Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 12: Hanya Untuk Ku



Di kantor


Penampilan Aiman pun menjadi perhatian Rafli.


"Ehem...dasi favorit kayaknya" ledek Rafli. Aiman pura-pura tidak mendengar.


"Aruna nggak masuk kerja kayaknya" ujar Rafli.


Aiman langsung melihat Rafli dan Rafli pun langsung terkekeh melihat respon Aiman begitu cepat ketika mendengar nama Aruna.


"Nggak lucu, Raf" pelotot Aiman.


"Serius, tadi yang bersihin ruangan ini office boy bukan girl"


Aiman tampak berpikir, kenapa bukan Aruna yang membersihkan ruangannya.


"Apa jadwal ku hari ini?" tanya Aiman.


"Nggak banyak kok. MOU dengan Amazing grup, kunjungan ke kantor cabang, dan meeting di hotel Arista" jawab Rafli membuka jadwal Aiman di iPad miliknya.


"Jam berapa ke Amazing?"


"Jam 10"


"Oke. Tunggu aku di parkiran kamu yang bawa mobil"


Aiman melempar kunci kontak mobilnya ke arah Rafli dan dengan sigap Rafli menangkapnya. Rafli pun segera keluar dari ruangan Aiman.


'Aruna sedang apa ya sekarang? Kenapa aku kangen ingin mendengar suaranya' gumam Aiman tersenyum sambil bertopang dagu. Lalu dia mengambil ponselnya.


Drrrt.Drrrt.Drrrt.


"Na, ponsel mu dari tadi bunyi terus tuh" tunjuk Popy ke arah tas Aruna. Sementara Aruna sedang membuat kopi.


"Ah iya. Tolong Pop, diaduk kopinya untuk para manajer" ujar Aruna bergegas meraih ponselnya.


'Mas Aiman!' gumam Aruna melihat tiga kali panggilan tak terjawab dari Aiman.


'Mau telpon balik tapi nggak ada pulsa. Kira-kira dia nelpon lagi nggak ya' pikir Aruna. Tak lama ada pesan masuk di ponselnya.


(Sibuk ya, ngalahin atasannya)


Aruna langsung membalas pesan Aiman.


(Gitu deh. Nggak bisa telpon balik karena nggak ada pulsa)


Aruna jujur banget. Aiman senyum-senyum membaca pesan Aruna.


Tak lama di ponsel Aruna masuk pesan yang memberitahu bahwa sudah masuk saldo pulsa yang lumayan banyak.


(Sekarang tidak ada alasan buat tidak menelpon balik)


Aruna geleng kepala saja. Aiman sudah mengiriminya pulsa. Aruna pun segera menelpon Aiman.


[Ada apa?]


[Lagi ngapain?]


Aiman malah balik bertanya bukannya menjawab pertanyaan Aruna.


[Buatin kopi untuk para manajer, mas]


[Kamu nggak buatin aku juga]


[Mas juga mau?]


[Mau lah apalagi kalau yang buat kamu]


Aruna tersenyum simpul mendengar ucapan Aiman.


[Iya, nanti aku buatin]


[Sekarang ya. Aku tunggu]


Aiman memutuskan sambungan telpon dari Aruna.


'Eh main matiin aja. Siapa coba yang nelpon kok dia yang matiin telpon' omel Aruna.


"Pop, sisain satu kopi" ucap Aruna sebelum Popy membawa semua kopi ke ruangan manajer.


"Untuk siapa, Na?" tanya Popy.


"Pak Aiman"


"Lho dia ngopi juga. Setahu ku dia nggak pernah ngopi" ucap Popy.


"Kamu aja yang nggak tahu kali. Bos kayak dia biasanya ngopi di cafe" ujar Aruna mengambil satu gelas kopi yang masih hangat siap diantar ke ruangan Aiman.


Aruna tiba di depan pintu utama ruangan CEO. Sebelum masuk ke pintu ruangan Aiman dia harus melewati ruangan Rafli.


