Candra Kirana

Candra Kirana
Better Late



Kiran mematut dirinya di depan cermin, memutar tubuh beberapa kali, memastikan penampilannya cukup menarik untuk bertemu pujaan hati. Wajah Kiran hanya berbedak tipis dengan bibir berpulas lipgloss sewarna ceri.


Kiran sengaja tak berdandan menor, selain bukan gayanya, dia juga lebih nyaman jika bisa tampil apa adanya. Lagipula Candra sudah melihatnya dalam situasi terjelek. Di gunung, tanpa make up apapun, pun dengan pakaian ala pendaki. Kiran sudah menunjukkan dia agak jauh dengan sisi feminim seorang perempuan.


Rasanya Candra tidak terganggu dengan penampilannya yang biasa-biasa saja, dan faktanya Candra malah tertarik pada kesederhanaannya.


Hanya dengan celana legging selutut dipadu kaos oversize, rambut diikat tinggi di atas kepala dan wangi lembut dari tubuhnya, sudah menunjukkan kalau Kiran terlihat menggemaskan dan manis. Kiran hanya menambahkan jam tangan lucu di tangannya sebagai sentuhan akhir.


Septi yang mengamati tingkah sahabatnya mendadak ikut gemas. Di matanya Kiran berubah lebih ceria dari sebelumnya. Sepertinya kisah dramatis bersama Dodi sudah tenggelam oleh pesona sang pendaki.


"Candra dateng jam berapa emangnya?" tanya Septi penasaran. "Udah jam sepuluh ini, Ran! Kamu yakin dia bakal datang?"


Kiran mengabaikan pertanyaan Septi, mengambil handbody sahabatnya dan dengan tanpa sungkan memakainya. "Udah cantik belum?"


"Ran … udah jam sepuluh lewat tuh! Kayaknya si macho yang kamu bayangkan itu salah jalan. Belum pernah ke sini, kan? Tidur aja yuk!"


"Candra sendiri yang bilang datengnya agak maleman, paling bentar lagi. Sabar dikit kenapa sih! Aku yang pacarnya aja santai kok," kata Kiran kalem.


"Masa iya ngapel jam sebelas, pulang jam berapa dia nanti?"


Kiran menatap Septi sekilas, lalu menjawab dengan nada cuek. "Dua belas!"


Septi melirik weker di atas mejanya, "Busyet, kenapa nggak besok aja kalau emang terlalu malam?"


"Ya suka-suka dia, Sep! Mungkin Candra ada waktunya jam segitu! Yang penting dia pulang, nggak nginep di kamarku!"


"Cukup pacaran satu jam?"


Kiran menoleh, "Cukuplah, buat ciuman bisa sampai jontor itu bibir, Sep!"


"Tapi bentar lagi jamnya setan berkeliaran, Kiran! Kamu mau berduaan aja di ruang tamu? Ehm … mencurigakan! Jangan-jangan kamu sengaja undang dia datang agak malam!"


Kiran tergelak, "Ya ampun, itu kan ruang umum, masa iya mau ninu ninu di sana? Kamu nggak mau aku diusir dari kost ini, kan?"


"Bu Andini lagi nggak di rumah, sore tadi aku ngobrol sama anaknya! Pergi ke saudaranya di Madiun, beberapa hari katanya. Kamu nggak tau apa pura-pura?"


"Lah aku pulang magrib gitu loh, mana tau kalau bu kost nggak di rumah. Hm, aman berarti … sip deh!" sahut Kiran kegirangan. "Trus sekarang siapa aja yang di rumah?"


"Mak Tri aja! Makanya aku males kalau kamu tinggal kencan di luar!"


"Loh, mbak Emi nggak di rumah?" tanya Kiran.


"Aku lihat dijemput pacarnya tadi pas kamu mandi, paling-paling ya nggak pulang, maklum anak muda, mumpung bebas!" terang Septi frustasi. "Jam segini Mak Tri pasti udah tidur, duh sepi kost kita hari ini, bikin suasana tambah serem aja!"


Septi memijat kepalanya yang kadang masih berdenyut sakit. Bayangan kuntilanak di lantai atas belum hilang dari ingatannya. Rasanya baru kemarin dia mendengar tawa aneh tengah malam tak jauh dari kamarnya. Tawa yang akhirnya membawa Septi menginap dua malam di tempat budenya karena takut.


