Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 30: Sensitif



Aruna mengunjungi mertuanya di perumahan yang cukup besar. Papanya telah membelikan rumah itu untuk mereka. Awalnya, kedua orang tua Aiman menolak, tapi karena bujukan Aruna kedua mertuanya mau menerima pemberian itu dan tinggallah mereka di kota.


"Kata Aiman, kamu kerja di perusahaan papa mu? Tapi, kok malah ke sini"  Tanya Wardah heran.


"Izin Bu, hari ini aku nggak masuk kerja" jawab Aruna nyengir kuda.


"Jangan mentang-mentang bosnya suami mu sendiri jadi seenaknya" pesan Wardah.


"Ya nggaklah, Bu. Sekali-sekali aja boleh, kan" sanggah Aruna.


"Na, makan siang udah ibu siapin. Ayo, makan" ajak Wardah.


"Aku tunggu Mas Aiman dulu, Bu. Katanya, dia mau mampir ke sini buat makan siang" ujar Aruna melihat layar ponselnya.


"Eh An, kamu nggak kuliah?" Tanya Aruna melihat Ardian keluar dari kamar hendak menuju meja makan.


"Ada kelas siang, Mba. Jam satu nanti" jawab Ardian.


"Mba, nggak sama Mas Aiman?" Tanya adik Aiman itu.


Wajah Ardian tidak jauh beda dengan Aiman ganteng juga. Bedanya kulit Ardian tidak seputih Aiman yang dibesarkan oleh orang kaya. Sementara Ardian dibesarkan di desa yang suka membantu ayahnya ke kebun.


"Ohh, gitu. Bentar lagi dia ke sini" jawab Aruna.


Aruna tersenyum melihat Ardian yang sudah menjadi laki-laki kota. Penampilannya nggak deso  lagi karena sudah difasilitasi Aiman dengan uang saku yang lumayan.Namun sikap Ardian tidak berubah dia tetap menjadi anak yang baik dan suka menolong. Beruntungnya Ardian bisa melanjutkan kuliah setelah bertemu Aiman.


Tak lama suara mobil Aiman terdengar di luar. Wardah sudah menyambut anaknya itu dan mengajaknya masuk.


"Sehat, Bu?" Tanya Aiman.


"Alhamdulillah. Ayo, Man langsung ke belakang saja. Aruna sudah nungguin kamu" ajak Wardah.


Aiman mengikuti langkah ibunya menuju ke ruang makan yang berdekatan dengan dapur. Aruna menoleh dan melihat Aiman menghampirinya.


"Yuk, Mas makan" ajak Aruna mendekati Aiman dan membuka jas yang dipakainya agar tidak risih ketika makan.


"Kamu udah lapar, ya?" Tanya Aiman


"Iyalah, apa lagi lihat masakan ibu, menggoda banget" jawab Aruna tersenyum manis.


"Udah, buruan makan sana Man. Aruna udah lama nungguin kamu, lho" sela Wardah tersenyum. Aruna sudah mengambilkan Aiman nasi di piringnya.


"Makasih sayang" ucap Aiman lalu melirik nasi di piring Aruna.


"Lho, kok dikit banget kamu makan? Katanya tadi masakan ibu menggoda" ujar Wardah melihat Aruna mengambil sedikit nasi.


"Nanti tambah lagi Bu. Kalau masih kurang, kan mubazir udah ambil banyak terus nggak habis" dalih Aruna padahal dia lagi sedang tidak berselera makan.


Aruna tidak mau selera makan Aiman hilang lantaran dia tidak mau menemani suaminya itu makan siang.


"Sayang, kamu nggak usah diet-diet segala, deh. Kalau mau makan, ya makan aja" sindir Aiman dengan tatapan tajam ke arah Aruna.


"Siapa yang diet sih, Mas?" Elak Aruna merasa tidak enak hati.


Memang sih belakangan ini bobot badannya naik berapa kilo. Padahal Aruna merasa dia tidak makan banyak, nyemil-nyemil malam juga nggak. Tapi setelah melihat timbangan yang ada di kamarnya Aruna menjerit. Ini tidak mungkin !!!


"Kalau kamu udah ngurangi makan dari porsi makan sebelumnya, itu tandanya kamu sedang diet" ujar Aiman sambil menyuap nasi.


