
Aiman menceritakan perihal keinginan Aruna kepada Harun dan Amanda. Betapa sedihnya mereka berdua Aruna masih belum mau menerima mereka.
"Papa akan menuruti kemauan Aruna" ucap Harun.
"Pa, Aruna itu anak kita kalaupun menikah dengan Aiman akad nikahnya di rumah perempuan" ujar Amanda tidak setuju.
"Papa rasa tidak masalah ma, bukankah setelah mereka menikah nanti Aiman akan mengajaknya pulang kesini" Harun mencoba menyakinkan istrinya itu.
"Akad nikah saja Man? Bagaimana resepsinya?" tanya Amanda melihat Aiman.
"Kami belum membicarakan itu ma karena melihat respon Aruna yang tidak suka membahas akad di rumah mama" jawab Aiman.
"Masalah resepsi bisa kita bicarakan nanti kalau suasana hatinya sudah baik" sela Harun.
"Ayah sudah mengurus semuanya, jum'at ini akad nikah dilangsungkan" ujar Aiman memberi informasi kalau pamannya Haikal tadi menelponnya.
"Cepat sekali, Man" seru Amanda.
"Orang di desa tahunya Aruna memang anak ayah dan ibu. Itu sebabnya Aruna bersikeras ingin akad nikah disana. Hanya walinya saja yang berbeda nanti papa bisa menjelaskan kepada para tamu undangan di desa" jelas Aiman.
"Iya. Lebih cepat lebih baik" ucap Harun.
***
"Man, serius jum'at ini akad nikahmu?" tanya Rafli tidak percaya ketika Aiman baru mendudukkan pantatnya di kursi.
"Iya, kalau kamu udah ada calon kita bisa akad bareng" ledek Aiman karena Rafli masih betah menjomblo.
"Sialan! Ogah bareng kamu nikah di desa" ledek Rafli.
"Heh...kamu juga asalnya dari desa tau nggak" balas Aiman melempar gumpalan kertas ke muka Rafli.
Rafli tidak sempat mengelak muka gantengnya yang sepuluh dua belas dengan Aiman itu terkena lemparan kertas sepupunya.
"Jadi keluarga kita nggak ada lamaran resmi gitu ke rumah om Harun, masa tiba-tiba udah akad aja" tanya Rafli bingung.
"Gimana mau lamaran resmi, orang gadisnya saja di rumah orang tuaku tidak mau pulang" jawab Aiman.
"Kalau Aruna nggak masalah kali, tapi tante Amanda? Gimana responnya, Man?" tanya Rafli lagi.
"Mama awalnya tidak setuju sih tapi papa menyakinkan beliau kalau mama mau menuruti kemauan Aruna, mungkin Aruna mau memaafkannya" jawab Aiman.
***
"Na, serius kamu mau nikah? Sama siapa? Kamu nggak pacaran kan?" tanya Lula bertubi-tubi ketika sedang bertandang ke rumah orang tua Aiman.
"Insya Allah La, jumat ini akad nikahnya. Kamu harus datang ini undangan resmi" jawab Aruna sambil nyengir.
"Astaghfirullah Lula, pacaran itu aktivitas apa sih? Aku nggak tahu. Dia suka dan cinta sama aku terus langsung melamar gitu aja kok, nggak ada yang aneh-aneh" jelas Aruna.
"Oh...kirain" gumam Lula.
Lula adalah teman masa kecil Aruna, gadis berhijab itu pintar mengaji, di desa dia mengajar anak-anak di masjid.
"La, kamu nggak coba cari kerjaan di kota seperti mba Meri?" tanya Aruna.
Pendidikan Lula lebih tinggi dari Aruna, gadis itu tamatan D3 tidak seperti dirinya yang hanya tamatan SMA karena keadaan orang tuanya (orang tua Aiman) yang kurang mampu.
"Entahlah, aku masih mau mengajar anak-anak TPA di masjid" jawab Lula ragu.
"Eh persiapan untuk akadnya gimana? Udah semua?" sambung Lula tersenyum melihat sahabatnya yang sebentar lagi akan menikah.
"Udah, nggak banyak kok yang mau disiapin. Baju akad besok akan diantar kesini" jawab Aruna.
"Huaa kamu pesen baju akad di kota, Na. Pasti bagus banget" ujar Lula histeris. Aruna hanya tersenyum geli.
"Tetap syar'i kan?" pelotot Lula.
"Iya ustadzah Lula" jawab Aruna tersenyum gemas. Lula tertawa lalu Aruna pun ikut tertawa.
"Na, calon suami kamu CEO perusahaan ya?" tanya Lula.
Aruna sama sekali belum cerita tentang calon suaminya. Lula tahu dari Wardah kalau Aruna akan menikah dengan orang kota yang bekerja sebagai CEO.
"Iya CEO perusahaan besar" jawab Aruna tersenyum kecil.
"Wah jadi istri konglomerat dong kamu" puji Lula melihat Aruna.
"Begitulah" Aruna tidak akan menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Lula.
"Aruna!! Kamu memang beruntung" seru Lula mencubit gemas kedua pipi Aruna.
"Lula!!! Apaan sih" teriak Aruna meringis sambil menepis tangan Lula. Lula hanya nyengir kuda melihat Aruna.
"Udah ah Na, aku pulang dulu" pamit Lula beranjak dari tempat tidur Aruna. Mereka sedari tadi ngobrol di dalam kamar.
"Iya. Malam sebelum akad menginep disini ya, La" ajak Aruna.
Lula mengangkat jempol tangannya tanda setuju lalu keluar dari kamar Aruna.
Rencananya Aruna meminta Lula untuk menemaninya ke kota untuk membeli beberapa perlengkapan akad nikahnya tapi ibu Aiman melarangnya karena semua keperluan akad nikah sudah Aiman siapkan termasuklah barang hantar-hantaran. Orang tua Aiman tidak mau terjadi sesuatu dengan Aruna karena hari akad sudah di depan mata.