
Hari berikutnya Aruna meminta shif sore kepada atasannya untuk membersihkan ruangan Ceo. Siapa tahu pemilik ruangan sudah pulang lebih awal jadi dia aman untuk membersihkannya. Namun kenyataan tidak sesuai ekspektasinya. Dan terjadilah...
"Aruna!!!" teriak Aiman.
Aiman jatuh terduduk sambil mengelap jasnya yang terkena air pel. Sialnya dia memakai jas berwarna cream. Lengkap sudah sore ini dia seperti kucing kecemplung got.
"Ya Allah, Pak. Maaf...maaf"
Aruna berjalan cepat mendekati Aiman yang terduduk di lantai.
Aruna berdiri di dekat Aiman dengan wajah cemas, merasa bersalah dan entah sudah seperti apa bentuk mukanya sekarang.
Aiman menatap kesal Aruna dengan wajah lugunya. Pria berwajah tampan dan dingin itu mencoba bangkit.
'Aduh kenapa dia masuk lagi ke kantor sih, padahal aku udah ambil shif sore juga' batin Aruna.
Wajah Aruna begitu cemas melihat Aiman yang bakalan murka dengannya.
"Ngapain bengong disitu, bantu saya berdiri!!" teriak Aiman.
'Lama-lama tulang ku bisa patah jika dia mengepel di ruangan ku tidak becus begitu' gerutu batin Aiman.
"Ah iya pak" ujar Aruna gelagapan.
Aruna mengulurkan tangannya yang berbalut sarung tangan. Ketika Aiman berhasil berdiri jarak mereka pun sangat dekat, mata mereka pun bertemu pandang. Aruna segera mundur menjaga jarak dengan wajah masih cemas bagaimana nanti nasib pekerjaannya.
"Buka!" perintah Aiman.
Aiman memasang wajah kesal kepada Aruna sekaligus menutupi perasaan dan debaran jantungnya yang tak karuan ketika berada di dekat gadis itu.
"Hah!!" Aruna kaget menatap Aiman takut.
'Apanya yang mau dibuka?' tanya hati Aruna.
"Cepat buka!" teriak Aiman marah.
"A...apanya pak?" tanya Aruna gugup melihat wajah Aiman.
"Jas saya!" semprot Aiman datar. Aruna melongo.
'Kenapa nggak buka sendiri saja' batinnya.
"Cepat! Badan saya bisa gatal-gatal semua nanti" gerutu Aiman.
"Ta...tapi pak"
Aruna takut tidak berani melaksanakan perintah Aiman itu.
Bagaimana mungkin dia membuka jas dan kemeja atasannya itu. Aruna sudah gemetar sendiri membayangkannya.
Aiman sudah melototkan matanya."Kamu mau saya pecat detik ini juga" ancamnya mendekati Aruna.
"I...iya pak"
Aruna pun terpaksa menurut daripada dia dipecat. Aruna lalu melepaskan jas yang dikenakan Aiman yang sudah ternoda oleh air kotor itu.
Kini giliran kemeja Aiman yang basah harus dibuka oleh Aruna karena Aiman merasa jijik untuk membukanya sendiri.
"Buka cepat!!" tatap Aiman tajam kepada Aruna.
"I...iya" sungut Aruna, lama-lama dia kesal juga. Untung ganteng. Eh...
Tangan Aruna mendekati dada Aiman dengan gugup dia lalu membuka satu persatu kancing kemeja Aiman. Jantung Aruna pun berdebar kencang, dia tidak ingin melihat aurat pria di hadapannya yang sudah pasti sempurna. Aruna memejamkan matanya sambil membuka kancing.
Kesempatan Aiman untuk memandangi wajah cantik dan lugu Aruna dari dekat. Ada semburat senyum di bibirnya melihat wajah Aruna. Aruna pun sukses membuka kancingnya lalu melepas kemeja Aiman tanpa melihat tubuh Aiman yang sudah bertelanjang dada.
Aruna lalu berbalik sambil menarik napas. Bisa-bisa dia mati berdiri di dalam ruangan ini. Dia tidak mau melihat tubuh Aiman yang sudah pasti six pack atau apalah yang ada di benak Aruna.
Aiman lalu berjalan ke arah toilet tak lama kemudian menuju ke arah lemari kecil yang sengaja disiapkan untuk menyimpan beberapa helai kemeja dan jasnya untuk ganti. Sambil melirik Aruna yang masih membelakanginya membuat Aiman menyunggingkan senyuman. Wanita manapun pasti tertarik melihat body atletisnya,namun tidak untuk seorang Aruna.
"Aruna!" panggil Aiman.
"A...ada apalagi pak?" tanya Aruna tanpa melihat Aiman.
"Lihat saya!! Nggak sopan tau bicara sambil membelakangi orang begitu" omel Aiman.
Aruna pun membalik badannya ke arah Aiman sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Atasannya itu pasti masih bertelanjang dada.
"Ngapain pake menutup muka segala. Emang wajah saya jelek apa?" gerutu Aiman menyunggingkan senyuman.
"Bapak kan nggak pake ba...baju"cicit Aruna.
"Udah buka!!" perintah Aiman.
"Nggak mau" tolak Aruna. Dia bersih keras masih menutup wajahnya dengan tangan.
