
Paranormal yang benar-benar kondang di Jombang tidaklah banyak, jika dihitung mungkin tak lebih dari lima. Namun, orang yang bertanya rumah Mbah atau Ki Bambang di warung makan area terminal pasti mendapat jawaban memuaskan.
Bahkan, beberapa dari mereka akan menyarankan untuk menyewa ojek lokal saja. Jarak tempuh memang tidak terlalu jauh, dan mereka juga akan mengatakan kalau orang sakti yang mereka cari itu biasa dipanggil 'mas', karena masih tergolong dalam jajaran dukun muda.
Tanpa melewati terminal, rombongan Kiran, Septi dan Surya baru saja keluar tol. Ternyata rumah yang mereka tuju juga bisa dibilang cukup dekat dengan pintu tol.
Surya mengajak Septi dan Kiran mampir ke rumahnya sebentar untuk mengambil nomor antrian, yang sudah dipesan dari sejak pagi melalui saudaranya.
"Bu, kira-kira mas Bambang masih inget sama kita nggak ya?" tanya Surya pada ibunya.
Bu Ika menjawab lembut, "Ibu kurang paham juga, dulu waktu sering datang minta makan ke warung kita kondisinya masih kurang waras. Siapa yang tau kalau nasib justru membawanya jadi dukun sakti?!"
"Iya juga sih, mana mungkin dia ingat masa lalunya! Kalaupun ingat paling ya sama mbak Irva," ujar Surya diiringi tawa yang membuat Septi dan Kiran bertanya-tanya.
"Jangan diingatkan soal itu, Sur! Istri kakakmu bisa marah kalau kamu menyinggung masa tak mengenakkan itu!"
Septi menyikut pacarnya dengan rasa penasaran tinggi. "Apaan sih kok kamu malah ketawa nggak jelas gitu?"
"Ehm … dulu mbak iparku itu pernah dicium mas Bambang di tengah pasar!"
"Heh?" Septi dan Kiran spontan melongo, berebut untuk menanyakan kebenaran berita unik itu. "Yang bener? Kok bisa?"
Surya menjelaskan ringan, "Dulu mas Bambang itu pernah gila cukup lama sebelum jadi dukun hebat! Nah, pada masa gila itu dia suka usil sama perempuan yang ditemuinya, alasannya ya karena ngebet minta kawin."
"Trus, trus?" tanya Septi semakin penasaran.
"Ya nggak dibolehin sama orang tuanya, lagian mana ada perempuan yang mau dinikahin orang edan? Kalau tetangganya udah nggak heran sama kelakuannya, sementara mbak Irva pengantin baru waktu itu, orang dari luar kota pula. Pas ketemu mas Bambang yang baru selesai minta makan di warung ibu … terus gitu deh kena cium di tengah pasar tanpa bisa menghindar hahaha …!"
Kiran dan Septi mengatakan 'oh' dalam waktu bersamaan. Septi menyambung dengan pertanyaan, "Tapi sekarang udah nggak gitu, kan? Aku takut nih jadinya! Itu sama sekali nggak lucu loh, Sur!"
"Sekarang udah waras 1000%, udah nikah dan punya anak. Sambung nanti lagi ya ceritanya, kita berangkat sekarang biar nggak kesorean." Surya mendahului berdiri dan mencium tangan ibunya untuk pamit.
Bu Ika mengangguk setelah dipamiti. "Hati-hati! Salam buat mas Bambang kalau dia masih inget sama ibu ya, Sur!"
Jalan menuju desa tidak terlalu ramai. Setelah pasar tempat ibunya Surya biasa berjualan soto dok khas Jombang, hanya ada jalan desa yang bersisian dengan sungai. Udara khas desa masih sangat terasa, perjalanan masuk ke arah kampung pun dinikmati Kiran dan Septi dengan kaca mobil terbuka.
Surya mengemudi lebih lambat begitu memasuki jalan utama rumah sang paranormal muda. Beberapa mobil tampak parkir rapi, beberapa ada yang cukup mewah. Menandakan tamu mas dukun memang bukan orang sembarangan.
Namanya yang sudah terkenal rupanya menarik orang dari kalangan atas untuk mempercayakan keberuntungan mereka di tangan mas Bambang.
Setelah parkir, Surya pergi ke ruang tunggu dan menyerahkan nomor antrian pada salah satu abdi yang bekerja mengatur tamu. Surya dipersilahkan menunggu sebentar karena ternyata nomornya tadi sudah dipanggil.
Tak sampai sepuluh menit, Surya, Septi dan Kiran sudah masuk ke ruangan praktek sang paranormal. Tak beda jauh dengan kondisi rumah orang pintar di tempat lain, aroma kemenyan mendominasi udara di dalam rumah megah itu.
Sentuhan lawas masih ada di rumah yang sebelumnya kosong dan wingit hampir 40 tahun itu. Tapi renovasi sudah dilakukan di banyak tempat oleh mas Bambang. Rumah dukun sakti itu kini benar-benar seperti rumah mewah pejabat. Nyaman, tidak terkesan seram apalagi angker jika dilihat dari luar.
Surya mengangguk membenarkan, cukup senang karena ternyata mas Bambang masih ingat pada ibunya. "Iya benar, Mas! Nama saya Surya. Ini Septi dan Kiran, oh ya Mas Bambang dapat salam dari ibu!"
