Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 34: Belum Tahu Dia



Kehamilan Aruna sudah lewat tri semester pertama. Keinginannya untuk selalu dekat dengan Aiman berangsur menghilang. Namun sesuatu yang orang kenal dengan istilah ngidam itu menjadikan alat bagi Aruna untuk bisa terus datang ke kantor. Meskipun tidak banyak yang dilakukan Aruna di ruangan suaminya sebagai asisten.


"Tam, lihat deh cewek itu" bisik salah satu karyawati Circle Corp melihat Aruna baru saja keluar dari pantry menemui Popy temannya.


"Bukannya dia asisten Pak Aiman" balas Tamara gadis yang berpenampilan modis itu.


"Iya, itu karyawan Office Girl bisa  jadi asisten Pak Aiman. Kok bisa, yah" cibir Atika gadis yang tak kalah modis juga dengan high heels nya setinggi 10cm.


"Heh, kamu itu harusnya balik jadi office girl aja. Nggak pantes tau nggak jadi asisten CEO ganteng di perusahaan ini" ujar Atika sinis melihat Aruna lewat di depan mereka.


Aruna menghentikan langkahnya. Telinganya mendadak panas mendengar ucapan Atika yang notabene hanya karyawati di perusahaan papanya (sementara mereka belum tahu status Aruna).


'Emang harus diumumin, yah. Kalau aku ini istrinya CEO Circle Corp' batin Aruna geram.


"Ada masalah, Mba?" Tanya Aruna tidak suka.


"Ihh, beraninya kamu tanya begitu" dorong Tamara ke pundak Aruna. Aruna mundur berapa langkah karena dorongan tangan Tamara. Hampir saja dia jatuh terduduk.


"Dengar ya...harusnya kalian itu yang tidak pantas kerja di perusahaan ini" tegas Aruna geram.


"Wah...baru jadi asisten aja udah sombong. Jangan-jangan Pak Aiman kamu pelet lagi sampe bisa jadiin kamu sebagai asistennya" cibir Atika berkacak pinggang.


"Aku nggak mau ribut"


Aruna mencoba untuk santai dan menahan emosinya. Apalagi dia sedang hamil nggak baik kan bagi perkembangan janinnya jika emosinya tidak terkontrol.


Tamara dan Atika tersenyum sinis melihat Aruna.


"Memangnya kenapa, kalau kita mau ajak kamu ribut, hah !" tantang Tamara menyibakkan rambutnya.


"Kalian akan menyesal jika tahu siapa saya" ancam Aruna serius.


"Kamu, kan cuma upik abu yang diangkat jadi asisten CEO semua orang di perusahaan ini juga tahu itu" ucap Atika tersenyum mengejek.


"Terserah kalian!!"


Aruna berlalu melangkahkan kakinya menjauhi Tamara dan Atika. Namun Atika menahan Aruna dengan menarik ujung jilbabnya sehingga membuat langkah Aruna pun terhenti.


"Kita belum selesai bicara dengan kamu!! Sok sombong banget!!" Atika mulai geram melihat sikap Aruna yang santai begitu.


"Apa yang kamu lakukan?!" Teriak Aruna tidak suka dengan perlakuan Atika yang menarik jilbabnya itu. Sikap mereka sudah keterlaluan.


"Buatin aku dan Tamara kopi susu" perintah Atika sombong.


"Aku bukan pelayan kalian. Silahkan minta ke pantry sana!" tolak Aruna.


"Belagu banget ya, nih cewek!!" Ketus Tamara emosi lalu mendorong badan Aruna hingga wanita itu menabrak badan seseorang.


Tamara dan Atika melebarkan matanya melihat laki-laki yang ditabrak Aruna dan menangkap badan Aruna ke dalam pelukannya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian mendorongnya?!" Teriak laki-laki itu marah.  Laki-laki itu adalah Aiman.


"Ka...kami cuma minta tolong dia buatin kopi. Tapi dia marah-marah" jawab Atika takut.


"Iya Pak, lagian dia kan pernah kerja sebagai office girl tapi nggak mau bantuin kita" ucap Tamara bermuka manis.


Aiman tersenyum tidak suka melihat dua karyawatinya yang sudah bersikap tidak sopan dengan istrinya itu.


"Mulai besok kalian tidak usah bekerja di perusahaan ini lagi" tegas Aiman menatap tajam Tamara dan Atika.


Ucapan Aiman barusan bagaikan petir di siang bolong bagi kedua gadis itu.


"Ayo, Sayang" ajak Aiman merangkul pinggang Aruna berjalan meninggalkan kedua gadis itu.


"Tik, kamu denger nggak Pak Aiman memanggil cewek itu 'Sayang' ?" Tanya Tamara sedih. Dia tidak menyangka kalau perbuatannya bisa menyebabkan dirinya hilang pekerjaan.


"He-eh...emang dia siapanya pak Aiman, sih ? Sampe kita dipecat begini" Atika mewek sendiri meratapi nasibnya.


Mereka berdua tidak menyangka bahwa tingkah laku dan ucapan mereka bisa merugikan diri mereka sendiri.


***


Di ruangan CEO


"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?" Tanya Aiman khawatir karena tadi memang dia sedang mencari Aruna.


Aruna menggeleng dengan wajah ditekuk mengingat kejadian tadi betapa dia diremehkan orang lain yang belum mengetahui statusnya sebagai istri Aiman dan anak pemilik Circle Corp.


"Hei...kalau baik-baik saja kenapa pasang wajah begini?" Tanya Aiman lagi memegang dagu Aruna.


"Sikap karyawati disini sombong semua Mas, suka meremehkan orang lain dan juga nggak ramah" jawab Aruna tidak suka.


