Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 16: Kebenaran Tentang Aiman



Rafli masuk ke ruangan Aiman, dilihatnya Aiman tampak sedang melamun.


'Ck...pasti sedang mikirin Aruna lagi' batin Rafli mendekati Aiman.


"Man!!" tegur Rafli menepuk pundak Aiman.


"Apa sih Raf?" tanya Aiman.


"Sejak Aruna pergi kamu kayak nggak ada semangat gitu" ujar Rafli.


"Siapa yang nggak hilang semangat coba, disaat lagi sayang-sayangnya dia tiba-tiba hilang tanpa kabar dan itu karena mama ku. Aku juga tidak tahu dia tinggal di desa mana" balas Aiman.


"Eh tadi aku lihat berita di televisi ada bis kecelakaan. Penumpangnya banyak yang tewas" cerita Rafli.


"Tumben kamu mau bahas berita di tv" sungut Aiman.


"Ya biar kamu nggak ngelamun terus, Man. Aku takut nanti kamu kemasukan" ujar Rafli tersenyum simpul.


"Kemasukan apa?" tanya Aiman cuek.


"Kemasukan angin" canda Rafli tertawa kecil.


Aiman hanya geleng-geleng kepala melihat Rafli lalu tersenyum. Namun bayangan Aruna selalu saja melintas dipikirannya. Dia sangat merindukan gadis itu.


Selesai urusan kantor, Aiman segera pulang.


"Langsung pulang, Man?" tanya Rafli di parkiran.


"Iya, aku capek banget" jawab Aiman.


"Capek mikirin Aruna" tatap Rafli.


Aiman hanya membisu lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Rafli.


'Dimana sebenarnya gadis itu?' tanya Rafli dalam hatinya sambil melihat bayangan mobil Aiman yang mulai menghilang.


***


Di kamar Amanda dan Harun bersitegang. Harun sangat marah dengan sikap istrinya yang arogan itu.


"Kenapa kamu tega menampar gadis itu?" tanya Harun dengan tatapan marah kepada istrinya.


"Dia gadis kampung yang coba mendekati Aiman, aku memintanya menjauhi anak ku tapi dia malah mendekati bapaknya. Dasar dia memang gadis yang tidak tahu diri" jawab Amanda emosi.


"Ma, kamu tahu siapa dia?" tanya Harun.


"Selingkuhan papa kan, mama kurang apa sih pa. Sampai papa mau berselingkuh dengan gadis kampung itu?" teriak Amanda marah.


"Siapa yang selingkuh ma?" balas Harun berteriak.


"Papa nggak usah ngeles, mama lihat papa dan gadis itu berpelukan di restoran" ujar Amanda sengit.


"Asal kamu tahu, Aruna itu adalah anak perempuan kita yang sudah papa tukar dengan anak Wardah, adik Haikal" teriak Harun menatap tajam Amanda.


Amanda terpaku menatap suaminya. Bumi seolah berhenti berputar. Dia mencoba mencerna kalimat dari suaminya barusan. Itu artinya Aiman bukanlah anaknya.


'Tidak!' Jerit Amanda dalam hatinya.


"Kamu bohongkan pa?" tanya Amanda mengguncang kedua pundak suaminya. Harun hanya membisu.


"Pa, yang papa ucapkan itu bohong kan?" teriak Amanda lagi. Telintas bayangan ketika dia menampar Aruna di toko Haikal.


"Maafkan papa, ma. Aku dulu terpaksa melakukan itu, agar semua harta papa menjadi milik ku. Nama Aruna sendiri ku berikan agar aku bisa tetap mengenalinya. Aruna adalah singkatan nama ku dan nama mu...hARUNAmanda" jawab Harun tertunduk.


Bulir bening keluar dari sudut matanya. Amanda menutup mulutnya sambil terisak, dia benar-benar tidak percaya atas perbuatan suaminya itu.


"Aruna...anak kandung mama dan papa yang ditukar. Apa maksudnya? Apa aku dan Aruna  anak yang ditukar itu?" gumam Aiman.


Aiman masih terpaku berdiri di depan kamar orang tuanya sambil mencerna cerita Harun yang didengarnya barusan.