"Aruna!" ucap Rafli melihat Aruna masuk membawa secangkir kopi.


"Pak Rafli, hm Pak Aiman nya ada kan?" tanya Aruna tersenyum.


"Ada. Kopi itu untuk dia?" tunjuk Rafli mengeryitkan dahinya.


'Sejak kapan Aiman suka kopi?' batin Rafli.


"Iya. Pak Aiman yang minta" jawab Aruna polos.


"Yah sudah masuk sana"


"Permisi pak"


Aruna mengetuk pintu ruang Aiman memberi tanda. Lalu dia pun masuk.


Dari meja kerjanya Aiman melihat Aruna menghampirinya.


"Ini kopinya" ujar Aruna meletakkan cangkir kopi ke atas meja Aiman.


Aiman masih terpaku menatap Aruna. Gadis itu pun mulai merasa risih diperhatikan dari awal masuk tadi oleh Aiman.


"Apa? Itu kopinya" ucap Aruna melihat Aiman masih memperhatikannya.


"Terima kasih. Besok tidak ada kopi untuk orang lain selain aku" tegas Aiman menatap manik Aruna.


"Aku bekerja untuk semua orang, kenapa begitu?"


"Aku bosnya. Mengerti!!"


'Kenapa dengannya. Kalau pak Bobi tahu aku bisa kena semprot dia' batin Aruna.


"Iya bos!" sahut Aruna tersenyum.


Aiman mengambil cangkir kopi yang sudah diletakkan Aruna di mejanya. Aiman memang kurang suka dengan kopi. Tapi hatinya menjadi terusik mendengar semua manajer minta dibuatkan kopi kepada Aruna.


"Kalau gitu dihabiskan dong. Aku boleh pergi sekarang?" tanya Aruna.


Lama-lama dia di hadapan Aiman, jantungnya bisa bermasalah.


"Pulang kerja, aku tunggu di parkiran" ucap Aiman.


"Aku bisa pulang sendiri, mas" tolak Aruna.


Aiman mengeraskan rahangnya lalu menatap tajam Aruna. Pagi Aruna sudah menolak pergi bareng dia, sekarang pulang juga mau menolak.


"Iya...iya. Tunggu saja. Aku membersihkan kantor mas dulu"


Dari tatapan tajam Aiman, Aruna tahu bahwa permintaannya tidak bisa ditolak.


***


"Nyonya, sepertinya Tuan muda Aiman dekat dengan seorang office girl di kantor" lapor Aditya yang ditugaskan Amanda untuk mencari informasi putranya,Aiman.


"Astaga!!! Apa kau tidak salah lihat Adit? Mana mungkin anak ku menyukai seorang Office Girl. Dengan gadis kaya saja dia alergi apalagi gadis seperti itu" ujar Amanda geleng kepala tidak percaya.


"Benar Nyonya, nama gadis itu Aruna. Dia berasal dari kampung. Di kota ini dia tinggal satu kost dengan Meri,sekretaris Frans" jelas Aditya.


Amanda memijat pelipisnya. 'Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menemui gadis itu' batin Amanda.


Ke esokan harinya


"Selamat pagi Nyonya Amanda" sapa semua karyawan di lobi perusahaan ketika Amanda datang melangkahkan kakinya. Tumben-tumbenan istri pemilik perusahaan Circle Corp datang berkunjung.


"Pagi semuanya. Apa Aiman ada di ruangannya?" tanya Amanda.


"Iya Nyonya, pak Aiman ada di ruangannya" jawab salah satu karyawan di bagian lobi.


Amanda segera melangkahkan kakinya menuju lift diiringi Aditya asisten suaminya.


"Adit, kau hubungi Bobi agar gadis bernama Aruna itu menemui ku" perintah Amanda.


"Baik Nyonya"


Aditya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bobi.


"Aruna" panggil Bobi di ruangan OB.


