
Sejak bertemu pamannya, Aruna bekerja membantu Hesti di toko kue dan ice cream milik mereka. Amanda yang sudah mendapatkan informasi dari Aditya, asisten suaminya bahwa Aruna bekerja di toko Haikal segera kesana untuk memberi pelajaran kepada gadis itu.
"Aruna!" panggil Amanda dengan wajah penuh amarah.
Aruna yang berada tidak jauh dari meja duduk tamu tampak kaget melihat sosok Amanda berada di toko pamannya. Aruna masih tidak percaya bahwa wanita angkuh itu adalah ibu kandungnya.
"Nyonya...Apa kabar?" sapa Aruna gugup namun tetap tersenyum.
Amanda berjalan mendekati Aruna.
Plak!!!
Aruna meringis memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Amanda. Aruna sangat kaget, apalagi salah dirinya hingga wanita itu tega menamparnya.
"Kamu...dasar gadis tidak tahu malu!!" umpat Amanda.
Beberapa pengunjung toko menyaksikan adegan dengan heran, ada masalah apa diantara mereka.
"Aku sudah menyuruh mu untuk menjauhi Aiman, tapi kamu malah mendekati suami ku. Apa sebenarnya yang kau mau hah?" teriak Amanda.
"Nyonya...saya dan pak Harun sebenarnya..." isak Aruna melihat Amanda.
"Kau mau merusak rumah tangga ku?" potong Amanda menatap tajam Aruna. Aruna menggeleng dengan berlinang air mata.
"Jika kau tidak mau merusak rumah tangga orang...pergi jauh-jauh dari kota ini. Aku tidak mau melihat wajah lugu mu itu berada di kota ini" tegas Amanda lalu mengeluarkan cek bernilai puluhan juta dan memberikannya ke tangan Aruna.
Amanda lalu melenggang pergi meninggalkan toko. Aruna terduduk lemas di lantai sambil terisak.
"Na, siapa wanita itu? Kenapa dia marah-marah sama kamu?" tanya Susi salah satu karyawan di toko mendekati Aruna.
Aruna menggeleng lalu menghapus air matanya.
"Bilang sama bibi ku, aku pulang duluan mba" pesan Aruna lalu dia bergegas pulang ke rumah.
Siang itu juga Aruna mengemasi barang-barangnya di kamar. Aruna menulis pesan singkat di secarik kertas dan menyelipkannya di amplop tidak lupa juga dia masukkan cek pemberian dari Amanda tadi. Hatinya benar-benar teriris, bagaimana dia bisa lahir dari rahim wanita yang angkuh seperti itu.
Aruna pun pergi meninggalkan rumah kediaman Haikal. Rencananya dia mau pulang ke desa menemui ayah dan ibunya.
'Seharusnya aku tidak nekad ke kota jadi aku tidak akan tahu kebenaran yang pahit ini' batin Aruna.
"Mas Aiman, aku tidak tahu apakah kita ada hubungan darah atau tidak. Aku mencintai mu tapi aku harus melupakan mu" gumam Aruna sendu.
Gadis itu sedang menunggu bis di halte. Tatapannya menerawang entah kemana. Aruna merasa kini dia menjadi orang yang paling merana.
"Aruna!" tegur seorang gadis menepuk pundak Aruna.
"Po...popy" gumam Aruna kaget.
"Hei apa kabar? Kamu kok tiba-tiba menghilang begitu saja, kemana?" tanya Popy.
"Kabar ku baik. Adalah disuatu tempat" jawab Aruna tersenyum.
"Mau mudik" jawab Aruna singkat.
"Eh Pop, kamu nggak kerja? Kok jam segini udah di luar" tanya Aruna.
"Izin pulang cepat, Na. Ibuku sakit" jawab Popy.
"Eh Pop, aku duluan ya" pamit Aruna setelah melihat bis tujuannya tiba di depan halte.
"Hati-hati Na" teriak Popy melihat Aruna masuk ke dalam bis.
***
"Mas, Nyonya Amanda tadi ke toko kita dan menemui Aruna. Kata Susi dia marah-marah dan menampar Aruna" cerita Hesti ketika mereka tiba di rumah.
Hesti mengira kalau Aruna masih berada di rumah karena Susi bilang gadis itu pulang duluan ke rumah mereka.
Haikal menarik napas dalam.
'Apa yang sebenarnya yang terjadi. Kenapa Nyonya menampar anaknya sendiri' batin Haikal.
"Aruna!" panggil Hesti ke kamar Aruna.
Ceklek!!
Hesti membuka pintu kamar Aruna yang ternyata tidak dikuncinya. Sepi. Hesti membuka lemari pakaian gadis itu. Mata Hesti membulat melihat lemari pakaian kosong tak bersisa satu pakaian pun.
"Mas Haikal!!" teriak Hesti memanggil suaminya.
"Ada apa teriak-teriak?" tanya Haikal mendekati istrinya yang berada di dalam kamar Aruna.
"Mas, pakaian Aruna tidak ada di lemari. Dia pergi, mas" jawab Hesti histeris.
Haikal mulai cemas, kemana anak majikannya itu pergi.
'Apa dia pulang menemui Abid ?' tebak Haikal.
"Mas, ini ada surat" tunjuk Hesti melihat ada amplop putih di atas nakas.
Haikal mengambil amplop itu dan membaca pesan yang tertulis disana.
"Maafkan aku, paman dan bibi. Aku pergi. Aku tidak butuh mereka juga cek ini. Tanpa uang dari mereka aku tetap bisa hidup"
Haikal memejamkan matanya. Dia bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan hari Aruna. Haikal melihat selembar cek yang terselip di dalam amplop.
Haikal pun segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu menelpon Harun untuk memberitahu informasi tersebut.
Harun mengeraskan rahangnya. Informasi yang dia dapat dari Haikal benar-benar telah membuat dia emosi.