Candra Kirana

Candra Kirana
Wujud Asli



Candra undur diri karena Septi yang melihat wujud aslinya mendadak lemas seperti tubuh tak bertulang. Kekesalannya pada paranormal muda asal Jombang kembali menyeruak. Dukun sialan itu pasti sengaja tidak menutup mata batin Septi secara menyeluruh untuk mendapatkan momen itu.


Memedi penguasa lereng selatan gunung yang sedang menjelma menjadi dirinya sendiri itu menyeringai licik. Bambang boleh saja memakai jasa Septi untuk menyelamatkan Kiran. Tapi dia yakin, gadisnya itu tidak akan percaya dengan mata batin Septi, bisa jadi malah tidak akan pernah percaya lagi dengan sahabatnya di kemudian hari.


Kiran sudah setengah menjadi miliknya. Mata demit Kiran juga sudah melihat seluruh rakyatnya di lereng selatan. Kiran pasti lebih percaya pandangan dua alam matanya sendiri daripada orang lain.


Jika dukun sakti itu ingin menyelamatkan Kiran dan memisahkannya dari Candra, balasannya setimpal saja, Bambang juga dipastikan terpisah dengan anak istrinya, dengan cara yang sangat menyakitkan.


Candra mengusap pipi Kiran dan mengecup keningnya sebelum melangkah keluar pagar. Kiran dengan rasa keberatan melepas kepergian Candra yang beralasan tidak bisa lama karena niatnya hanya mampir untuk menjemput.


"Aku pulang sekarang, segeralah istirahat! Salam kenal buat Septi," pamit Candra.


"Hati-hati!" Kiran mengangguk lesu, rencananya untuk mengenalkan Candra pada Septi gagal lagi. Padahal dia sudah mendengar pintu samping dibuka, artinya Septi baru saja datang. Mungkin waktunya memang belum tepat.


Surya yang baru saja meletakkan belanjaan di kamar Septi berniat langsung pulang, ingin menyapa Kiran dan pacarnya terlebih dahulu sebagai salam perkenalan. Surya juga lumayan penasaran dengan pendaki yang sudah menggantikan posisi Dodi di hati sahabatnya yang manis itu.


Mendapati Septi yang terduduk lemas, membuat Surya panik. Satu tangannya langsung mencekal lengan septi, dan satunya menepuk pipi sambil mengusap mata Septi yang enggan berkedip. “Septi … kamu kenapa, Sayang?”


Septi mengangkat tangannya gemetar, menunjuk ke arah Kiran yang sedang menutup gerbang. Surya mengikuti arah pandang Septi, melihat kiran melambaikan tangan dan sedang tersenyum. Hanya saja Surya sama sekali tidak melihat orang yang baru saja diantar Kiran keluar gerbang rumah.


Surya memapah Septi untuk duduk di ruang terbuka, di depan kamar yang biasanya dipakai sebagai tempat makan pembantu rumah tangga. “Ada apa kok tiba-tiba lemes? Kamu sakit? Kiran kenapa?”


“Kiran … tolong Kiran, Sur!”


“Itu dia lagi ngunci pagar depan, ada apa sih?”


“Kamu lihat Kiran sama siapa tadi di ruang tamu?”


“Aku nggak lihat orang lain, Sep! Aku cuma lihat Kiran duduk sendirian, pacarnya aku nggak lihat,” jawab Surya serius. "Kenapa sih?"


“Dia itu mesra-mesraan sama pocong, Surya!” Septi menutup dua matanya, histeris lirih sambil mencengkram lengan Surya erat. “Trus memedi itu ngelihatin aku tadi.”


Surya terkesiap, tegang dan tidak bisa berkomentar apa-apa. “Maksudnya mata batin kamu masih terbuka? Kamu bilang seminggu ini nggak lihat penampakan satupun.”


