
Setelah membersihkan diri Aiman segera turun dari lantai atas kembali menemui Harun dan Amanda.
"Pa, besok aku mau ke desa" ucap Aiman duduk di hadapan Harun dan Amanda.
"Kamu mau mengajak Aruna pulang, kan?" tanya Amanda. Aiman mengangguk.
"Tapi sebelum kesana. Ehem..."
Aiman mulai gugup meskipun Harun bukan papa kandungnya tapi dia sangat dekat dengan Harun.
"Kenapa Man?" tatap Harun curiga.
Aiman merasa aneh saja harus melamar Aruna dengan laki-laki yang sudah seperti orang tua kandungnya sendiri.
"Aku mau melamar Aruna, pa" ujar Aiman. Harun terkekeh melihat Aiman yang sudah dibesarkannya melamar anaknya.
"Rasanya aneh sekali mendengar kamu melamar seorang gadis dengan papamu sendiri" ucap Harun tertawa. Amanda pun hanya tersenyum simpul.
Aiman jadi salah tingkah sendiri. Dia juga tidak habis pikir kisah hidupnya seperti itu. Mana mungkin kan dia melamar Aruna kepada ayah kandungnya, meskipun dia telah membesarkan Aruna.
"Papa dan mama justru mengharapkan kalian cepat menikah agar Aruna mau tinggal disini bersamamu. Iya kan ma?" Harun menoleh ke arah Amanda.
"Iya, Man" ujar Amanda ikut setuju dengan ucapan suaminya.
"Terima kasih papa dan mama mau menerimaku sebagai menantu" ucap Aiman tersenyum.
Geli juga rasanya orang tua yang sudah membesarkannya itu akan menjadi mertuanya.
***
Keesokannya
Tanpa ditemani Rafli seperti biasanya Aiman memacu mobilnya ke desa tempat orang tuanya tinggal. Sambil di jalan masih di wilayah kota Aiman menyempatkan diri menelpon Aruna. Aiman mendapatkan nomor baru Aruna dari ibunya.
[Assalamualaikum. Aruna...]
[Waalaikumsalam]
[Apa kabar? Kamu kok tiba-tiba menghilang dari rumah sakit?]
Aiman menjalankan mobilnya dengan pelan. Dia dapat berbicara dengan leluasa meskipun sambil berteleponan karena memakai earphone.
[Alhamdulillah sehat mas. Enggak menghilang kok, aku kan bukan makhluk halus]
Ada tawa kecil yang Aiman dengar dari sebrang sana. Aiman menyunggingkan senyuman. Aruna sudah bisa tertawa kembali.
[Sayangku Aruna...]
Panggilan Aiman membuat wajah Aruna merona. Untung gadis itu menerima telpon Aiman di dalam kamarnya.
[Mas Aiman apaan sih panggil-panggil begitu, belum halal mas...]
[Aku mau halalin kamu]
[Ya mas harus minta izin sama orang tuaku dulu]
[Udah dong dan mereka udah merestui kita. Mas udah melamar kamu kemaren]
Aruna tampak kaget. Benarkah mamanya yang angkuh itu mau menerima Aiman dan keluarganya yang jelas-jelas Aruna tahu bagaimana kehidupan mereka karena Aruna menjadi anak yang telah mereka besarkan.
[Aruna...kamu masih disitu kan?]
[Eh iya mas.Terus...]
[Terus apanya? Aku mau mempersiapkan pernikahan kita]
[Aku mau tinggal disini saja tidak mau pulang]
[Aruna...sudah dulu ya. Nanti kita bicarakan lagi kalau kita sudah ketemu]
Aiman menutup telponnya dan memacu mobilnya dengan cepat karena sudah keluar dari daerah perkotaan.
Aruna menatap layar ponselnya yang sudah mati.
'Kalau mas Aiman menjemputku bagaimana? Aku tidak mau pulang ke rumah papa. Aku mau tinggal disini saja' batin Aruna.
Ah kapan ketemunya mas Aiman kan orangnya sibuk. Apa ada waktu dia datang ke desa ini. Pikir Aruna.
Aruna membaringkan badannya di atas ranjang. Dia dibesarkan oleh keluarga Aiman yang sederhana jadi sudah terbiasa dengan hidup serba kekurangan. Justru Aruna merasa asing dengan kehidupan orang tuanya yang bergelimang harta dan Aiman yang hidup bersama mereka sudah pasti terbiasa dengan kemewahan dari orang tua kandung Aruna.
Tok.Tok.Tok
"Na, ibu mau ke rumah ibu Lula sebentar ya" ucap Wardah dari balik pintu kamar Aruna.
"Iya bu" sahut Aruna.
"Ayah ada di kebun belakang. Nanti buatkan ayah kopi ya"
"Siap bu" sahut Aruna lagi.
Sudah agak lama Wardah pergi, Aruna pun membuatkan kopi untuk Abid yang masih merumput di kebun belakang rumah mereka.
"Yah, ngopi dulu" teriak Aruna di muka pintu.
"Iya, taruh saja di meja Na" balas Abid.
Aruna meletakan kopi untuk Abid di meja yang ada di teras lalu kembali lagi ke kamarnya.
Tok.Tok.Tok
Kamar Aruna kembali diketuk seseorang. 'Siapa lagi sih? Apa ibu sudah pulang'
"Siapa?" teriak Aruna dari dalam kamar.
