
Kiran terkesiap, belum pernah sekalipun dia menyebutkan nama Candra pada dukun itu. Dugaan Kiran pasti Septi dan Surya yang sudah lancang bercerita mengenai urusan pribadinya.
Atau jangan-jangan mas Bambang memang kenal dengan Candra?
Gadis itu ingat kalau Candra juga menyebutkan nama dukun itu sesaat setelah Kiran bercerita tentang kepergiannya ke Jombang bersama Septi. Hanya saja Candra tidak mau mengakuinya waktu itu.
“Mas Bambang kenal sama Candra?” tanya Kiran pada akhirnya. Rasa penasaran selalu menjadi alasan utama yang mengusik pikirannya.
“Tidak bisa dibilang kenal baik, karena faktanya … Candra tidak menyukaiku!” jawab mas Bambang kalem.
Kiran mengamati ekspresi dukun muda di seberang meja, “Sepertinya mas Bambang juga tidak menyukai Candra!”
“Kami pernah terlibat urusan bisnis beberapa waktu lalu, sayangnya tidak ada kesepakatan untuk melanjutkan dalam bentuk kerja sama!” jelas mas Bambang gamblang. Jawaban yang membuat kedua orang tua Kiran terheran-heran.
"Oh begitu!" tukas Kiran datar.
“Ehm … Kiran sudah tau siapa Candra?” tanya mas Bambang hati-hati.
“Ya, aku kenal baik dengan Candra, tapi tentu saja tidak akan ada yang percaya denganku," jawab Kiran langsung pada pokok permasalahan. "Untuk apa aku dibawa kemari oleh kedua orang tuaku jika semua orang bisa melihat Candra seperti yang aku lihat?!”
Mas Bambang juga tidak ingin berbelit-belit menghadapi Kiran yang emosional. “Apa yang sudah kamu lihat di kampung demit lereng selatan gunung yang kamu daki, Kiran?”
Kiran menjawab ketus, “Beribu-ribu rupa memedi jika itu yang ingin mas Bambang dengar!”
“Candra adalah pemimpin mereka!” ucap mas Bambang datar. Intonasi suaranya tidak mengandung emosi sama sekali, tenang seperti air danau.
“Aku lihat mas Bambang juga memimpin makhluk halus dengan rupa-rupa buaya menyeramkan di sini. Aku bisa melihat mereka bertebaran di setiap jengkal tanah ini. Yang berada di belakang mas Bambang mungkin adalah raja para buaya, apakah mereka siluman?” Kiran menanggapi tak kalah datar. Dia tidak mau diintimidasi oleh dukun sakti yang menatapnya sambil tersenyum.
Mas Bambang berdehem satu kali sebelum melanjutkan obrolan dengan Kiran. Sungguh gadis itu lebih cerdik dari pada yang disangkanya. Mata batin Kiran yang sengaja dibuka untuk melihat wujud asli Candra justru sekarang menelanjangi dirinya sendiri.
“Aku manusia biasa, Kiran! Tidakkah kamu melihat perbedaan antara aku dan Candra?”
Kiran menyandarkan punggungnya di sofa dan menimpali malas. “Aku tidak melihat Candra sebagai memedi menyeramkan seperti yang Septi katakan!”
Ayah Kiran yang menyimak obrolan anaknya dengan sang dukun semakin bingung, begitu juga dengan istrinya. “Maaf menyela mas, tolong jelaskan kenapa Kiran tidak bisa melihat pacarnya dalam rupa memedi sementara dia bisa melihat seluruh lelembut di lereng gunung dan juga bisa melihat makhluk halus di sini?”
“Begini … Candra itu memedi sakti yang bisa beralih rupa menjadi manusia, Pak! Kiran tidak melihatnya sebagai pocong seperti yang Septi lihat karena ada sihir ilusi yang bekerja dalam pikiran Kiran. Candra memantrai Kiran agar tidak bisa melihat wujudnya yang asli, Kiran hanya akan melihat Candra dalam penampakan cowok ganteng seorang pendaki gunung!” jelas mas Bambang sembari menatap ke arah Kiran.
“Bukankah tugas mas Bambang membuktikan kalau Candra itu pocong gentayangan seperti yang Septi tuduhkan? Aku sudah nggak sabar melihat penampakannya yang menyeramkan itu!” ujar Kiran menantang.
“Kiran …!” tegur ibunya dengan wajah meminta maaf pada sang dukun.
Mas Bambang tetap tersenyum meski sekarang dengan sedikit kecut, Candra sudah mengambil langkah di depannya dengan membuat Kiran tidak takut dengan penampakan makhluk halus yang menyeramkan.
Namun, hal itu tidak menjadi masalah. Kiran akan berada dalam kuasanya karena kedua orang tua Kiran sudah meminta bantuannya. Mas Bambang akan memagari Kiran dan menyembunyikan Kiran dengan mantra saktinya.
Kiran tidak akan terjamah Candra sampai memedi itu mau membuat kesepakatan dengannya, yaitu menyerahkan pusaka penganten padanya.
Selanjutnya mudah saja bagi Bambang, jika pusaka bertuah itu sudah ada padanya, tidak akan sulit untuk menghapus Candra dari kekuasaannya. Candra tidak akan berkutik, Bambang tinggal menghabisinya dan Kiran selamat dari jerat cinta tak lazimnya.
“Berarti kamu sudah paham kalau pacarmu yang tampan itu bukan manusia?” tanya mas Bambang santai.
“Mau jadi apa kamu Kiran kalau sampai keterusan pacaran sama hantu?” Ibu Kiran ikut menekan anaknya.
