Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 8: Makan Berdua



"Kau tadi melihatnya?" tanya Harun kepada Haikal.


"Iya tuan, dia datang. Sangat cantik sekali, wajahnya mirip dengan Nyonya Amanda" jawab Haikal.


"Apa dia masih ada disini? Kenapa aku tidak melihatnya"


"Entahlah karena tamu sangat ramai, tidak bisa melihat dengan jelas dimana dia sekarang"


"Sayang, ayo kemari. Ada teman lama papa" ajak Amanda menarik tangan suaminya. Harun pun mengikuti istrinya itu meninggalkan Haikal.


***


"Pak. Bisa saya pergi?" tanya Aruna karena posisi mereka masih sama. Saling berhadapan.


"Kemana?" tanya Aiman.


"Saya mau pulang saja. Acara ini tidak cocok untuk orang seperti saya" jawab Aruna. Kebetulan sekali Aiman juga tidak suka juga berada di acara itu.


"Ayo ikut saya" ajak Aiman berjalan keluar dari kitchen room lewat pintu belakang.


"Terima kasih pak" ucap Aruna.


"Saya antar pulang" ujar Aiman.


"Nggak usah pak, saya naik taksi saja" tolak Aruna sambil berjalan.


"Aruna! Stop disana dan tunggu saya mengeluarkan mobil!" perintah Aiman.


Aruna berbalik dan melihat wajah dingin Aiman.


'Mentang-mentang atasan sukanya main perintah-perintah' batin Aruna tidak suka.


Aiman meninggalkan Aruna sebentar. Tak lama dia muncul lagi bersama mobilnya.


"Naiklah" ujar Aiman setelah membukakan pintu di sebelahnya. Dengan terpaksa Aruna pun masuk ke dalam mobil.


"Kamu laper nggak?" lirik Aiman.


"Laper sih, tapi..." mata Aruna melebar lalu menunjuk tangannya keluar jendela mobil.


"Pak kostan saya lewat" ucap Aruna cemas.


"Kita makan dulu" ajak Aiman tetap fokus menyetir.


"Makan? Saya bisa makan di rumah saja pak" tolak Aruna.


"Aruna. Kamu itu bisa tidak bicara yang tidak mengandung kata penolakan" toleh Aiman.


Aruna pun melihat ke arah Aiman sehingga pandangan mereka bertemu. Lalu keduanya sama-sama membuang muka.


Aruna membisu. Hingga Aiman mengajaknya ke sebuah restoran.


"Pesanlah" Aiman menyodorkan daftar menu kepada Aruna.


Mata Aruna berputar mencari judul menu yang familiar baginya.


'Bahasa asing semua. Makanan apa ini?' batin Aruna. Matanya masih melihat daftar menu.


"Sudah? Pilih yang mana?" tanya Aiman.


"Saya sama saja dengan yang bapak pesan" jawab Aruna tersenyum menutupi kebodohannya yang tidak mengerti bahasa selain bahasa Indonesia.


"Waitress!" panggil Aiman.


Aiman lalu menunjukkan pesanannya kepada waitress.


Mata Aruna berkeliling melihat sekitar restoran. Pengunjungnya cukup ramai. Semua pengunjung sepertinya kelas atas, berpakaian necis ala kantoran.


Aiman menatap tingkah polos Aruna. Dia akui malam ini Aruna terlihat bekelas sekali dengan gaun yang dipakainya. Wajah gadis itu juga di matanya semakin cantik dengan polesan make up tipis dan lesung pipit yang menghiasi pipi Aruna semakin membuat Aiman terpesona. Aiman pun memalingkan wajahnya ketika Aruna melihat ke arahnya.


Waitress pun datang membawa pesanan mereka. Aruna menatap piring putih pipih dan lebar itu hanya berisi daging tipis dengan bumbu seperti saus berwarna kecoklatan. Mata Aruna melirik pesanan Aiman.


'Sama' Aruna mengerucutkan bibirnya.


'Masa yang dipesan begini doang' batinnya.


