Destiny of Two Hearts

Destiny of Two Hearts
Part 34: Shopping



Amanda sudah merencanakan kalau akhir pekan dia akan mengajak Aruna ke mall mencari perlengkapan bayi untuk calon cucunya yang tidak lama lagi akan lahir.


"Udah ditanya Aruna bisa atau tidak. Nanti dia ada janji dengan Aiman lagi?" Tanya Harun melihat Amanda sedang menyisir rambutnya yang panjang.


"Udah, Pa. Nanti Aiman juga ikut, kok" jawab Amanda tersenyum lalu menggelung rambutnya.


Amanda duduk di samping Harun yang sudah bersandar di kepala ranjang.


"Papa pasti senang kan dapet cucu laki-laki? Jadi Aiman dan Aruna tidak perlu menukar bayi mereka" sindir Amanda melihat suaminya itu.


"Mama ngomong apa, sih?. Nggak usah diungkit-ungkit lagi masa lalu itu" balas Harun tidak suka.


Harun akui itu memang kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan, untung anak dan istrinya mau memaafkannya.


"Kita sebagai orang tua tidak perlu berpikiran seperti papa kamu, kalau nggak punya cucu laki-laki kekayaan mau dikasih ke panti atau semacamnya. Laki dan perempuan sama saja, Pa. Yang penting kan sehat" jelas Amanda yang kini sadar dan telah banyak belajar dari ketulusan hati putrinya, Aruna.


"Iya istri ku, sayang. Coba Mamanya ini seperti Aruna yang cantik dengan hijabnya" sindir Harun menjawil dagu Amanda.


Harun ingin sekali melihat Amanda menutup auratnya seperti Aruna. Cukup hanya dia saja yang bisa menikmati putih mulus kulit Amanda dan rambutnya yang hitam panjang itu.


"Nantilah, Pa. Mama belum siap" tolak Amanda berbaring lalu menarik selimut di ujung ranjang.


"Belum siap? Kalau mau nunggu siap mama nggak bakal siap juga. Sambil jalan sambil belajar ma. Kan ada Aruna yang bisa ngajarin mama. Lagian nggak malu sama besan yang udah menutup aurat begitu" oceh Harun.


"Udah, ah. Mama mau tidur" ujar Amanda membalikkan badannya.


Harun menghela napas. Kalau sudah bicara soal hijab Amanda selalu menghindar.


'Hmm. Aruna harus turun tangan kalau begini. Aku sayang sama kamu Manda. Menutup aurat itu wajib dan sudah menjadi kewajiban ku untuk mengingatkan mu. Karena aku tidak mau dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti jika istri ku tidak menutup auratnya' batin Harun lalu menyusul Amanda tidur.


***


Aiman melihat Aruna masih duduk di ranjang sambil membaca novel sementara Aiman mengamatinya sambil berbaring di sisi Aruna.


"Yang, belum ngantuk apa?" Tanya Aiman.


"Belum Mas, ceritanya lagi seru ini" jawab Aruna tanpa menoleh ke arah Aiman.


Memasuki tri semester ketiga. Aruna sekarang sedang hobi membaca buku. Khususnya novel dan buku religius. Aiman juga menyeleksi buku bacaan istrinya itu. Novel romantis. Kadang Aiman melihat Aruna bercucuran air mata sambil membaca novel itu kadang juga senyum-senyum sendiri. Semua itu bukan karena nonton Drakor lho, tapi baca novel. Aiman tak habis pikir sampe segitunya pengaruh membaca novel romantis.


"Udah malam, Yang. Bacanya bisa dilanjutin lagi besok" ujar Aiman mengambil novel di tangan Aruna, menutupnya lalu menaruhnya di atas nakas.


"Mas Aiman!!" Teriak Aruna kaget tiba-tiba Aiman mengambil novelnya. Aruna cemberut menatap suaminya itu.


"Kamu boleh baca buku kalau Mas nggak ada di samping kamu. Mas nggak suka dicuekin begini" balas Aiman yang merajuk.


