
Sudah tiga minggu berlalu sejak Kiran dicumbu mas Bambang di padepokan. Tapi Kiran masih saja kesal jika ingat mimpi erotisnya itu. Mau dibilang bukan mimpi kejadian itu sangat nyata di ingatannya. Mau dibilang nyata tapi tidak bisa dibuktikan kebenarannya.
Kiran masih tak habis pikir, saat mas Bambang pergi dari kamarnya waktu itu, dia mendadak bangun dari tidur lelapnya. Dan Kiran murni mendapati dirinya hanya sendirian di atas ranjang, pintu kamar sudah dipastikan masih terkunci dari dalam.
Kiran akhirnya menebak kalau mimpinya adalah permainan yang sengaja dilakukan oleh sang dukun. Pria itu sakti, bisa melakukan apa saja terhadap dirinya seperti yang pernah dikatakan Candra. Termasuk membuatnya tak sadar dan memberikan mimpi manis yang tidak seharusnya.
Meski tak sampai melakukan penyatuan badan, meski semua hanya terjadi dalam dunia tanpa kesadaran, tetap saja Kiran geram dengan kelakuan curang mas Bambang.
Tega-teganya orang yang dipercaya untuk mengurusi masalahnya malah mengambil kesempatan dengan mencumbu di bawah alam sadarnya. Pakai acara bilang mau menikahi segala. Cih, lagian siapa yang sudi jadi istri kedua mas Bambang?
Kiran sungguh menyesal pernah mengobrol iseng dengan bapaknya soal menjadi istri muda sang dukun. Saat itu mungkin lucu, tapi sekarang malah menyeramkan untuk dibicarakan. Kiran tidak mau lagi membayangkan melayani dukun ganteng itu di atas ranjang.
Kiran meraba bibir dan juga lehernya dengan perasaan jijik. Terluka karena mas Bambang sudah menyentuhnya tanpa izin. Untungnya mimpi erotis itu tidak pernah terulang lagi, sehingga Kiran bisa sedikit menyingkirkan bayangan mas dukun dari pikirannya.
Namun, siksaan lain justru datang dari hubungannya dengan Candra yang semakin jauh dan menyedihkan. Kekasih hantunya itu tidak lagi mengunjunginya secara nyata seperti sebelumnya.
Kiran mengerti, bukan hal mudah bagi Candra untuk selalu menemuinya sekarang. Dia ada dalam penjara gaib penuh doa dan ilmu-ilmu kesaktian. Ibunya gencar mencari pengobatan untuknya melalui tangan-tangan selain mas Bambang. Baik yang bergelar paranormal hingga pemuka agama.
Sejak anaknya mengalami kejang dan sakit parah tanpa sebab medis, Bambang memang pamit undur diri untuk tidak lagi mengurusi masalah Kiran. Pria itu mendadak disibukkan dengan putranya yang masih sering kejang kumat-kumatan setiap malam.
Pertarungan Bambang dengan Candra mungkin sudah selesai saat malam dimana dukun muda itu berusaha menyentuh Kiran. Tapi sayangnya, efek sihir memedi yang ditanam Candra pada anak Bambang masih membawa dampak buruk hingga sekarang.
Bambang bukannya tak mencari pertolongan ke sesama paranormal atau guru-guru spiritual lain, tapi penyembuhan anaknya memang butuh waktu. Mengangkat cairan memedi yang sudah masuk ke tubuh manusia bukanlah perkara mudah, apalagi jika media itu disertai dengan mantra sihir tingkat tinggi.
Butuh setidaknya 40 hari untuk membersihkan tubuh anaknya dari air liur pocong. Terlebih cairan mistis itu adalah milik sang raja memedi. Bambang sungguh menyesal, seharusnya dia tidak teledor, apalagi lupa kalau Candra adalah memedi dengan ilmu sihir tingkat tinggi di dunianya.
Lebih menyesal lagi karena bukan hanya putranya yang diganggu Candra, istrinya yang cantik juga jadi sasaran utama, hingga harus kembali mengalami trauma berat.
Malam ketika Bambang melepas mantra pelet birahi untuk Kiran, rumahnya yang berpagar gaib diserbu oleh sing mbaurekso yang sudah lengser keprabon dengan jumlah pasukan yang cukup besar.
Setelah itu, istri Bambang yang cantik juga menjadi bulan-bulanan para memedi berbentuk pocong. Tyas ditakut-takuti, ditelanjangi, digerayangi dan hampir diruda paksa sejumlah pocong dengan wajah paling mengerikan jika sing mbaurekso lama tidak menghentikan anak buahnya.
Para memedi bubar meninggalkan rumah Bambang yang porak poranda dan anak istrinya yang histeris ketakutan seperti orang gila. Penjaga rumah menjadi satu-satunya orang waras yang bisa menenangkan Tyas agar bisa menghubungi Bambang yang masih sibuk di padepokan Ki Dalang.
Di saat yang sama, Ki Dalang dan saudara-saudara seperguruan Bambang ternyata tidak mampu menghadapi Candra dan pasukan memedinya. Apalagi sing mbaurekso lama bergabung dengan raja memedi itu setelah mengacaukan rumah Bambang.
Jelas saja, tidak ada orang yang tidak pingsan dan muntah darah di dalam padepokan. Sementara buaya siluman yang disiagakan untuk melawan dua pentolan memedi dan ribuan pasukannya kocar-kacir tak tentu arah. Lari menyelamatkan diri sebelum mati dihajar para memedi.
Kiran pulang ke Mojokerto bersama ayahnya setelah subuh, bersamaan dengan semua orang padepokan yang dilarikan ke rumah sakit karena butuh perawatan medis. Darah membanjir dimana-mana meski tidak ada korban jiwa.
Kiran yang tidak mengerti apa-apa hanya membisu saat ayahnya bertanya. Begitu juga sebaliknya, ayahnya hanya menggeleng ketika Kiran butuh penjelasan. Mereka berdua benar-benar seperti orang bodoh saat keluar dari padepokan Ki Dalang.
"Kita pulang sekarang saja, Kiran!" ajak ayah Kiran yang masih tak paham dengan kekacauan yang terjadi dalam padepokan.
Kiran menyetujui, "Dari tadi mas Bambang kok nggak kelihatan ya, Pak? Kenapa di saat semua orang sibuk, dia malah menghilang?"
"Katanya balik ke rumahnya, anaknya mendadak sakit!" jawab ayah Kiran dengan suara yang hanya bisa didengar mereka berdua.
"Apa mas Bambang juga terluka seperti yang lain?"
"Bapak nggak tau, Kiran!"
Obrolan singkat tersebut menjadi hal terakhir yang dibicarakan Kiran dan ayahnya mengenai sang dukun muda.
***