
Haikal menghentikan mobilnya di parkiran salah satu restoran ternama. Aruna turun dan berjalan di samping pamannya itu.
"Ayo masuk" ajak Haikal ketika Aruna menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk.
Jantung Aruna berdebar-debar. Sebenarnya siapa yang ingin menemuinya. Aruna pun melangkahkan kakinya mengiringi pamannya menuju salah satu meja yang sudah dipesan. Aruna tampak kaget melihat laki-laki yang seusia pamannya duduk di meja itu. Wajahnya berkarisma dan tampan.
'Jangan bilang paman ku mau menjodohkan aku dengannya' batin Aruna menebak-nebak.
"Tuan" panggil Haikal.
"Oh kalian sudah datang" ujar Harun lalu melirik Aruna yang berdiri di samping Haikal.
Harun begitu terpaku memandang gadis yang sedang berdiri di depannya. Aruna pun tersenyum takut-takut melihat Harun menatapnya begitu.
'Wajahnya benar-benar mirip Amanda ketika masih gadis' batin Harun tersenyum.
"Duduklah" ujar Harun mempersilahkan Haikal dan Aruna duduk.
"Tuan bicaralah dengan Aruna, saya akan menunggu di mobil saja" ujar Haikal pamit.
"Eh...paman mau kemana?" tanya Aruna menggaet tangan pamannya agar tidak pergi.
"Tenanglah Aruna, kamu akan baik-baik saja" bisik Haikal sambil melepaskan tangan Aruna lalu pergi keluar.
"Tidak usah takut" ujar Harun tersenyum melihat wajah gadisnya begitu cemas.
"Mau pesan makan apa?" tanya Harun lembut.
"Tuan...langsung saja. Anda ada urusan apa mau bertemu dengan ku?" tanya Aruna.
'Bagaimana aku bisa makan tenang dengan laki-laki yang tidak aku kenal sama sekali'
"Mau mendengarkan cerita tentang seorang gadis?" tanya Harun basa-basi.
"Apa hubungannya dengan ku?" tanya Aruna heran.
"Aku anak tunggal, orang tua ku memiliki perusahaan dan beberapa aset lainnya. Lalu aku menikah dengan seorang gadis yang cantik dan pintar sederajat dengan keluarga ku. Satu tahun menikah istri ku baru hamil dan ayah ku berpesan jika istri ku melahirkan anak perempuan maka separuh dari aset kekayaan ayah ku akan diberikan kepada panti asuhan atau panti sosial. Aku yang masih muda dan tidak suka berbagi memikirkan bagaimana caranya agar semua kekayaan ayah ku jatuh ke tangan ku" cerita Harun walaupun Aruna tampak cuek.
"Ya anda tinggal memiliki anak laki-laki saja" sela Aruna.
"Istri ku memang hamil namun setelah di USG ternyata anak kami perempuan" lanjut Harun. Aruna tampak kaget.
"Terus..." ucap Aruna penasaran dengan cerita Harun.
"Aku masih belum percaya.Hingga menunggu waktu lahir untuk memastikan kebenarannya"
"Sampai lahir memang perempuan?" tanya Aruna. Harun mengangguk.
"Tapi orang kepercayaan ku, Haikal memberitahu ku bahwa adiknya juga melahirkan bayi laki-laki dua hari sebelum anak ku lahir. Aku pun meminta Haikal untuk menukar bayi itu dengan anak ku untuk sementara. Agar ayah ku memberikan semua kekayaannya kepada ku" lanjut Harun bercerita.
"Adik paman Haikal itu kan ibuku...jadi...maksudnya aku adalah...?"
"Kau telah menukar ku!!" teriak Aruna lalu membekap mulutnya dengan tangannya sambil terisak.
"Aruna maafkan papa" ujar Harun mendekati Aruna lalu menarik gadis itu kepelukannya.
"Maafkan papa nak" ucap Harun dengan mata berkaca.
Tidak jauh dari Harun ternyata sepasang mata wanita menatap marah melihat adegan tersebut. Hatinya benar-benar terbakar. Wanita itu adalah Amanda istri Harun.
'Aruna! Aku tidak akan membiarkan mu merebut suami ku' batin Amanda penuh amarah. Lalu meninggalkan restoran itu.
Tiba di rumah
"Berani sekali gadis kampung itu mengganggu keluarga ku. Aku sudah menyuruhnya untuk menjauhi Aiman tapi dia malah menggaet suami ku. Dasar gadis sialan!!!" teriak Amanda kesal melemparkan tas mahalnya ke atas tempat tidur.
"Aku tidak akan membiarkan mu merusak keluarga ku" ujar Amanda emosi.
***
Harun pulang ke rumah dengan wajah sendu. Aruna ternyata belum bisa menerimanya. Gadis itu begitu kecewa dengannya.
Haikal pun tidak bisa berbuat apa-apa. Aruna mengajaknya pulang cepat dan sepanjang jalan tidak berbicara sama sekali.
"Aruna!" panggil Haikal melihat Aruna bergegas turun dari mobil setelah tiba di rumah Haikal. Haikal pun menyusul Aruna yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Aruna, dengarkan paman!" teriak Haikal.
Haikal tahu Aruna pasti marah juga dengan dirinya karena menyetujui rencana Harun, yang ternyata papa kandungnya.
"Paman dan dia sama saja, kalian tega!!" balas Aruna berteriak lalu masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
"Mas, ada apa?" tanya Hesti istri Haikal melihat sikap Aruna yang tampak sangat marah.
"Aruna sudah tahu papa kandungnya" jawab Haikal tertunduk. Dia tahu hal ini suatu hari nanti akan terjadi, dan kini sudah dia alami.
"Kita perlahan-lahan mengembalikan lagi posisi mereka yang sebenarnya. Wajar jika Aruna merasa marah dengan tuan Harun" ujar Hesti menggenggam tangan suaminya.
Haikal mengangguk mengerti. Aruna hanya terkejut saja mengetahui kenyataan keluarganya. Lambat laun gadis itu akan menerima ayah kandungnya.
***
Aruna menyembunyikan kepalanya di bantal. Dia masih tidak percaya dengan fakta bahwa Harun adalah papa kandungnya.Harun tidak menceritakan siapa nama mama kandungnya karena Aruna keburu sakit hatinya mendengar cerita Harun dan otaknya menjadi kacau tidak bisa berpikir jernih lagi.
'Jika pak Harun adalah pemilik Circle Corp, artinya mas Aiman adalah anaknya. Jadi aku dan mas Aiman adalah anak yang ditukar itu...laki-laki yang ku cintai berarti saudara ku jika dia dibesarkan oleh istri pak Harun, nyonya Amanda' batin Aruna.
Hatinya kini bertambah sesak mengetahui fakta bahwa Amanda, ibu Aiman yang telah memberinya cek agar menjauhi Aiman ternyata ibu kandungnya.
"Tidak...aku tidak mau punya orang tua arogan seperti dia" isak Aruna.
"Orang tua ku adalah mereka yang sudah membesarkan ku dan telah memberikan kehidupan untuk ku meskipun tidak berkecukupan" isak Aruna.