Candra Kirana

Candra Kirana
Mimpi tapi Nyata



Kiran tidur lelap, seluruh beban pikirannya lepas bersama gairah yang belakangan terkekang karena banyaknya persoalan. Punggung polosnya menempel ketat di dada sang kekasih yang memeluknya posesif. Selimut sutra tebal menutupi tubuh mereka dari udara beku lereng gunung.


Kiran yang awalnya tak biasa dengan tubuh dingin Candra, kini lebih bisa menerima. Entah karena suhu badannya yang seakan menjadi lebih rendah dari batas normal, atau karena ada faktor lain, Kiran juga tidak begitu paham. Yang jelas dia merasa nyaman-nyaman saja bersentuhan kulit dengan Candra. Khususnya malam ini. Sungguh aneh!


Bukankah seharusnya Kiran lebih terganggu dengan situasi hubungan mereka sekarang?


Candra adalah bangsa memedi, yang berkuasa di lereng selatan gunung, sementara dirinya adalah manusia biasa. Tapi kenapa Kiran tidak bisa memutuskan hubungan mereka? Yang terjadi, Kiran justru asyik terperangkap dalam pergumulan panas dan gila di atas ranjang sang raja.


Tentu saja Kiran tidak bisa menolak Candra, dia bukan orang yang bisa mengendalikan kerja alam bawah sadarnya. Dia hanya mengikuti kehendak kekasihnya. Lagian Kiran sendiri juga memotivasi dirinya agar tidak terbangun dari mimpi karena masih ingin bersama Candra.


Bagaimana tidak? Raja memedi itu terlihat jauh lebih dewasa, dominan dan tampan ketika menggunakan jubah penguasa daripada setelan belel khas petualangnya! Apa daya Kiran sekarang setelah melihat penampakan Candra dengan versi yang berbeda?


Jelas saja Kiran semakin tergila-gila dengan sosok Candra, Cinta dengan sejatuh-jatuhnya. Itulah yang dirasakan Kiran dalam mimpi manisnya.


Kiran masih tidur nyenyak berbantal diary di kamarnya, hawa sirep sudah tidak ada, menyisakan udara hangat di kamar Kiran yang tidak terlalu luas. Sukma Kiran yang ditarik sang kekasih untuk menyeberang dimensi ke kamar pribadi raja sudah kembali ke raga.


Di luar kamar, ayah dan ibu Kiran sibuk mengetuk pintu untuk membangunkan putrinya. Sudah dari dua jam yang lalu mereka berusaha mencari tau aktivitas Kiran di kamar, tapi tidak ada hasil.


Kamar Kiran sepi seperti tak berpenghuni, padahal matahari sudah terbit. Jam dinding berbunyi tujuh kali, kekhawatiran jelas menghantui ayah Kiran. Putrinya itu tidak pernah bangun siang saat di rumah. Jam lima biasanya Kiran sudah bangun untuk membantu ibunya.


“Kiran, Kiran!” panggil sang ayah sambil kembali mengetuk pintu.


Kiran membuka mata malas, tubuhnya terasa lelah dan kurang semangat. Namun, dia tidak bisa mengabaikan panggilan ayahnya yang kali ini lebih berisik dari sebelumnya.


Kiran memperhatikan tubuhnya sebentar sebelum turun dari kasur, mencerna situasi sulit yang sedang menghantam pikirannya. Kiran merasa begitu bodoh ketika menyadari ternyata dia masih berpakaian lengkap. Seingat Kiran, dia tidur dengan kondisi polos dalam pelukan Candra. Di bawah selimut hangat sehalus sutra.


Matahari mengintip lewat celah jendela kamar, jam di atas meja belajar Kiran juga menunjuk angka tujuh lewat beberapa menit. Kiran akhirnya beranjak dan berjalan oleng ke arah pintu.


“Kiran … kamu masih tidur?”


Kiran melongokkan kepala, lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar. “Aku kurang enak badan, Pak! Sakit semua rasanya!”


Ayah Kiran spontan menyentuh dahi putrinya, “Badan kamu kok dingin begini, kamu menggigil?”


Kiran menggeleng, tangannya menghalangi mata yang silau karena pantulan cahaya matahari yang masuk lewat pintu ruang tamu. “Aku mau mandi dulu, Pak!”


“Bapak panggilkan tukang urut ya?”


Kiran menjawab sambil berjalan ke kamar mandi, “Nggak usah, Pak! Aku mau tidur lagi aja setelah sarapan.”


“Sebentar lagi mas Bambang mau datang, sebaiknya kamu sekalian rapi biar bisa sarapan bersama nanti,” kata ayah Kiran mengingatkan.


Kiran menggerutu di dalam kamar mandi, “Kenapa sih dukun itu ikut campur jauh banget urusanku! Udah ruwatan harusnya nggak perlu datang kesini lagi, ganteng-ganteng kok nyebelin!”


