
Aiman memejamkan matanya di bawah air shower yang mengalir deras. Bayangan wajah Aruna selalu terlintas. Keluar dari kamar mandi Aiman pun mengeringkan rambutnya.
"Shit...kenapa wajahnya selalu terbayang" umpat Aiman lalu menghempaskan badannya ke ranjang.
Wajah Aruna yang tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipitnya membuat Aiman tidak bisa memejamkan matanya.
"Kenapa setiap bertemu dengannya aku terkena sial, terpeleset lah kena air pel...entah besok apa lagi. Dasar gadis ceroboh" gerutu Aiman lalu menyunggingkan senyuman.
***
"Na, kamu membersihkan ruangan ceo ya?" tanya Meri.
"Ho oh mba" jawab Aruna.
"Gimana udah ketemu sama pak Aiman?" tanya Meri lagi. Aruna hanya mengangguk.
"Ganteng kan? Wajahnya emang dingin tapi ganteng banget, aku saja belum sempat melihatnya"
"Biasa aja tuh" jawab Aruna cuek.
"Astaga Na, cowok seganteng pak Aiman kamu bilang biasa saja" ujar Meri heran. Meri menempelkan tangannya ke kening Aruna.
"Mba Meri apaan sih" Aruna menepis tangan Meri.
"Ganteng itu relatif mba"
Meri mengeryitkan dahinya.
"So ganteng menurut kamu gimana?" tanya Meri.
"Kalau menurut aku. Ganteng itu orangnya murah senyum, baik hati dan penyayang" jawab Aruna santai.
"Pak Aiman emang berwajah dingin, tapi tetap aja ganteng Na"
"Yah terserah mba, kalau itu kan definisi ku. Bagi ku pak Aiman itu biasa saja. Titik"
"Iya sih. Lagian katanya nih dia alergi sama cewek" ujar Meri.
"Alergi cewek gimana mba?"
"Nggak mau dideketin cewek lah" jawab Meri.
'Alergi cewek? Tapi dia kok mau nganterin aku pulang' tanya batin Aruna heran.
***
Di kantor
"Man, hari ini ada meeting dengan Axila Company" ujar Rafli memberitahu agenda Aiman.
"Siapa yang hadir nanti dari pihak mereka?"
"Kurang tahu juga. Yang jelas direkturnya datang"
Aiman dan Rafli pun berangkat meeting di sebuah hotel mewah.
Di meja bundar itu rekan bisnisnya sudah duduk di hadapannya, Direktur Axila Company. Sementara sekretaris perempuannya di sebelah Aiman. Jeda sepuluh menit berbincang Aiman mulai bersin-bersin padahal pergi tadi dia baik-baik saja.
"Kenapa pak Aiman, anda sedang flu ya?" tanya Direktur Axila Comp.
Aiman hanya tersenyum kecil lalu menutup mulutnya dengan sapu tangan karena mau bersin lagi.
"Hatchi!! Maaf" ucap Aiman.
"Oke kita percepat saja. Pada dasarnya saya setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan anda. Nanti bisa kita lanjutkan di perusahaan anda untuk MOU nya. Bagaimana?"
"Baiklah, saya minta maaf pak Rivky"
***
"Astaga Man, kamu masih alergi juga? Aku nggak percaya" ujar Rafli melihat Aiman masih bersin-bersin di dalam mobil.
Aiman hanya membisu menutup hidungnya dengan sapu tangan.
"Padahal sekretaris pak Rivky cantik lho" goda Rafli.
"Buat apa cantik kalau bikin semaput begini" balas Aiman.
Rafli terkekeh mendengar ucapan Aiman.
Tiba di depan ruangannya Aiman melihat gadis yang membuatnya selalu terjengkang di lantai.
"Aruna, ngapain?" tanya Rafli. Aiman pura-pura tidak melihat ke arahnya.
"Mau ketemu pak Aiman" jawab Aruna.
Rafli melirik Aiman dengan tatapan penuh tanda tanya.
Aiman pun masuk ke ruangan tanpa menunggu Rafli lagi.
"Ayo masuk" ajak Rafli melihat Aruna.
"Ayo cepat kamu ada urusan apa sama pak Aiman?" tanya Rafli takut alergi Aiman kambuh lagi apalagi berada di dekat gadis seperti Aruna. Gadis kota aja udah semaput apalagi gadis desa.
"Saya cuma mau nganterin ini saja" ujar Aruna meletakkan bungkusan plastik di atas meja kerja Aiman.
Aiman pun membalikkan badannya melihat Aruna. Apa yang gadis itu berikan kepadanya.
"Saya permisi" ucap Aruna menunduk lalu pamit keluar dari ruangan Aiman.
"Apa ini Man?" tanya Rafli penasaran mengulurkan tangannya ingin memegang plastik di atas meja Aiman namun Aiman segera menepis tangan Rafli.
"Itu untuk ku. Ngapain pegang-pegang" sungut Aiman langsung menarik bungkusan plastik di atas meja.