Ayah Kiran bertanya pada putrinya dengan lebih lembut, “Kiran … bisakah kamu berpikir rasional? Bagaimana bisa manusia memiliki ikatan cinta dengan yang bukan manusia?”
Kiran memejamkan mata, dadanya berkecamuk sakit. Mulutnya masih ingin menyangkal semua kalimat dari orang-orang yang sedang mengadilinya. “Tunjukkan padaku semua bukti nyata kalau Candra memang bukan manusia!”
“Pernah satu kali di kampung demit,” jawab Kiran jengkel.
“Itu bukan siang hari di dunia manusia, Kiran! kamu dibawa masuk ke alam memedi oleh pacarmu tanpa kamu sadari. Kamu pikir kamu bisa melihat seluruh memedi dan aktivitasnya itu dimana kalau bukan karena kamu ada di alamnya?”
“Lalu bagaimana aku bisa melihat mereka yang ada di sini?”
“Kamu hanya melihatnya sepintas lalu, tidak seterang seperti saat kamu melihat memedi di kampung demit. Apa aku benar?”
Kiran menggeleng, “Aku pusing memikirkannya.”
“Kamu tidak boleh bertemu Candra lagi, Kiran!” kata ibu Kiran tegas.
"Candra salah apa sama ibu?" tanya Kiran dengan raut terluka.
"Dia demit, kamu manusia! Masih belum cukup kamu paham situasi genting ini? Kalau kamu meminta mas Bambang mewujudkan kekasih hantumu itu dalam wujud yang dilihat Septi … ibu minta kamu bisa tunjukkan pada ibu kalau dia manusia!" Ibu Kiran meringkas semua pembicaraan menjadi satu keputusan mutlak.
Memang terkesan kejam, tapi apalagi yang harus dilakukan untuk menyelamatkan anak perempuannya yang terkena sihir cinta makhluk halus?
Tidak! Kiran tidak terkena sihir ataupun mantra pengasihan Candra. Kiran menyukai pemuda itu dari dasar hatinya. Candra mungkin membohonginya dengan menampakkan diri sebagai manusia, tapi Kiran bisa merasakan kalau Candra juga memiliki rasa yang sama dengannya. Intinya, mereka memang terjebak cinta dua dunia.
Kiran mengangguk mengerti, air matanya tidak keluar, tapi hatinya teriris pedih. “Aku tau, Bu! Mas Bambang akan membantu ibu memisahkan aku dengan Candra.”
Kiran menatap ibunya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Pasrah dengan segala sesuatu yang akan mas Bambang lakukan untuk menghalau kedatangan Candra ke dunianya. Kiran hanya berharap bisa bertemu Candra sekali lagi, untuk menyatakan perpisahan.
Selanjutnya, kedua orang tua Kiran berbicara secara khusus dengan mas Bambang tanpa melibatkan Kiran. Mungkin membahas ritual atau langkah-langkah yang akan dilakukan untuk menangani kasusnya. Kiran sudah tidak begitu peduli lagi, hatinya terlampau sakit dan sedih.
Minuman berbau cengkeh yang diberikan mas Bambang dihabiskan Kiran dalam sekali minum. Kiran juga dimandikan ibunya di rumah itu dengan air yang sudah dimantrai dan dicampur serbuk bunga. Dan begitu semua ritual selesai, Kiran mulai lupa kalau memiliki hubungan cinta dengan Candra.
Kiran mengantuk dan akhirnya tidur di mobil dengan nyenyak. Tidur dilanjutkan di rumah sampai matahari benar-benar terbenam ke peraduan. Kiran membuka mata pada malam hari dengan pikiran sedikit lebih waras.
Suara perbincangan di ruang yang bersebelahan dengan kamarnya sungguh menarik perhatian. Bagaimana tidak, Kiran mendengar ayahnya berbicara soal mahar pernikahan dengan tamu?!
Ibunya ikut menyebutkan nominal uang yang cukup mencengangkan dengan suara ketus dan nada menghina. Kiran sungguh penasaran dengan suara lelaki tua yang dengan tenang menjawab semua pertanyaan ibunya.
Kiran mendengar ibunya menolak keras pinangan tamunya dengan alasan kalau anak gadisnya sudah dijodohkan dengan pemuda mapan, bahkan ibunya membawa-bawa nama pak lurah sebagai calon besan.
"Putri saya akan menikah, tidak akan lama lagi!" ujar ibu Kiran menutup penjelasan. Wanita yang melahirkan Kiran memilih pergi ke kamarnya setelah cukup bicara.
Sementara ayah Kiran terdengar bicara lebih tenang dan bijaksana. Hanya saja suara obrolan tidak bisa Kiran dengar dengan baik. Ayahnya bicara semakin pelan dengan tamunya.
Kiran tidak bisa menangkap maksud pembicaraan dari ruang tamu yang sekarang justru timbul tenggelam karena suara adzan isya. Mereka sepertinya sengaja mengecilkan volume suara karena membahas sesuatu yang tidak boleh didengar orang lain, termasuk ibu Kiran yang sudah masuk kamar.
Namun, Kiran tidak bisa menyimpan penasaran, kalau tidak bisa menguping lagi pembicaraan ayahnya, setidaknya dia tau siapa yang datang melamarnya!
Kiran membuka pintu kamar, alasan hendak buang air kecil karena baru bangun tidur sangatlah masuk akal nantinya. Kiran keluar kamar, melihat ke arah ruang tamu sebelum pergi ke belakang.
"Pak Subarkah?" Kiran terpekik, antara kaget bercampur senang.
***
^^^Hai kak,^^^
^^^Yang penasaran dengan pusaka penganten dan empunya silakan baca Selikur Lanjaran dan Satrio Pamungkas.^^^
^^^Happy maljum - Al^^^