
Sejak pulang dari restoran seafood sikap Aruna semakin sensitif. Apalagi kalau ada wanita cantik dan langsing melirik Aiman muka Aruna langsung berubah tidak suka dan ujungnya tidak mau bicara dengan Aiman.
"Gara-gara Mas Aiman mengajak aku makan di restoran seafood berat, badan ku naik lagi" gerutu Aruna memakai baju potongan.
Atasan yang dipakainya sudah sempit. Dia melempar asal baju itu di atas ranjang.
'Rasanya baju itu baru ku beli sebulan yang lalu. Masa udah nggak muat, sih' batin Aruna, dia mulai stres.
'Mas Aiman pasti sengaja ngajak ke restoran itu biar aku makan banyak terus badan aku tambah gendut dan dia bisa melirik wanita lain yang lebih langsing dari aku karena aku udah nggak seperti dulu lagi' pikiran yang tidak-tidak mulai muncul di kepala Aruna.
"Sayang, kok belum siap?" Tanya Aiman masih melihat Aruna belum memakai pakaian kerjanya.
Aruna menatap Aiman tidak suka. Lalu duduk di tepi ranjang.
"Baju kerja ku banyak yang sempit, mas" ucap Aruna cemberut.
"Lho, kenapa?" Tanya Aiman polos.
"Ihh, Mas Aiman ini pura-pura bego lagi. Itu tandanya aku gendut, mas!!" omel Aruna.
Aiman tersenyum geli. "Terus, kalau kamu gendut kenapa?" Tanya Aiman lagi berjalan mendekati Aruna.
"Nanti Mas nggak cinta lagi sama aku...terus melirik wanita lain yang lebih langsing" jawab Aruna menatap dingin Aiman.
"Ini semua karena Mas Aiman suka ngajak aku makan di tempat enak-enak terus yang buat aku lupa diri" sambung Aruna memanyunkan bibirnya.
'Lha, aku lagi yang disalahkan' batin Aiman.
Aiman meraih tangan Aruna dan menariknya agar berdiri di hadapannya.
"Sayang, aku nggak pernah kepikiran sampe situ. Itu hanya persepsi kamu saja, deh" ucap Aiman menatap lembut Aruna.
"Pakai baju yang ada saja, nanti kita ke mall beli baju untuk kamu" sambung Aiman tersenyum memegang dagu Aruna. Aruna masih belum bisa tersenyum.
"Belinya bareng Mas?" Tanya Aruna. Aiman mengangguk.
"Nggak usah, deh" tolak Aruna. Dia malah nggak pede jalan bareng Aiman ke mall.
"Lho, kenapa nggak mau ditemani mas?" Tanya Aiman curiga.
"Nanti Mas malu lagi jalan sama aku" jawab Aruna sedih.
Entah kenapa dia menjadi tidak percaya diri berada di samping Aiman.
Aiman menggeleng tidak mengerti. Kenapa dengan sikap Aruna yang seakan-akan tidak mau menunjukkan kalau Aruna adalah istrinya.
"Kenapa harus malu. Kamu itu istri ku bukan pacar gelap ku" tegas Aiman.
Setelah perdebatan kecil akhirnya mereka berangkat kerja juga. Di kantor setelah menyiapkan keperluan Aiman, Aruna menghilang ke ruangan OB hingga jam makan siang. Aiman dan Rafli juga sedang ada urusan di luar.
"Kamu nggak makan,nNa?" Tanya Popy.
"Nggak nafsu" jawab Aruna tidak bersemangat.
"Nggak nafsu atau diet" sindir Popy.
"Nggak juga. Minum susu kotak sama buah aja udah kenyang, kok" balas Aruna ngeles.
"Jangan sampe sakit lho, Na gara-gara diet" ingat Popy.
"Udah ah, Pop aku mau balik ke ruangan CEO" ujar Aruna meninggalkan ruangan OB tak mau mendengarkan ucapan Popy.
Aruna sudah kembali ke ruangan Aiman. Ternyata Aiman belum juga kembali.
'Aduh kenapa kepalaku pusing, ya?' keluh Aruna memijat kepalanya. Pandangan berkunang-kunang.
"Sholat Dzuhur dulu deh, siapa tau pusingnya hilang" gumam Aruna berjalan ke kamar mandi.
Selesai sholat, Aruna merapikan jilbabnya. Tiba-tiba kepalanya pusing kembali dan semakin berat.
Drett.Drett.Drett.
Ponsel Aruna yang ditaruhnya di atas meja kerja Aiman berbunyi. Aruna berjalan pelan untuk mengambil ponselnya sambil menahan sakit kepalanya. Matanya berkunang-kunang namun tetap berusaha meraih ponsel dan mengangkatnya.
"Sayang kamu di mana?" Tanya Aiman. Aruna memijat keningnya menahan sakit.
"Mas..."
Bruk!!!
Belum sempat melanjutkan ucapannya Aruna sudah jatuh ambruk ke lantai.
"Aruna...Aruna!!" Panggil Aiman.
Suara Aiman masih terdengar di ponsel yang tergeletak di samping Aruna.
Aiman yang kebetulan sudah berada di lobi bergegas menuju ke ruangannya.
"Sepertinya terjadi sesuatu dengan Aruna, Raf" jawab Aiman menekan tombol lift.
