Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 11: Jatuh Cinta Berjuta Rasanya



Aiman keluar dari lift dengan cepat karena Aruna terus menggodanya dengan pertanyaan yang sama. Harusnya Aruna tidak perlu lagi menanyakan soal itu. Baru kali ini Aiman benar-benar merasa malu karena telah menyatakan perasaannya kepada wanita. Biasanya juga para wanitalah yang menyatakan duluan perasaan kepadanya dan itu pun dia tolak.


Tiba di parkiran Aiman menoleh ke belakang dan tidak menemukan sosok Aruna.


'Ck... Dimana gadis itu?'


"Aruna!!!" teriak Aiman memanggil gadis itu.


Dari balik tembok di depan pintu keluar Aruna cekikikan menutup mulutnya menahan tawanya agar tidak didengar Aiman.


'Salah siapa jalan kok cepat amat' batinnya.


"Arunaa!!" teriak Aiman lagi sambil berjalan dan berlari kecil kebelakang mencari Aruna.


Aruna pun tiba-tiba muncul dan membuat Aiman terkejut.


"Ngapain teriak-teriak pak. Yang jalan duluan siapa pake nggak noleh ke belakang lagi" sindir Aruna memanyunkan bibirnya.


Aiman tersenyum namun hatinya kesal juga. Memang dia tidak menoleh ke belakang lagi karena Aruna menggodanya terus dengan pertanyaan yang sama.


"Oke aku yang salah. Ayo pulang" ajak Aiman melirik Aruna yang berjalan di sampingnya.


"Jadi bener nggak?" tanya Aruna lagi sambil melirik Aiman.


Aiman tersenyum simpul. Gadis ini tidak akan berhenti jika belum dijawab juga.


"Iya sama. Aku mencintai mu. Puas!" ucap Aiman tegas melihat Aruna namun sikapnya itu hanyalah untuk menutupi rasa  malunya.


"Aku juga mencintai bapak" balas Aruna tertawa kecil.


Hatinya benar-benar bahagia sekarang ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Stop memanggil seperti itu" ujar Aiman membukakan pintu mobil untuk Aruna.


"Aku panggil abang saja ya" usul Aruna sembari masuk lalu duduk di jok mobil. Aiman pun masuk dan duduk di depan kemudi.


"Emangnya aku abang tukang bakso" tolak Aiman tidak suka dipanggil abang. Aruna tertawa kecil melihat ekspresi Aiman yang tidak suka dipanggil abang.


"Ya terus apa dong?" Aruna tampak mikir.


"Hmm mas aja kayaknya lebih cocok" lanjut Aruna tersenyum melihat ke arah Aiman.


"Boleh, itu saja. Tapi kalau di kantor tetap..." toleh Aiman. Aruna memonyongkan bibirnya.


"Kenapa tuh bibir? Minta dicium?" goda Aiman.


"Hah! Nggak kok"


Aruna refleks menutup mulutnya dengan tangan. Aiman pun tersenyum geli melihat tingkah Aruna.


'Tenang saja Aruna, aku akan menjaga diri hingga kita udah halal nanti' batin Aiman.


***


Tiba di kostan, Aruna memegang kedua pipinya setelah menutup pintu.


"Aku tidak sedang bermimpi kan?" gumamnya masih tidak percaya.


Meri yang baru selesai mandi menatap Aruna heran, gadis itu masih bersandar di balik pintu masuk.


"Aruna!" panggil Meri.


"Eh mba Meri" sahut Aruna nyengir.


"Ngapain disana?" tanya Meri.


"Ah nggak kok" Aruna melenggang masuk ke kamar.


'Aduh besok aku harus bagaimana ya kalau bertemu dengan dia. Atau aku hanya bermimpi ya tadi' batin Aruna.


'Hm aku pasti mimpi nih karena udah pulang kesoreaan'


Aruna menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi. Badannya sudah gerah sekali.


Malam harinya Aruna sendirian di kostan. Meri pergi mencari makan dengan temannya.


'Ah kapan ya aku bisa pulang. Aku kangen banget sama ayah dan ibu'


Aruna membaringkan badannya di tempat tidur.


Drrrt.Drrrt.Drrrrt.


Ponsel Aruna berbunyi menyadarkannya dari lamunan tentang keluarga yang dirindukannya.


"Nomor siapa ini?"gumam Aruna melihat nomor asing muncul di layar ponsel pintarnya. Biar tidak penasaran Aruna menggeser tombol berwarna hijau.


[Assalamualaikum]


Hah kayak suara pak Aiman, Eh mas Aiman. Pikir Aruna


[Assalamualaikum]


[Waalaikumsalam. Maaf ini siapa ya?]


Aruna pura-pura tidak tahu dulu deh.


[Baru juga ketemu tadi sore sudah lupa]


[Mas ganteng!]


Aiman menyunggingkan senyuman di sebrang sana.