"Hm, saya lama nggak mampir sana! Semoga dalam waktu dekat bisa ajak istriku makan soto dok favoritku dulu, salam dulu buat ibumu nanti ya!" ujar sang dukun sambil terkekeh ringan. "Ini ada perlu apa kok sampai bawa cewek dua? Mau dinikah semua, perlu dirukunkan atau butuh sesuatu biar kuat semalaman sama mereka nanti pas malam pertama?"
Surya ikut tertawa mendengar pertanyaan konyol sang dukun, sementara dua gadis yang ada di ruang itu terpaksa tersenyum kaku. Pembicaraan mesum antar pria seharusnya memang tidak mereka dengar secara terbuka seperti itu. Septi melengos ke arah lain, sementara Kiran justru melihat mata mas dukun yang menghujamnya dalam.
Mata dukun sakti itu juling, bola hitamnya tidak presisi, jadi saat menatap, kadang seperti tidak fokus pada objeknya. Namun, bukan itu yang dirasakan Kiran, mata mas Bambang seolah menelanjangi bagian dirinya yang lain.
Kiran reflek memegang dadanya, liontinnya menghangat dan energinya seperti ikut mengalir ke dalam darah. Ditambah degup jantungnya yang tak beraturan, Kiran mendadak merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
"Pacar saya … maksud saya Septi butuh bantuan mas Bambang untuk menutup mata batinnya. Beberapa hari terakhir dia merasa aneh dengan penglihatannya!" Surya bercerita secara ringkas mengenai beberapa kejadian dan penampakan yang dilihat Septi akhir-akhir ini.
Mas Bambang menyimak sambil manggut-manggut, sesekali menatap Septi dengan mata anehnya, tapi lebih lama jika pandangannya jatuh pada Kiran. Tatapan yang membuat Kiran bergetar, bergidik dan merasa terancam.
Ah ya, tiba-tiba Kiran tidak menyukai paranormal muda itu dari segi manapun!
Mas Bambang tersenyum lebar, tak mengurangi keramahannya sedikit pun. "Aku akan membantu jika Septi sendiri yang meminta, karena memang begitulah peraturannya."
Surya mengangguk mengerti dan meminta Septi untuk bicara keperluannya langsung tanpa perantara. Septi mengutarakan semua keinginannya tanpa berbelit-belit. "Pokoknya saya nggak mau bisa lihat makhluk halus, Mas! Kembalikan penglihatan saya seperti semula, saya mau hidup normal dan tenang!"
"Nggak suka jadi indigo? Enak loh punya sedikit kelebihan, kamu bisa gunakan untuk membantu sesama nanti. Kebetulan sekarang ada salah satu temanmu yang butuh bantuan!" Mas Bambang melirik Kiran dalam pandangan julingnya. Kode yang jelas tidak dipahami oleh Surya maupun Septi.
"Saya lebih suka indomi goreng, kalau indigo perdemitan mah amit-amit!" Septi mengusap kedua lengannya, bergidik dengan suasana ruangan yang semakin panas. "Kalau nanti teman saya butuh bantuan, saya ajak kesini aja biar mas Bambang yang beresin!"
Mas Bambang mengangguk memahami. Dua gadis muda di ruangannya sebenarnya memiliki masalah yang sama meski tidak persis. Apa yang dilihat sang dukun pada Septi adalah bagian kecil dari semua masalah. Akarnya justru ada pada gadis sebelahnya, Kiran.
Hanya saja, mas Bambang adalah orang yang bekerja sesuai aturan perewangan. Tanpa kalimat permintaan tolong dari yang bersangkutan, dia tidak bisa melakukan pekerjaan. Mas Bambang mungkin bisa menangani Septi, tapi tidak bisa menangani Kiran jika yang bersangkutan atau keluarganya tidak mengatakan kalau membutuhkan jasanya.
Jadi bisa dipastikan, usaha mas Bambang menolong Septi tidak akan berhasil seratus persen, hal itu disebabkan akar permasalahan ada pada Kiran.
"Nanti siapkan bak air atau ember, campur ini dan pakai airnya untuk mandi seperti biasa! Satunya oleskan di pusar sebelum tidur! " Mas Bambang menyodorkan sesuatu dalam plastik klip pada Septi. Berisi serbuk yang baru saja diasapi dan dimantrai.
"Baik, Mas!" kata Septi.
Kiran melirik sekilas dua bungkusan kecil yang diterima Septi. Matanya langsung bertemu dengan sang paranormal saat mengembalikan pandangan. Kiran sungguh tak mengerti pada tubuhnya yang semakin lemah dan tak berdaya. Satu-satunya yang bisa dirasakan hanya hawa panas dari liontin yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Kalung kamu bagus, Mbak!" Mas Bambang menunjuk Kiran. Memperhatikan liontin bulan yang menggantung pendek di leher gadis itu. Liontin yang hanya tergantung di tali prusik ukuran kecil. "Beli dimana?"
Kiran menutupi kalungnya dengan cara merapatkan kerah baju, lalu menyunggingkan senyum paksa dan menjawab datar, "Dikasih teman!"
Kiran tidak bermaksud berbohong, tapi entahlah … ada sesuatu dalam diri mas Bambang yang tidak bisa dipercaya begitu saja olehnya.
***