Aruna kalau sudah baca buku tidak peduli ada siapa pun di sekitarnya.


Aruna memanyunkan bibirnya. Padahal lagi seru-serunya dia membaca.


"Sini tidur" ajak Aiman.


Aiman melihat wajah Aruna belum berubah juga. Dia tahu telah mengganggu kesenangan istrinya itu.


"Tidur malam terus nggak baik buat anak kita" ujar Aiman mengelus perut buncit Aruna.


"Nanti dedek nya suka bergadang lagi" sambung Aiman.


Aruna menggeser badannya merapat ke samping Aiman dengan wajah setengah hati tersenyum.


"Aku bukannya nggak mau tidur, Mas. Tapi susah cari posisi nyaman buat tidur. Miring salah terlentang juga salah jadi nggak bisa tidur" keluh Aruna memegang perutnya.


Makanya Aruna lebih baik membaca sambil sandaran di kepala ranjang nanti kalau ngantuk kan tertidur sendiri. Pikir Aruna begitu.


Aiman tidak tahu kalau usia kandungan Aruna yang semakin besar membuatnya tidak nyaman ketika tidur.


"Hmm. Mas cerita aja, yah. Kamu dengerin" ujar Aiman tersenyum sambil mengusap kepala Aruna.


"Cerita apa, Mas?" Tanya Aruna geli. Suaminya seperti orang tua yang mau mendongengkan anaknya saja.


"Ada deh. Kamu denger aja, yah" titah Aiman.


Aiman mulai bercerita tentang masa kecilnya ketika duduk di bangku SD. Aruna mendengarkan cerita suaminya dengan serius. Sesekali merespon cerita Aiman. Eh Belum sampai sepuluh menit Aiman bercerita sudah tidak ada respon lagi dari Aruna.


"Yang, masih dengerin nggak?" Tanya Aiman.


Tidak ada sahutan dari Aruna. Aiman melihat ke arah Aruna ternyata istrinya itu sudah tertidur.


"Aku benar-benar udah kayak radio bisa membuat orang tertidur" gumam Aiman tertawa kecil melihat wajah tenang Aruna ketika tidur.


Aiman membungkukkan badannya lalu mengecup kening Aruna.


***


Keesokan paginya


Amanda sudah siap di ruang keluarga menunggu Aruna dan Aiman. Dia akan menemani putrinya mencari perlengkapan bayi. Tidak lama lagi cucunya akan lahir ke dunia.


"Yang, udah siap belum? Mama udah nungguin, tuh" panggil Aiman menyusul Aruna di kamar.


"Iya, Mas. Ayo"


Aruna meraih tangan Aiman yang sudah terjulur ke arahnya. Aiman cemas melihat Aruna berjalan dengan perut yang besar seperti itu. Takut kalau istrinya itu tersandung atau terpeleset.


"Pelan-pelan saja" gumam Aiman.


"Pa, kami pergi dulu, ya" pamit Amanda setelah melihat Aruna dan Aiman mendekatinya.


"Iya, hati-hati Man. Bawa mobil yang slow aja" pesan Harun. Aiman hanya tersenyum. Mana mungkinlah dia bawa mobil ngebut.


Tiba di mall


Sepanjang menyusuri mall Aiman tidak lepas menggandeng tangan Aruna. Sementara Amanda berjalan di depan mereka mencari tempat perlengkapan bayi yang lengkap jadi tidak perlu kesana kemari lagi mencari barang yang kurang.


Amanda masuk ke salah satu toko khusus bayi yang cukup besar. Ternyata pemiliknya kenal dengan Amanda.


"Mba Manda, apa kabar lama nggak bersua?" Tanya Yohana yang merupakan adik tingkatnya sewaktu kuliah dulu.


"Baik, Yo. Oya, aku mau cari pakaian bayi dan perlengkapan lainnya" jawab Amanda sumringah.


Yohana melirik perut rata Amanda. 'Masih kecil hamilnya masa udah mau beli perlengkapan bayi' batin Yohana heran.


"Bukan aku yang hamil, Yo" ujar Amanda seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Yohana.


