
Aruna menyiapkan makan siang Aiman. Rencananya dia akan menyusul suaminya itu ke kantor. Lagipula dia sudah lama tidak bertemu dengan Popy rekan kerjanya sesama office girl dulu dan bosnya yang galak, si Bobi.
Aruna sudah meminta izin kepada Aiman bahwa dia akan keluar rumah karena bosan sendirian di rumah sebesar itu. Tapi Aruna tidak memberitahu Aiman tujuan keluar rumahnya kemana. Aruna ingin memberi kejutan kepada suaminya itu.
Tiba di Circle Corp
Aruna memandang gedung tinggi menjulang itu setelah turun dari mobil diantar pak Anto.
'Aku tidak menyangka bahwa akulah pewaris perusahaan ini. Hm tapi aku tidak memikirkan itu. Mas Aiman lebih pantas memilikinya karena dialah yang lebih tahu seluk beluk perusahaan ini' batin Aruna.
Aruna tersenyum bahagia melangkahkan kakinya. Dia melewati pintu belakang bukan dari lobi perusahaan. Khusus untuk pejabat. Pikirnya. Aruna lewat tempat biasa sewaktu dia menjadi office girl.
"Aruna!!" Teriak Popy melihat Aruna berdiri di muka pintu ruangan OB.
"Popy, apa kabar?" Aruna menghampiri Popy lalu mereka berpelukan.
"Aku sehat Na, kamu kayaknya tambah sehat aja" jawab Popy. Aruna hanya nyengir kuda.
"Eh Na, kamu kerja lagi disini ya?" Tanya Popy melihat Aruna datang lagi setelah cukup lama menghilang.
"Hm nggak aku cuma mau nganterin ini aja kok" jawab Aruna menunjukkan paper bag yang dia bawa.
"Untuk siapa? Apa isinya?"
"CEO sini. Isinya makan siang" jawab Aruna tersenyum.
"Kamu udah buka catering apa?"
"Iya catering pribadi" canda Aruna.
"Udah dulu Pop, nanti aku mampir lagi kesini ya" pamit Aruna.
Aruna menuju lift ke ruangan Aiman. Penampilannya yang biasa saja bukan ala kantoran mendapat tatapan sinis beberapa karyawati yang satu lift dengannya. Aruna hanya menyunggingkan senyuman. Namun tidak ada yang membalas senyumannya. Aruna tidak kecewa toh status dia lebih tinggi daripada mereka.
Memang belum banyak karyawan yang tahu tentang pernikahannya dengan Aiman tapi pejabat penting Circle Corp sudah tahu karena mereka diundang oleh Harun ketika akad nikah.
"Eh mba, mau kemana?" Tegur salah satu dari mereka setelah keluar dari lift ternyata sama-sama ke lantai 12.
"Mau ke ruangan CEO" jawab Aruna.
"Orang yang mau bertemu CEO tidak bisa sembarangan harus buat janji dulu" ujar seorang karyawan dengan rambut sebahu.
"Saya nggak perlu pake janji kalau mau ketemu CEO mba" balas Aruna.
"Udah biarin aja orang ngeyel kayak dia paling juga diusir sama pak Aiman" cibir salah satunya yang memakai jilbab mini.
"Permisi ya mba-mba" Aruna tersenyum pamitan meninggalkan mereka.
Aruna membuka pintu utama ruangan CEO yang harus melewati ruangan Rafli sekretaris Aiman dulu.
"Assalamualaikum" sapa Aruna melihat Rafli duduk di depan komputer.
"Aruna! Waalaikumsalam" balas Rafli.
"Mas Aiman ada kan?" Tanya Aruna menunjuk ke ruangan Aiman.
"Ada. Langsung masuk saja" jawab Rafli. "Eh kamu ada apa sampe nyusul kemari" lanjut Rafli kepo.
"Mau nganterin makan siang" jawab Aruna menunjukkan bekal yang dia bawa.
"So sweet banget. Jadi pengen ada yang nganterin juga" Rafli tersenyum.
"Makanya mas Rafli buruan cari calon istri dong" balas Aruna. "Aku masuk dulu ya" Aruna lalu meninggalkan Rafli.
"Kalau mau mesra-mesraan jangan lupa kunci pintunya ya" goda Rafli tertawa kecil.
"Ihh mas Rafli apaan sih"
Aruna tersipu sambil mengibaskan tangannya lalu mengetuk pintu ruangan Aiman.
Karena tidak ada sahutan perintah masuk, Aruna langsung membuka pintu dan masuk sendiri. Dilihatnya Aiman sedang menerima telpon dan menghadap jendela kaca di dekat kursinya.
"Ada apa Raf ?"
Aiman membalikkan badannya setelah mengakhiri percakapannya di telpon.