Siapa sangka hari ini pemilik tawa itu malah mewujud di depannya dengan rupa menakutkan?


Septi merasa semakin dihantui hal-hal ganjil yang seharusnya tidak terlihat. Bukan hanya di kost, tapi di kampus dia melihat kelebatan hitam di kamar mandi. Di gang masuk rumah budenya juga menemui penampakan kakek tua yang menghilang setelah menabrak dinding.


Walaupun Kiran hanya akan duduk-duduk di ruang tamu, tapi rasanya Septi tak ikhlas. Sisi hatinya enggan ditinggal sendirian di dalam kamar.


"Surya temen kita dari SMA, sama kamu juga udah nganggep adik. Kamu ikut nongkrong dia biasa aja! Nah Candra? Belum tentu dia suka aku ikut duduk jadi obat serangga kalian," tukas Septi berkeberatan dengan ide Kiran.


"Santai aja kali, Sep! Candra juga pasti paham!"


"Lihat nanti deh. Telepon gih biar cepet dateng! Udah mau jam sebelas ini, Ran!"


Kiran terkekeh, "Candra itu nggak punya ponsel, Sep! Aku telepon bisa-bisa yang bergetar dompetnya!"


Septi memicing tak percaya, "Kamu dikadalin itu, mana ada orang nggak punya ponsel di zaman modern begini? Trus kamu berhubungan sama dia pakai apa? Telepati?"


"Rumahnya nggak ada listrik, nggak ada sinyal juga karena pelosok, jadi buat apa dia punya ponsel?" Kiran menimpali sembari mengintip ke pintu keluar.


Septi terkejut, "Ya ampun … jadi Candra cowok desa?"


"Hm, rumahnya di lereng gunung," jawab Kiran cuek.


"Ckckck … sejak kapan selera kamu turun begitu, Ran?"


Kiran tertawa, "Sejak kenal Candra. Kamu belum lihat aja pacar ndesoku itu, Sep! Kalau udah lihat aku jamin kamu lupa sama Surya."


"Kamu beneran sukses bikin orang penasaran, awas aja kalau penampakannya nggak macho sesuai ekspektasiku!"


"Sengaja hehehe," kata Kiran dengan tawa meledek senang.


Menit berikutnya, perubahan hawa mulai terjadi. Cuaca yang semula dingin karena baru turun hujan sedikit menghangat. Baik Septi maupun Kiran merasakan merinding sejenak. Keduanya bahkan serentak mengusap tengkuk secara bersamaan.


Septi mengusap kedua lengannya, "Aku kok merinding, kenapa ya?"


"Mungkin karena hawa dingin, Sep!" Kiran menggosok kedua tangannya untuk membuang kengerian.


"Bukan, aku merasa ada yang aneh! Aku kenapa jadi peka sama hal beginian sih?" Septi mengeluh pelan, lalu menguap lebar.


Otaknya mengatakan ada kegaiban yang menyentuh udara di sekitar kostnya hingga terasa berbeda, lebih panas. Perubahan mendadak seperti itu disadari Septi setelah mata batinnya terbuka beberapa hari lalu.


Rasanya hampir sama dengan saat dia melihat kuntilanak di lantai atas, hanya saja sekarang komposisinya lebih berat dan menekan.


Sesuatu yang tidak bisa dinalarnya juga sedang terjadi. Kantuk hebat melanda tanpa bisa ditolak. Rasa sakit di pori-pori tubuh karena membaca kehadiran makhluk halus mulai tidak terasa, kalah dengan sirep yang bekerja bersama dengan kedatangan Candra.


"Kamu ngantuk?" tanya Kiran tak percaya. Septi bergerak menuju ranjangnya dengan ekspresi ingin tidur.


"Hm, aku sambil baring-baring aja deh! Nanti kalau Candra datang bangunin ya! Aku serius mau kenalan sama dia." Septi menata bantal dan mulai merebahkan tubuh. Detik berikutnya, mata Septi sudah terpejam rapat.


Bersamaan dengan hal itu, dering bel rumah berbunyi dua kali. Tamu yang ditunggu Kiran sepertinya sudah datang.


Kiran mengulum senyum sambil bergumam, "Better late than never!"


***