
"Jadi dia masih hidup, lalu tinggal dimana dia?" tanya Harun.
Haikal sudah memberitahu kepada Harun memang ada seorang gadis yang mencari alamat rumah lamanya.
"Sudah ku bilang kau harus meninggalkan alamat baru mu itu. Sekarang mana mungkin dia datang lagi kesana kalau kau sudah tidak tinggal lagi disana" gerutu Harun.
"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Haikal.
"Cari dia. Aku yakin dia masih di kota ini" perintah Harun.
"Baik, Tuan"
***
"Aruna! Besok datang pagi. Tugas kamu membersihkan ruangan CEO!" teriak Bobi atasannya.
"Iya pak!" balas Aruna berteriak.
"Hey Na, bangun!" Meri menepuk Aruna yang berteriak sambil tidur.
"Hah..."
Aruna terduduk lalu mengucek matanya. "Astaghfirullah" Aruna mengusap dadanya.
"Gara-gara si Bobi galak sampe terbawa mimpi segala" sungut Aruna.
"Kamu kenapa? Kena semprot Bobi?" tanya Meri.
"Iya mba tuh cowok jutek amat ya..."
Meri tertawa kirain sama gadis secantik Aruna, Bobi akan kalem, ternyata masih melihat status juga.Pikir Meri.
"Udah sabar aja, bujang lapuk mah gitu" ucap Meri cekikikan.
"Pak Bobi, mba?" tanya Aruna tidak percaya.
"Iya, dia itu di kantor udah sering ditolak cewek. Hati-hati aja kamu kalau dia pedekate...jangan mau?" ingat Meri.
"Pedekate? Apaan itu mba?" tanya Aruna lugu.
Selama tinggal di desa dia tidak pernah bergaul dengan lawan jenis apalagi mengenal istilah-istilah zaman sekarang.
"Ya ampun Aruna!! Pedekate itu artinya pendekatan. Deketin kamu supaya bisa jadi pacar gitu" jelas Meri.
"Oh begitu"
"Udah buruan mandi ntar kamu kena semprot bujang lapuk lagi" ingat Meri.
"Iya mba" Aruna bergegas ke kamar mandi.
Setelah sarapan Aruna dan Meri pergi bersama ke kantor. Mereka berpisah di lobi.
"Eh mba ruang CEO di lantai berapa?" tanya Aruna sebelum Meri masuk ke dalam lift.
"Lantai 12"
"Sipp" Aruna mengacungkan jempolnya. Diapun ke ruangan Office Boy/Girl.
Aruna sudah siap membawa peralatan tempurnya. Vacum cleaner, lap dan ember. Pekerjaannya memang harus lebih awal sebelum pemilik ruangan datang.
Tiba di lantai 12, Aruna menuju ruangan CEO yang dimaksud.
Ceklek. Pintu ruangan terbuka.
"Wah luas sekali ruangannya. Bisa semaput aku bersihinnya. Pak Bobi bener-bener kejam!!" gerutu Aruna kesal.
Padahal dari pembagian tugas, dia hanya menyiapkan minuman di setiap ruangan staf. Walapun kesal Aruna tetap melakukan pekerjaannya.
Aruna mengepel lantai keramik yang sudah mengkilat itu.
"Waduh airnya kebanyakan" gumam Aruna.
Lantai yang dipel jadi cukup lama keringnya karena kebanyakan air. Nggak biasa ngepel nih Aruna.
Ceklek.Pintu ruangan pun terbuka.
Gedebuk!!!
Aruna yang sedang membersihkan kaca ruangan jadi kaget mendengar suara pintu terbuka dan suara sesuatu yang jatuh.
"Oh My God!!" seru Aruna membelalakkan matanya lalu menutup mulutnya melihat laki-laki muda dan tampan jatuh terjengkang di lantai.
"Oh shiit!!" umpatnya sambil meringis kesakitan.
"Maaf...maaf pak" Aruna mendekatinya dengan wajah super cemas dan takut.
Laki-laki itu masih meringis lalu mencoba duduk dan melihat sumber suara.
"Kamu..." tunjuknya masih menahan sakit.
Aruna ingin membantunya berdiri tapi tidak berani. Apalagi melihat tampang dingin laki-laki itu.
"Kamu bisa ngepel tidak sih!" omel laki-laki itu yang tak lain Aiman mencoba berdiri sambil memegangi bokongnya yang sakit.