"Terserah Mas, deh!!" Balas Aruna dengan wajah ditekuk.


Setelah makan Aruna meninggalkan Aiman masuk ke kamar yang telah disediakan Wardah untuk mereka jika menginap di sana.


Aruna berdiri di depan cermin melihat dirinya sendiri. Aruna lalu memegang pipinya.


'Kok tambah tembem, ya' gumam Aruna sambil memegang pipinya.


Kemudian beralih ke bagian perutnya. 'Huah, lemak di perut juga!!!' batin Aruna mulai histeris.


'Aku gendut!!!'


'Badan Mas Aiman kok masih tetap berbentuk begitu, ya. Nggak melar. Waktu awal nikah badan ku, kan nggak kayak gini' Aruna meringis melihat dirinya di depan cermin.


Ceklek!!


Aiman masuk menyusul Aruna. Aruna menoleh sekilas ke arah Aiman lalu menjauh dari cermin dan duduk di tepi ranjang.


"Kamu kenapa? Mukanya, kok ditekuk begitu" tanya Aiman.


Aruna hanya menatap Aiman tanpa ekspresi. Dia mengamati badan Aiman yang begitu atletis padahal porsi makan suaminya itu lebih banyak dari dia. Tapi badannya tetap seperti itu.


"Hey, kok melamun?" Tegur Aiman melihat Aruna tak bersuara hanya menatapnya. Aruna memalingkan wajahnya.


"Kalau Mas udah makan, sana balik lagi ke kantor" ujar Aruna masih tanpa ekspresi.


"Mas pulang sama kamu" ujar Aiman. Dia mampir, kan sekalian mau menjemput Aruna.


"Aku bisa pulang sendiri atau minta jemput sopir" tolak Aruna.


Aiman lalu duduk di samping Aruna. Kenapa tiba-tiba mood istrinya itu berubah.


"Kamu kenapa?" Tanya Aiman menggenggam tangan Aruna.


"Nggak...nggak kenapa-kenapa" jawab Aruna masih memalingkan wajahnya.


"Nggak kenapa-kenapa tapi bicaranya nggak mau  lihat suami" gumam Aiman.


"Ya udah, Mas balik ke kantor. Kamu minta jemput sopir aja pulangnya" ucap Aiman lalu berbalik mau keluar kamar.


"Tuh, kan Mas Aiman jahat banget...aku disuruh pulang sama sopir!" Balas Aruna menekuk wajahnya dan bersilang tangan di dada.


Aiman berbalik manarik napas pajang. 'Apa aku yang salah dengar tadi. Bukannya dia sendiri yang bilang mau pulang sendiri atau minta jemput sopir' batin Aiman heran.


"Lho, tadi kamu sendiri yang bilang begitu. Mau pulang sendiri atau minta jemput sopir" jelas Aiman. Dia tidak mau disalahkan Aruna.


"Ihh, Mas Aiman nggak peka banget!!" Teriak Aruna kesal.


"Nggak peka apanya. Mas nggak tau masalah kamu apa tiba-tiba mukanya ditekuk. Mas ini manusia biasa nggak bisa baca pikiran orang sayang" ujar Aiman gemas mencubit pipi Aruna.


"Sakit, Mas!!!" Teriak Aruna lagi. Aiman lantas melepas cubitan sayangnya.


"Kenapa sih, Mas suka banget cubit pipi ku?" Pelotot Aruna


"Gemes aja. Pipi kamu chubby banget" jawab Aiman tersenyum manis.


"Maksud Mas, aku gemuk gitu kan? Bilang aja kalau aku gendut pake alasan chubby segala" ujar Aruna tidak terima.


"Ya Allah sayang, aku nggak bilang kamu gendut. Chubby dan gendut, kan beda" elak Aiman bingung kenapa malah dia yang salah lagi.


'Kayaknya ada yang nggak beres ini' pikir Aiman.


"Udah ya. Sekarang kamu mau pulang sama Mas atau tidak?" Itu intinya. Pikir Aiman.


Wanita kalau udah bahas berat badan pasti nggak terima. Memang Aiman akui, Aruna lebih berisi dibandingkan ketika awal menikah. Tapi itu tidak menjadi masalah baginya.


Akhirnya Aruna memilih ikut pulang bersama Aiman meskipun masih dengan wajah tidak suka.


