Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 26: Salah Paham



Kedua orang tua Aruna sudah kembali ke rumah mereka. Namun ketika pulang Amanda sakit karena capek badan dan pikiran. Selama di luar kota Amanda memikirkan Aruna yang belum mau mengakuinya sebagai ibu kandungnya.


"Mama istirahat saja di rumah atau perlu diopname di rumah sakit?" Tanya Harun mengecek kening Amanda. Suhu badan istrinya itu masih panas.


"Nggak usah Pa. Mama istirahat di rumah saja" jawab Amanda dengan suara lemah.


"Mama istirahat ya. Papa mau lihat Aiman dan Aruna sudah pulang belum" Harun mengusap lembut kepala Amanda lalu meninggalkannya.


"Lusi, Aiman sudah pulang?" Tanya Harun melihat Lusi melintas tidak jauh darinya.


"Sudah tuan, baru saja ke kamar" jawab Lusi


"Beritahu Aiman, saya menunggunya di ruang kerja" perintah Harun.


"Baik tuan" Lusi pun bergegas menuju ke lantai atas.


***


"Sayang, sepertinya mama dan papa sudah pulang" ucap Aiman memandang Aruna yang sedang membuka kancing baju Aiman satu persatu.


"Terus..." Balas Aruna cuek.


"Berdamailah dengan mereka. Bagaimanapun mereka orang tua kandungmu" nasihat Aiman.


Aruna mengerucutkan bibirnya. Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan itu.


Tok.Tok.Tok.


"Bentar mas, aku lihat dulu siapa" Aruna meninggalkan Aiman karena semua kancing kemeja Aiman sudah dibukanya semua.


"Non, pesan Tuan Harun, mas Aiman diminta menemui tuan di ruang kerjanya" ujar Lusi setelah Aruna membuka pintu kamar.


"Kapan?" Tanya Aruna.


"Kalau mas Aiman sudah siap" jawab Lusi. "Permisi non" Lusi berbalik meninggalkan lantai atas.


"Siapa sayang?" Tanya Aiman sambil melepas kaos dalamnya hingga dia bertelanjang dada.


"Lusi mas. Katanya mas diminta menemui papa di ruang kerjanya" ujar Aruna menyampaikan pesan dari Lusi tadi.


"Nanti sudah mandi kita temui papa ya" ajak Aiman.


"Mas aja kali. Aku kan tidak" tolak Aruna membuka jilbabnya. Dia ingin cepat-cepat membersihkan diri di kamar mandi.


"Aruna!!" Panggil Aiman.


"Mas yang dipanggil bukan aku" tegas Aruna.


Aiman hanya menghela napas melihat sikap keras kepala istrinya itu.


"Baiklah kalau kamu tidak mau" seringai Aiman mendekati Aruna lalu menggendongnya.


"Eh...eh mas mau ngapain?" Teriak Aruna kaget.


"Mandi bareng kamu" jawab Aiman dengan tatapan nakal lalu membawa Aruna masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas!!" Teriak Aruna di dalam kamar mandi karena Aiman sudah menutup pintunya.


Byuuur!! Terdengar suara air di dalam bathub, Aiman sudah melepaskan Aruna ke dalam bathub. Untuk pertama kalinya mereka mandi bersama dalam satu bathub. Hmm


***


Sesuai dengan pesan Lusi, Aiman menemui Harun di ruang kerjanya.Laki-laki paruh baya yang masih terlihat ketampanannya itu sedang duduk membaca buku di sofa yang ada di ruang kerjanya.


"Kapan papa sampai?" Tanya Aiman basa-basi lalu duduk di depan Harun.


"Siang tadi. Man, mama sakit" jawab Harun melihat wajah Aiman.


"Mama sakit? Maksud papa, mama diopname sekarang" tanya Aiman.


"Nggak, mama ada di kamar. Hanya demam, mungkin kecapekan dan kepikiran dengan sikap Aruna" jawab Harun sendu.


"Pa,maaf. Aku belum bisa meluluhkan hati Aruna perihal mama" ujar Aiman sedih.


"Tidak apa. Papa juga bisa memakluminya. Beritahu saja kepadanya kalau mama sedang sakit. Semoga saja Aruna mau melihat mama di kamar" balas Harun penuh harap.


Aiman mengangguk. "Kalian makan malam duluan saja. Papa akan menemani mama makan di kamar"


"Iya pa. Aku keluar dulu ya" pamit Aiman.


Setelah menemui papanya, Aiman kembali ke kamar menemui Aruna. Aruna tampak masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Sayang" panggil Aiman mendekati Aruna.


"Apa?"


"Mama sakit. Beliau ada di kamar. Kamu mau nengokin nggak?" Ucap Aiman dengan nada pelan.


Untuk masalah mamanya Aruna agak sensitif makanya Aiman hati-hati bicara tentang itu.


Tidak ada respon dari Aruna. Aruna tampak sibuk menyisir rambutnya yang masih setengah kering itu. Namun hati Aruna ternyata memikirkan mamanya juga.


'Mama sakit apa ya ? Ah paling juga demam biasa' batin Aruna menepis rasa khawatirnya.


Keesokan paginya.


"Mas pergi dulu. Tidak usah mengantar bekal karena mas akan makan siang di luar dengan rekan bisnis" ucap Aiman setelah mengenakan jas yang dipakaikan oleh Aruna.


Aruna hanya diam. Dia tahu ucapan itu bentuk penolakan Aiman yang tidak mau bertemu lama-lama dengannya.


Setelah Aiman pergi ke kantor. Aruna hanya mengurung diri di kamar.


