Candra Kirana

Candra Kirana
Aku Akan Merindukanmu



Di dalam kamar, Kiran tidak sedetikpun tidur, mungkin karena seharian penuh dia sudah terlelap sehingga malam tidak bisa lagi terpejam. Kemarahannya pada Septi sedikit mereda, berubah menjadi rasa gelisah yang sangat mengganggu hati dan pikiran.


Rebahan menghadap kiri salah, kanan salah, hanya telentang juga tidak enak. Dibawa duduk kepalanya nyeri seperti mau pecah.


Kiran memijat pelipisnya, berpikir keras, apa yang disampaikan Septi soal penampakan mungkin bukan omong kosong, tapi pocong itu jelas bukan Candra. Mereka berdua bisa saja ada dalam satu ruangan yang sama, dan karena Septi sedang kaget makanya dia menganggap Candra adalah bentuk yang sama dengan memedi putih tersebut.


Melihat ekspresi ketakutan Septi, Kiran sungguh merasa tak nyaman. Sahabatnya itu pasti mengkhawatirkannya. Harusnya Kiran memang lebih memahami Septi yang sedang frustasi karena pandangan dua alamnya yang terbuka lagi. Tapi Kiran terlanjur kesal karena Septi menuduhnya berpacaran dengan memedi.


Kiran enggan keluar kamar, tapi kepalanya yang berdenyut sakit tak kunjung mereda meskipun sudah diberi obat pereda nyeri. Dia perlu ke dapur karena satu-satunya yang terpikir untuk mengurangi rasa sakit kepala adalah dengan minum kopi.


Kiran keluar kamar, ke dapur untuk menyeduh sisa kopi yang dulu diberikan Candra padanya. Kiran tak peduli, di depan kamarnya, Septi dan empat orang lainnya menatap dan memperhatikan langkahnya dari mulai pintu terbuka hingga tertutup lagi.


Kopi hitam Kiran sengaja dibuat tanpa gula, dia juga segera meminumnya dengan cara menuangkan lebih dulu di atas cawan. Rasa hangat turun ke perut dan menyebar ke seluruh tubuh. Dengan cepat nyeri kepala Kiran berkurang dengan signifikan sehingga dia bisa beristirahat dengan lebih nyaman.


Merasa matanya semakin berat, Kiran menarik selimut untuk melelapkan pikirannya yang kacau. Hanya saja ketukan di pintu kamar secara terus menerus mengganggu pendengarannya. Seseorang yang memanggil namanya juga tidak terdengar seperti Septi, tapi lebih mirip suara ibunya.


"Kiran, Kiran …!"


“Ibu?” tanya Kiran dengan wajah terkejut. Pintu kamar dibukanya lebar. Tidak biasanya ibunya datang ke kost di waktu sebelum subuh. Ayah Kiran juga berdiri di depan pintu, memandangnya dengan penuh penyelidikan. “Bapak? Ayo masuk!”


Ibu Kiran tersenyum sedih menatap wajah pucat anaknya, lalu dengan penuh sayang memeluk Kiran yang masih kebingungan. “Ibu datang untuk jemput kamu. Kita pulang ke Mojokerto sekarang, kamu sakit, kan?”


“Di sini nggak kekurangan dokter praktek, Bu! Kenapa harus berobat di rumah?” Kiran terheran-heran, dia hanya sakit kepala dan orang tuanya datang dengan ekspresi sepanik itu.


“Septi bilang sakitmu agak parah, lihat ini lingkar mata menghitam, wajah pucat dan badanmu dingin begini! Kamu pasti bukan hanya sakit medis saja!”


Begitu mendengar nama Septi disebutkan ibunya, Kiran langsung menebak kalau Septi bukan hanya mengabarkan kalau dirinya sakit, tapi juga bercerita apa yang dilihatnya di ruang tamu sewaktu bersama Candra.


“Cuma demam biasa, udah minum obat, nanti juga sembuh! Septi bilang aku sakit non medis?”


“Kalau cuma demam kamu nggak akan sepucat ini. Ibu khawatir, di sini kamu nggak ada yang merawat kalau ditinggal Septi kuliah, ibu jelas nggak mungkin ikut tinggal di sini, kan? Ayo ibu bantu beresin baju dan perlengkapan yang mau kamu bawa pulang,” usul ibu Kiran dengan unsur paksaan. "Medis atau non medis nanti biar dilihat sama ahlinya!"


“Septi cerita apa saja, Bu?” tanya Kiran penuh selidik. Marah yang tadi sempat mereda kembali memenuhi hatinya. Sebagai sahabat, Septi sudah keterlaluan padanya. Berani menghubungi orang tuanya tanpa sepengetahuan Kiran. Dan Kiran yakin ibunya datang untuk membawanya pulang karena lebih percaya ucapan Septi dari pada putrinya sendiri.