"Ck"
Aiman lalu berjalan mendekati Aruna dan menarik kedua tangan yang menutupi wajahnya.
"Pak!!" jerit Aruna namun ditahannya karena kaget melihat Aiman di depannya sudah memakai pakaian lengkap.
"Apa?" tatap Aiman tajam. Aruna hanya tersenyum kikuk.
"Saya kira bapak masih belum..."
"Kalau sudah selesai, cepat pulang" ujar Aiman mengambil kunci mobilnya lalu keluar meninggalkan Aruna.
"Ya pulanglah, ngapain juga lama-lama disini. Emang mau nginep" jawab Aruna namun Aiman tidak akan mendengar ucapannya karena sudah keluar dari ruangan.
Selesai mengeringkan lantai, Aruna membereskan peralatannya lalu mengunci ruangan.
"Aduh aku dipecat nggak ya. Eh baju kotor pak Aiman tadi gimana ya ?" Aruna jadi kepikiran.
Akhirnya dia balik kanan untuk mengambil pakaian kotor Aiman tadi.
***
"Man, ngapain bengong di parkiran?"
Rafli mengetuk kaca depan di samping Aiman duduk.
Aiman pun menurunkan jendela kaca mobil.
"Udah duluan sana" usir Aiman.
"Mencurigakan" gumam Rafli.
Namun dia tetap pulang duluan meninggalkan Aiman karena ada janji.
Aruna keluar dari pintu belakang gedung tempat keluar masuk karyawan OB. Pintu utama perusahaan mah untuk para pejabat. Dari arah parkiran Aiman memperhatikan sosok Aruna. Dia hanya ingin memastikan saja kalau gadis itu sudah selesai melakukan pekerjaannya.
Aruna tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia merogoh tasnya.
"Hah...dimana...dimana!" teriaknya panik.
Sekali lagi Aruna merogoh tasnya bahkan ditumpahkannya semua isi tasnya di lantai.
"Ya Tuhan...pergi tadi aku kan dibayari mba Meri. Lha ini nggak bawa dompet. Gimana mau pulang?" oceh Aruna terduduk. Rasanya dia mau menangis.
Tingkah laku Aruna menjadi perhatian Aiman dari dalam mobilnya.
"Pasti ada barangnya yang tinggal" gumam Aiman.
Aiman menjalankan mobilnya keluar dari area parkir mendekati posisi Aruna.
"Kenapa kamu?" tegur Aiman membuka jendela kaca mobil.
"Pak Aiman!" Aruna mendongakkan kepalanya.
'Kok dia belum pulang ya' batin Aruna.
"Pak saya lupa bawa dompet, boleh numpang nggak?"
Aruna menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
'Wah dia pasti nggak mau ngasih tumpangan, mobil mewah mau ditumpangi upik abu, apa kata dunia' batin Aruna melihat Aiman seperti sedang berpikir.
"Gimana ya? Kalau karyawan lain lihat saya ngasih kamu tumpangan bisa jatuh reputasi saya sebagai ceo" ucap Aiman.
Aruna memasang wajah sedih dan menatap kecewa punya atasan seperti Aiman. Kalau dia bawa dompet nggak akan mau dia minta tumpangan gratis dengan bos berwajah super dinginnya itu. Tanpa kata-kata Aruna pun melangkahkan kakinya menjauhi mobil Aiman.
Melihat reaksi Aruna diluar dugaannya, Aiman keluar dari mobilnya dan mengejar Aruna. Aiman berpikir Aruna akan terus memohon kepadanya dan mencari kesempatan , tapi Aruna ternyata bukan gadis seperti itu.
"Hei, naiklah" panggil Aiman.
Aruna menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang melihat Aiman.
"Nggak usah...nanti reputasi bapak jatuh" sindir Aruna lalu berbalik lagi berjalan.
"Aruna!! Saya bilang naik" tegas Aiman dengan nada tinggi. Aruna mematung sementara Aiman masuk kembali ke mobilnya.
"Masuklah!" perintah Aiman.
Dengan wajah ditekuk Aruna menuju ke pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil duduk di samping Aiman.
Baru kali ini Aruna naik mobil mewah. Tempat duduknya empuk dan dingin. Aruna bersedekap karena suhu di dalam mobil yang dingin.
"AC nya kebesaran ya?" tanya Aiman melirik Aruna.
'Hah belum ada sejarah dalam hidup ku mengantar seorang gadis pulang ke rumahnya. Apalagi sampai berdekatan begini. Tapi kok alergi ku nggak kambuh ya?' tanya batin Aiman heran.
"Saya saja yang nggak biasa berAC pak" jawab Aruna datar.
Aiman kemudian mengecilkan AC mobilnya. "Mau turun dimana?" tanyanya.
"Di depan Indomei aja pak"
Aruna tidak mau Meri tahu kalau atasan mereka sampai mengantarnya pulang.
Mobil Aiman pun berhenti tepat di depan Indomei.
"Makasih ya pak" ucap Aruna tersenyum.
Kedua lesung pipit yang menghiasi pipinya membuat Aruna semakin terlihat cantik dan imut.
"Hmm" sahut Aiman tanpa membalas senyuman Aruna.
Aruna menyebrang jalan lalu masuk ke jalan lain. 'Ugh selamat deh bisa sampai di rumah lagi' batin gadis itu.