Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 27: Bersatunya Ibu dan Anak



Harun menggenggam tangan Amanda. Perlahan Amanda membuka matanya dan  merasakan genggaman hangat dari tangan suaminya.


"Pa, mama udah sadar" seru Aiman yang berdiri di samping Harun.


"Pa, mana Aruna?" Tanya Amanda dengan suara masih lemah.


Harun dan Aiman saling pandang. Mereka berdua memang tidak melihat Aruna berada di rumah sakit.


Amanda menatap suami dan anaknya silih berganti. Amanda tidak pernah menganggap Aiman sebagai menantunya karena dia sudah membesarkan Aiman layaknya anak sendiri.


"Kenapa? Aruna tidak kembali lagi kesini?" Tanya Amanda heran.


"Ma, Aruna memang belum kesini. Nanti aku akan berusaha membujuknya agar mau menengok mama" jawab Aiman.


"Man, bukannya yang membawa mama ke rumah sakit, Aruna. Mama masih sadar di kamar. Sayup-sayup mama dengar suara Aruna dan bik Mira juga Lusi sibuk mau membawa mama ke rumah sakit" jelas Amanda masih dengan wajah pucat.


Deg. Ada rasa bersalah di hati Aiman karena telah menuduh Aruna tidak peduli dengan Amanda jika ucapan mamanya memang benar.


"Benar, Aruna yang nganter mama kesini?" Tanya Harun tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


Meskipun Aruna cuek ternyata anaknya masih ada perasaan, Harun tahu Aruna tidak mungkin berhati jahat dengan orang tuanya sendiri.


"Pa. Aku pulang dulu" Harun mengangguk setuju.


"Ma, aku akan ajak Aruna kesini ya" pamit Aiman.


Aiman memacu cepat mobilnya agar cepat sampai di rumah. Hatinya benar-benar kacau. Dia telah menuduh Aruna yang  tidak-tidak.


Tiba di rumah, Aiman menemui Lusi di dapur. "Mas Aiman, ada apa?" Tanya Lusi kaget melihat Aiman muncul di dapur.


"Siapa yang membawa mama ke rumah sakit?" Tanya Aiman penasaran.


"Non Aruna, saya dan bik Mira, mas. Saya panik lihat nyonya muntah-muntah jadi saya panggil non Aruna. Non Aruna juga sangat cemas dan langsung membawa nyonya ke rumah sakit" jawab Lusi.


Tanpa menunggu lama lagi, Aiman berlari ke lantai atas untuk menemui Aruna. Dia benar-benar merasa bersalah dengan Aruna.


Di kamar


Aruna duduk bersandar di tepi ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Aruna terisak kembali jika mengingat ucapan Aiman yang telah menuduhnya seolah-olah dirinya anak yang sangat jahat kepada orang tuanya.


Ceklek!


Aiman membuka pelan pintu kamar. Dia melihat Aruna meringkuk duduk di dekat ranjang. Bisa dia dengar suara isakan tangis Aruna. Aiman berjalan mendekati Aruna.


"Ehem..." Aiman berdehem agar Aruna menyadari kehadirannya.


Aruna mendongakan kepalanya melihat Aiman berdiri di hadapannya. Aruna menghapus sisa air matanya. Aiman menghulurkan tangannya agar Aruna berdiri dan perempuan berlesung pipit itupun menyambut uluran tangan Aiman hingga dia berdiri tepat di hadapan Aiman.


"Sayang, maafin mas. Mas tidak tahu kalau ternyata kamu yang membawa mama ke rumah sakit" tatap Aiman sendu.


Aruna hanya membisu, air matanya pun mengalir lagi. Aiman menarik badan Aruna ke dalam pelukannya.


"Maafkan ucapan mas yang telah menyakitimu" pinta Aiman lagi sambil mengusap kepala Aruna yang masih tertutup jilbab karena dia belum membuka jilbabnya pulang dari rumah sakit tadi.


Aiman bisa merasakan anggukan kepala Aruna yang bersandar di dadanya.


"Karena panik mas tidak bisa berpikir jernih lagi dan menuduhmu yang tidak-tidak. Harusnya mas tahu kalau kamu tidak mungkin sejahat itu dengan mama" ucap Aiman penuh penyesalan. Bagaimanapun dia telah melukai hati Aruna dengan ucapannya.


"Aku tahu. Itu karena mas lebih mencintai mama dibandingkan aku" balas Aruna memeluk erat badan Aiman. Pelukan hangat yang sangat menenangkan hatinya.


"Mau ke rumah sakit lagi?" Tawar Aiman merenggangkan pelukannya melihat wajah Aruna yang tampak sembab.


"Mama udah sadar?" Aruna balik tanya membalas tatap suaminya itu.


"Iya dan mama menanyakan kamu. Kita kesana ya" bujuk Aiman.


