
Negeri atas awan tampak temaram di bawah bulan yang bercahaya suram. Kiran dan Candra sedang bercanda sambil membakar jagung. Mereka sengaja membawa satu karung untuk dibagikan pada para pendaki yang lewat.
“Dari tadi nggak ada yang mau mampir, jagungnya masih banyak banget,” keluh Kiran dengan raut kecewa.
Candra tersenyum masam, tapi menjawab dengan nada bercanda agar Kiran terhibur. “Mungkin takut kita rampok!”
Biasanya kalau ada hal yang ditawarkan gratis di atas gunung, sebagian pendaki akan mampir dengan hati. Selain untuk mencicipi makanan yang ditawarkan, juga untuk beristirahat dan menambah teman.
“Jagung mas! Jagung gratis tis tis …!” Kiran menawari istirahat dan jagung bakar pada dua orang pendaki yang terengah-engah setelah trekking di jalur pendakian.
Dua pendaki yang melihat ke arah Kiran dan Candra sontak membelalakkan mata. Tanpa menyahut, mereka meninggalkan negeri atas awan lebih cepat, menyusuri jalan ke arah puncak dengan sumpah serapah.
“Apa salahku? Kok nggak sopan sekali … mereka mengumpat setelah ditawari mampir?” Kiran mendengus, protes pada suaminya.
“Mereka takut, Sayang!” jawab Candra kalem. Masih belum mengatakan secara rinci kondisi Kiran di mata manusia normal.
Candra hanya terkekeh melihat Kiran yang memasang ekspresi kesal. Istrinya sudah menawarkan jagung dan kopi pada beberapa pendaki, tapi tidak satupun dari mereka yang sudi mampir. Pendaki sebelumnya bahkan lari tunggang langgang sebelum Kiran selesai menjelaskan kalau jagung yang ditawarkan tidak perlu dibayar alias gratis.
Beberapa saat kemudian, Kiran kembali ceria. Dia mendengar suara Septi dan Surya sedang berjalan naik ke arahnya.
Seolah dunianya masih sama dengan sahabatnya, Kiran menyiapkan kopi dan jagung bakar untuk mereka. Kiran juga menggelar matras di dekat api unggun untuk tempat Septi dan Surya duduk nanti.
“Aku dengar suara Septi sama Surya, nanti kamu aku kenalin ya sama mereka!” kata Kiran penuh semangat.
Candra tertawa ringan dengan tingkah Kiran yang masih sering lupa kalau mereka sudah beda alam dengan Septi dan Surya. “Aku nggak yakin mereka mau kenalan sama aku!”
Kiran mengecup pipi Candra, “Aku malah takut Septi bakal naksir kamu!”
“Mereka datang,” bisik Candra di telinga Kiran. “Kamu mau kasih kejutan apa?”
“Surprise!” teriak Kiran berusaha mengejutkan dua sahabatnya. “Septi, Surya … ah siapa yang nyangka kalau kita ketemu di sini coba? Ayo-ayo sini, kalian capek ya?!”
Septi melotot, begitu juga Surya. Lalu keduanya pergi tergesa-gesa tanpa mau menoleh lagi. Degup jantung Septi dan Surya bahkan terdengar di telinga Kiran.
“Septi, Surya! Kalian kenapa?” tanya Kiran tak percaya.
Candra merangkul Kiran, “Mereka tak bisa melihatmu, Sayang! Sepertinya Septi juga masih takut sama aku!”
Mau tidak mau Candra menjelaskan situasi mereka berdua. Kiran memang belum bertemu manusia secara langsung setelah pindah alam. Mereka disibukkan dengan pernikahan.
Kiran mengangguk mengerti, tapi dia ingin menyapa dua sahabatnya sekali lagi. Berharap kalau mereka tidak bisa melihatnya, paling tidak bisa mendengar suaranya.
“Septi ….”
“Surya ….”
Suara mistis dari alam gaib itu timbul tenggelam di antara desau angin gunung. Septi menutup telinga dengan kedua tangan, tubuhnya menggigil ketakutan. Surya hanya mengikuti langkah Septi yang semakin cepat meninggalkan negeri atas awan.
Septi mengusap tengkuk dan juga lengannya yang merinding hebat. Kiran seolah memanggilnya dari berbagai arah. Ya, meski suara itu sangat samar, tapi Septi hampir yakin kalau yang memanggilnya dari jauh adalah Kiran.
Mungkinkah Kiran tidak tenang di alamnya? Mungkinkah Kiran butuh pertolongan? Mungkinkah Kiran dendam padanya?
Bagaimanapun, Septi merasa sangat bersalah karena Kiran memilih mengakhiri hidupnya. Dia merasa memiliki andil besar pada keputusan fatal sahabatnya itu.
“Maafkan aku, Kiran!” bisik Septi dengan air mata menggenang. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi sekarang selain berdoa. “Semoga kamu tenang di sana, Kiran! Aku sungguh minta maaf, aku melakukan itu karena aku sayang kamu!”
Septi memang ingin mendaki bukan hanya untuk membuktikan suara gamelan mistis yang akhir-akhir ini menghebohkan jagat petualangan. Septi pergi ke gunung itu untuk mengenang Kiran, untuk mengenang persahabatan mereka dulu, mengenang saat terakhir dia mendaki bersama Kiran.
Surya merangkul Septi, jarak mereka sudah cukup jauh dari tempat mereka berdua melihat pocong yang sedang berdiri mengawasi jalur pendakian. “Kita istirahat di sini?”
