Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 13: Menghilang



Aiman uring-uringan di kantor sudah satu minggu Aruna tidak bisa dihubungi. Sejak Rafli berbicara dengannya tempo hari mengenai Aruna yang mengacuhkan Rafli ketika berpapasan dengannya, Aruna pun menghilang.


Aiman pun mencoba menemuinya di kostan. Mungkin gadis itu sakit.


"Saya juga tidak tahu pak, dimana Aruna. Dia hanya meninggalkan sepucuk surat pamitan kepada saya. Tetangga saya bilang dia dijemput seorang laki-laki paruh baya" jelas Meri ketika Aiman datang mencari Aruna di kostannya.


"Apa Aruna diculik ? Gadis itu kan polos sekali" celetuk Rafli.


Aiman melototkan matanya kepada Rafli. Rafli mengatup mulutnya.


"Raf, sudah ada info lain?" tanya Aiman setelah meninggalkan kostan Meri.


"Bobi juga tidak tahu masalah ini. Tapi ada info menarik dari Bobi" jawab Rafli.


"Apa?"


"Ada tamu istimewa yang bertemu dengan Aruna. Aku rasa dialah penyebab Aruna menghilang tanpa jejak" lirik Rafli menyunggingkan senyuman.


"Tamu? Siapa yang menemui Aruna?" tanya Aiman penasaran tingkat tinggi.


"Mama kamu tercinta" jawab Rafli.


"Apa!!!" Aiman tiba-tiba mengerem mobilnya.


"Astaga Aiman!! Aku masih mau hidup dan mau nikah tau" gerutu Rafli emosi.


"Kamu serius?!" toleh Aiman tidak percaya.


"Iya, nggak mungkin kan Bobi bohong. Sejak hari itu besoknya Aruna tidak pernah masuk kerja lagi" jelas Rafli.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Aiman.


"Sepertinya tante Amanda sudah tahu siapa gadis yang telah membuat anaknya jatuh cinta" jawab Rafli tersenyum.


"Dan tante tidak setuju dengan gadis itu, lalu memintanya pergi menjauhi anaknya yang tampan ini" lanjut Rafli menatap Aiman.


"Shit!! Mama tidak berhak mencampuri urusan pribadi ku. Dengan siapa aku akan menikah itu adalah hak ku" omel Aiman.


Aiman menyerahkan kunci mobil Rafli ketika pergi ke kostan Aruna tadi. Setelah tiba di kantor dia mengambil kunci mobil miliknya dan pergi meninggalkan ruangannya.


"Hei Man, mau kemana kamu?" tanya Rafli.


"Menemui mama" jawab Aiman singkat dan berlalu dari hadapan Rafli. Rafli hanya menarik napas panjang.


'Pasti akan ada pertengkaran nih' batin Rafli.


"Aruna, dimana kamu sekarang?" gumam Aiman.


Satu-satunya alat komunikasi yang bisa mengetahui keberadaannya tidak bisa dihubungi. Apa Aruna ganti nomor? Tamatlah sudah dia akan sulit untuk bertemu dengan Aruna kembali.


Tiba di Cafe milik mamanya, Aiman segera menuju ruangan tempat dimana Amanda berada.


"Aiman, ada apa sayang? Ini belum jam istirahat kamu sudah meninggalkan kantor" tanya Amanda sedikit kaget melihat kedatangan anaknya.


"Apa yang mama bicarakan dengan Aruna, hingga aku tidak bisa menghubunginya sampai sekarang?" tanya Aiman langsung.


Amanda menarik napas dalam. Akhirnya Aiman tahu juga tentang kedatangannya ke kantor beberapa hari yang lalu.


"Man, mama hanya bilang kalau dia sebaiknya mencari laki-laki lain. Dia tidak pantas untuk anak mama yang ganteng ini" jawab Amanda santai.


"Ma, aku mencintai Aruna dan hanya akan menikah dengannya" ujar Aiman tegas.


