Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 22: The Wedding



Hari yang dinanti kedua keluarga tiba juga. Harun membawa tiga rombongan mobil, keluarga dan tetangganya serta beberapa pejabat penting di perusahaannya. Sementara keluarga Abid hanya mengundang tetangga dekat saja.


Rombongan Harun sudah tiba jam delapan pagi, karena hari jumat acara akad nikah dan jamuan makan selesai sebelum masuk waktu sholat Jumat.


Aiman memakai jas koko dengan warna salem senada dengan Aruna.  Namun Aiman belum melihat Aruna sejak dia datang ke rumah orang tuanya karena Aruna menunggu di dalam kamar.


"Na, keluarga kamu sudah datang. Acara segera dimulai" ujar Wardah menghampiri Aruna yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Iya bu, aku tunggu disini saja" balas Aruna tersenyum menutupi rasa gugupnya karena sebentar lagi dia akan melepas status lajangnya. Wardah mengangguk lalu keluar dari kamar.


"Na, kamu tegang banget sih" ucap Lula yang duduk di samping Aruna.


"Iya La, lihat nih tanganku keringat dingin semua" gumam Aruna menautkan kedua tangannya.


"Kadang aku masih tidak percaya kalau dia jodohku" lanjut Aruna.


"Hush banyakin doa, itu akadnya udah dimulai" ujar Lula mengingatkan Aruna.


Terdengar suara lantang Aiman mengucapkan qabul dari luar kamar dan kemudian langsung diiringi kata Sah dari para saksi. Kini status Aruna resmi sebagai istri Aiman bin Abid bukan Harun.


"Alhamdulillah acaranya berjalan lancar Na" ujar Lula tersenyum lalu menarik Aruna ke dalam pelukannya sebagai tanda bahagia.


"La, aku jadi takut mau keluar kamar" tatap Aruna.


"Ya Allah Na, kamu udah ditungguin di luar sana. Ayo"  Lula menarik tangan Aruna agar berdiri.


"Aruna, ayo keluar"


Wardah muncul dari balik gorden kamar. Melihat Aruna belum beranjak dari tempat duduknya membuat Wardah harus masuk ke dalam kamar dan menarik tangan Aruna agar berdiri dan keluar dari kamar.


Aruna mengerucutkan bibirnya. Dia benar-benar gugup dan merasa takut bertemu Aiman. Wardah dan Lula menggandeng tangan Aruna sambil mengiringinya berjalan keluar dari kamar.


"Ma, Aruna benar-benar mirip kamu ketika masih muda. Cantik. Tapi sayang mamanya nggak pake jilbab" bisik Harun melihat Aruna keluar dari kamar.


"Ish papa ini" balas Amanda tersenyum keki.


Aiman menatap Aruna terpesona. Baru kali ini dia melihat Aruna memakai make up di wajahnya meskipun tidak tebal, wajah Aruna terlihat semakin cantik dan mirip sekali dengan mama Amanda.


Aruna berjalan sambil menunduk sesekali mengangkat wajahnya dan ketika bertemu pandang dengan Aiman dia pun menunduk kembali.


Aiman tersenyum kecil melihat Aruna yang tampak malu-malu itu.


"Silahkan maharnya diberikan kepada sang istri" ujar pak penghulu.


Aruna mendekatkan diri ke arah Aiman. Aiman pun meraih tangan Aruna untuk menyematkan cincin sebagai mahar darinya.


Selesai sudah prosesi akad nikah Aiman dan Aruna yang berjalan dengan lancar. Amanda begitu haru karena Aruna mau menerima pelukannya meskipun belum ada tegur sapa diantara mereka.


***


"Papa dan mama pulang duluan. Nanti kamu dan Aiman dijemput sopir saja" ucap Harun berpamitan kepada Aruna. Aruna hanya mengangguk.


Rombongan dari keluarga Aruna akhirnya kembali ke kota. Rumah orang tua Aiman kembali sepi, para tetangga pun sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Aruna, Aiman kalian makanlah dulu" ujar Wardah.


"Nanti Bu, aku ganti pakaian dulu" balas Aruna lalu berjalan masuk ke kamarnya yang telah menjadi kamar pengantin mereka.


Aiman yang melihat Aruna masuk ke kamar. Ikut menyusul juga.


"Yah, aku ganti pakaian dulu" pamit Aiman. Abid hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala.


Aruna yang sudah ada di dalam kamar dan sudah melepas jilbabnya terkejut ketika pintu kamarnya terbuka.


