
Hari kelahiran cucu pertama Amanda tidak lama lagi. Wanita yang masih terlihat cantik itu pun menemui Wardah untuk membicarakan perihal kelahiran cucu mereka.
"Mba Manda sendirian saja?" Tanya Wardah mempersilahkan Amanda masuk ke dalam rumahnya.
"Iya. Sebenarnya Aruna mau ikut tapi aku larang karena tinggal menunggu hari saja" jawab Amanda sembari duduk dengan anggun di kursi tamu.
"Aku ambilkan minum dulu ya, Mba"
"Eh nggak usah, Dah. Aku cuma mau bicarakan soal kelahiran cucu kita nanti"
"Iya, emangnya ada apa?" Tanya Wardah bingung.
"Begini...Setelah Aruna lahiran, dia dan bayinya nanti langsung kami bawa ke rumah. Biar aku aja yang membantu Aruna merawat bayinya" jawab Manda tersenyum.
"Lho nggak bisa begitu, Mba. Aruna dan bayinya harus ada di rumah kami. Aku udah merawatnya dari bayi dan membesarkannya sampai dia menikah" tolak Wardah tidak setuju dengan ucapan Amanda.
"Meskipun aku tidak membesarkan Aruna tapi dia anak kandung ku, lahir dari rahim ku. Aku ingin merawatnya justru ketika dia lahiran, Dah" jelas Amanda.
"Itu cucu pertama ku Mba, biar aku saja yang merawatnya. Mba, kan orangnya sibuk" ucap Wardah masih tidak mau terima.
"Itu juga cucu pertama ku. Aku mau memberikan yang terbaik untuknya" balas Amanda.
Wardah menarik napas dalam. Besannya itu benar-benar tidak mau mengalah.
"Ya udah, aku pulang dulu. Kamu nanti bisa tengok Aruna ke rumah kalau dia sudah lahiran" pamit Amanda berdiri dari kursi tamu.
"Aku akan minta Aiman membawa Aruna ke rumah ini setelah dia lahiran" balas Wardah, dia pun tidak mau kalah.
'Kita lihat saja nanti' batin Amanda.
Amanda melenggangkan kakinya keluar dari pagar rumah Wardah setelah mengucapkan salam lalu masuk ke CRV nya.
***
Di Kediaman Harun
"Pokoknya Aruna harus tinggal di rumah ini setelah dia melahirkan" dengus Amanda kesal menghempaskan badannya di atas sofa.
Harun yang tampak asik membaca melepaskan kaca matanya melihat istrinya itu pulang dengan wajah cemberut dan ngomel-ngomel.
"Ada apa, Ma? Pulang-pulang tuh muka nggak enak banget dilihat" tanya Harun.
"Itu Pa, aku kesal sekali dengan Wardah, besan kita. Egois sekali dia" omel Amanda berapi-api.
"Egois bagaimana?" Tanya Harun lagi.
"Dia maunya Aruna tinggal di rumah mereka setelah lahiran hanya karena dia sudah membesarkan Aruna. Ya nggak bisa, dong. Ibu kandungnya, kan aku bukan dia" jawab Amanda tidak suka.
"Mama ini seperti anak kecil yang memperebutkan mainan saja" Harun mengusap pundak Amanda.
"Kenapa nggak tanya Aruna langsung mau tinggal di mana?" Saran Harun.
"Eh, itu Aiman. Man, sini bentar" panggil Amanda melihat menantunya keluar dari kamar.
"Ada apa, Ma ?. Aku mau balik lagi ke kantor sebentar" sahut Aiman.
Aiman mampir pulang untuk melihat Aruna yang tinggal menunggu waktunya lahiran. Jadi Aiman harus siap siaga tapi tanpa meninggalkan tanggung jawabnya di kantor.
"Sini bentar" Aiman mendekati Amanda. 'Sepertinya penting sekali yang mau diomongin'
"Man, Aruna kalau udah lahiran tetap tinggal disini, kan?" Tanya Amanda.
"Ya di sini, Ma. Kan, ada Mama yang bisa bantu-bantu nanti" jawab Aiman.
"Tuh kan, Pa. Yang ditanya itu kepala keluarganya, Aruna bakalan nurut sama suaminya" lirik Amanda ke arah Harun.
"Mama ini ngomongin apa, sih" Aiman bingung melihat mama mertuanya.
"Aku balik ke kantor lagi, ya. Assalamualaikum" pamit Aiman meninggalkan mertuanya.