“Iya aku emang seminggu ini udah nggak lihat apa-apa lagi, baru sekarang lihat ada penampakan. Aku curiga mas Bambang sengaja nggak tutup semua karena ada tujuan, kamu inget nggak dia bilang salah satu temanku butuh bantuan. Mungkin yang dimaksud mas Bambang itu Kiran, Sur!”


Surya menyalakan ponsel dan sedikit menjauh dari Septi saat Kiran datang, dia harus menanyakan perihal tersebut pada dukun muda itu. “Temenin Septi bentar ya, Ran!”


Kiran mengangguk, “Kamu kenapa? Kok kayak orang habis lihat setan, Sep!”


Septi menatap Kiran lama, memperhatikan raut pucat Kiran sebelum menjawab pelan. “Aku baru lihat penampakan.”


“Hah, dimana?” tanya Kiran ikut prihatin. “Bukannya mata batin kamu udah ditutup?”


“Aku baru aja lihat pocong, Ran!”


Kiran terkejut, “Astaga, pocong yang kapan hari kamu lihat di gang depan itu muncul lagi?”


“Di ruang tamu!” jawab Septi masih dengan mata yang terus saja memperhatikan Kiran. “Ini beneran kamu kan, Ran?”


Kiran seketika menggenggam tangan Septi, meyakinkan kalau itu memang dirinya. Dia ikut sedih Septi shock karena mata batinnya terbuka lagi. “Kamu serius? Ada aku sama Candra di ruang tamu tadi, masa iya itu pocong nungguin orang pacaran, iseng bener!”


“Kiran … pocong itu duduk tepat di sebelah kamu tadi!”


“Hah, jadi aku duduk di antara Candra dan pocong?”


“Aku nggak lihat ada Candra di ruang tamu, Ran! Aku cuma lihat kamu lagi duduk berduaan sama pocong itu, mesra-mesraan!”


Kiran membelalakkan mata, menatap Septi skeptis dan menuntut penjelasan yang lebih masuk akal. “Jangan ngaco kamu, Sep! Sumpah, becandaan kamu garing, nggak lucu dan bikin aku takut!”


“Aku serius, Kiran!”


“Maksud kamu aku pacaran sama pocong?” Kiran menggeleng, menolak pernyataan Septi dengan tegas. “Aku kenal keluarga Candra, Sep!”


“Buat apa aku berbohong, Kiran?” Septi hampir menangis saat kembali menjelaskan apa yang dilihatnya. Mulai dari Kiran yang duduk berhimpitan di ruang tamu, ciuman perpisahan saat pocong itu mau pulang, sampai Kiran yang bergelayut keberatan saat si memedi keluar pagar.


“Buat apa aku mengarang cerita, Septi?” Kiran tidak percaya dengan semua yang disampaikan Septi. Bisa saja sahabatnya frustasi karena mata batinnya mendadak terbuka lagi, sehingga berhalusinasi kalau Candra adalah pocong yang dilihatnya.


“Dimana alamat Candra, Ran?”


“Lereng selatan gunung, dia tinggal di kampung demit.” Kiran menjelaskan nama kampung disebut begitu karena berada di pelosok dan susah ditemukan.


Septi menggelengkan kepala, prasangka buruk memenuhi hatinya. Sahabatnya itu pasti sudah keblinger sama memedi gunung. Bukan hal baru bagi para petualang bertemu penghuni tempat yang mereka jelajahi. Beberapa hanya disesatkan, beberapa hilang dan beberapa menjadi gila karena trauma setelah mendapatkan pengalaman mengerikan saat sedang melakukan pendakian.


"Ran … kamu sadar nggak sih siapa Candra sebenarnya?"


Kiran tersenyum yakin, "Aku tau siapa dia!"


"Gimana kalau kita pergi ke mas Bambang untuk memastikannya?" ajak Septi menolak jawaban yakin Kiran.


Mendengar nama dukun sakti itu, nyali Kiran menciut. Suara panggilan mistis yang menggema dalam kepala masih saja mempengaruhi kinerja otaknya. "Mau ngapain aku kesana, Sep?"