***


"Mira...Mira!!" Panggil Amanda dengan suara parau.


"Iya Nyonya" Mira menghampiri Amanda yang terbaring di atas ranjang.


"Tuan dimana?"


"Tuan tadi keluar sebentar dengan mang Anto, Nya" jawab Mira yang standby di dalam kamar.


"Mir, mana baskom saya mau muntah" ujar Amanda menahan mulutnya dengan tangan karena perutnya mual ingin muntah.


Mira memberikan baskom untuk menampung muntah Amanda, wanita itu tidak tahan lagi mau mengeluarkan isi perutnya.


"Ya Allah Nyonya!!" Seru Lusi yang baru saja masuk ke kamar melihat Amanda muntah-muntah.


"Non Aruna harus aku kasih tahu. Kasihan Nyonya" gumam Lusi lalu keluar mencari Aruna.


Lusi berdiri di depan pintu kamar Aruna. Gadis itu menarik napas dalam lalu mengetuk pintu kamar.


"Non Aruna" panggil Lusi sambil mengetuk pintu kamar.


"Ada apa Lus?" Tanya Aruna membukakan pintu.


"Non, nyonya muntah-muntah dan badannya lemes sekali.  Gimana non kita bawa ke rumah sakit saja" ujar Lusi dengan raut wajah khawatir memberitahu Aruna.


Hati Aruna pun mendadak cemas dengan kondisi mamanya. Meskipun hatinya masih kesal dengan sikap Amanda terhadapnya dulu tapi dia masih punya perasaan.


"Ayo Non" ujar Lusi memecahkan lamunan Aruna.


"Iya...iya" Aruna menutup pintu kamar dan mengikuti Lusi menuju kamar Amanda.


"Non, sepertinya Nyonya pingsan. Bagaimana ini ?" ujar Mira cemas melihat Aruna masuk ke dalam kamar.


Aruna menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut. Dilihatnya Amanda memejamkan mata tidak berdaya dengan wajah pucat seperti mayat.


"Bik kita bawa ke rumah sakit. Ayo cepat!!" Perintah Aruna.


"Tuan belum pulang. Kita mau pergi pakai apa?" Tanya Mira panik.


"Mang Ujang ada kan.  Saya panggil mang Ujang saja" usul Lusi memanggil satpam rumah.


"Iya cepat Lus, suruh siapkan mobil. Ayo bik bantu aku bawa mama" perintah Aruna.


Aruna memegang badan Amanda yang dingin. "Ma, mama!!" Panggil Aruna sambil mengusap pipi Amanda yang dingin.


"Cepat pak!!" Perintah Aruna panik hingga dia lupa membawa ponsel dan mengabari Aiman atau Harun.


"Iya non ini udah maksimal" sahut Mang Ujang.


Tiba di rumah sakit. Amanda langsung dibawa ke UGD. Dengan wajah cemas Aruna menunggui Amanda hingga mendapat penanganan dari dokter.


***


Aiman sudah berapa kali mencoba menghubungi ponsel Aruna. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Aiman mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Apa sikap ku ini salah? Tidak seharusnya aku kesal dan marah dengan sikap Aruna yang belum mau menerima mama" gumam Aiman menyesal.


"Bik tungguin mama ya. Aku dan Lusi pulang dulu mengambil pakaian mama" ujar Aruna ketika Amanda sudah berada di kamar inap.


Sementara Amanda  belum sadarkan diri, Aruna pergi pulang ke rumah bersama Lusi.


"Iya Non"


"Mang Ujang telpon papa ya. Aku nggak bawa ponsel" perintah Aruna.


Setelah Mang Ujang menelpon Harun, Aruna menyuruh Lusi untuk mengemasi perlengkapan Amanda selama di rumah sakit.


Harun segera menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari satpam rumahnya. Dia pun lantas menghubungi Aiman.


Tak lama Aiman tiba di rumah. Aiman mengira kalau Aruna berada di kamar dan tidak tahu tentang kondisi mamanya.


Aiman melihat Aruna memang ada di kamar sedang memegang ponselnya. Padahal Aruna baru saja mau menghubungi Aiman untuk memberitahu kalau mamanya di rawat di rumah sakit.


"Mas..." tegur Aruna melihat Aiman masuk ke kamar.


"Kamu benar-benar keterlaluan ya. Mama masuk rumah sakit tapi kamu masih mengurung diri di kamar" tuduh Aiman dengan wajah tanpa senyuman sedikitpun.


Mulut Aruna menganga mendengar ucapan Aiman yang menuduhnya seperti itu. Aruna membisu tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu boleh benci mama, tapi harus ingat kalau kamu lahir dari rahimnya. Semua yang terjadi juga bukan karena kemauan mama. Dan sikap angkuh mama kamu harus memakluminya. Apalagi mama sudah meminta maaf sama kamu apa itu masih kurang" ujar Aiman mengingatkan Aruna dengan menahan amarahnya.


Mata Aruna berkaca namun ditahannya agar tidak jebol air mata itu di depan Aiman. Aiman lalu pergi meninggalkan Aruna yang masih terpaku merenungi ucapan Aiman tadi yang begitu menohoknya. Kemudian kakinya lemas lalu terduduk, tangis Aruna akhirnya  pecah juga.


Di luar Lusi sudah menunggu, Aiman segera mengambil alih barang yang dibawa Lusi dan memintanya untuk tinggal di rumah. Lusi yang tidak tahu apa-apa pun menjadi bingung. Bukankah dia dan Aruna akan kembali lagi ke rumah sakit.