Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 1: Sang Pewaris



Keluarga Harun begitu bahagia menyambut kelahiran bayi laki-laki di rumah mereka. Amanda istrinya telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Ayah Harun, Salman ikut merasakan kebahagiaan putra dan menantunya itu karena mereka telah memberikan seorang cucu laki-laki sebagai pewaris untuk Circle Corp.


Waktu terus berlalu putra kebanggaan Harun dan Amanda telah tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang tampan dan gagah.


"Bagaimana gadis itu?" tanya Harun disela aktivitasnya bermain golf.


"Dia sangat cantik, sama seperti Nyonya Amanda" jawab Haikal tersenyum. Harun pun menyunggingkan senyuman.


"Pastikan dia aman dan semua kebutuhannya terpenuhi. Termasuk pendidikannya" ujar Harun.


"Iya Tuan, itu pasti. Wardah dan suaminya membawa gadis itu pindah ke pinggiran kota" balas Haikal memastikan.


"Aku ingin dia bisa terpantau oleh ku, jangan sampai ada laki-laki lain yang mendekatinya karena dia sudah remaja pasti akan banyak yang menyukainya" ujar Harun mengingatkan.


"Abid tidak akan membiarkan dia pacaran,Tuan. Percayalah Abid akan menjaganya untuk Tuan" jelas Haikal.


"Tahun ini dia tamat SMP kan?" tanya Harun.


"Iya Tuan, anda hapal sekali perkembangannya" jawab Haikal sambil memuji atasannya itu.


Harun hanya tersenyum. Suatu hari nanti dia ingin bertemu dengan gadis itu.


Beberapa bulan kemudian.


"Apa!!" Kau sudah hubungi mereka" teriak Harun cemas.


Haikal memberi kabar kepada Harun bahwa desa tempat tinggal adiknya terkena bencana banjir. Wardah dan keluarganya tidak ada kabar, ponsel suami istri itu tidak aktif sehingga Haikal sulit untuk menghubungi mereka.


"Kirim orang untuk mencari keberadaan mereka" perintah Harun.


Harun menutup wajahnya. Dia tidak boleh kehilangan gadis itu. Gadis itu sangat berharga baginya.


Setelah Haikal keluar dari ruang kerja di kediaman Harun, Amanda istrinya menghampiri. Dia melihat Harun yang sedang tertunduk di meja kerjanya.


"Ada apa sayang?" tanya Amanda lembut.


Harun mengangkat wajahnya, menatap istrinya itu. "Ada masalah apa?" ulang Amanda.


"Tidak ada apa-apa, kepalaku hanya sedikit pusing" jawab Harun membohongi Amanda.


"Ku pikir ada masalah perusahaan" gumam Amanda menarik tangan suaminya agar berdiri.


"Biar tidak bertambah sakit, kita makan siang dulu. Mas belum makan kan?" lanjut Amanda. Harun pun menuruti Amanda. Mereka lalu meninggalkan ruang kerja.


***


"Sudah ada kabar?" tanya Harun kepada Haikal.


Wajah Haikal terlihat cemas. Info terakhir yang dia dapatkan di tempat pengungsian Wardah dan keluarganya tidak ditemukan.


"Aku sudah menyelidikinya. Mereka tidak ada dipengungsian, Tuan" jawab Haikal.


"Ya Tuhan!!"


Harun memejamkan matanya. "Apa mereka semua menjadi korban banjir itu ?" tanya Harun sedih.


"Mungkin" lirih Haikal.


Haikal menitikkan air matanya. Dia yang lebih sedih lagi karena di keluarga itu ada adik dan keponakannya sendiri.


***


10 tahun kemudian


Seorang pemuda tampan dan cool menghampiri Harun. Baru dua hari pemuda itu ada di Indonesia setelah menyelesaikan study pasca sarjananya di Amsterdam. Meskipun tinggal jauh dari orang tuanya Harun telah mendidik anaknya itu menjadi laki-laki yang dingin dan tidak mudah jatuh cinta dengan wanita. Karena Harun sudah menentukan dengan gadis mana putranya harus melabuhkan cintanya.


"Aiman besok kamu sudah menggantikan papa di perusahaan" ujar Harun.


"Wah papa benar-benar tidak memberi ku waktu untuk bernapas" ledek Aiman. Harun tertawa kecil.


"Papa tetap akan memantau mu dan Rafli juga akan membantu" ucap Harun.


Rafli adalah anak Haikal yang akan menjadi tangan kanan anaknya itu.


Rafli yang kebetulan sudah berada di kediaman Harun mengacungkan jempol kepada Aiman.


"Iya Om" ujar Rafli. Begitu pun dengan Aiman.