"Aaaaa!! Mas Aiman ngapain kesini!!" Teriak Aruna kaget melempar jilbabnya ke wajah tampan Aiman. Jilbab Salem Aruna sukses menutupi wajah  Aiman.


Aiman meraih jilbab yang sempurna menutupi kepalanya dan membuangnya ke sembarang tempat.


"Ck Aruna, aku ini suami kamu. Emangnya aku harus ke kamar ibu apa!" Ucap Aiman menahan rasa kesalnya.


Aruna nyengir kuda menunjukkan kedua lesung pipitnya sembari menutupi rasa gugupnya.


"Lupa?" Aiman berjalan mendekati Aruna. Aruna berjalan mundur hingga badannya menabrak sisi ranjang.


"Baru berapa jam yang lalu acara akad nikah kita, kamu sudah lupa" tatap Aiman mendekatkan wajahnya ke arah wajah Aruna.


"Efek belum ngeh mas kalau kita udah halal" elak Aruna tersenyum keki melihat wajah tampan Aiman yang begitu dekat di depannya.


"Mas, aku mau ganti baju" ucap Aruna mencoba menghindar dari hadapan Aiman. Namun Aiman melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Aruna.


"Mas..."


"Aku juga mau ganti baju. Bukain" pinta Aiman menatap Aruna.


"Mas kan bisa buka sendiri" elak Aruna menahan debaran jantungnya yang sudah tidak karuan


"Aruna, aku suami kamu" tatap tajam Aiman.


"Iya...iya" Aruna tersenyum lalu menuruti perintah Aiman membuka jas kokonya. Aroma parfum Aiman menyeruak ke hidung Aruna. Aroma soft yang Aruna suka jika berada di dekat Aiman.


"Sudah" ucap Aruna melempar jas Koko Aiman ke atas ranjang.


"Kemejanya?"


"Hah!!"


"Cepatlah buka. Nanti aku juga bantu bukain kebaya kamu" tatap Aiman nakal.


"Ihh mas Aiman ini. Nggak mau!!"


Aruna mendorong badan Aiman agar dia bisa menjauh dari hadapan suaminya itu. Namun Aiman menarik tangan Aruna lalu memeluknya dari belakang.


'Ck gadis ini coba menghindar dari ku rupanya' batin Aiman tersenyum geli.


"Mas, lepasin! Aku mau ganti baju" ujar Aruna menahan suara agar tidak berteriak.


Aiman menyurukkan kepalanya di leher Aruna. "Kenapa tidak mau membuka baju suami mu ini?" Bisik Aiman ke telinga Aruna.


Aruna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


"Kenapa?" Tanya Aiman lagi.


"Malu mas" cicit Aruna.


"Hm istriku ini ternyata sangat pemalu ya" goda Aiman.


"Bisa lepaskan aku?" Pinta Aruna.


"Baiklah hari ini aku akan melepaskan mu. Tapi keluar dari desa ini aku tidak akan melepaskan mu sayang" bisik Aiman.


Aruna melebarkan matanya dengan jantung berdegup kencang.


Tok.Tok.Tok


"Aruna...kalau sudah yg ganti pakaian ajak Aiman makan" suara Wardah terdengar oleh mereka berdua.


"Iya Bu" balas Aruna sedikit berteriak. Aruna merasa lega suara ibunya  ternyata bisa menyelamatkannya dari Aiman.


Aiman lalu melepaskan pelukannya dan Aruna berbalik melihatnya.


"Lihat apa? Cepat berbalik sana. Aku mau ganti baju" perintah Aruna melototkan matanya kepada Aiman.


"Oke. Lima menit. Lewat dari itu tidak usah berteriak kalau aku berbalik melihat mu" tegas Aiman.


Aiman membalikkan badannya agar tidak melihat Aruna sedang berganti pakaian. Secepat kilat Aruna pun melepas kebayanya lalu berganti gamis hariannya.


Waktu yang dijanjikan Aiman sudah habis dan dia berbalik untuk melihat Aruna. Harapan Aiman pupus untuk melihat Aruna gagal berganti pakaian karena gadis itu dengan gesitnya sudah memakai gamis. Hanya rambutnya saja yang masih terlihat tanpa jilbab.


"Buruan mas ganti baju. Udah ditunggu ayah dan ibu di luar sana"


Aiman lalu membuka kancing kemejanya. Aruna segera membalikkan badannya. Aiman tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Kalau begini bagaimana dia bisa menghabiskan waktu malam pertama mereka jika Aruna bersikap begitu.