
Jauh di lubuk hatinya, Kiran lega karena tidak lagi berhubungan dengan mas Bambang. Tapi sebagai gantinya, Kiran dihadapkan dengan paranormal-paranormal lain atas permintaan ibunya. Dia juga diharuskan berpindah-pindah tempat saat malam untuk menghindari kunjungan Candra.
Kiran mulai lelah ditangani banyak orang, juga lelah karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain selama tiga minggu terakhir. Lebih lelah lagi saat tau kalau semua usaha ibunya ternyata tidak berguna. Candra tetap bisa menemukan dirinya. Padahal, Kiran sudah disembunyikan dan dipagari dengan selubung pelindung gaib.
Hubungan Kiran dan Candra semakin dipersulit ibunya dengan menghadirkan Firman setiap hari. Kiran muak dengan solusi ibunya, mual dengan kedatangan Firman yang tidak tau waktu.
Hingga akhirnya Kiran memilih menutup diri, menyendiri. Kiran enggan berkomunikasi dengan orang tuanya lagi. Waktu Kiran dihabiskan hanya di dalam ruangan tempatnya disekap, dalam penjara gaib yang tak kasat mata, di kamar lain atau di kamarnya sendiri yang mulai terasa sepi.
Kiran meredam rasa sedihnya dengan menulis, memenuhi isi diary dengan cerita yang sama. Cerita yang mengisahkan awal pertemuannya dengan Candra, hingga cintanya yang mengharu biru sedalam Palung Mariana.
Selanjutnya, untuk makan sehari-hari Kiran harus dipaksa. Tubuhnya yang ramping berisi mulai kurus kering. Vitamin, jamu, obat dokter serta makanan enak yang diberikan ibunya seolah tidak bisa menolong selera makan Kiran yang hilang entah kemana.
Kiran semakin diam, tidak protes atau mendebat ibunya lagi. Pernikahannya dengan Firman sudah diatur secara matang oleh keluarga masing-masing. Kiran hanya bisa pasrah dengan hidupnya yang seolah tanpa nyawa.
Bagaimana tidak? Firman akan menjadi suaminya dua hari lagi. Kiran tidak akan tinggal satu provinsi lagi dengan kekasih hantunya. Setelah menikah, Kiran diharuskan ikut Firman ke kota lain oleh ibunya.
Kiran merasa terbuang, ibunya yang penyayang ternyata sama sekali tidak memperdulikan perasaannya. Bukan hanya menikahkan Kiran dengan garangan, ibunya ternyata juga ingin Kiran segera pergi dari rumah. Mungkin ibunya malu karena Kiran berpacaran dengan hantu.
“Kiran … bapak mau bicara!” Ayah Kiran mengetuk pintu pelan-pelan.
Kamar Kiran tak pernah dikunci lagi, sehingga orang tuanya bisa masuk sewaktu-waktu untuk melihat keadaan putrinya.
“Kamu belum makan dari kemarin, Kiran!” Suara ayah Kiran bagai angin lalu, berhembus dan menghilang begitu saja. Tidak ada tanggapan dari Kiran.
Sarapan yang diletakkan ibu Kiran di atas meja masih utuh, tidak ada tanda-tanda bekas disentuh apalagi dimakan. Pemandangan setiap hari yang membuat ayah Kiran terenyuh dan juga menangis dalam hati.
Kiran yang ceria dan banyak bicara sudah berubah total. Menjadi pendiam dan acuh dengan sekelilingnya. Wajah manis yang selalu tersenyum kini juga layu lesu, kuyu karena memendam rindu.
Ayah Kiran mengerti kalau putrinya sangat tertekan. Sebagian orang pintar malah mengatakan kalau jiwa Kiran sudah tidak ada di tubuhnya. Sakit cinta yang dialami Kiran sudah masuk dalam fase akut. Kiran sulit ditangani karena gadis itu menolak untuk sembuh, menolak untuk melupakan kekasih hantunya.
Pria paruh baya itu tidak yakin pernikahan Kiran akan menjadi obat dan bisa membawa kebahagiaan untuk putrinya. Terlihat dari gelagat Kiran yang masih saja tidak mau merespon kehadiran calon suaminya meski hari pernikahan sudah sangat dekat.
Sebelumnya, lamaran pemuda itu juga tidak ditanggapi sama sekali, Kiran bahkan tidak mau memakai cincin yang diberikan Firman sebagai ikatan pertunangan.
Kiran sedikitpun tidak tertarik dengan cincin mahal berwarna putih berukir nama Firman. Dia lebih menyukai cincin merah delima pemberian Candra. Cincin yang tidak pernah lepas dari jari manisnya sejak malam mistis di padepokan milik Ki Dalang.
“Kiran … makan dikit ya, Nak!” Ayah Kiran mengambil nasi dan menyuapkan satu sendok ke mulut Kiran. Putrinya itu hanya merespon dengan melihat sekilas, lalu menunduk lagi, melanjutkan menulis diary.