Aiman yang melihat ekspresi Aruna hanya menahan senyum. Aiman memotong steaknya dengan pisau dan garpu, matanya juga sambil melirik Aruna yang masih bengong melihat makanannya.


Mata Aruna melihat ke arah Aiman, dia ingin melihat cara Aiman makan menu tersebut. Aruna pun mengambil pisau dan garpu dan melakukan hal yang sama dengan yang Aiman lakukan. Tapi steak yang diiris tidak terpotong juga.


Aiman pun mengangkat piringnya dan menyerahkan kepada Aruna lalu mengambil piring Aruna yang masih utuh.


"Makanlah!" perintah Aiman.


Aiman pun memotong steak punya Aruna yang sudah ditukarnya tadi lalu memasukkannya ke mulut.


"Makanan orang kaya yang mau diet" gumam Aruna lalu memasukkan satu potong steak ke mulutnya.


Setelah makan Aiman langsung mengantar Aruna pulang. Ketika di mobil. Ponsel Aruna berbunyi.


'Mba Meri' batin Aruna melihat layar ponselnya.


[Waalaikumsalam]


[Aruna, mba ada di mall. Kamu jadi nggak mau nitip beli dasi]


[Iya jadi. Tapi dia nanti suka nggak ya?]


Aiman melirik ke arah Aruna. 'Dia? Dia siapa?' tanya batin Aiman.


[Pasti sukalah. Kamu kan mau kasih itu sebagai tanda minta maaf]


[Iya sih. Tapi dia punya segalanya]


Aruna agak berbisik bicara di telpon.


[Jadi nggak?]


[Ya udah beliin saja deh]


[Oke]


Aruna menyimpan ponselnya setelah Meri menutup sambungan telpon.


Aiman menghentikan mobilnya tepat di depan jalan kostan Aruna.


"Makasih pak" Aiman hanya menganggukkan kepalanya.


Aruna berjalan menyusuri jalan menuju kostan namun sebelum berbelok dia sempat menoleh ke belakang dan dilihatnya mobil Aiman masih berada disana. Aiman pun tahu jika Aruna melihat ke arahnya. Aruna menyunggingkan senyuman khasnya lalu belok menuju kostannya. Setelah yakin Aruna sampai di kostannya Aiman baru menjalankan mobilnya.


***


"Aku tidak melihat Aiman di pesta. Kemana dia?" tanya Harun.


"Tuan Aiman mengantar nona Aruna pulang tuan" jawab Haikal.


Aiman tidak tahu bahwa Haikal mengamatinya selama di pesta termasuk ketika Aiman menyusul Aruna ke kitchen room.


"Hmm"


"Sepertinya tuan Aiman menyukai nona Aruna" ucap Haikal.


"Anak itu..." gumam Harun.


"Sayang, dimana Aiman?" tanya Amanda menemui suaminya di ruang keluarga.


"Sepertinya dia sedang keluar. Kamu tahu sendiri kalau dia tidak suka dengan pesta dan berada diantara para wanita-wanita"


"Hah anak itu, bagaimana penyakitnya bisa sembuh kalau dia terus menghindari kaum hawa" desah Amanda.


Haikal pamit meninggalkan mereka berdua.


"Papa carilah gadis yang bisa berada didekat Aiman, yang tidak membuatnya alergi" ucap Amanda menggamit tangan suaminya.


"Biarkan dia mencarinya sendiri. Karena dia yang bisa merasakan kenyamanan itu" balas Harun lalu mengajak Amanda meninggalkan ruang keluarga menuju kamar.


Hari sudah malam dan mereka sudah lelah telah menjamu banyak tamu.


Aiman tiba di rumah ketika semua penghuni rumah sudah terlelap tidur. Dia segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah ritual di kamar mandi selesai, Aiman membaringkan badannya di ranjang dengan bertelanjang dada.


"Dia? Siapa 'Dia' yang dimaksud Aruna di telpon tadi? Sepertinya laki-laki?" gumam Aiman tidak bisa memejamkan matanya karena memikirkan hal itu.