“Ya, aku butuh mengatur nafas dan juga butuh minum.” Septi berhenti, meletakkan tas dan langsung duduk selonjoran. “Aku baru saja lihat penampakan di tempat terakhir Kiran nyepi, Sur! Aku juga dengar suara dia panggil-panggil nama kita. Aku takut …!”
“Aku juga lihat tadi, seumur-umur baru sekali ini aku lihat demit, Sep! Untung kakiku nggak kram mendadak!” Surya hanya menggelar matras untuk duduk, dia juga butuh kopi untuk menetralisir rasa pening. “Duduk sini biar nggak basah celanamu! Pocong tadi … apa itu Kiran ya, Sep?”
“Aku nggak tau, tapi rasanya itu seperti pocong yang aku lihat di kost, yang waktu itu duduk mesra-mesraan sama Kiran di ruang tamu!” tutur Septi dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Mungkin Kiran juga ada di sana sama pacarnya, cuma kita nggak bisa lihat. Buktinya kamu dengar suaranya manggil kita,” kata Surya menebak-nebak. “Kita doakan saja untuk kebahagiaan Kiran, aku yakin dia juga bisa mendengar obrolan kita!”
Di depan api unggun, Kiran memakan jagung terakhir hasil bakaran tangannya sebelum membereskan semua bekasnya. Masih seperti dulu, Kiran juga enggan meninggalkan sampah di gunung yang didakinya.
"Aku lupa terus mau cerita mimpiku kemarin!"
Candra menoleh, memperhatikan istrinya. "Hm, mimpi apa?"
"Ada seorang pria tampan mendatangiku sewaktu aku tidur di kamar ratu! Rasanya seperti bukan mimpi, aku masih ingat tiap detail wajahnya. Dia memakai pakaian bangsawan Jawa kuno," terang Kiran serius.
"Aku cemburu, Sayang! Kamu memuji pria lain di depanku. Apa dia sangat rupawan hingga kamu mengingatnya begitu dalam?"
"Bukan begitu … apa tidak aneh kalau pria itu mengajakku berkenalan dalam mimpi? Namanya Damar Jati." Kiran mendekati Candra yang mendadak gelisah. "Sudahlah, cuma mimpi inih, nanti juga lupa! Bagiku, Candra tak akan pernah terganti oleh siapapun."
“Baiklah permaisuri, bagaimana kalau kita pulang sekarang?” tanya Candra penuh sayang. Bulan hampir tenggelam dan matahari akan mencerahkan negeri atas awan sebentar lagi.
“Ya, tapi bolehkah aku membuat permintaan?”
Candra tersenyum lebar, “Boleh, buatlah permintaan yang banyak, jangan tanggung!”
“Satu dulu deh! Bisa nggak kita setahun sekali ke tempat ini untuk merayakan hari perjumpaan kita? Aku suka tempat ini, dan aku ingin mengingat bagaimana aku jatuh cinta padamu di sini!”
“Hm, mau aku buatkan pesta di tempat ini tahun depan?”
Kiran tertawa, “Apa boleh kita kesini hanya berdua tanpa anak-anak nantinya? Aku ingin bercinta denganmu di tempat ini setiap tahun!”
“Kamu memang selalu menggemaskan. Aku jelas tidak bisa menolak permintaanmu, bahkan jika istana kita harus pindah ke tempat ini … aku akan mengabulkannya!”
Candra mengangkat Kiran dalam gendongan dan berkelebat secepat cahaya. Berpindah dari negeri atas awan ke kamar sang ratu.
“Loh kok di kamarku?” tanya Kiran dengan senyum lebar. Kamar ratu yang disiapkan untuknya memang baru satu kali dipakai tidur, itu pun sendirian.
Candra tidak perlu menjelaskan kenapa mereka tidak memakai kamarnya untuk istirahat. Candra ingin melacak aura pria yang muncul dalam mimpi istrinya. Aura Damar Jati mungkin saja tertinggal di kamar ratu.
“Kita belum tes drive ranjang barumu, apakah tempat tidur ini cukup kuat untuk menahan ulah kita!” jawab Candra kalem. Tapi tak sekalem bibirnya yang langsung menjelajah ke leher dan dada Kiran.
“Kita baru saja melakukannya di tenda!” Kiran men-desa-h keras untuk mengatasi gairah yang mulai meletup dan mendesak.
Candra menyahut dengan gumaman tengil, “Aku perlu melakukan uji kekuatan ranjang baru ini sebelum kita tidur!”
Kiran membalas renyah, “Modus banget!”
Gumaman yang akhirnya berubah menjadi suara serak seksi ketika memuja tubuh Kiran. “Suruh siapa kamu cantik?”
“Terima kasih pujiannya!”
“Memangnya kamu kalau cantik aja nggak cukup, perlu ditambahin dengan baik hati dan tulus sama aku?” Candra melucuti pakaian Kiran dengan cekatan. Gemas dengan Kiran yang sedang menahan senyum bahagia.
Perlahan, erangan nikmat keluar dari bibir Kiran. Candra memenuhi celah lembut bagian bawahnya dengan sangat sensual dan penuh erotisme.
“Aku mencintaimu, Candra!”
“Aku lebih mencintaimu, Kirana!”
T A M A T
***
^^^Hai kak,^^^
^^^Kisah Candra dan Kirana selesai di sini ya, semoga baby Kiran sehat hingga waktunya lahir. Karena dialah calon raja selanjutnya, yang akan bertahta dengan segala keistimewaannya.^^^
^^^Terima kasih untuk semua dukungan pada karya ini, kita rehat sejenak dari kisah horor. Mari mampir ke Dewa Love You atau ke Seventh Blood Vampire … jika berkenan!^^^
^^^Salam - Al^^^