[Lagi ngapain?]


[Lagi ngomong sama mas ganteng]


[Aruna!!]


[Lagi tiduran. Capek soalnya]


[Ya udah istirahat sana]


[Eh...eh kalau mas sendiri lagi ngapain coba]


Aiman tersenyum. Ternyata gadis itu kepo juga yah.


[Baca email dan baca buku buat tambah wawasan]


[Apa nggak capek mas? Udah kerja seharian di rumah masih membaca pula]


[Capeknya hilang karena udah denger suara kamu]


Blush. Pipi Aruna merona. Ah nih cowok tampang dingin tapi bisa ngegombal juga.


[Coba deh kalau deket, aku buatin kopi biar nggak ngantuk]


Aruna mengalihkan pembicaraan. Aiman di sana tersenyum manis.


[Jadi pengen cepet halalin kamu]


Aruna tambah merah mukanya seperti tomat mendengar ucapan Aiman. Jadi Aiman serius dengannya. Pikiran Aruna sudah melayang kemana-mana.


[Aruna!!]


Aiman memanggil karena tidak ada respon dari Aruna. Gadis itu membisu.


[Aruna, kamu masih disitu?]


Jangan-jangan udah tidur lagi. Pikir Aiman.


[Eh iya mas. Mas serius?]


[Nanti aku cari waktu untuk kenalin kamu sama mama dan papa ku]


'Jadi dia beneran serius nih' batin Aruna sambil menepuk pipinya.


[Ah iya]


[Istirahatlah. Besok aku jemput ya]


[Eh nggak usah. Aku naik bis saja, mas]


[Kenapa?Kamu nggak suka bareng dengan ku]


[Bukan begitu, aku nggak enak nanti apa kata orang-orang di perusahaan mas]


[Aruna!]


[Pokoknya jangan jemput!]


Aruna bersikeras tidak mau pergi bareng dengan Aiman. Dia tidak mau reputasi Aiman sebagai ceo jatuh di mata bawahannya karena dekat dengan upik abu seperti dirinya.


[Oke...Oke. Tidurlah. Sampai bertemu besok]


Aiman menutup sambungan telpon.


"Apa dia marah ya karena sudah ku tolak niatnya mau menjemput ku?" gumam Aruna.


"Ah pokoknya jangan sampe ada orang lain yang tahu kalau ceo Circle Corp mencintai ku"


Pagi hari


Aiman mematut diri di depan cermin yang lebar di kamarnya.


"Kok dia yang mati-matian tidak mau pergi bareng denganku. Aruna, kamu tidak pernah menilai orang dari hartanya, kalau gadis lain malah cari kesempatan untuk bisa dekat dengan ceo seperti ku" gumam Aiman menyunggingkan senyuman.


Aiman memakai dasi pemberian Aruna lagi. Setelah rapi Aiman menuju ruang makan. Di meja makan Amanda memperhatikan penampilan anaknya itu.


"Pake dasi itu terus. Kayak nggak ada dasi lain, Man?" sindir Amanda.


Harun yang tidak tahu akhirnya memperhatikan juga dasi yang dipakai Aiman.


"Lagi suka sama yang ini ma" jawab Aiman keki.


"Hm, pasti spesial. Dari seseorang kan ?" tebak Amanda curiga.


"Siapa Man?" tanya Harun serius.


Aiman tidak boleh suka dengan gadis lain karena dia sudah punya calon untuk Aiman.


"Nanti aku kenalkan kalau sudah waktunya, pa" jawab Aiman sambil makan.


'Aku harus menyelidiki siapa gadis yang disukai Aiman' batin Harun.


"Anak siapa dia man? Lulusan apa? Apa dia bekerja? Dimana?" Amanda memberondong Aiman dengan banyak pertanyaan.


"Ma, aku mau berangkat sekarang" ujar Aiman mengabaikan pertanyaan mamanya itu.


"Man, ini masih pagi. Kamu itu atasan bukan office boy" ujar Amanda kesal karena anaknya tidak mau menjawab pertanyaannya.


"Ada yang mau ku cek. Ma, Pa. Aiman berangkat dulu" pamit Aiman meninggalkan meja makan.


"Lihat pa. Anak kamu. Main pergi saja" rajuk Amanda.


"Udahlah ma, dia kan punya privacy juga. Nggak semua harus kita tahu urusannya" ujar Harun membela Aiman.


"Tapi pa, mama mau tahu dengan siapa Aiman berhubungan. Jangan nanti tiba-tiba minta kawin sementara kita belum kenal"


"Tunggu saja ma, kan kata Aiman dia akan mengenalkan gadis itu kepada kita"


"Ah papa ini. Jangan sampai dia suka dengan gadis yang nggak jelas" gerutu Amanda.


'Aku harus menyelidiki siapa gadis yang disukai Aiman' batin Amanda.