Sambil mengguyur tubuhnya yang dingin, Kiran mengamati cermin. Bekas ruam di leher dan bahunya sudah tidak begitu kentara. Tapi ada ruam baru di bagian dada. Kiran meremang mengingat bagian itu adalah tempat Candra membubuhkan gigitan manisnya semalam.


Bagaimana Kiran masih bisa menganggap yang terjadi padanya adalah mimpi jika efeknya terlihat nyata?


Semalam, Candra melamarnya di atas ranjang, tepat setelah sesi kedua berakhir. Candra menyelipkan cincin merah delima di jari manisnya sebagai ikatan. Kiran tak mampu menolak cincin yang sebelumnya diberikan lewat pak Subarkah saat berkunjung ke rumahnya itu.


Otak Kiran sungguh tak mampu mencerna semua kejadian aneh yang menimpa dirinya. Kiran bergumam pelan, “Seharusnya semua ini tidak aneh karena aku memang gila! Aku berhubungan dengan makhluk tak kasat mata bernama Candra dan bercinta dengannya. Sial … bisa-bisa aku jadi pasien rumah sakit jiwa karena ini semua.”


Setelah mandi, Kiran melepas cincinnya di kamar, menyimpannya di tempat bedak. Dia tidak ingin membuat ayahnya tercengang karena benda yang kemarin sudah dibawa pulang pak Subarkah mendadak ada di jari manisnya.


Kiran memakai kaos tebal untuk menyembunyikan liontinnya, Kiran sengaja tak melepasnya karena tidak ingin jauh dari kekasih hantunya. Dengan pulasan bedak tipis dan lipgloss merah muda, Kiran keluar kamar untuk membantu ibunya di warung sambil menunggu mas Bambang datang.


Entah sebuah kebetulan atau bukan, ketika Kiran sedang bengong di warung karena belum ada pembeli yang harus dilayaninya, bu lurah datang mengunjungi warungnya untuk membeli kebutuhan.


Kiran langsung melengos ke arah lain, pura-pura tak melihat saat wanita paruh baya itu turun dari boncengan motor Firman. “Bu … aku masuk dulu ya, kebelet ke belakang!”


Melihat gelagat Kiran yang akan berlari menghindar, ibu Kiran menghalangi. “Jangan cari-cari alasan, Kiran! Kamu boleh ke belakang setelah bertemu Firman!”


Kiran duduk lagi di tempatnya, menyibukkan diri dengan ponsel. Ibunya langsung berakrab-akrab dengan calon besan sambil sesekali melirik Kiran yang tak peduli dengan kehadiran Firman.


“Kiran, ayo kenalan lagi, ini Firman! Kamu pasti belum lupa … dulu sewaktu kamu masih SMP beberapa kali dibarengi Firman pas pulang sekolah!” seru ibu Kiran penuh semangat untuk menjodohkan putrinya.


Hm, Kiran enggan mengingat masa itu. Dia masih terlalu bau kencur saat Firman yang sudah duduk di universitas berusaha menggodanya dengan mengajak jalan-jalan.


Salah siapa Kiran sudah terlihat manis dari sejak duduk di sekolah menengah pertama? Hingga Firman yang sudah dewasa berniat iseng untuk memacarinya.


Firman tersenyum memikat saat mengulurkan tangan. “Gimana kabar kamu, Kiran? Udah gede ya sekarang?!”


“Baik!” Kiran membalas dengan segaris lengkungan bibir yang mengisyaratkan rasa enggan.


Firman menatap seolah Kiran adalah makanan lezat, sementara Kiran merasa jijik dengan sorot mata khas garangan itu.


Sialnya, kedua orang tua mereka memberikan waktu dan kesempatan bagi Kiran dan Firman untuk mengobrol lebih panjang.


Kiran jengah dipuji terus-terusan, telinganya spontan gatal dengan rayuan gombal dan janji manis Firman yang langsung melejit tanpa mengenal batasan. "Kamu cantik sekali, Kiran! Beda banget sama waktu SMP dulu!"


"Sekarang udah pinter dandan makanya cantik!" tukas Kiran asal-asalan. Gadis itu melihat jam tangannya dua kali, bahkan sengaja menguap lebar dan memasang wajah bosan agar perbincangan segera berakhir.


“Kiran sedang nunggu tamu?” tanya Firman pada akhirnya. Gelagat Kiran yang sering kali melihat jalan mengganggu kenyamanannya.


“Iya! Tumben mas Bambang kok telat datangnya,” jawab Kiran kalem, menekankan seolah tamunya sering datang ke rumah.


“Oh … pacar Kiran ya?”


Kiran menoleh ke belakang, “Maaf aku kebelet, Mas! Sambung kapan-kapan lagi ngobrolnya!”


***