"Kiran … nggak perlu marah sama Septi, dia khawatir sama kesehatan kamu! Sekarang coba jelaskan sama ibu, kemana kamu selama seminggu ini, trus pulang ke kost dalam keadaan sakit?"


Kiran bingung mau menjawab apa, mustahil jujur pada ibunya kalau dia pergi ke rumah pacarnya, main kamar-kamaran di sana hingga selaput perawannya hilang.


"Nyepi di gunung, Bu!" jawab Kiran tak berani menatap mata ibunya.


"Dengan pacar barumu?" pertanyaan ibunya serasa menohok batin Kiran yang sedang tidak ingin membahas Candra.


Ayah Kiran yang duduk di tepi ranjang menjawab pertanyaan putrinya dengan wajah serius. "Bapak ingin ketemu pacarmu, Kiran! Suruh dia datang ke Mojokerto kalau memang dia pemuda beneran!"


"Maksud bapak apa?" tanya Kiran menahan air mata.


"Kalau dia manusia, dia pasti bisa membuktikannya!" jawab ayah Kiran datar. "Sekalian kita buktikan kebenaran cerita Septi!"


Tidak pernah sedikitpun dalam bayangan ayah Kiran kalau putrinya akan terjerat pesona makhluk halus penghuni gunung. Kalau Septi tidak membawa-bawa nama Bambang ketika bertelepon, mungkin ayah Kiran juga tidak akan percaya.


Ayah Kiran memang belum pernah bertemu dengan paranormal muda asal Jombang tersebut, tapi dari cerita tetangga dan teman yang pernah pergi menyelesaikan masalah kehidupan ke sana, dukun itu dianggap cukup mumpuni dan sakti. Septi mengatakan sudah berdiskusi dengan Bambang sebelum mengabari orang tua Kiran.


"Kamu bisa kirim pesan untuk pacarmu sekarang, dia bisa datang bersama orang tuanya sebagai pembuktian! Besok atau lusa, bapak tunggu di rumah Mojokerto!" sambung ayah Kiran bijak.


Kiran menelan ludah kasar, kedua orang tuanya benar-benar sudah termakan cerita Septi. Ayahnya jelas menganggap Candra tidak bisa datang ke Mojokerto, makanya berani menantang. Tapi Kiran juga tidak bisa menyuruh Candra datang, pacarnya tidak bisa dikirimi pesan cepat.


Haruskah Kiran menulis surat untuk Candra? Atau menitip pesan pada Septi jika Candra datang ke kost untuk mencarinya?


Kiran menggeleng penuh kepedihan. Sebagai anak, Kiran tidak bisa menolak kehendak orang tua yang akan memboyongnya pulang. Dia tetap harus menurut agar masalah segera selesai. Dan meski hatinya sangat mendongkol, akhirnya Kiran membantu ibunya memberesi pakaiannya.


Septi, Surya dan juga ibu kost hanya bisa menatap ngilu ketika orang tua Kiran pamit. Berkebalikan dengan Kiran yang pergi mengekori kedua orang tuanya tanpa sedikitpun menoleh. Wajah pucat Kiran berekspresi dingin dan sangat tidak bersahabat.


Sebelum Kiran keluar pagar, Septi berlari mengejar. “Kiran … aku minta maaf! Aku tidak bermaksud tidak percaya padamu, aku melakukan ini untuk kebaikanmu. Kalau nanti Candra datang mencarimu ke sini, aku akan memberikan alamat rumahmu!”


“Tidak perlu!” jawab Kiran ketus, tanpa mau melihat Septi sedikitpun.


“Maafkan aku, Kiran!” ujar Septi lirih.


Kiran tidak menggubris ungkapan sedih Septi. Dia masuk ke dalam mobil secepat mungkin untuk menghindari pembicaraan dengan sahabatnya.


Di dalam mobil, Kiran duduk gelisah. Kedua orang tuanya lebih banyak berdiskusi sendiri setelah bertanya hal-hal dasar yang sulit dijawab Kiran. Rasa bersalah karena tidak bisa jujur menghantui hati kecilnya.


Kiran tidak bisa berbuat banyak, ketidakjujurannya dilakukan untuk melindungi hubungannya dengan Candra. Selama dia tidak melihat sendiri dengan kedua mata apa yang dituduhkan Septi, Kiran tidak akan pernah bisa percaya.


Kiran memejamkan mata untuk mengurangi pening di kepala yang kembali datang. Tangannya meraih tali kalung dan melepas liontinnya, menggenggamnya erat dengan kedua tangan.


"Aku akan merindukanmu, Candra sayang!" bisik Kiran pada liontinnya sebelum memasukkan benda bulat itu ke dalam tempat bedak.


***