
Malam sudah terlalu larut ketika ayah Kiran sampai rumah. Pria paruh baya itu langsung masuk ke kamar putrinya setelah mencuci muka dan mengganti baju. Banyak hal yang ingin disampaikannya pada Kiran mengenai Candra.
Tak disangka pertemuan kedua dengan pak Subarkah membawa cerita lengkap tentang Candra dan masa lalunya yang memang ingin ayah Kiran ketahui. Pun membawa solusi keuangan yang sedang ruwet dipikirkan sejak dari keluar rumah.
Keputusan ayah Kiran untuk memberikan kebahagiaan pada putrinya sudah bulat, dengan cara membebaskan Kiran dari jerat pernikahan. Pria paruh baya itu akan membatalkan pernikahan Kiran dan menanggung resiko mengembalikan seluruh biaya yang sudah dikeluarkan keluarga Firman.
Ya, setelah obrolan panjang ngalor ngidul membahas pernikahan Kiran dengan pak Subarkah akhirnya mengerucut pada soal keuangan. Niat hati ayah Kiran hanya mengabari pak Subarkah dan mengundang untuk datang ke acara pernikahan Kiran malah melebar kemana-mana.
Pak Subarkah memang tidak bisa membantu Kiran agar bisa melupakan Candra. Beliau mengatakan walaupun isi kepala Kiran dimanipulasi untuk memikirkan orang lain, tapi tidak akan bisa mengalahkan kata hati Kiran sendiri. Gadis itu jatuh cinta pada Candra dengan sepenuh hatinya, bukan dengan pikirannya, sehingga menjadi kesulitan tersendiri untuk membelokkan hati Kiran dari Candra ke calon suaminya.
Memikirkan putrinya yang tidak bahagia dan mengalami tekanan batin hingga mengalami depresi, membuat ayah Kiran mengambil keputusan untuk menyelamatkan Kiran dari ikatan pernikahan. Bagaimanapun caranya.
Karena apapun bisa dilakukan seorang ayah demi melihat kebahagiaan anaknya. Bahkan jika itu harus dengan jalan menjaminkan diri sebagai tumbal pesugihan.
Kalimat sang istri yang merendahkan harga dirinya karena sudah tidak berpenghasilan menjadi salah satu pemicu bagi ayah Kiran untuk mengambil keputusan paling ekstrim dalam hidupnya. Selain untuk membebaskan Kiran dari garangan semacam Firman, dan membayar hutang yang menumpuk di koperasi tentunya.
Pak subarkah mengatakan selembar nyawanya akan digantikan dengan uang yang cukup banyak. Uang yang akan cukup untuk menghidupi istri dan anak semata wayangnya hingga sepuluh tahun ke depan.
Bagi ayah Kiran, kebahagiaan anak dan istrinya adalah prioritas, dan berkorban untuk mereka berdua bukanlah sesuatu yang memalukan.
Ayah Kiran mengetuk pintu kamar Kiran sebelum masuk, lalu menghampiri putrinya yang sedang duduk melamun memeluk lutut di tengah ranjang.
“Kiran … kamu belum tidur?”
Kiran menegakkan duduknya, “Aku menunggu bapak pulang.”
Ayah Kiran duduk di tepi ranjang, memandangi wajah kuyu anaknya. Lingkar mata Kiran menghitam, pipinya tirus dengan tulang pipi menonjol tajam, memudarkan kecantikan yang satu bulan lalu masih lekat di sana.
“Pak Subarkah titip salam untukmu, ini ada oleh-oleh dari beliau!”
Kiran menerima bungkusan kecil berisi serbuk berbau sedikit menyengat, seperti dupa melati. "Apa ini, Pak?"
“Taburkan di depan jendela agar kamu bisa bertemu Candra. Serbuk itu akan merusak pagar gaib rumah ini, itu yang disampaikan pak Subarkah! Candra akan datang menemuimu setelah pagar rumah ini terbuka!”
“Tapi kenapa aku harus bertemu dia lagi, Pak? Bukankah semua orang mengatakan kalau aku sebaiknya berpisah dengan Candra? Apa sekarang Candra ingin berpamitan? Untuk mengucapkan selamat tinggal karena aku akan menikah dengan Firman?”