Kiran tidak lagi mengangkat wajahnya meski ayahnya berkali-kali memanggil namanya dan juga mengajak bicara. Kiran fokus pada tulisannya. Pada kalimat-kalimat yang mengungkapkan betapa dia sangat rindu pada sang kekasih. Betapa cinta sangat menyiksa hatinya, betapa dia tidak ingin berpisah dari Candra.
“Dimana rumah pak Subarkah, Nak?” tanya ayah Kiran parau. Pada akhirnya, pria paruh baya itu tidak tahan untuk tidak bertemu dan mencari solusi pada sang juru kunci.
“Kampung demit, lereng selatan gunung!” jawab Kiran lirih, masih tanpa mengangkat wajah. “Apa bapak mau ke sana?”
“Ya, bapak ingin bicara dengan ayah Candra!” Sang ayah mengusap kepala Kiran dengan perasaan campur aduk.
Kiran menatap sejenak wajah ayahnya, lalu beranjak untuk memeluk. Tak lama air mata Kiran tumpah, sedu sedan kepedihan terdengar menyakitkan di telinga ayahnya, menyayat hati dan merajam ego pria yang sangat menyayangi putri satu-satunya.
Pelukan yang cukup lama itu akhirnya terurai, Kiran melepas ayahnya dengan sedikit kegembiraan. Meski belum tau niat ayahnya pergi menemui pak Subarkah, tapi Kiran merasa akan mendapatkan titik cerah dalam hidupnya yang tak lagi bergairah.
“Bapak mau kemana kok tumben minta uang agak banyak?” tanya ibu Kiran curiga. Ayah Kiran sudah rapi saat menemuinya di dapur.
“Aku mau ke kampung demit!”
“Bapak mau menemui juru kunci yang dulu kesini? Buat apa? Pernikahan Kiran nggak ada hubungannya dengan kuncen itu! Jangan membuat masalah di hari bahagia Kiran, Pak!”
“Kiran sama sekali nggak bahagia dengan rencana pernikahannya, Bu! Kamu nggak kasihan dengan kondisi anakmu yang semakin memprihatinkan?”
“Pak, aku ini ibunya, aku pasti tau apa yang sedang dialami anakku! Aku menikahkan Kiran biar dia bahagia, sembuh dari luka hatinya karena kehadiran seorang suami. Aku yakin Kiran pasti lupa dengan memedi itu setelah mendapatkan perhatian penuh dari Firman. Apalagi mereka tinggal di luar kota, Kiran bakal sibuk dengan rumah tangganya, sibuk belanja, ke salon, arisan dan kegiatan perempuan lainnya.”
Ibu Kiran tersenyum bahagia, “Belum lagi ditambah kesibukan mengurusi usaha kopi mereka … intinya Kiran akan disibukkan dengan uang suaminya yang berlimpah. Bapak tau kan, uang dan kesibukan adalah obat! Dua hal itu yang akan mengalihkan dunia Kiran! Lalu siapa yang menyediakan dua hal itu? Firman, Pak! Aku sangat yakin Kiran akan jatuh cinta pada suaminya setelah dimanjakan dengan harta.”
Ayah Kiran mendengus malas, teori istrinya dianggap terlalu sempurna. “Kalau kamu memang ibunya, harusnya kamu mengenal Kiran dengan baik. Dia akan mati menderita jika pernikahan ini tetap dilanjutkan!”
Dengan suara dingin, ibu Kiran menanggapi, “Sudah tidak ada waktu untuk membatalkannya! Mahar pernikahan yang diberikan Firman sudah kita terima. Biaya yang keluar untuk mempersiapkan ini semua juga tidak sedikit. Bapak bisa mengembalikan semua uang pak lurah yang sudah masuk ke kita? Bapak sudah pensiun, toko sembako kita juga tidak seberapa penghasilannya, apa yang mau dipakai buat bayar ganti rugi kalau pernikahan Kiran dibatalkan, Pak?”
“Kalau kamu nggak materialistis nggak akan begini jadinya! Kamu terlalu silau dengan uang Firman hingga mengabaikan perasaan Kiran!” bentak ayah Kiran kecewa.
Ibu Kiran tak mau kalah, suaranya terdengar ketus ketika menyahut, “Bapak sudah hitung berapa jumlah yang sudah kita keluarkan untuk menyembuhkan Kiran? Jumlahnya tidak sedikit, Pak! Hutang kita di koperasi banyak, sudah nyekik leher! Kalau aku nggak menikahkan Kiran dengan Firman, siapa yang akan melunasi hutang-hutang itu nanti?”
“Aku berangkat sekarang,” kata ayah Kiran kesal. Menghentikan perdebatan yang tidak akan ada habisnya jika diteruskan. Uang adalah materi paling sensitif jika dibicarakan dengan perempuan. Terkhusus istrinya.
***