Di hari yang lain


Sikap Aruna semakin hari semakin membingungkan Aiman. Mudah sensi dan tersinggung.


"Beneran Pop, aku gendut?" Tanya Aruna kepada Popy di ruangan OB.


Popy hanya nyengir kuda, dia mau jujur tapi takut istri big bos tempatnya bekerja nggak suka. Popy hampir tidak percaya mendengar cerita dari beberapa Office Boy dan Office Girl kalau Aruna sudah menikah dengan CEO Circle Corp. Tapi setelah dia bertanya langsung dengan Aruna, Popy tidak bisa tidak percaya lagi.


"Pop, jujur saja. Aku nggak akan marah, kok" desak Aruna karena Popy belum menjawab pertanyaannya.


"Iya Na, kamu agak berisi. Pipi kamu chubby tuh tapi tetap cantik, kok.Emang dasarnya kamu udah cantik" ujar Popy sambil menyelipkan pujian untuk temannya itu.


"Kok bisa, ya Pop ?. Makan ku kan nggak banyak. Ngemil juga nggak" gumam Aruna sedih.


"Udah, nggak usah dipikirin toh Pak Aiman tidak mempermasalahkan penampilan kamu, kan" hibur Popy.


"Tapi, tetap aja Pop hati ku resah. Pria seperti dia, kan di kelilingi wanita-wanita langsing dan cantik. Lihat aja karyawati-karyawatinya, modis, langsing dan cantik semua" ujar Aruna tidak percaya diri.


Popy menarik napas. Dia bingung juga bagaimana memberi pengertian kepada Aruna. Di sisi lain big bos mereka emang ganteng kebangetan. Siapa aja yang melihatnya pasti pada kesengsem. Tapi siapa sangka dia suka tipe seperti Aruna.


***


"Raf, Aruna ke mana?" Tanya Aiman setelah kembali ke ruangannya lagi.


"Tadi katanya keluar sebentar tapi nggak bilang ke mana" jawab Rafli.


"Kenapa dia nggak ikut kamu tadi, Man?" Tanya Rafli.


Aiman duduk bersandar di kursi kerjanya. Dia sendiri bingung dengan sikap Aruna.


"Nggak tahu. Tadi ku ajak, katanya mules mau ke toilet jadi, ya aku tinggal saja" jawab Aiman.


Aiman memang mau mengajak Aruna keluar menemui rekan bisnisnya. Tapi Aruna nggak jadi ikut karena alasan sakit perut. Aiman menekan nomor kontak Aruna untuk memberitahu kalau dia sudah kembali ke kantor.


"Aku keluar dulu" pamit Rafli.


Rafli tahu sebentar lagi Aruna akan masuk ke ruangan Aiman. Benar saja tak lama Aruna muncul dari balik pintu ruangan CEO.


"Kamu udah makan siang?" Tanya Aiman melihat Aruna masuk ke ruangannya.


Aruna tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Aruna hanya minum susu kotak saja. Dia malas makan siang sendirian di kantin perusahaan.


"Sudah belum?" Tanya Aiman lagi berdiri dari kursinya lalu mendekati Aruna.


"Udah" jawab Aruna pelan.


Aiman meraih pinggang Aruna. "Kita makan di luar, ya?" Tawar Aiman menyentuh wajah Aruna dengan jemarinya.


"Hm nggak usah, Mas. Aku udah kenyang, kok" tolak Aruna.


Aiman tersenyum geli. Jelas-jelas Aruna belum makan siang. Suara perutnya yang lapar bisa Aiman dengar.


"Sayang. Aku nggak mau kamu sakit. Ayo, kita makan di luar saja" ajak Aiman setelah meraih kunci mobilnya.


Aruna terpaksa menyeret langkah kakinya mengikuti Aiman. Memang sih dia merasa sangat lapar. Tapi nanti takut khilaf makannya dan berat badannya bisa naik lagi.


"Mau makan di mana?" Toleh Aiman melihat Aruna hanya membisu.


"Terserah Mas saja" jawaban yang sangat tidak disukai Aiman. 'Terserah'.


Aiman membelokkan mobilnya ke arah restoran seafood. Dia tahu Aruna suka makanan laut. Tiba di restoran Aiman memesan beberapa menu seafood, dia juga masih lapar karena ketika meeting tadi hanya makan sedikit.