Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 28: Kangen



Sudah hampir tiga bulan pernikahan Aiman dan Aruna. Aruna sering minta izin ke desa untuk menjenguk mertuanya. Kadang sampai tiga hari lebih menginap di sana.


"Betah sekali dia tinggal di desa itu" gumam Aiman memasang sendiri dasinya.


Biasanya tugas itu dilakukan oleh Aruna setiap pagi ketika dia mau kerja. Baru satu malam ditinggal Aruna menginap Aiman sudah bingung lagi dimana mencari kaus kaki kesayangannya. Aruna membelikan beberapa kaus kaki yang matching dengan jasnya. Padahal Aruna sudah mengingatkannya dimana letak kaus kakinya disimpan.


Selesai berpakaian Aiman segera turun untuk sarapan pagi. Mama dan papanya sudah menunggu di meja makan.


"Man, gimana kalau orang tua kamu papa buatkan rumah di kota saja. Agar Aruna tidak terlalu sering bolak-balik ke desa. Hitung-hitung sebagai balas budi papa kepada mereka karena telah membesarkan Aruna" usul Harun disela aktivitas makan mereka.


"Aku setuju saja pa. Tapi apa orang tua ku mau. Mereka sudah terbiasa dengan kehidupan di desa"  ucap Aiman.


"Lama-lama juga kan nanti terbiasa Man" sela Amanda.


"Nanti aku bicarakan dengan ayah dan ibu. Tapi ada baiknya papa juga yang langsung bicara kepada mereka" saran Aiman.


"Iya, nanti papa akan bicarakan" ujar Harun setuju.


***


Di kantor


"Kenapa Man, suntuk banget?" Tanya Rafli sambil menyerahkan berkas ke meja kerja Aiman.


"Aruna ke desa" jawab Aiman pelan.


"Ohh pantesan. Tapi baguslah itu tanda Aruna sangat sayang dengan mertuanya" ujar Rafli.


"Iya kalau menginapnya cuma semalam. Lha ini sampai tiga hari...emang apa sih yang dilakukan di sana?" sungut Aiman tidak suka.


"Hmm kalau kangen bilang aja" sindir Rafli terkekeh.


Masih pengantin baru sih jadi masih hangat-hangatnya. Pikir Rafli.


Aiman hanya membisu sambil membuka ponselnya. Dia juga malas menelpon Aruna karena sinyal yang putus-putus sehingga ucapan satu sama lain jadi tidak jelas.


"Jangan ngedumel, kalau nggak suka dan rindu berat kenapa nggak kamu jemput saja dia. Ajak pulang. Simpel kan?" Sambung Rafli.


Aiman menatap wajah Rafli yang merupakan sepupunya itu.


'Hmm boleh juga usul Rafli. Aku jemput Aruna sekalian jenguk ayah dan ibu juga' batin Aiman.


"Eh Man, malam besok kamu kan ada undangan pertunangan anaknya pak Haidar, direktur Apollo Grup" ingat Rafli.


"Maksud kamu?"


"Alasan buat jemput Aruna pulang. Kecuali kamu mau datang sendirian kesana yah terserah" jawab Rafli santai.


Akhirnya sore sepulang dari kantor Aiman langsung meluncur ke rumah orang tuanya menjemput Aruna tanpa mengganti pakaian lagi.


***


"Na, Aiman nggak protes kamu sering kesini?" Tanya Wardah di teras belakang sambil menampi beras.


"Kayaknya nggak Bu, soalnya dia ngizinin terus" jawab Aruna ikut membantu Wardah membersihkan beras dari kulit-kulit padi yang masih terlihat.


"Kamu tuh harus peka, suami ngizinin terus bukan berarti dia rela. Dia hanya menjaga perasaan kamu agar tidak kecewa jika ditolak" jelas Wardah.


Aruna menarik napas dalam. "Aku nggak ada kerjaan disana Bu, bosan. Semua dikerjakan oleh pembantu. Aku mau pegang sapu saja, mama ngomel-ngomel. Mau bantu Lusi cuci piring, bik Mira ngoceh panjang lebar. Bisa-bisa badanku melar kalau cuma makan tidur doang" keluh Aruna.


Wardah tertawa kecil. "Ya bagus Na, jadi orang kaya mah gitu kamu tinggal perintah-perintah saja"


"Huh enak apanya" sungut Aruna.


"Na, coba dengar" ucap Wardah mengalihkan pembicaraan.


"Dengar apa Bu?" Aruna memasang telinga.


"Itu kayak ada suara mobil di depan. Coba kamu lihat siapa?"


"Oh...kirain suara apa. Iya aku ke depan dulu."


Aruna meninggalkan Wardah masuk ke dalam rumah dan menuju ke ruang tamu.


Baru saja dia tiba di depan pintu masuk. Suara ketukan pintu pun terdengar. Aruna lalu membuka pintu rumah.


"Mas!!" Seru Aruna terkejut melihat sosok Aiman berdiri tepat di depan pintu masuk.


Aiman tersenyum melihat wajah cantik istrinya itu. Baru juga semalam ditinggal Aruna selalu saja dia tidak bisa tidur nyenyak.