Harun memandang putranya tersenyum bangga namun di sudut hatinya yang lain perih karena seharusnya ada senyuman lain yang bisa dia saksikan di rumah ini.


"Kamu memang anak mama yang hebat, kapan kamu mau mengenalkan calon istri atau pacar kamu ke mama dan papa?" tanya Amanda.


Karena selama Aiman study di luar negeri tidak terdengar kabar dia dekat dengan seorang gadis manapun. Amanda pun menjadi khawatir. Apalagi sekarang lagi marak LGBT, Amanda merinding membayangkannya. Jangan sampai anak semata wayangnya yang tampan itu termasuk kaum menyimpang.


"Mama kan tahu sendiri aku tidak bisa dekat-dekat sama yang namanya wanita, alergi ku bisa kambuh. Aku tidak tahan ma" jawab Aiman cuek.


"Aduh Man, gimana kamu mau nikah kalau begini" seru Amanda histeris.


"Udahlah ma, biarkan Aiman mencari sendiri wanita yang tidak membuat alerginya kambuh" bela Harun.


"Tapi pa...mama khawatir jangan-jangan" bisik Amanda.


Aiman dan Rafli saling pandang lalu Rafli menahan senyum melihat Aiman yang melototkan mata kepadanya.


"Tenang aja tante, Aiman normal kok" Rafli ikut membela.


"Hah buktikan kalau memang ucapan kalian berdua benar. Dengar Aiman, kalau kamu belum membawa calon istri, pacar atau apalah, mama yang akan mencarikannya untuk kamu. Suka atau tidak suka kamu harus terima" ancam Amanda kesal.


'Astaga mama, kenapa beliau yang repot dengan kehidupanku ?' batin Aiman.


***


"Mama nggak usah terlalu memaksa Aiman tentang pasangan hidupnya" ujar Harun ketika mereka berdua di dalam kamar.


"Pa, mama hanya mau Aiman mendapatkan istri yang sepadan dengannya. Mama nggak mau kita punya menantu sembarangan" balas Amanda.


"Cinta tidak bisa memilih sayang, bagaimana kalau Aiman jatuh cinta dengan gadis desa dan sederhana?" tanya Harun serius.


"Ya Ampun papa. Jangan berandai yang jelek-jelek dong" jawab Amanda memeluk suaminya.


"Kalau papa tidak masalah. Jika mereka saling mencintai kenapa kita harus jadi penghalang kebahagiaan mereka" ujar Harun memejamkan matanya.


Sungguh dia merasa sangat bersalah kepada seseorang yang harus dia korbankan demi keserakahannya.


***


"Hallo tante Amanda" sapa seorang gadis berambut panjang memakai dress yang cukup seksi.


Gadis itu mencium pipi kanan kiri Amanda sambil melirik Aiman yang berdiri menjulang di belakangnya.


Aiman yang diminta Amanda untuk menemaninya ke salah satu butik ternama hanya menatap dingin tingkah gadis tersebut.


"Siapa dia, Tan?' tanya Febby anak pemilik butik langganan Amanda melirik Aiman.


"Anak tante, Feb" jawab Amanda menarik tangan Aiman agar berkenalan dengan Febby.


Karena posisi Febby dekat dengan Aiman, hidungnya mulai terasa gatal. Aiman mengeluarkan sapu tangannya.


"Hatchi! Hatchi!"


Aiman menutup mulutnya dengan sapu tangan.


Amanda melihat anaknya itu tidak percaya belum juga berjabat tangan kenalan dengan Febby, Aiman sudah bersin-bersin.


"Aku tunggu di mobil saja ,ma"


Aiman tidak tahan berada di dalam butik itu yang pengunjungnya kebanyakan wanita.


"Kenapa dengan anak tante, ruangan ini sudah bersih, nggak berdebu. Kok dia bersin-bersin terus?" tanya Febby.


"Ah itu...memang tadi Aiman kurang sehat tapi tante tetap memaksanya untuk diantar kesini" jawab Amanda tersenyum tidak enak.


Dia terpaksa berbohong, padahal Aiman alergi dengan makhluk yang bernama wanita.


"Ini tan ada baju model baru" ajak Febby mengabaikan Aiman yang sudah berlalu dari butiknya.


Amanda pun berkeliling mencari pakaian yang akan dikenakannya untuk acara peresmian Cafe n Resto miliknya. Amanda melihat peluang bisnis yang berkembang sekarang dimana anak muda suka berkumpul dengan teman-temannya. Begitu juga relasi bisnis suami dan anaknya yang akan mengadakan pertemuan tepat sekali jika Amanda membuka Cafe n Resto yang dilengkapi dengan WiFi gratis.