Aiman tersenyum kaget melihat sosok Aruna yang dikiranya Rafli yang masuk. Aruna memang tadi meminta izin kepadanya untuk keluar rumah tapi tidak mau bilang mau kemana.
"Sayang, kamu ngapain disini?" Tanya Aiman mendekati Aruna.
"Aku nganterin mas makan siang" Aruna mengangkat paper bag berisi bekal makan siang untuk Aiman.
"Hmm kamu yang masak atau maid?" Tanya Aiman mengambil bekal yang dibawa Aruna dan meletakkannya di atas meja kerja.
Aruna hanya nyengir menunjukkan lesung pipitnya. Dari ekspresi Aruna saja Aiman sudah tahu jawabannya.
"Aku nggak tahu mas suka masakan apa. Jadi aku bawa apa yang ada aja"
"Suka semua asalkan halal. Makasih ya sayang udah jauh-jauh mau nganterin" Aiman meraih pinggang Aruna.
"Eh...eh mas mau ngapain?" Tanya Aruna panik karena Aiman mengurung Aruna dengan kedua tangannya.
"Waktu makan siangnya masih lama" Aiman mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang diikuti juga oleh Aruna.
"So..." Tatap Aiman mesra.
"So...bakso?" Celetuk Aruna membalas tatapan Aiman.
Aiman tersenyum geli lalu menarik badan Aruna lebih dekat. Aruna menahan badan Aiman dengan kedua tangannya yang menempel di dada Aiman.
"Ma...mas itu pintunya nggak dikunci kalau mas Rafli tiba-tiba masuk gimana" ujar Aruna gugup.
"Kalau mas lagi ada tamu Rafli nggak berani langsung nyelonong masuk, sayang" jelas Aiman menjawil hidung Aruna.
"Tapi...ini kantor mas. Ruangan mas kan ada kamera-kamera gitu" ucap Aruna lugu.
"CCTV sayang" potong Aiman tersenyum geli.
"Ah iya...itu cctv. Kan malu mas" lanjut Aruna.
"Lho emangnya kita mau ngapain?" Aiman justru malah bertanya kenapa Aruna sampai segitu malunya.
"Ini mas peluk-peluk begini"
"Cuma peluk aja, istri sendiri juga"
Aruna bernapas lega mendengar jawaban Aiman di dalam bayangannya Aiman akan melakukan sesuatu yang lebih dari itu.
"Mas kita mau seperti ini terus?" Tanya Aruna melihat Aiman masih memeluknya.
"Kamu nggak suka?" Aiman tidak menjawab pertanyaan Aruna.
'Sukalah tapi kalau di kantor begini bikin deg-degan takut dilihat orang lain. Kan malu' Aruna hanya membatin menatap wajah tampan suaminya itu. Pikirannya sudah kemana-mana. Tanpa sadar Aiman sudah meraih tengkuknya dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
Aiman tersenyum melihat wajah Aruna yang tampak malu setelah dia melepas ciumannya.
"Aku pulang ya mas" ujar Aruna merenggangkan pelukan Aiman.
"Eh...kalau sudah datang kesini pulangnya harus bareng suami" tolak Aiman.
"Terus aku disini mau ngapain mas?" Tanya Aruna heran.
"Pijet-pijet kalau mas capek, buatin kopi atau apalah yang bisa bantuin suami' jawab Aiman.
Aruna tampak berpikir. Emangnya dia nggak bakalan keluar-keluar dari ruangan ini.
"Oke?" Aiman memegang dagu Aruna.
Akhirnya Aruna mengangguk setuju. Di rumah juga dia kan nggak ada kerjaan.
***
Waktunya jam rawan, rawan tidur siang. Aiman pun minta dibuatkan kopi tapi Aruna yang harus membuatnya. Jadilah Aruna ke ruang office boy.
"Na, kamu kerja disini lagi ya?" Tanya Popy heran melihat Aruna belum pulang juga setelah mengantar makan siang Aiman pagi tadi.
"Hmm nggak Pop, tapi pak Aiman mau minta kopi buatan ku" jawab Aruna sambil mengaduk kopi hitam. Aiman memang tidak suka dengan kopi instan.
"Jadi dari tadi kamu di ruangan ceo terus?"selidik Popy.
Aruna tampak salah tingkah, dia bingung harus menjawab apa. Mau bilang Aiman adalah suaminya nanti tidak percaya atau bilang dia anak Harun pemilik Circle Corp, Popy bakalan tambah tidak percaya.
"Ya gitu deh" hanya itu yang keluar dari mulut Aruna.
Selesai membuat kopi Aruna bergegas meninggalkan Popy sebelum gadis itu membuat pertanyaan baru yang bakalan bingung harus dijawab apa olehnya nanti.