"Mas kok kesini, ada apa?" Tanya Aruna khawatir.


Apa telah terjadi sesuatu di rumah sampai Aiman datang ke desa karena Aruna izinnya kan tiga malam di rumah mertuanya itu.


"Oh iya. Ayo mas" Aruna merangkul tangan Aiman agar masuk ke dalam rumah.


"Maaf mas aku tanya begitu, apa terjadi sesuatu di rumah?" Toleh Aruna.


"Iya. Salah satu penghuninya sakit" jawab Aiman asal.


"Si...siapa mas?" Aruna menghentikan langkahnya lalu menatap Aiman serius.


"Suamimu ini yang sakit" jawab Aiman


"Hah mas sakit apa?" Tanya Aruna dengan wajah cemas memegang wajah Aiman.


"Sakit merana karena ditinggal kamu nginep terus" jawab Aiman tersenyum geli.


"Huh mas Aiman...nggak lucu tau!!" Ujar Aruna kesal karena dipermainkan suaminya itu. Aruna pun langsung mencubit pinggang Aiman.


"Aww. Sakit sayang!!" Teriak Aiman menatap Aruna marah.


"Aruna, siapa?!" Teriak Wardah dari arah belakang rumah.


"Mas Aiman Bu!!" Balas Aruna berteriak.


"Mas temui ibu sana. Aku buatin minuman dulu"


Aruna mendorong badan jangkung Aiman agar menemui ibunya di teras belakang.


Tak lama kemudian.


Ketika sedang asik mengaduk air teh hangat Aruna dikagetkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Ya Allah...mas Aiman!!" Seru Aruna kaget.


"Kok cepet banget nemuin ibu?" Tanya Aruna heran.


"Aku bilang sama ibu, aku capek dan mau istirahat di kamar" jawab Aiman berbisik di telinga Aruna.


"Hmm pantesan. Terus teh ini?" Sodor Aruna ke arah Aiman.


"Bawa ke kamar saja" Aiman menggiring Aruna agar masuk ke kamar.


Tiba di kamar Aruna melepas jas


yang dipakai Aiman. "Salah siapa masih pakaian kerja begini" sungut Aruna.


"Itu karena mas tidak sabar lagi mau ketemu kamu" tatap Aiman melihat Aruna membuka kancing kemejanya satu persatu.


Aruna tersenyum malu mendengar ucapan Aiman. Dia merasa tersanjung Aiman datang menjemputnya karena merindukannya. Setelah kemejanya sempurna terbuka dan menampakkan badan Aiman yang berbentuk itu membuat jantung Aruna berdebar. Aiman merangkul pinggang Aruna dan menjatuhkannya dipangkuan Aiman setelah duduk di tepi ranjang.


"Mas..." Aruna salah tingkah sendiri merasakan sikap Aiman yang coba menggodanya.


Aiman menatap wajah Aruna yang begitu dekat. "Sepertinya kamu betah di sini dan tidak kangen dengan suami mu?" Bisik Aiman.


"Bukan begitu. Aku kan jarang ke desa apa salahnya kalau menginap" jawab Aruna melingkarkan kedua tangannya di leher Aiman.


"Jadi kamu juga kangen?"


Aiman mendekatkan wajahnya dan melirik bibir Aruna yang menggoda. Aruna hanya mengangguk pelan dan Aiman pun langsung mencium bibirnya.


"Mas...pintunya belum di kunci" ujar Aruna.


Aruna takut sedang bermesraan seperti itu ibunya masuk. Padahal kan nggak mungkin. Orang tua kan tahu kalau ada suaminya di kamar nggak mungkin juga mengganggu. Dasar Aruna saja.


"Ya udah kunci sana" balas Aiman lalu menjatuhkan separuh badannya di atas ranjang.


Setelah mengunci pintu Aruna mendekati Aiman lagi namun dia hanya berdiri di tepi ranjang di antara ke dua kaki Aiman yang masih menjuntai.


Aiman menghulurkan tangan kanannya ke arah Aruna seolah-olah meminta bantuan agar dia bisa duduk. Setelah Aruna menyambut uluran tangan Aiman bukannya laki-laki itu bangun duduk tapi malah menarik tangan Aruna hingga dia terjatuh diperlukan Aiman.


"Mas Aiman ini!!' seru Aruna kaget. Aiman melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aruna.


"Biar mandi sorenya nggak sia-sia, kita melepas rindu dulu" goda Aiman tersenyum menatap manik Aruna.


"Jadi mas ke sini cuma mau itu??" Tanya Aruna cemberut.


"Sayang, kamu mau mas melepas rindu dengan wanita lain" canda Aiman.


"Coba aja kalau berani" tantang Aruna memanyunkan bibirnya.


"Eh...sini tuh bibir tambah seksi aja" Aiman tersenyum lalu menarik tengkuk Aruna dan mencium lagi bibirnya.


Mana mau Aiman dengan wanita lain. Berdekatan saja alerginya bisa kambuh. Hanya dengan Aruna alerginya tidak bereaksi, sepertinya Aruna adalah obat mujarab bagi Aiman untuk seumur hidupnya.