Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 24: Romantis itu...



Selama Aiman pergi ke kantor Aruna hanya mengurung diri di kamar. Ketika diajak berkeliling rumah besar orang tuanya Aruna juga tidak melihat sosok Harun dan Amanda di rumah.


Tok.Tok.Tok


Terdengar suara pintu kamar diketuk. "Siapa?" Tanya Aruna dari dalam.


"Saya Lusi, non. Mau menyampaikan pesan dari tuan Harun" jawab Lusi salah satu maid di rumah orang tuanya.


Aruna mendekati pintu lalu membukanya perlahan. Di lihatnya gadis berseragam navy ciri khas maid di rumah Harun sedang berdiri di depan pintu kamar.


"Tuan dan Nyonya pergi keluar kota untuk beberapa hari. Nona tidak perlu sungkan di rumah sendiri. Itu pesan nyonya Amanda" ujar Lusi menunduk.


"Mereka pergi berapa hari?" Tanya Aruna.


"Sekitar dua atau tiga hari" jawab Lusi.


"Baiklah. Kamu boleh pergi. Terima kasih infonya" Lusi segera undur diri dan Aruna menutup kembali pintu kamarnya.


Aruna menghempaskan badannya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar


"Mas Aiman kok lama sekali. Katanya tadi cuma sebentar" omel Aruna.


Hingga waktu ashar lewat Aiman belum juga pulang. Aruna mengunci  pintu kamar karena mau mandi sore. Aruna berpikir akan aman karena Aiman belum pulang jadi dia berganti baju di luar kamar mandi saja. Masuklah Aruna ke kamar mandi hanya membawa handuk berukuran sedang.


Cukup lama Aruna di kamar mandi karena dia berendam di bathub sehingga dia tidak  menyadari Aiman sudah pulang dan berada di dalam kamar.


Aiman tersenyum melihat pakaian ganti Aruna berada di atas ranjang. Di menyingkirkan semua itu lalu membuka bajunya hingga bertelanjang dada saja.


"Pasti akan ada jeritan lagi" gumam Aiman sambil menyeringai menatap kamar mandi.


Tak lama kemudian


"Uhh segar sekali rasanya" ucap Aruna sambil membuka pintu kamar mandi. Setelah menutup pintu kamar mandi dan berbalik.


"Aaaaa!!!" Teriak Aruna kaget.


Aruna melihat sosok Aiman berdiri sedang melihatnya yang hanya memakai handuk sedang jika dililitkan ke badan, bagian pahanya banyak yang terekspos.


Aruna spontan membalikkan badannya karena malu. Jantungnya sudah berdebar kencang. Aruna memejamkan matanya, dia benar-benar malu.


'Bagaimana dia bisa masuk? Bukankah pintunya sudah ku kunci' tanya batin Aruna heran.


Aiman tersenyum geli lalu mendekati Aruna karena melihat Aruna yang tampak menggoda. Baru kali ini dia melihat aurat Aruna selain rambutnya karena Aiman memang belum meminta haknya sebagai suami.


Aruna bisa merasakan kini Aiman semakin mendekatinya.


"Sudah mandi duluan rupanya" bisik Aiman memeluk Aruna dari belakang. Aroma sabun mandi yang wangi menyeruak ke dalam hidung Aiman.


"Kok mas bisa masuk sih?" Tanya Aruna sembari menahan rasa gugupnya karena Aiman sedang menciumi lehernya.


"Ini kan kamar ku. Kamu lupa ya. Aku punya kunci cadangannya" jawab Aiman berbisik.


"Mas..." perlakuan Aiman yang semakin menjadi membuat Aruna merinding.


Aiman lalu memutar badan Aruna hingga menghadap ke arahnya dan melirik ke bawah leher Aruna. Handuk yang dipakainya hampir saja melorot. Pemandangan itu membuat Aiman semakin tidak bisa menahan hasratnya sebagai seorang laki-laki normal.


"Aku menginginkanmu" tatap Aiman merapatkan pelukannya.


"A...aku takut" balas Aruna gugup menatap Aiman.


Aiman tersenyum sembari membelai anak rambut Aruna. "Takut apa sayang, udah suami istri juga"


"Sakit" jawab Aruna polos.


"I will do it slowly" bisik Aiman mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Aruna.


Aruna tidak bisa menghindar lagi dari pesona Aiman dan sikap mesranya. Sore itu berlalu penuh kehangatan, penyatuan diri dua insan yang telah halal dalam ikatan pernikahan.


***


"Mas, kita berdua saja di rumah ini?" Tanya Aruna sembari menikmati makan malam di ruang makan.


"Iya, mama dan papa keluar kota. Mereka melihat cabang kuliner mama disana" jawab Aiman. Aruna hanya diam.