Ayah Kiran tidak langsung menjawab pertanyaan putrinya, tapi berbicara hal lain lebih dulu. “Kamu tidak perlu menikah dengan Firman, Kiran! Bapak akan membatalkan pernikahanmu dan mengembalikan semua uang pak lurah besok. Kembalilah kuliah dan nikmati masa mudamu!”
“Tapi Bapak dapat uang darimana?” tanya Kiran tak bisa menyimpan rasa terkejut. "Bapak mau hutang sama pak lurah?"
“Itu urusan bapak dengan pak lurah. Kamu nggak perlu khawatir soal uang, Kiran! Kamu kuliah aja yang bener biar nanti dapat pekerjaan bagus kalau sudah lulus!” jawab ayah Kiran lirih. "Bapak usahakan kamu bisa kuliah sampai S2!"
“Gimana dengan Candra? Pak Subarkah ngomong apa soal hubunganku dengan anaknya?”
Kiran bernafas lega, senyumnya mengembang penuh rasa terima kasih pada ayahnya. "Jadi aku boleh kembali ke kost besok? Aku udah kangen banget sama Septi dan teman-teman kuliah!"
"Boleh!" jawab ayah Kiran mengelus kepala anaknya. Bahagia karena Kiran kembali tersenyum. "Biar bapak yang bicara pada ibumu nanti!"
Kiran tidak hanya merasa lega, tapi juga menaruh curiga dengan keputusan ayahnya. "Terima kasih, semoga ibu nggak marah karena nggak jadi besanan sama bu lurah!"
Masuk akal saja jika ayahnya membatalkan pernikahan agar Kiran tidak tertekan. Tapi dana yang harus dikembalikan ayahnya pada keluarga Firman tidak sedikit. Kiran tidak yakin ayahnya memiliki kemampuan menyelesaikan masalah itu tanpa bantuan seseorang.
Pak Subarkah adalah juru kunci pesugihan, dan ayahnya baru saja dari sana. Bukankah terlalu hebat jika ayahnya tiba-tiba membatalkan pernikahan Kiran dan sanggup mengembalikan uang Firman tanpa ada embel-embel persediaan uang?
"Ya sudah istirahat, besok bapak antar pulang ke kost!"
“Bapak minta bantuan pak Subarkah untuk mendapatkan uang dengan cara cepat?” tanya Kiran hati-hati. Sedikit tegang dengan kemungkinan itu.
Ayah Kiran tersenyum. “Pikirkan saja kuliahmu, Kiran! Biarkan bapak memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga tanpa harus menjelaskan apa-apa.”
“Tapi, Pak?!” protes Kiran cepat.
“Bapak cuma ingin kamu bahagia, Kiran!” tutur ayah Kiran lembut sambil kembali mengusap kepala putrinya. “Ayah mau istirahat dulu!”
"Iya, Pak." Kiran termangu menatap punggung ayahnya yang menghilang di balik pintu.
Setelah ayahnya menutup pintu dari luar, Kiran turun dari ranjang untuk menabur serbuk yang diberikan pak Subarkah di sekitar jendela. Kiran sudah tidak sabar bertemu Candra. Dia ingin tau banyak hal, sangat penasaran dengan apa yang sudah dilakukan ayahnya di rumah sang juru kunci.
Kiran merebahkan tubuhnya kembali setelah mondar-mandir tanpa ketenangan. Candra tak kunjung datang meski waktu sudah masuk tengah malam. Jendela kamar yang dibuka Kiran menghembuskan angin dingin yang membuatnya meremang.
“Candra?” Kiran berdesis menebak saat mendengar suara duk duk duk di pikirannya.
“Kiran ….”
Kiran memejamkan mata untuk menajamkan pendengaran. Suara mistis, berat dan seksi itu memanggil namanya dengan intonasi lembut. Detik berikutnya bau dupa kenanga santer tercium di dalam kamar.
Kiran sontak membuka mata, mengedarkan pandangan ke tiap sudut kamar untuk mencari sosok yang sangat dirindukannya. “Can … kamu dimana?”
Sial! Ingin rasanya Kiran memukul kekasihnya yang tidak segera muncul di hadapannya. Kiran turun dari tempat tidur, mendekati jendela dan menyibak tirainya lebar-lebar.
“Kamu ngapain di situ?” tanya Kiran kesal.
***