"Ceile emang apaan sih isinya, segitu amat" balas Rafli heran.
"Raf, aku mau istirahat bentar. Tolong jangan ada yang ganggu. Jadwal selanjutnya kamu yang atasi ya" ujar Aiman, tandanya dia ingin sendiri dan meminta Rafli ke ruangannya sendiri yang ada di depannya.
"Oke, istirahatlah"
Rafli meninggalkan Aiman sambil bersiul.
Aiman membuka bungkus plastik berwarna merah itu. Di dalamnya ada bungkusan dari koran. Dia pun menyobek bungkusan itu.
"Ini kan jas dan kemeja ku kemarin"
Aiman menatap jas berwarna cream yang dipakainya kemarin. Padahal dia sudah tidak peduli lagi dengan jas dan kemeja kotor itu karena dia masih banyak yang lainnya. Aroma wangi menyeruak dari pakaian yang dipegangnya itu. Aiman menyunggingkan senyuman di bibirnya.
"Pak Bobi, saya boleh pindah ruangan nggak. Kalau bisa jangan membersihkan ruangan ceo" pinta Aruna.
"Saya belum menerima laporan jelek sejauh ini. Jadi kamu tetap yang bertugas disana. Jangan membantah!" tolak Bobi.
'Hah masa nggak ada laporan dari pak Aiman sih. Aku udah buat kesalahan berapa kali di ruangan itu. Kok adem ayem saja' batin Aruna heran.
"Ruangan pak Aiman harus dibersihkan pagi sebelum beliau datang dan sore setelah beliau pulang. Ruangan itu harus steril dari debu karena pak Aiman alergi debu dan wanita pecicilan" ingat Bobi.
"Ihh pak Bobi, saya nggak pecicilan deh" sungut Aruna tidak setuju.
"Yang bilang kamu pecicilan siapa!! Makanya jangan pecicilan kalau sudah diingatkan" ujar Bobi galak.
"Sudah sana siap-siap. Biasanya pak Aiman sudah pulang jam segini" lanjut Bobi memberi perintah.
"Iya...iya" Aruna pun menurut.
Tiba di lantai 12 Aruna melirik temannya,Popy.
"Pop barengan ya turun ke bawah" pesan Aruna sebelum masuk ke ruangan ceo.
Popy yang kebagian membersihkan koridor di lantai 12 mengacungkan jempolnya.
Aruna membuka pintu dengan memundurkan badannya. Ketika dia berbalik, dia sangat terkejut melihat sosok pria berwajah dingin itu masih duduk di balik meja kerja sedang menatapnya.
"Astaghfirullah!!"
Aruna tidak sengaja menjatuhkan ember yang berisi air sehingga tumpah saking dia kagetnya.
"Ba...bapak kok belum pulang?" tanya Aruna panas dingin, matanya mengerjap melihat air yang tumpah di lantai.
"Kalau saya belum mau pulang emangnya kenapa?" Aiman balik tanya sambil bersedekap.
"Ya...biasanya kan jam segini semua pejabat udah pulang" jawab Aruna keki.
"Saya mau melihat kerja kamu" ujar Aiman.
'Ya Tuhan kenapa dia harus mengawasi kerjaan ku sih' batin Aruna jengkel.
"Udah sana cepetan keringkan air yang tumpah itu" tunjuk Aiman.
Aiman tahu kalau Aruna menjatuhkan embernya karena kaget melihat dirinya masih di ruangan.
"Hei...terima kasih sudah membersihkan jas dan kemeja saya" ucap Aiman berdiri dari tempat duduknya.
Aruna pun berbalik masih memegang gagang pengepel.
"Ah itu...sudah seharusnya begitu, lagipula itu kan karena saya juga" balas Aruna lalu melanjutkan kegiatannya.
Aiman heran kenapa di dekat Aruna tubuhnya tidak bereaksi apa-apa seperti dia berdekatan dengan wanita lain di luar sana. Aiman pun berjalan lebih dekat lagi ke arah Aruna, dia masih tidak yakin.
Bugh!! Aruna kaget setengah mati badannya sudah menabrak seseorang yang sudah pasti itu Aiman. Aruna refleks berbalik tangannya yang memegang gagang pengepel menjadi penghalang jarak mereka yang sangat dekat. Sekilas mereka pun saling pandang lalu Aiman memalingkan mukanya sementara Aruna menunduk dan mundur berapa langkah menjauhi Aiman.
" Maaf pak" ujar Aruna pelan.
"Sudah bersihkan cepat, saya pulang dulu" ucap Aiman datar.
Aiman lalu mengambil kunci mobilnya di meja, dia bergegas keluar ruangan dan menutup pintu. Namun dia belum beranjak dari depan pintu. Aiman memegang dadanya merasakan gemuruh disana. Debaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Aruna menggigit bibirnya.
"Ya Tuhan apa pak Aiman marah ya karena ulah ku tadi. Aku benar-benar tidak tahu kalau dia berdiri di belakang ku" gumam Aruna.