berdasi itu.


"Manajer HRD" bisik Popy.


"Silahkan pak" ujar Aruna tersenyum ramah.


"Sudah pesan makanannya?" tanya Tristan.


"Iya pak sudah" jawab Popy terpesona dan merasa tersanjung bisa ngobrol dengan seorang manajer tampan seperti Tristan.


"Pak Tris kok mau makan sama kami sih?" tanya Aruna setelah melihat ID Card tersemat di saku kemejanya.


Sebenarnya Aruna belum tahu siapa nama manajer tersebut.


"Kenapa memangnya? Ini kan tempat makan umum. Siapa saja boleh makan disini" ujar Tristan.


"Kami kan bukan pejabat seperti bapak" ucap Popy sadar siapa mereka. Tristan terkekeh.


"Iya padahal kursi di tempat lain kan masih banyak yang kosong" timpal Aruna sambil mengedarkan pandangannya. 


Deg. Matanya bertemu pandang dengan mata laki-laki yang dari tadi memperhatikannya. Aruna melemparkan senyuman manisnya. Namun laki-laki itu memalingkan wajahnya tanpa senyuman sedikitpun. Ah dia kan memang terkenal pelit senyuman.


"Aruna, kamu lihatin siapa. Makanan pesanan kamu ini dimakan " ucap Tristan.


"Iya pak"


Aruna melirik sekilas ke arah laki-laki tadi yang tak lain Aiman. Namun Aiman tampak sedang menikmati makanannya bersama Rafli.


***


"Man, kamu lihat nggak disana?" ucap Rafli sambil menyendok makanannya.


"Apa?"


"Tristan makan bareng Aruna dan temannya. Apa si playboy itu mau mendekati Aruna?"


"Terus apa hubungannya dengan ku?" ujar Aiman cuek. Padahal hatinya sudah terbakar melihat Tristan ngobrol akrab dengan Aruna.


"Ck... Jangan pura-pura cuek. Disambar Tristan baru tau rasa" ledek Rafli.


Dia tahu bahwa Aiman sudah terpikat dengan Aruna. Dan hanya di dekat Aruna alergi Aiman mendadak hilang.


"Pastikan Tristan tidak mengganggunya" ujar Aiman berdiri hendak meninggalkan cafetaria.


Rafli tersenyum melihat sahabat sekaligus bosnya sendiri terbakar api cemburu.


Dari jauh Aruna melihat Aiman beranjak keluar dari cafetaria. Entah kenapa Aruna bisa merasakan aura negatif dari sikap yang ditunjukkan Aiman kepadanya.


"Pak Tristan terima kasih ya traktirannya" ujar Popy dan Aruna tersenyum.


Tristan hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya meninggalkan cafetaria.


"Huaa rezeki anak sholehah. Kita ditraktir bos HRD" seru Popy.


"Iya Pop, emang bos-bos disini baik-baik semua ya?" tanya Aruna yang merupakan karyawan baru.


"Ah nggak juga sih, malah ada yang menjaga jarak banget dengan orang seperti kita ini" jawab Popy.


"Yuk Pop balik ke ruangan kita" ajak Aruna.


***


"Man, belum mau pulang?" tanya Rafli melihat Aiman dari balik pintu.


"Duluan saja. Kamu kan bawa mobil sendiri" ujar Aiman masih duduk di balik meja kerjanya.


"Mencurigakan! Kamu pasti menunggu Aruna kan" goda Rafli.


"Pulang sana!"


Aiman melempar Rafli dengan gumpalan kertas. Namun sayang Rafli sudah menutup pintu sambil terkekeh melihat tingkah Aiman yang malu karena kepergok olehnya.


Tak lama Rafli pergi. Aruna datang lalu membuka pintu ruangan Aiman. Aruna melenggang masuk karena menurutnya ruangan sudah sepi.


"Eh...itu bukannya ponsel pak Aiman. Kok bisa ketinggalan" gumam Aruna melihat ponsel tergeletak di meja kerja Aiman.


Aruna pun berjalan mendekati meja Aiman. "Ehem"


Sebuah deheman di belakangnya membuat Aruna kaget setengah mati dan dia pun refleks membalikkan badannya dan....


Bugh!!


"Aww. Arunaaa!!" teriak Aiman meringis memegang keningnya.


"Ya Allah pak, maaf" ucap Aruna kaget menutup mulutnya dengan tangan setelah melihat Aiman meringis kesakitan.


"Kenapa setiap kamu mau membersihkan ruangan ini, saya selalu ketiban sial?" sungut Aiman kesal. Aruna hanya nyengir kuda.


"Mana saya tahu pak" jawab Aruna polos. "Eh itu kening bapak ada darahnya" tunjuk Aruna.


"Ya itu karena kamu!! Cepat ambil obat di kotak P3K disana" tunjuk Aiman lalu duduk di sofa.


Mimpi apa dia semalam sampe dicium gagang pel begini. Aiman tadi berada di toilet ketika Aruna masuk ke ruangannya. Oleh sebab itu Aruna menjadi kaget.