Aruna mengangguk setuju. Aiman mengajak Aruna keluar kamar untuk menemui Amanda di rumah sakit.


***


"Ma, ayolah dimakan" bujuk Harun menyuapkan satu sendok bubur. Amanda tetap tidak mau memakannya.


"Assalamualaikum" Aruna membuka pintu kamar inap Amanda.


Harun dan Amanda menoleh ke arah pintu.


"Waalaikumsalam" balas Harun dan Amanda serempak. Aiman ikut masuk mengiringi Aruna.


Harun memberikan tempat duduknya di samping Amanda untuk putrinya itu.


"Duduklah disini" pinta Harun.


Aruna menatap Aiman dan Aiman menganggukkan kepala pelan agar Aruna menuruti permintaan Harun. Aruna pun duduk di samping Amanda. Ada gurat senyuman di sudut bibir Amanda melihat Aruna mau membesuknya.


"Ehem...pa gimana kalau kita ngopi bentar di kantin" lirik Aiman memberi kode agar meninggalkan Aruna dan mamanya berdua saja.


"Oh iya sekalian cari cemilan ya. Papa lapar juga nih" balas Harun tersenyum setuju.


"Sayang, mas dan papa keluar sebentar ya" ujar Aiman menyentuh pundak Aruna.


"Mama kamu nggak mau makan, coba dibujuk Na" bisik Harun.


Aiman dan Harun keluar dari kamar meninggalkan Aruna dan Amanda saja. Amanda menatap haru Aruna.


"Terima kasih kamu udah nolongin mama" ucap Amanda pelan.


Sebelum dibawa ke rumah sakit di dalam kamar Amanda masih bisa mendengar suara-suara siapa saja yang ada di dekatnya. Matanya terpejam waktu itu karena merasa badannya sudah tidak berdaya lagi.


"Bik Mira dan Lusi yang bantuin mama" balas Aruna tidak mau mengakuinya.


'Aku harus berterima kasih dengan Wardah karena telah mendidikmu menjadi anak yang tidak angkuh seperti aku mamamu' batin Amanda menatap sendu Aruna.


Aruna melihat mangkuk bubur di atas nakas yang masih utuh. Aruna lalu mengambilnya.


"Mama makan dulu ya"


Aruna menyendokkan bubur lalu menyuapin Amanda.


Amanda menurut seperti anak kecil saja. Tanpa sadar dia sudah menghabiskan bubur dari rumah sakit itu.


"Mama mau minum" pinta Amanda.


"Ini ma" Aruna membantu Amanda minum dengan pipet agar tidak tumpah.


"Mama mau pulang saja, istirahat di rumah lebih baik" ucap Amanda.


"Dokter kan belum mengizinkan pulang jadi mama harus tetap dirawat disini" ujar Aruna merapikan mangkuk bubur tadi di atas nakas.


Tak lama Aiman dan Harun masuk kembali ke kamar inap. Harun tersenyum lebar melihat Aruna dan istrinya bercengkrama akrab. Sepertinya tidak ada jarak lagi diantara mereka.


"Pa...tanyain dokter mama bisa pulang nggak" ujar Amanda melihat Harun mendekatinya.


"Nanti papa tanya dokter Akmal dulu. Karena dia yang memeriksa mama tadi" ucap Harun.


Harun melihat mangkuk bubur sudah kosong. Ternyata Aruna bisa membujuk mamanya. Semoga saja Amanda cepat sembuh dengan hadirnya Aruna. Pikir Harun bahagia melihat istri da anaknya bersatu kembali.


***


"Sayang, mas bahagia sekali kamu sudah mau menerima mama" ucap Aiman menggenggam tangan Aruna sementara tangan yang satunya memegang stir mobil.


Aruna dan Aiman pamit pulang. Harun akan menunggu hasil pemeriksaan istrinya. Jika Amanda harus bermalam di rumah sakit, Aruna sudah berjanji akan menjaga mamanya.


Aruna hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan suaminya.


'Mas Aiman selalu mengingatkanku kalau wanita itu adalah ibu kandungku jadi tidak mungkin selamanya aku mendiamkannya. Aku juga seorang wanita tahu bagaimana perasaannya jika diacuhkan oleh anak sendiri' batin Aruna menatap ke depan.


***


Keadaan Amanda pun kini sudah membaik. Dia hanya dirawat satu malam. Amanda bersemangat agar cepat keluar dari rumah sakit. Itu juga karena motivasi dari Aruna yang ikut bermalam di rumah sakit bersama Harun dan juga Aiman.


Amanda berjanji dalam hatinya akan mengubah sifatnya yang angkuh itu. Amanda telah banyak belajar dari sikap putrinya sendiri yang masih bersikap sederhana meskipun tahu dia anak seorang konglomerat.