Aruna hanya tersenyum. "Lagian bapak ngapain ada disini? Masih pagi juga" tanya Aruna lugu.
"Hah apa kamu bilang!!" sembur Aiman kesal mendekati Aruna. Aruna pun berjalan mundur.
"Saya pemilik ruangan ini. Tahu!!" teriak Aiman jengkel.
Kok bisa ada Office Girl bodoh seperti gadis di depannya ini.
Aruna membulatkan matanya dan mulutnya membentuk huruf O.
"Ya Tuhan, mampus aku. Bisa dipecat nih" batin Aruna cemas.
"Cepat bersihkan, saya tidak mau lihat tampang kamu lama-lama di ruangan ini" omel Aiman.
"Iya pak" sahut Aruna takut. 'Galak amat sih'
Gadis itupun melanjutkan pekerjaan mengelap kaca. Setelah itu menyedot debu,dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan agar bisa segera keluar dari ruangan itu.
Sambil duduk di meja kerjanya, Aiman memperhatikan Aruna menyedot debu ambal di bawa sofa ruangannya.
'Biasanya bukan cewek yang membersihkan ruangan ini. Sepertinya dia baru disini. Aku juga baru lihat' batin Aiman melihat penampilan Aruna.
"Sudah belum, lama banget!" gerutu Aiman menatap dingin ke arah Aruna.
"Hatchi!!" Aruna menutup mulutnya. Sepertinya alerginya bakalan kambuh.
Aiman geleng-geleng kepala melihat Aruna.
"Sudah, pak. Saya permisi" ujar Aruna ramah.
"Hei" panggil Aiman.
Aruna menoleh ke belakang melihat Aiman masih duduk di balik meja kerjanya.
"Nama saya Aruna pak bukan Hei" sahut Aruna tersenyum memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya.
"Ckk...iya Aruna" ucap Aiman tambah jengkel.
"Itu ember pelnya dibawa" tunjuk Aiman.
Masa gadis itu mau meninggalkan ember berisi air kotor di ruangannya.
"Hehehe iya pak maaf lupa"
Aruna melihat ember pel yang berada tidak jauh dari Aiman. Dia menuju kesana lalu mengambilnya.
"Permisi ya pak" Aruna langsung bergegas keluar dari ruangan Aiman.
"Aduh...gawat banget nih. Pekerjaan baru ku bakalan terancam" ucap Aruna meringgis takut kembali ke ruangan OB.
***
Aiman menyandarkan punggungnya ke kursinya. Rafli kemudian masuk ke ruangannya dan diapun hampir terpeleset.
"Eits dah...ruangan kamu kenapa? Kayak habis kena banjir saja?" tanya Rafli.
"Ah itu kerjaan office girl baru yang nggak becus" sungut Aiman.
"Oh si Aruna ya ha ha ha" Rafli terkekeh di depan Aiman.
Oh bagus sekali dia sampe terkenal begitu. Pikir Aiman.
"Korbannya bukan cuma kamu doang, Man. Si Ardi manajer Keuangan kemaren sudah jadi korban juga" lanjut Rafli masih menahan tawa.
"Gadis ceroboh" gumam Aiman menopang dagunya.
"Oya, Wina sudah menemui mu?" tanya Rafli.
"Belum, mau apa memangnya?" tanya Aiman. Dia heran kenapa gadis itu selalu saja mengganggu hidupnya.
"Ya kangenlah, udah lama nggak ketemu sama pujaan hati" jawab Rafli tersenyum geli.
"Nggak ada hubungan apa-apa. Dia saja yang ke GR-an. Kamu tahu kan aku alergi sama cewek apalagi yang genit" balas Aiman.
"Nah lho gimana mau punya istri. Kalau alergi sama yang namanya wanita" Rafli tambah terbahak-bahak.
"Nah itu, kalau aku nggak alergi sama dia mungkin dia jodoh ku" ujar Aiman dengan senyum terpaksa. Maklum tampangnya dingin gitu pelit senyum.
"Wah bisa-bisa kamu dijuluki pria BPJS, Man" ledek Rafli.
"Istilah apa tuh?" Aiman mengeryitkan dahinya.
"Bodi Padet Jiwa Sekong...bhuahaahaa" Rafli terbahak-bahak.
"Sialan kamu Raf" ujar Aiman keki.
Rafli emang paling bisa membuat suasana menjadi cair, padahal Aiman baru saja dibuat kesal oleh Aruna.