Ceklek!! Pintu kamar terbuka.


"Aiman!" gumam Harun kaget melihat Aiman berdiri di depan pintu kamar. Aiman menatap Harun dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Aku mendengar semuanya" gumam Aiman datar.


Harun melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, Aiman pun berjalan mengikuti Harun untuk meminta klarifikasi.


'Aku harus tahu apakah aku ada hubungan darah atau tidak dengan Aruna. Apakah Aruna menghilang ada sangkut pautnya dengan masalah ini' batin Aiman.


"Duduklah" ujar Harun menyuruh Aiman duduk di dekatnya setelah dia duduk di sofa.


Harun bercerita panjang lebar mengenai kisah pertukaran Aruna dan Aiman ketika mereka masih bayi.


"Jadi aku sebenarnya keponakan paman Haikal?" tanya Aiman masih  tidak percaya.


Harun mengangguk. "Kau dan Rafli adalah sepupu. Maafkan papa, Aiman"


Aiman mengusap wajahnya. Dia masih tidak percaya dengan kenyataan itu.


"Apa aku dan Aruna ada hubungan darah?" tanya Aiman lagi.


"Tidak ada. Sejak bayi kau tidak mau menyusu dengan Amanda begitu juga dengan Aruna. Haikal cerita Aruna tidak mau minum ASI ibumu, makanya papa meminta Haikal untuk mengirimi uang kepada ayah mu agar membelikan susu formula untuk Aruna" jawab Harun.


Aiman bernapas lega ternyata dia dan Aruna tidak ada hubungan darah yang dapat menjadikan mereka berdua saudara sepersusuan jika masing-masing mau meminum ASI.


"Man, sebelum kamu bertemu dengan Aruna. Papa memang sudah akan menjodohkan kamu dengan Aruna. Papa tahu tentang hubungan mu dengan Aruna. Kamu mencintainya kan?" tatap Harun.


"Iya, pa. Tapi belum sempat aku mengenalkannya kepada papa, mama sudah menemui Aruna dan tidak menyetujui hubungan kami" jawab Aiman.


"Itu karena Amanda tidak tahu siapa Aruna" gumam Harun.


"Dimana Aruna sekarang pa?" tanya Aiman penasaran.


"Dia pergi dari rumah Haikal setelah dilabrak Amanda. Mama mu mengira papa selingkuh dengan Aruna" jawab Harun.


Aiman menghela napas. Lalu kemana lagi gadis itu pergi.


"Aruna sepertinya belum bisa menerima kami sebagai orang tua kandungnya" ujar Harun sedih.


"Apa Aruna kembali ke desa? Paman Haikal pasti tahu dimana desa tempat Aruna tinggal" ujar Aiman menatap Harun.


"Iya, kenapa tidak terpikirkan oleh papa" Harun mengambil ponselnya dan menghubungi Haikal.


Keesokan harinya


Mereka pergi bersama-sama ke desa tempat adik Haikal tinggal. Aruna pernah memberitahu Haikal dimana orang tuanya tinggal. Namun Aruna meminta Haikal agar tidak menemui orang tuanya sampai dia yang meminta pulang ke desa. Karena sudah pasti orang tuanya akan marah karena telah pergi dari rumah.


Tiba di kediaman Abid dan Wardah. Haikal menceritakan tujuan kedatangan mereka. Peluk haru pun mewarnai pertemuan mereka. Terutama Aiman yang telah bertemu dengan orang tua kandungnya, Abid dan Wardah.


"Jadi, Aruna belum pulang?" tanya Haikal khawatir. Haikal dan Harun saling pandang.


"Benar, sejak dia pergi dari rumah untuk mencari mas Haikal. Aruna sama sekali belum pernah pulang" jawab Wardah.


"Lalu kemana anak itu... " gumam Harun cemas begitu juga dengan Amanda. Gadis itu pergi juga karena ulah dan ucapannya.


"Kita pulang dulu" ajak Harun.


Karena tidak menemukan Aruna akhirnya mereka kembali ke kota dengan hati yang cemas memikirkan keberadaan Aruna.