"Ini pak" ujar Aruna menyerahkan betadin dan plester kepada Aiman.


"Ck... kamu yang harus bertanggung jawab mengobatinya. Saya tidak mau tahu" ucap Aiman cuek menatap tajam Aruna.


"Eh iya pak"


Aruna tersenyum kecut lalu mendekati Aiman. Aruna duduk mensejajarkan badannya dengan Aiman yang duduk di sofa.


"Pak kepalanya bisa ditundukkan sedikit" pinta Aruna.


Walaupun posisinya setengah berdiri namun karena badan Aiman tinggi tetap saja tuh cowok tinggi meskipun sedang duduk. Aiman pun memajukan kepalanya mendekati wajah Aruna.


"Cepatlah!!" ucap Aiman datar.


Aruna mengolesi goresan di kening Aiman dengan betadin.


"Aww pelan-pelan Aruna!" omel Aiman sambil memandang wajah Aruna.


Gadis itu pun menjadi grogi karena Aiman terus menatapnya. Jantung keduanya sama-sama berdebar kencang. Aruna ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya. Plester di tangannya segera dibuka dan ditempelkan ke luka Aiman.


"Sudah pak"


Aruna cepat-cepat berdiri dan menjauh dari Aiman. Dia lalu mengambil pengepel dan melanjutkan pekerjaannya. Kenapa ruangan yang sebenarnya dingin karena suhu AC yang besar mendadak panas dan gerah yang dirasakan Aruna.


Aiman pun merasakan hal yang sama. Dia mengendurkan dasi di lehernya dan memperhatikan Aruna dari sofa.


'Kenapa dia belum pulang juga, aku jadi risih kalau diperhatikan begini' batin Aruna.


"Ini sudah sore. Bisa tidak agak cepat mengerjakannya" omel Aiman.


"Bapak kalau mau pulang duluan, pulang saja pak" balas Aruna santai.


"Aruna!! Saya menunggu kamu. Bisa peka tidak!" sindir Aiman.


Aruna tersenyum tanpa Aiman sadari. Dia pun cepat menyelesaikan tugasnya membersihkan ruangan Aiman. Melihat Aruna merapikan peralatannya, Aiman lalu berdiri dari sofa.


"Kenapa bapak menunggu saya?" tanya Aruna polos.


Aiman mendekati Aruna, dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap polos dan tidak peka gadis di depannya itu. Mata mereka pun bertemu. Aruna bukanlah gadis yang paham ilmu agama dengan benar karena dia hanyalah gadis yang dibesarkan di desa. Namun orang tuanya mengajarkan batas-batasan dalam bergaul dengan laki-laki.


"Karena aku menyukai mu" jawab Aiman serius memandang Aruna.


Gadis itu tidak percaya mendengar pernyataan suka dari Aiman,atasannya.


Aruna tersenyum manis lalu menunduk. Dia juga sebenarnya menyukai Aiman namun dia tidak berani memupuk perasaannya takut nanti kecewa jika ternyata Aiman tidak tertarik dengan gadis desa sepertinya.


"Ayo pulang. Alat-alat itu tinggalkan saja disini" ajak Aiman membalikkan badannya lalu keluar ruangan. Aruna menutup pintu kemudian mengekor di belakang Aiman.


"Pak...pak!" panggil Aruna menarik jas di pergelangan tangan Aiman.


"Apa" sahut Aiman sambil tetap melangkahkan kakinya.


"Suka dan cinta itu sama nggak?" tanya Aruna.


Aiman hanya diam. Aruna mengerucutkan bibirnya. 'Kok diam saja sih'


Tiba di depan lift Aiman masih membisu. Dia lalu menekan tombol lift  ke lantai dasar.


"Bapak bilang tadi suka sama saya, itu artinya bapak juga cinta sama saya dong?" lanjut Aruna bertanya ketika mereka masuk ke dalam lift.


Gadis itu hanya ingin memastikan saja, jangan-jangan Aiman hanya bercanda. Namun sayang Aiman masih membisu.


Aiman memasukkan ke dua tangannya ke saku celana sambil melihat bayangan Aruna di dinding lift. Begitu pun dengan Aruna.


"Bener nggak?" tanya Aruna lagi melihat bayangan wajah Aiman di dinding lift.


Aiman memalingkan wajahnya masih tidak merespon pertanyaan Aruna yang seperti sedang menggodanya. Aiman memang belum pernah menyatakan cinta kepada gadis manapun. Entah kenapa dengan Aruna dia tidak tahan lagi karena melihat ketidakpekaan gadis itu dengan sikap yang dia tunjukkan selama ini bahwa dia menyukai Aruna.


Aruna hanya melihat bayangan wajah Aiman di dinding lift menyunggingkan senyuman.


'Ya Tuhan ternyata makhluk berwajah dingin ini kalau tersenyum lebih tampan' batin Aruna.