"Iya, Sayang. Nanti akan kita seleksi lagi di bagian SDM. Kamu tadi harusnya bilang kalau kamu itu istri CEO"


"Iya, istri ku ini memang pintar dan sholehah" puji Aiman menatap mesra Aruna membuat wanita itu pun tersenyum malu.


***


Keesokan harinya Aiman mengumpulkan semua staf dan karyawan di aula Circle Corp untuk mengumumkan secara resmi bahwa Aruna adalah istrinya.


Bisik-bisik karyawan banyak yang tidak percaya bahwa Aiman telah menikah.


"Pernikahan kami memang belum dipestakan itu juga atas permintaan istri saya" toleh Aiman melihat Aruna yang berada di sampingnya.


"Dan siapa pun yang merendahkan istri saya, terdengar atau terlihat oleh saya silahkan angkat kaki dari perusahaan ini karena..."


Aruna segera menggamit tangan Aiman memberi kode untuk tidak memberi tahu statusnya sebagai anak Harun.


"Karena saya tidak butuh karyawan yang suka menghina dan merendahkan orang lain" sambung Aiman seolah mengerti kode dari Aruna.


Semua karyawan dan karyawati yang pernah meremehkan Aruna tidak berkutik mendengar ucapan Aiman. Selesai acara pertemuan itu beberapa karyawati pun menemui Aruna dan meminta maaf atas sikap mereka yang pernah meremehkannya agar tidak dipecat seperti nasib Tamara dan Atika.


"Sayang, kenapa kamu menahan mas untuk mengumumkan kalau kamu adalah anak pemilik Circle Corp yang sebenarnya?" Tanya Aiman ketika mereka sudah berada di dalam ruangan CEO.


"Nggak perlu, Mas" jawab Aruna menatap Aiman tersenyum. "Biarlah mereka tahunya anak papa adalah mas Aiman"


Aiman merasa terharu. Begitu tulusnya hati Aruna kepadanya. Aruna bersikap begitu karena tidak mau image Aiman yang sudah melekat padanya bertahun-tahun rusak hanya karena pengakuannya.


"Terima kasih, Sayang" Aiman meraih pinggang Aruna dan menatapnya lekat.


"I love you" ucap Aiman.


"I love you too" balas Aruna tersenyum menatap wajah tampan suaminya.


***


"Aruna, jadi kamu istri Pak Aiman?" Tanya Meri tidak percaya ketika berpapasan dengan Aruna menuju pantry.


"Iya, Mba" jawab Aruna singkat tersenyum manis melihat Meri kakak Lula.


Sewaktu Aruna menikah di desa, Meri tidak pulang ketika mendapat undangan lisan dari keluarga Aiman.


"Pantesan sikap pak Aiman nggak sedingin dulu karena udah ada penghangatnya, sih" canda Meri.


"Hahaha. Mba Meri bisa aja, nih" ujar Aruna terkekeh mendengar ucapan Meri.


"Tindakan pak Aiman memecat Tamara dan Atika itu sangat tepat sekali,Na. Mereka emang sombong dan merasa paling cantik dan modis di perusahaan ini" ucap Meri.


"Iya, Mba. Aku juga baru pertama kali bertemu mereka tapi udah ngebos banget sikapnya" balas Aruna setuju.


"Saran aja buat Pak Aiman, kalau cari karyawati nggak harus cantik tapi akhlak dan tingkah lakunya jadi kriteria juga" saran Meri mumpung punya teman istri big bos di Circle Corp.


"Iya, Mba. Aku juga maunya begitu" ucap Aruna setuju. "Oya, Mba. Aku ke pantry dulu, ya" pamit Aruna meninggalkan Meri.


***


Di rumah kediaman Harun


"Ada laporan kalau kamu sudah memecat dua karyawati di kantor?" Tanya Harun disela mereka makan malam.


Aruna melirik Aiman. Akhirnya sampai juga berita itu ke telinga papanya.


Aiman sengaja tidak memberitahu mertuanya itu karena khawatir Aruna bakalan tidak diizinkan lagi bekerja bersamanya.


"Hmm iya, Pa. Itu karena mereka bersikap kasar dan tidak sopan dengan orang lain" jawab Aruna menghalangi Aiman agar tidak menceritakan penyebab yang sebenarnya.


"Itu, kan bisa ditegur secara lisan Man. Nggak main langsung pecat saja" keluh Harun tidak setuju dengan sikap Aiman.


"Iya, Man. Cari pekerjaan sekarang susah. Jangan memutuskan pakai emosi.  Kasihan kan anak orang jadi pengangguran" bela Amanda mendukung suaminya Harun.


Aiman menarik napas lalu meletakkan sendok dan garpunya di piring. Apakah sikapnya salah jika dia bicara yang sebenarnya.


"Salah satu dari mereka mendorong Aruna. Kalau aku tidak ada di sana dan menangkap badan Aruna. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan bayi yang di kandungnya" jelas Aiman menatap serius Harun.


Wajah Harun dan Amanda mendadak berubah. Kaget dan tidak menyangka anak mereka diperlakukan begitu. Mereka pun saling pandang dan setuju dengan sikap Aiman. Wajar jika Aiman langsung memecat mereka di tempat.


Aruna melirik Aiman. 'Eh, dia ceritakan juga" batinnya.


"Kamu nggak usah kerja lagi, Na" ucap Amanda mendekati Aruna duduk di sofa sambil menonton setelah makan malam.


"Nggak apa, semua orang di perusahaan udah tahu kalau aku istri Mas Aiman. Jadi nggak akan ada orang yang berani macam-macam lagi sama aku,Ma" tolak Aruna.


Amanda tersenyum lega semua orang di perusahaan sudah tahu tentang status Aruna di samping Aiman dan tidak akan ada lagi orang yang akan memandang rendah putrinya.