
Siapa yang bakal mengira, Kiran akan pergi meninggalkan dunia menjelang hari bahagianya? Apalagi dilakukan dengan sengaja, hanya dengan seutas kabel yang besarnya tak lebih dari jari manusia dewasa.
Penyesalan dan rasa bersalah menghantui ibu Kiran. Wanita yang melahirkan Kiran itu menduga, putrinya mengakhiri hidup karena terlalu banyak mendapatkan tekanan dan pemaksaan cinta.
Sejatinya ibu Kiran tahu kalau putrinya sama sekali tidak menyukai calon suaminya, Firman.
Namun, ego sebagai orang tua ingin pernikahan Kiran dan Firman tetap dilaksanakan. Karena ibu Kiran berharap putrinya mendapat kehidupan yang lebih enak dan layak dengan menikahi orang kaya. Alasan lain tentu saja agar Kiran bisa cepat lupa dengan kekasih hantunya.
Tangis ibu Kiran belum berhenti meski jasad Kiran sudah dikebumikan. Air mata seolah tak ingin berhenti membasahi pipi. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, ibu Kiran akan menuruti ide suaminya untuk membatalkan pernikahan putrinya. Tapi sekali lagi, nasi sudah menjadi bubur.
Ibu Kiran meratap di dalam kamar putrinya, membaca berlembar-lembar tulisan Kiran yang hanya berisi ungkapan rindu dan kepedihan karena takdir cinta beda alam. Ah … penyesalan memang selalu datang terlambat! Dukungan yang diharapkan Kiran dari ibunya tertulis jelas di buku harian sebagai sebuah kemustahilan. Kalimat yang sangat menyakiti hati ibu Kiran.
Ya, Kiran pergi karena tidak ada yang mengerti dirinya di dunia ini. Tak terkecuali orang tuanya! Jika sudah begitu, kemana Kiran akan mencari perlindungan dan kenyamanan di dunianya?
Kiran memang sebaiknya pergi. Setidaknya, ada kebahagiaan dan cinta yang bisa diraihnya bersama Candra, meski itu harus berada di dunia lain yang jauh dari keluarganya.
Meski tak bisa terlihat oleh orang tuanya, Kiran berjanji akan tetap mengunjungi mereka setiap malam Selasa Kliwon. Memantau dari jauh kehidupan orang tuanya, melepas rindu yang mungkin akan selalu ada, memastikan dua orang yang disayanginya tetap hidup layak dan bahagia tanpa dirinya.
Ibu Kiran menjerit, histeris saat membuka lemari pakaian putrinya. Niatnya membereskan baju-baju Kiran terhenti seketika. Bagaimana tidak? Lemari Kiran penuh dengan uang.
Ayah Kiran datang tergopoh-gopoh. Pertengkaran tak terelak, ibu Kiran menuduh suaminya menjual putrinya sebagai tumbal pesugihan pada juru kunci yang kemarin dikunjunginya. Caci maki keluar menghujat pria yang menikahinya berpuluh tahun lalu, dan setelah puas berbicara kasar … ibu Kiran pingsan di pelukan suaminya.
Padahal, uang itu adalah mahar pernikahan dari Candra. Tapi siapa yang tau? Uang datang tidak dengan penjelasan! Jumlahnya pun sangat banyak, berkali-kali lipat dibandingkan dengan dana pernikahan yang diberikan Firman dan keluarganya.
Sangat berlebih kalau hanya untuk membayar hutang di koperasi, juga untuk mengembalikan uang pak lurah dan anaknya. Orang tua Kiran bahkan bisa hidup enak di masa tuanya.
**
Konon, lereng selatan gunung adalah tempat yang tenang dalam kurun waktu satu abad lebih. Banyak pula yang mengatakan kalau kampung demit sudah tidak seangker dulu.
Di waktu lampau, suara mistis kerap terdengar dari lereng selatan gunung. Beberapa berupa suara lolongan kematian, sebagian hanya seperti suara riuh pasar di tengah malam, sesekali berupa suara gamelan.
Suara misterius seperti itu sudah lama berlalu, tidak ada lagi warga sekitar yang mendengar suara aneh dari lereng selatan. Keangkeran kampung demit seolah tenggelam oleh cerita-cerita lain yang berfokus pada manusia pencari kekayaan. Tentang pesugihan.
Namun, alunan gamelan dari alam gaib itu kini terdengar lagi, beberapa malam, berturut-turut. Mbah Wiro sebagai orang yang bisa melihat kehidupan lain di lereng selatan mengatakan kalau sedang ada hajatan besar di keraton lelembut penghuni gunung.
Tidak bisa dibuktikan kebenarannya, tapi sebagian orang memilih percaya saja dengan ucapan orang tua yang memang mengenal dunia mistis lebih baik dari pada yang lain.
Atas permintaan mbah Wiro, warga sekitar diminta untuk membuat sesajen sebagai sesembahan. Labuhan gunung dipimpin langsung oleh beliau, selain untuk menjauhkan balak juga untuk mendapatkan lebih banyak berkah dari gunung saat musim panen sayuran.
Bukan hanya warga desa yang tinggal di sekitar lereng selatan yang sibuk ketakutan karena hajatan pernikahan sing mbaurekso. Pendaki yang sedang berada di atas gunung pun dibuat bingung dan ngeri dengan suara gamelan yang sayup-sayup terdengar saat malam.