"Buka mata batin kamu, biar kamu tau siapa pacarmu. Maaf bukan bermaksud menyinggung, tapi aku yakin aku nggak salah lihat, yang sama kamu tadi di ruang tamu itu hantu. Candra pasti bukan manusia, Ran!"


"Mataku bisa lihat demit, Sep! Aku sudah melihat banyak sekali penampakan di gunung, tak terhitung jumlahnya! Tapi aku tidak melihat Candra adalah bagian dari yang kulihat!" jawab Kiran marah dan sangat tersinggung.


Dia langsung meninggalkan Septi, masuk kamar dan mengunci diri di dalam. Kepalanya mau pecah merasakan emosi yang meluap-luap tak terkendali. Kiran merebahkan badan dan berselimut hingga menutup kepala. Berusaha tidur agar tidak semakin tersulut amarah.


Surya mendekati Septi setelah berbincang cukup lama dengan mas Bambang. "Gini … mas Bambang minta maaf sama kamu, dia berniat menolong Kiran lewat kamu. Kiran … memang terjerumus cinta beda alam sama penghuni lereng selatan gunung."


Septi terhenyak, "Trus gimana, Sur? Kita nggak mungkin bisa bawa Kiran ke mas Bambang walaupun dengan pemaksaan, masa iya kita buat dia pingsan."


"Memang nggak bisa, Sayang! Lagian bukan tanggung jawab kita untuk ikut campur urusan pribadi Kiran lebih jauh. Mas Bambang tetap nggak bisa mengulurkan tangan kalau kita yang meminta bantuan."


"Jadi gimana dengan Kiran?" tanya Septi tak bisa menahan sabar. "Kita nggak mungkin biarin teman kita kedanan demit, Sur!"


"Mas Bambang bilang kamu sebaiknya telepon keluarganya agar menjemput Kiran secepatnya. Kalau bisa hari ini juga. Tugas kita hanya menjaga Kiran tetap di kost sampai keluarganya datang!"


"Tapi gimana kalau aku ketiduran trus anak itu ngilang kayak minggu lalu!"


Surya berpikir sejenak, "Aku akan di sini sampai keluarga Kiran datang!"


"Baiklah, aku minta izin sama bu Andini kalau gitu, lebih bagus kalau mbak Emi dan mak Tri juga ikut andil berjaga-jaga. Kita begadang di ruangan ini aja biar bisa lihat Kiran keluar masuk kamar!"


"Oke, aku setuju! Kamu udah nggak apa-apa?" tanya Surya khawatir.


"Iya aku nggak apa-apa."


"Mas Bambang bilang kamu nggak bakal lihat penampakan lain selain Candra. Gimanapun kamu udah minum kopinya, jadi kamu nggak bisa lihat Candra di wujud jelmaannya. Mau nggak mau kamu hanya bisa lihat di wujud aslinya!"


Septi mengangguk sedih, bulu kuduknya meremang mengingat penampakan Candra yang sangat menyeramkan. "Ya ampun Kiran … kok bisa gini sih ceritanya! Kalau aku nggak lihat sendiri tadi itu gimana coba?"


Surya menggenggam tangan Septi, "Telepon ibu Kiran sekarang!"


***


^^^Hai kak, ^^^


^^^Sumpah puyeng plus ngakak kalau harus jawab komen soal anunya si ocong yang seabad lebih gak dipake. ^^^


^^^Intinya gini deh, mau itu memedi, jin, setan, demit dkk memiliki kehidupan dan peradaban seperti manusia di dunianya sana. Jadi sudah pasti mereka juga beranak pinak. Can-can tidak memiliki fisik manusia, tapi dia bukan makhluk mati, dia hidup normal di alamnya. Artinya kalau dia hidup, anunya juga hidup dan bisa digunakan wakakaka ^^^


^^^Entah siapa yang salah - Al^^^