Yohana tersenyum kikuk. "Lantas siapa, Mba?"


"Itu" tunjuk Amanda berbalik melihat Aiman dan Aruna sudah ke arah pakaian bayi.


"Oh...anak Mba Manda udah nikah, ya" ujar Yohana melihat Aiman menggandeng Aruna berjalan menghampiri Amanda.


"Ma, semuanya kita cari disini aja, ya. Aku takut Aruna kecapekan" ucap Aiman.


"Iya, Man. Aruna, Aiman, kenalkan ini teman Mama. Tante Yohana, pemilik toko ini" balas Amanda lalu mengenalkan Yohana.


"Wah udah besar kandungannya. Cowok atau cewek nih baby nya?" Tanya Yohana mengusap perut buncit Aruna.


"Insya Allah cowok, Tante" jawab Aruna tersenyum.


"Alhamdulillah. Emang kalau anak pertama itu bagusnya cowok biar nanti bisa jagain adiknya nanti" lanjut Yohana melirik Amanda.  Amanda pun hanya tersenyum simpul.


"Kalian pilih saja pakaian, popok dan lain-lainnya. Mama mau ngobrol dengan Tante Yo dulu, ya" ujar Amanda.


"Desi kamu temani Mas dan Mba ini cari perlengkapan bayi, ya" perintah Yohana kepada salah satu pegawainya.


"Baik, Bu. Mari, Mba" ajak Desi.


Aiman dan Aruna pun mengiringi Desi melihat pernak-pernik bayi yang mereka butuhkan.


***


"Ya Allah. Capek juga ya, Mas. Padahal cuma belanja di satu tempat" keluh Aruna duduk di sofa.


"Itu karena kamu lagi hamil, Sayang. Coba kalau nggak bukan kamu yang capek, tapi Mas" balas Aiman sambil mengacak jilbab Aruna.


"Mas!!! Berantakan tau nggak" ujar Aruna sewot.


Aiman terkekeh. "Lagian udah di dalam rumah masih pake jilbab juga" protes Aiman.


"Iyalah Mas, kalau tiba-tiba pak Ujang dan Anto masuk gimana. Emang mau aurat istrinya dilihat laki-laki lain?" Balas Aruna.


Aiman terdiam. Lalu tersenyum menatap istrinya itu sembari melihat Anto sopir papanya masuk membawa barang belajaan mereka tadi.


"Bawa ke sana aja" tunjuk Amanda kepada Anto untuk meletakkan barang-barang di depan kamar Aiman dan Aruna yang sudah pindah ke bawah.


"Betul nggak apa yang aku bilang" lirik Aruna melihat Aiman yang sedang memperhatikan Anto yang tiba-tiba lewat di dekat mereka.


"Iya, Sayang. Jadi kalau Mas mau lihat aurat kamu sekarang kita ke kamar saja, ya" canda Aiman.


"Ihh, Mas ini orang serius!!" Cubit Aruna gemas.


"Aww...Mas juga serius!!" Balas Aiman sambil meringis kesakitan.


"Man, barang-barang bayi kalian masukkan lah ke dalam kamar" tegur Amanda geleng kepala melihat anak dan menantunya itu.


"Udah Yang, Mas mau beresin dulu belanjaan kita tadi" Aiman beranjak dari samping Aruna sambil mengelus pinggangnya bekas dicubit Aruna barusan.


"Sakit juga cubitan ibu hamil ini. Kalau nggak lagi hamil dia nggak bakalan selamat dari terkaman ku" gumam Aiman sambil berjalan ke arah kamar.


Aruna pun menyusul Aiman dan mengekor di belakangnya.


"Mas ngomong apa, sih?" Tanya Aruna mendengar Aiman seperti sedang berbicara tapi tidak jelas didengarnya.


"Nggak, kok" jawab Aiman tersenyum menoleh ke belakang melihat Aruna.


'Tuh, telinga tajam juga. Aruna dengar nggak ya?' Aiman masih terlihat senyam-senyum sendiri.