Tak lama mereka tiba di ruangan CEO. Aiman membuka pintu ruangannya dengan tidak sabaran. Betapa terkejutnya dia melihat badan Aruna tergeletak di lantai.
"Aruna!!" Teriak Aiman mendekati Aruna.
"Ya Allah kenapa dengan Aruna, Man?" Rafli ikut kaget melihat keadaan Aruna.
"Sepertinya dia pingsan, Raf" jawab Aiman setelah mengecek keadaan istrinya itu.
Aiman lalu mengangkat badan Aruna dan memindahkannya ke sofa. Rafli menuju dispenser mengambil air hangat.
"Man, wajah Aruna pucat sekali. Kamu bawa aja ke dokter atau rumah sakit" saran Rafli.
Hati Aiman begitu cemas. Tanpa pikir panjang Aiman menggendong Aruna dan mengikuti saran Rafli.
'Ya Allah ada apa dengannya' batin Aiman memangku Aruna di dalam mobil.
"Raf, cepat sedikit. Bawa ke dokter Farah saja. Kejauhan kalau ke rumah sakit" usul Aiman untuk membawa ke dokter praktek langganan Amanda, mama mertuanya. Rafli hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Tiba di klinik dokter Farah, Aruna segera diperiksa. Aiman dan Rafli menunggu di luar ruangan. Tak lama dokter Farah keluar dari kamar periksa dan duduk di kursinya.
"Gimana, Dok?" Tanya Aiman dengan raut wajah cemas.
"Kita pasang infus dulu. Badan istribmu lemas sekali, Man" tatap dokter Farah serius.
"Aruna nggak makan ya ? Nggak bagus buat ibu yang sedang hamil muda. Dia harus banyak makan" lanjut dokter Farah sambil mencatat resep obat.
"Tunggu dok, yang dokter maksud hamil muda itu siapa?" Tanya Aiman bingung.
"Ya istri kamu, Man. Masa saya bicarakan istri orang lain" jawab dokter Farah heran.
"Beneran Aruna hamil dok? Kok dia nggak bilang-bilang" tatap Aiman bingung.
"Lho, jadi kamu nggak tau kalau Aruna sedang hamil empat Minggu. Hmm, jangan-jangan istri kamu itu tidak tau juga kalau dia sedang hamil" ujar dokter Farah.
Aiman hanya menggelengkan kepala. Hatinya bahagia mendengar kabar itu.
"Ya udah, kalau besok pagi kondisi Aruna sudah membaik dia boleh pulang, kok. Sekarang harus diinfus dulu" sambung dokter Farah.
Setelah mendengarkan penjelasan dokter Farah, Aiman menemui Aruna yang terbaring di dalam kamar inap sederhana di klinik dokter Farah.
"Selamat ya, Man. Tak lama lagi kamu akan menjadi seorang ayah" ujar Rafli yang ikut mendengarkan di ruangan dokter Farah tadi.
"Makasih, Raf. Oya, kamu pulang saja dan jangan lupa kasih tau mama dan papa ku" balas Aiman.
Rafli mengangguk lalu pamitan keluar meninggalkan Aiman. Aiman lalu mengambil kursi dan duduk di samping Aruna yang masih terpejam.
"Kamu itu sebenarnya suka makan lalu kenapa harus dikurangi porsinya. Jadinya, kan begini" tatap Aiman sambil menggenggam tangan Aruna.
Aiman sebenarnya tahu kalau Aruna mengurangi porsi makannya dan menolak diajak makan ke tempat-tempat enak jika sedang bersamanya. Aiman juga tahu bobot badan Aruna bertambah. Tapi kalau bajunya sempit itu karena faktor hamil, Aiman tidak tahu.
***
Sore harinya Aruna baru siuman. Ketika membuka matanya Aruna melihat ada Amanda di sampingnya.
"Ma, aku di mana?" Tanya Aruna memutar bola matanya melihat sekeliling dan aroma obat yang tercium olehnya.
"Kamu ada di klinik dokter Farah, Na" jawab Amanda tersenyum mengusap kepala Aruna.
"Emang aku kenapa?" Aruna coba mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
"Kamu itu pingsan di ruangan Aiman. Karena nggak makan."
Aruna hanya diam. Mungkin kepalanya pusing akibat dia tidak makan.
"Sekarang kamu harus banyak-banyak makan, sayang"
"Nggak mah ah, nanti aku tambah gendut Ma" tolak Aruna cemberut.
"Lho, nggak apa. Kamu mau bayi yang kamu kandung nanti kurus terus kurang gizi?" ucap Amanda.
Aruna bengong. Bayi?
"Maksud Mama..."
"Iya Aruna...kamu itu sedang mengandung anak Aiman" jelas Amanda tersenyum.
Aruna masih bengong. Sungguh dia tidak sadar kalau sudah hampir sebulan dia belum datang bulan.
"Dokter Farah udah periksa kok. Kamu emang positif hamil" tegas Amanda.
Aruna lalu tersenyum. 'Jadi baju aku sempit itu bukan karena aku gendut banyak makan tapi karena sedang hamil' batin Aruna.
'Hm mas Aiman pasti seneng banget tau aku hamil' Aruna tersenyum lagi sambil memikirkan sesuatu di kepalanya.