"Waalaikumsalam"
Amanda tersenyum lega. Wardah tidak akan bisa menghalangi keinginannya.
Keesokannya
"Mas. Hari ini nggak usah ke kantor, ya" pinta Aruna turun dari ranjang perlahan-lahan.
"Ini udah masuk HPL nya, kan. Anak Papa, kok belum mau keluar" ucap Aiman ke perut Aruna.
"Habis papanya pergi terus, sih" balas Aruna cemberut.
"Iya, Sayang. Mas hari di rumah saja khusus untuk menemani kamu dan ini..." Ujar Aiman mengelus perut Aruna. Aiman bisa merasakan gerakan bayi di dalam sana.
"Sepertinya dedek bayi nya senang sekali Papanya nggak kerja" ucap Aruna tersenyum gembira.
"Si dedek atau Mamanya yang senang?" Tanya Aiman mencubit pipi Aruna gemas.
"Mamanya juga" jawab Aruna nyengir kuda sambil bergelayut manja di tangan Aiman.
"Yang, Ibu tadi telpon katanya setelah lahiran kamu harus tinggal di rumahnya" ujar Aiman memberitahu sambil mengajak Aruna duduk di sofa kamar.
"Terserah sih Mas, dimana saja"
"Tapi Mama kamu mintanya kamu tetap di sini dan Mas sudah mengiyakan" toleh Aiman serius.
"Jadi gimana ini. Mama dan Ibu bisa ribut, mas"
Aiman juga bingung. Dia berpikir mencari jalan keluarnya agar mertua dan orang tuanya tidak ribut hanya karena Aruna harus tinggal dimana.
Hari ini, rencananya Aiman akan mengajak Aruna untuk periksa kandungan. Dia takut terjadi sesuatu karena sudah masuk HPL belum ada tanda-tanda Aruna mau melahirkan.
"Yang, kayaknya ada Ibu di depan" gumam Aiman menutup pintu kamar.
"Iya, Mas. Ayo, ke depan" ajak Aruna.
"Pelan-pelan jalannya" ingat Aiman melihat Aruna bersemangat menuju ruang tamu.
"Aruna, mau ke mana?" Tanya Wardah melihat Aruna berpakaian rapi.
"Mau periksa kandungan, Bu" Aruna menghampiri mertuanya dan mencium punggung tangan Wardah.
"Sudah lahiran kamu langsung ke rumah ibu ya. Ibu mengajak bapak untuk membawa barang-barang persiapan kamu untuk melahirkan nanti" ucap Wardah tersenyum berdiri lalu menuntun Aruna agar duduk di sampingnya.
"Eh eh. Kau ini masih ngeyel juga, ya. Apa Aiman belum bilang kalau Aruna tidak akan ke mana-mana?. Dia tinggal di rumah ini" ujar Amanda sengit berdiri dari duduknya.
Aiman dan Aruna saling pandang.
'Kenapa jadi begini' batin keduanya.
"Ma, sudah jangan bikin ribut" lerai Harun. Dia merasa tidak enak dengan Abid.
"Mba, Aruna di rumah ku tidak lama. Setelah 40 hari dia bisa pulang" jelas Wardah. Wanita itu tidak yakin perawatan Aruna di tangan Amanda. Daripada Aruna diserahkan kepada pembantu Amanda nantinya lebih baik dia sendiri yang merawat menantu yang sudah dia rawat sejak bayi itu.
"Lha, kalau nggak lama ngapain Aruna dibawa ke sana. Wara-wiri aja. Ya lebih baik langsung di sini aja, kan" sahut Amanda.
"Aruna sudah setuju kalau dia mau tinggal di rumah kami setelah lahiran" ujar Wardah melirik Aruna.
"Betul itu, Na?" Tatap tajam Amanda.
Aruna nyengir kuda. Dia baru ingat ketika usia kandungannya tujuh bulan, mertuanya pernah menanyakan hal itu.
"Kamu nggak sayang Mama, Na?"
"Bukan begitu, Ma" Aruna meringis memegangi perutnya menahan sakit. Perutnya kini terasa nyeri dan mulas-mulas.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Aiman cemas melihat ekspresi wajah Aruna.
"Aduh...duh sakit, Mas" ujar Aruna masih menahan sakit. "Astaghfirullah. Kok tambah sakit ini" teriak Aruna.
"Man, ayo langsung ke rumah sakit saja" ajak Harun ikut cemas. Sepertinya Aruna mau melahirkan.