"Aiman!! Kamu mau membuat malu keluarga Harun pemilik Circle Corp mau menikahi seorang office girl !" bentak Amanda.


"Aku tidak menyangka...mama menilai orang hanya dari hartanya saja. Aku sungguh kecewa" tatap Aiman tidak suka. Lalu berbalik meninggalkan mamanya.


"Aiman!!" teriak Amanda memanggil Aiman. Namun teriakannya tidak digubris oleh Aiman.


***


"Katanya menginap di apartemen bersama Rafli" jawab Harun.


'Anak itu...bahkan dia tidak mau pulang' batin Amanda geram.


"Ada masalah apa ma, sampai Aiman tidak sempat pulang?" selidik Harun.


"Ah...mama juga nggak tau pa" jawab Amanda cuek pura-pura tidak tahu.


"Ma, papa sudah ada calon untuk Aiman" ujar Harun.


"Beneran pa, anak siapa?"


"Nanti mama akan tahu sendiri"


"Hmmm papa mau buat mama penasaran saja"


Harun hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Sudah waktunya dia mengenalkan gadis itu kepada Aiman.


***


"Man, mau sampe kapan kamu tinggal di apartemen ini. Nanti orang jadi su'udzon sama kita dikiranya kita pasangan BPJS....ih amit-amit dah" oceh Rafli memanyunkan bibirnya.


"Sampai suasana hatiku tenang Raf, males aku pulang. Apalagi papa bilang mau mengenalkan aku dengan calon istri pilihannya" ujar Aiman. Kepalanya pusing bukan main.


"Wah om Harun udah punya calon buat kamu, Man? Trus Aruna gimana? Buat aku ajah ya" lirik Rafli menggoda Aiman.


"Sembarangan! Awas ya kalau kamu berani melirik Aruna" ancam Aiman.


Rafli terkekeh mendengar ucapan Aiman.


"Kayaknya kamu harus melupakan Aruna, Man. Gadis itu entah ada dimana. Kamu mau cari dimana coba?"


"Kalau aku bisa, aku pasti sudah melakukannya Rafli !" pelotot Aiman.


"Yo wes... kerja aku nebeng kamu aja" sungut Rafli.


"Lumayan hemat, mobil ku bisa awet" sambung Rafli sambil nyengir.


***


"Aku ingin bertemu dengannya. Bawa dia ke tempat biasa aku makan" perintah Harun.


"Baik Tuan" balas Haikal.


Haikal mengetuk pintu kamar yang sekarang di tempati oleh keponakannya. Haikal menjemput Aruna setelah tahu keadaan dia yang tidak lagi bekerja di perusahaan. Haikal pun sudah tahu bahwa Amandalah penyebab Aruna keluar dari perusahaan. Karena Haikal selalu memantau aktivitasnya di perusahaan melalui orang-orangnya.


"Na, ikut paman. Kita akan menemui seseorang" ajak Haikal berdiri di muka pintu kamar Aruna.


"Siapa paman?" tanya Aruna heran.


"Dialah orang yang selalu menjaga kamu dan membiayai pendidikan kamu sebelum musibah banjir itu datang lalu menghilang tanpa kabar"  jelas Haikal.


"Paman tunggu ya, bersiaplah" ujar Haikal berlalu, dia akan menunggu di ruang tengah.


"Mas Aiman, maafkan aku. Jika ibunya saja tidak menyukai ku, aku menyerah" gumam Aruna menatap layar ponselnya.


Beberapa panggilan tak terjawab dari Aiman dan beberapa pesan darinya pun Aruna abaikan. Sekarang dia sudah mengganti nomor lain sehingga Aiman pun tidak dapat menghubunginya lagi.


"Mas Aiman, kamu akan mendapatkan calon istri yang layak untuk bersanding dengan mu. Meskipun hatiku tidak rela" gumam Aruna lagi dengan mata berkaca.


Aruna mengganti pakaiannya, pamannya pasti sudah lama menunggu di luar. Dia pun bergegas berdandan ala kadarnya saja.