"Ada apa pak?" sahut Aruna.


"Ikut saya" ajak Bobi.


Aruna melirik Popy seolah bertanya Bobi mau mengajaknya kemana. Popy hanya menggendikkan bahunya tanda dia pun tidak tahu.


"Pak Bobi, saya mau diajak kemana?" tanya Aruna.


"Ada yang ingin bertemu dengan kamu. Sudah ikut saja" jawab Bobi ketus.


'Ihh orang bertanya baik-baik jawabannya ketus banget sih.


Dasar bujang lapuk' batin Aruna kesal.


Bobi mengajak Aruna ke ruangan privat yang biasa ditempati Harun.


Tok.Tok.Tok.


"Masuk!"


Aruna melirik Bobi ketika mendengar suara wanita di dalam ruangan menyuruh mereka masuk.


"Nyonya, ini Aruna" ujar Bobi.


Tangan Amanda memerintahkan agar Bobi segera meninggalkan mereka.


'Siapa wanita cantik ini? Kenapa dia mau bertemu dengan ku?' batin Aruna heran.


Amanda tampak terkejut melihat wajah Aruna dari dekat.


'Kenapa wajah gadis ini mirip dengan ku' batin Amanda mengamati Aruna yang berdiri di depannya.


"Kamu sudah tahu siapa saya?" tanya Amanda. Aruna hanya menggelengkan kepala.


"Saya ibu Aiman" tatap Amanda tajam.


Aruna tampak terkejut, ternyata wanita cantik di hadapannya itu adalah ibu Aiman.


"Saya sudah tahu siapa kamu, dan kedekatan kamu dengan Aiman. Menjauh lah darinya karena Aiman akan saya jodohkan dengan wanita yang lebih pantas untuk bersanding dengannya" tegas Amanda.


Amanda mengambil cek dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Aruna.


"Ambillah, besok aku tidak mau melihat mu ada di perusahaan ini"


Amanda memberikan cek tersebut ke tangan Aruna. Tubuh Aruna terpaku.


'Wanita ini tidak menyukai ku' batin Aruna sedih. 'Dia menganggap uang adalah segalanya'


"Terima kasih Nyonya, cinta tidak bisa dihargai dengan cek anda. Anda tidak perlu menunggu besok"


Aruna menyerahkan kembali cek tersebut ke tangan Amanda.


"Permisi"


Aruna keluar dari ruangan menahan diri agar air matanya tidak tumpah.


Amanda mengeraskan rahangnya.


"Hah sudah miskin sombong pula" sinis Amanda.


Aruna berjalan cepat meninggalkan ruangan tadi. Aruna tidak habis pikir ternyata ibu atasannya itu sangat angkuh.


"Aruna!" panggil Rafli ketika berpapasan dengan Aruna namun gadis itu mengabaikan panggilan Rafli. Rafli hanya melihat badan Aruna menghilang menuju pantry.


"Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" gumam Rafli sambil kembali ke ruangannya.


"Siapa yang wajahnya ditekuk?" tegur Aiman menghampiri Rafli yang dilihatnya sedang berbicara sendiri.


"Aruna. Tadi aku papasan dengannya. Aku panggil eh dia lewat begitu saja. Mentang-mentang calon..."


Rafli menggantung ucapannya.


Aiman mengambil ponselnya menelpon Aruna. Namun panggilan telpon darinya tidak diangkat oleh gadis itu.


Rafli melihat wajah Aiman yang tampak serius menelpon.


"Kenapa tidak diangkat?" gumam Aiman kesal.


"Sudahlah. Mungkin dia lagi ada masalah sendiri. Kamu kan bisa bertemu dia pulang nanti" ujar Rafli.


Namun ketika jam pulang pun Aiman tidak melihat batang hidung Aruna. Dia sudah menunggu gadis itu di parkiran satu jam lebih karena ditelpon pun tetap tidak ada jawaban.