***
Aruna sudah melahirkan bayi laki-laki secara normal. Abian Putra Aiman, nama pemberian Harun. Abian artinya kegembiraan. Dua keluarga itu menyambut gembira kejadian Abian ke dunia.
Lihatlah mata Abian belum melek saja ke dua neneknya sudah berebutan untuk menggendongnya.
"Mba gantian dong. Aku juga mau menggendong Abian" ujar Wardah melihat cucunya sudah wangi.
"Bentar Wardah, belum lama juga" sungut Amanda lalu menciumi lagi cucunya yang tampan itu.
"Mas, gimana?" Lirik Aruna melihat Aiman lalu keduanya melihat orang tua mereka.
"Kalau kita memilih salah satunya akan ada kecemburuan dan ketidakadilan karena Abian sama-sama cucu pertama bagi mereka..."
"Jadi..." Tatap Aruna bingung.
"Kita akan tinggal di apartemen saja" ujar Aiman beranjak dari tempat duduknya di samping Aruna. Aiman lalu mendekati mertua dan orang tuanya.
"Ehem...Ma, Papa, Ayah dan Ibu. Aruna kemungkinan besok sudah bisa pulang. Kami tidak akan tinggal di rumah kalian berdua. Biar adil" ucap Aiman tersenyum.
"Lho, jadi kalian mau tinggal di mana?" Tanya Amanda.
"Iya Aiman, kalian akan tinggal di mana?" Wardah pun ikut bertanya sambil menggendong cucunya. Amanda akhirnya menyerahkan Abian juga ke tangannya.
"Kami akan tinggal di apartemen saja. Jadi kalau kalian mau berkunjung melihat Abian silahkan saja" jawab Aiman. Amanda dan Wardah saling pandang.
'Tidak bisa. Anak ku tidak boleh tinggal di apartemen. Siapa nanti yang akan mengurusnya' batin Amanda.
Begitupun juga dengan Wardah berpikiran sama. 'Kalau Aruna tinggal di apartemen akan tambah susah aku untuk melihat cucu ku. Sudahlah biar aku saja yang mengalah' batinnya.
"Ya sudah, Mba. Aruna tinggal di rumah kalian saja daripada di apartemen" ujar Wardah dengan nada pelan.
Suami-suami mereka hanya memperhatikan saja tingkah istri mereka. Akhirnya ada juga yang mau mengalah.
"Memang kamu tuh harus mengalah. Kamu kan udah puas merawat Aruna dari bayi. Sekarang giliran ku. Kamu kapan aja bisa ke rumah kami untuk melihat cucu ganteng kita ini" ucap Manda memegang tangan Wardah. Wardah tersenyum tulus melihat Amanda.
"Bu, kita pulang dulu. Biar Aruna bisa istirahat" ajak Abid.
"Iya, Ma. Masalah juga sudah clear. Kita pulang dulu dan besok menjemput Aruna pulang ke rumah" Harun pun mengajak Amanda pulang.
Wardah menyerahkan Abian kepada Aruna. Mereka semua lalu pamitan pulang ke rumah masing-masing.
"Alhamdulillah akhirnya ada yang mau mengalah juga" Aruna bersyukur melihat orang tua mereka akur kembali.
"Abian, Sayang. Kamu tuh jadi rebutan Oma dan Nenek tau nggak" bisik Aruna ke telinga Baby Abian yang tidur di sampingnya.
Aiman tersenyum bahagia menatap istri dan anaknya. Bahagia yang luar biasa bisa menyaksikan sendiri putranya lahir ke dunia, menyaksikan perjuangan seorang istri melahirkan keturunannya dan akhirnya mendapatkan gelar ibu.
"Kenapa Mas, senyum-senyum?" Tanya Aruna melihat Aiman yang dari tadi menatapnya sambil tersenyum.
Aiman menggenggam tangan Aruna sembari menatap baby Abian yang sedang tenang di samping Aruna.
"Terima kasih ya sayang. Kamu udah menjaga anak kita sampai dia lahir dengan selamat dan sehat" ucap Aiman terharu.
"Aku juga terima kasih sama Mas karena udah jagain aku selama hamil dan menjadi suami siap siaga" balas Aruna tertawa kecil.
Aiman membungkukkan badannya lalu mengecup kening Aruna. "I love you honey"
Aruna tersenyum bahagia menatap wajah Aiman yang ikut tersenyum bahagia.