"Sepertinya mereka sengaja meninggalkan kita berdua, biar nggak ada yang ganggu kalau mau mesra-mesraan" sambung Aiman tersenyum.


"Ihh mas Aiman, nggak mungkin juga mesra-mesraan di depan mereka. Itu mas Aiman aja yang genit" protes Aruna. Aiman tertawa kecil mendengar ucapan istrinya itu.


Sambil bersandar di kursi dan tertiup angin malam sepoi-sepoi tanpa sadar Aruna terlelap tidur.


"Lusi! Pintu belakang jangan lupa ditutup" perintah bik Mira kepala maid di rumah Harun.


"Baik" sahut Lusi berjalan ke pintu belakang yang menembus ke taman belakang.


"Lho...itu bukannya non Aruna" gumam Lusi segera menghampiri Aruna yang dikiranya duduk santai di sana.


"Ya Allah non Aruna tertidur!" Ucap Lusi kaget. "Mas Aiman harus dikasih tahu ini "


Aiman pun segera meletakkan ponsel pintarnya dan menuju ke taman belakang setelah mendapat info dari Lusi.


'Ck dimana saja kamu bisa tidur. Kayak nggak ada beban hidup saja'


Aiman menggelengkan kepalanya melihat Aruna tertidur.


Aiman lalu mengangkat badannya Aruna dan membawanya ke dalam kamar.


"Eung..."Aruna menggeliat ketika Aiman menaruh badannya ke atas ranjang.


"Hey aku menunggumu di kamar, kamu malah ketiduran di taman" towel Aiman ke pipi Aruna ketika melihat istrinya itu mengerjapkan matanya.


"Mas lebih suka bersama ponsel mas daripada aku. Aku tidak mau mengganggu" balas Aruna cemberut.


Aiman membaringkan badannya di samping Aruna sambil menopang kepalanya dengan tangan.


"Jadi istriku ini cemburu dengan ponsel suaminya" goda Aiman tersenyum geli.


"Iyalah, sepertinya benda itu lebih menarik dibandingkan aku" balas Aruna memalingkan wajahnya masih dengan raut cemberut.


Aiman tersenyum lebar melihat Aruna ngambek. "Hmm tidak ada yang lebih menarik dibandingkan kamu" bisik Aiman memegang pipi Aruna agar melihat wajahnya.


"Bohong ah" ucap Aruna tidak percaya.


"Oya...lantas bagaimana agar istriku ini percaya" tatap Aiman mendekatkan wajahnya hingga hidungnya menyentuh hidung Aruna.


Tidak ada jawaban dari bibir Aruna karena Aiman sudah membungkamnya dengan kecupan hangat. Malam belum begitu larut Aruna pun merasakan kembali kehangatan cinta Aiman. Malam itu Aruna tertidur dalam pelukan Aiman.


***


Pagi hari yang cerah


Aiman memakai kemeja putih sembari mengancing kemejanya dia melirik Aruna yang baru selesai membereskan tempat tidur mereka.


"Sayang, ambilkan dasi mas yang ada list putihnya ya" pinta Aiman.


Aruna ke arah lemari pakaian dan mencari dasi yang dimaksud Aiman. Hanya ada satu dasi berwarna navi ada list putihnya. Aruna ingat kalau dasi yang sedang dipegangnya itu adalah dasi pemberiannya dulu sebagai ganti karena dasi milik Aiman bolong ketika disetrika olehnya.


"Ini mas" ujar Aruna menyerahkan dasi itu kepada Aiman.


"Pasangin dong" pinta Aiman.


"Gimana pasangnya? Aku nggak bisa" tolak Aruna.


Seumur-umur dia belum pernah memasang dasi. Orang tinggal di desa mana ada yang pakai dasi segala kalau bukan pejabat.


"Sini mas ajarin. Besok-besok kamu yang pasangin ya" ujar Aiman sambil memperlihatkan cara memasang dasi kepada Aruna.


"Gimana? Mudah kan?" Tanya Aiman. Aruna pun mengangguk mengerti.


"Ini jasnya mas" tunjuk Aruna ingin menyerahkan jas hitam yang dipegangnya.


"Pasangin dong" ujar Aiman tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya agar Aruna memasukkan jas ke tangannya.


'Mas Aiman ganteng banget ya. Dia suami ku kan?' tanya batin Aruna tidak percaya menatap sosok jangkung di hadapannya itu.


"Hey kok bengong" Aiman menjentikkan jarinya di depan wajah Aruna.


"Mas kok manja banget" ledek Aruna sadar dari lamunannya.


"Manja sama istri sendiri ya nggak apa-apa. Apalagi masih pengantin baru" goda Aiman lalu merangkul pinggang Aruna.


"Ayo sarapan" ajak Aiman keluar dari kamar. Aruna tersenyum mengiringi langkah Aiman di sampingnya.