Akhirnya, Mereka juga dihimbau untuk meninggalkan makanan atau koin di tempat yang dikeramatkan, sebagai sesembahan agar selamat selama pendakian. Lalu berita mistis itu menyebar ke seluruh penjuru hingga terdengar oleh Surya dan Septi. Dan mereka pun ingin membuktikan kebenaran tersebut dengan mendaki.
Di kamar sang raja, Kiran berdiri di balkon menatap keriuhan pesta pernikahannya yang baru saja selesai. Dia juga sudah disahkan sebagai ratu, ibu dari seluruh memedi penghuni lereng selatan gunung.
Candra memeluk Kiran dari belakang, menyandarkan dagu di atas rambut sang permaisuri. Ikut menikmati pemandangan pesta yang seolah tidak ada habisnya. Bangga dengan antusiasme rakyatnya yang datang berbondong-bondong untuk menyaksikan pernikahannya, sekaligus menyambut kedatangan sang ratu yang berasal dari dunia manusia.
“Gimana kalau pijet-pijetan dulu? Aku agak capek!” kata Kiran dengan senyum dikulum.
“Aku akan memijatmu!” jawab Candra singkat. Satu kecupan mendarat di hidung Kiran. Spontan saja, Candra mengangkat Kiran ke dalam gedongan, hingga Kiran segera menyeimbangkan diri dengan merangkul leher suaminya.
Dengan iseng Kiran mengecup leher Candra yang posisinya memang dekat dengan bibirnya. “Pijat plus-plus?”
Candra terkekeh, Kiran selalu saja menggoda dengan kata-kata nakal pembangkit gairah. Candra menyukai hal kecil seperti itu, ungkapan yang menyatakan betapa Kiran sangat menginginkan tubuhnya, sentuhannya, cintanya.
“Ya, aku rasa sudah saatnya kita mulai membuat bayi, aku ingin melihat ada banyak anak kecil melompat-lompat meramaikan tempat ini. Bukankah istana ini terlalu besar jika hanya kita berdua yang menempati?” Candra menurunkan Kiran di atas ranjang besar, mengungkungnya dengan pelukan.
“Kita memang akan menjadi orang tua, Yang Mulia Raja!”
Candra langsung meregangkan pelukan untuk duduk, menyingkap baju tidur Kiran dan mengusap perut yang masih rata tanpa ada tanda-tanda kehamilan.
“Kamu … hamil?” tanya Candra dengan raut takjub. Matanya mematri Kiran yang juga sedang menatapnya dengan sedikit gelisah.
“Apa itu masalah?” tanya Kiran balik bertanya, matanya menyipit karena ekspresi Candra seperti orang yang sedang terheran-heran. Kiran takut Candra tidak mau mengakui kalau janin itu adalah anaknya.
Lagian siapa yang akan percaya kisah manusia dihamili oleh memedi?
Candra tertawa kecil sebelum mencium perut Kiran, “Sama sekali bukan! Kita justru akan memiliki anak yang istimewa, sangat istimewa! Untuk itu aku akan mendidiknya sejak dini agar bisa menjadi pemimpin yang luar biasa. Karena dia akan lebih berkuasa daripada ayahnya pada saatnya nanti.”
Menghamili Kiran adalah hal yang sangat bisa dilakukan Candra. Dia memiliki ilmu untuk menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin pada wanitanya. Walaupun yang terjadi pada Kiran sekarang hanyalah suatu kebetulan.
Kiran lega, Candra menerima kabar kehamilannya dengan bahagia. Tidak salah jika Kiran memutuskan untuk pindah dimensi dan menjadi istri Candra, karena Firman tidak mungkin menerima kondisinya yang tidak biasa itu. Kiran juga tidak mungkin mempermalukan orang tuanya dengan jujur mengatakan bahwa dia tengah hamil anak Candra, kekasih hantunya.
Bisa-bisa orang tuanya, juga warga satu kampung menganggapnya gila dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Tidak akan ada yang percaya dengan cerita mistisnya. Kiran malah akan dianggap menyembunyikan identitas pria yang telah menghamilinya.
“Aku harap dia tampan seperti ayahnya,” kata Kiran sambil menahan geli di perutnya. Candra masih terus saja menciumi calon anaknya.
Candra menyahut jenaka, “Ya iyalah, bapaknya ganteng gini masa anaknya nggak!”
Kiran menarik wajah Candra agar menciumnya. "Bolehkah aku minta sesuatu sebagai hadiah kehamilanku ini?"
Candra mengecup sekilas bibir ratu hatinya, “Katakan, aku akan mengabulkan apapun yang kamu inginkan!”
“Aku ingin bulan madu sederhana, sama persis saat awal kita jumpa, kamu memakai setelan petualang, jaket flanel kotak-kotak merah hitam, bandana merah, celana gunung. Tapi aku mau kamu tidur satu tenda denganku, di negeri atas awan!”
“Bakar jagung? Kopi pahit? Nasi tumpeng? Tidak ingin yang lain?”
“Yang lain? Apa ya … bagaimana jika bercinta di tenda nanti?” tanya Kiran nakal. Tangannya sudah mulai bekerja membuka kancing piyama Candra, menggerayangi dada hingga perut sang raja yang telah menghamilinya.
Candra membiarkan Kiran menelanjanginya, menyentuh seluruh tubuhnya dengan mesra, dengan penuh gairah, lalu mendominasi dan menunggangi dirinya dengan gaya lady on top.
***