'Siapa?' batin Aruna.
Gadis itu menyambar jilbab langsungnya lalu keluar dari kamar. Ibunya sudah tidak ada di depan kamar. Aruna berjalan ke ruang tamu. Disana duduk seorang laki-laki jangkung yang belum lama berbicara dengannya di telpon tadi.
'Mas Aiman!'
Aruna mengeryitkan dahinya. Bagaimana bisa laki-laki itu sudah berada di rumah orang tuanya padahal belum lama dia bicara di telpon.
"Mas...bukannya tadi..."
Aruna menunjuk ke arah Aiman bingung. Aiman hanya tersenyum.
"Waktu aku telpon kamu, aku sudah diperjalanan menuju kesini" jelas Aiman.
"Oh...begitu" gumam Aruna duduk di depan kursi Aiman.
Tak lama Wardah muncul membawa nampan berisi minuman dan kue.
"Diminum mas" tawar Aruna.
"Iya" Aiman memangĀ haus, perjalanan yang lumayan jauh ke rumah orang tuanya.
"Ayah mana bu, ada yang mau aku bicarakan" sambung Aiman meletakkan kembali gelas yang sudah kosong di atas meja.
"Sepertinya masih di belakang. Nanti ibu panggilkan" ujar Wardah lalu meninggalkan mereka berdua.
Setelah Abid membersihkan diri, dia lalu bergabung di ruang tamu.
"Sebaiknya aku ke kamar saja" ujar Aruna tidak enak karena berada diantara mereka.
"Kamu disini saja. Bukankah aku mau membahas tentang kita" ucap Aiman melirik Aruna.
"Ada apa Man?" tanya Abid.
"Yah, aku sudah melamar Aruna. Papa dan mama audah merestui. Bagaimana menurut ayah selanjutnya?"
Aruna hanya menunduk. Seharusnya dia tidak berada diantara mereka.
"Ya tinggal menentukan tanggal akad nikahnya. Kapan kalian mau menikah?" tatap Abid bergantian ke arah Aiman dan Aruna.
Aiman bingung. Karena Aruna tinggal di rumah orang tuanya lalu bagaimana dia harus melamar Aruna secara resmi. Bukankah dia dan orang tuanya datang ke rumah Harun untuk melamarnya. Lha ini gadis itu tidak mau pulang kesana.
"Mas...aku mau menikah disini. Di rumah ini." tegas Aruna.
Abid, Wardah dan Aiman saling pandang.
Aruna ingin memberi pelajaran kepada mamanya. Apakah wanita angkuh itu mau menuruti kemauannya yang jauh dari kemewahan.
"Tapi..." Aiman menatap Aruna bingung.
"Mas tidak usah bingung. Biarkan saja keadaannya tetap seperti ini yang beda hanyalah wali yang akan menikahkan ku. Papa kandung ku" jelas Aruna.
"Aruna...tidak boleh seperti itu nak" sela Wardah tidak setuju.
"Benar apa yang ibu mu ucapkan. Bagaimana pun kamu anak pak Harun, dia pasti menginginkan pernikahan anaknya tidak disini. Di desa"
"Aku mau akad nikahnya disini. Titik" ucap Aruna lalu berdiri meninggalkan mereka masuk ke kamar.
Abid menarik napas dalam. Gadis itu kalau sudah ada kemauan tidak akan berubah. Dia sudah paham betul dengan karakter Aruna.
"Bagaimana Man? Aruna kalau sudah bilang begitu tidak akan berubah" ujar Abid melihat anaknya Aiman.
"Akan aku bicarakan kemauan Aruna kepada mama dan papa. Sepertinya Aruna belum bisa menerima mama dan papa"
"Iya. Paling tidak akadnya kan di rumah pak Harun bukan di rumah ini" timpal Wardah.
"Aku akan bicara lagi dengan Aruna"
Wardah dan Abid mengangguk setuju.
Aiman sempat beristirahat di kamar orang tuanya sebelum pulang ke kota.
"Ehem..."
Aiman mendekati Aruna yang sedang duduk di teras belakang sambil mengelus Boy kucing kesayangannya.
"Aku mau pulang" ucap Aiman. "Mau ikut?" tawar Aiman tersenyum.
"Nggak. Aku menunggu mas disini. Sampaikan saja kemauan ku seperti itu" jawab Aruna tanpa melihat wajah Aiman.
"Jadi kita menikah disini?" tanya Aiman.
"Mas keberatan?" Aruna mendongakkan kepalanya melihat Aiman.
"Ya nggaklah. Asalkan aku nikahnya sama kamu" jawab Aiman tersenyum. Aruna memalingkan wajahnya tersenyum malu.
"Udah sana pulang. Nanti sampainya kemalaman" usir Aruna.
"Eh...ini kan rumah orang tua ku" canda Aiman.
Aruna menyilangkan kedua tangannya di dada. Jantungnya berdebar kencang berada di dekat Aiman. Makanya Aruna lebih suka jika Aiman cepat-cepat menjauh darinya.
"Aku pulang ya" pamit Aiman melihat Aruna yang tidak mau memandangnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" balas Aruna.
"Insya Allah kita bertemu lagi sudah halal" ucap Aiman lalu meninggalkan Aruna untuk berpamitan dengan ke dua orang tuanya.
Pipi Aruna bersemu merah lalu tersenyum merekah mengingat ucapan Aiman.