
Kiran sampai di kost hampir magrib, kuliahnya cukup padat karena ada jadwal praktikum tambahan. Bukan hanya hari ini, tapi beberapa hari terakhir kesibukannya di dunia akademik memang menyita waktu.
Tidak hanya Kiran, Septi yang kuliah di tempat berbeda juga sepertinya sedang sibuk-sibuknya. Seingat Kiran, sudah dua malam Septi tidak tidur di kost. Alasannya karena Kiran pulang terlalu malam sehingga Septi merasa kesepian. Tidur di rumah bude jadi pilihan.
Hari ini, Kiran pulang lebih sore agar bisa bertemu Septi, mereka juga sudah janjian akan menghabiskan waktu untuk ngerumpi di kost. Kiran ingin sekali bertukar cerita dengan sahabatnya, sekaligus pamer pacar baru. Hatinya yang berbunga karena baru saja jadian dengan Candra sedikitpun belum sempat diungkapkan pada Septi.
Kebetulan mereka berdua besok tidak ada kegiatan di kampus, jadi acara curhat bisa dibuat beberapa jam. Sampai mereka lelah dan tertidur dengan sendirinya.
Ah, Septi pasti takjub saat nanti bertemu Candra. Ya, malam ini adalah malam Sabtu Kliwon yang dijanjikan Candra. Pemuda itu akan datang, dan Kiran ingin membuat kejutan untuk Septi dengan mengenalkan Candra sebagai pengganti Dodi.
Hujan mulai turun saat Kiran membuka pintu. Dilihatnya Septi muncul dari pintu kamar sebelah dengan wajah mengantuk.
"Hujan ya, Ran?" tanya Septi memasang telinga. Lamat-lamat dia mendengarkan rintik air yang jatuh di atap.
"Hm, kamu tidur? Surup ini, Sep!"
"Astaga jemuranku!" Septi berlari ke belakang tanpa menghiraukan Kiran, dia naik tangga ke lantai atas, tempat menjemur pakaian untuk menyelamatkan cuciannya dari air hujan.
Dengan sigap, Septi mengambil pakaian miliknya dan milik Kiran, memindahkan ke tempat yang ada atapnya, banyak yang masih lembab.
Kepalanya sedikit pusing karena bangun mendadak, nafasnya juga masih belum teratur. Naik tangga dengan kecepatan maksimal ternyata membuat dahinya semakin nyut-nyutan. Matanya sedikit buram karena curah hujan yang tak terkendali.
Septi berdiri memandang nanar ke arah tangga turun. Kakinya seolah dipaku oleh penampakan di bawah kawat jemuran yang tadi dilewatinya. Sosok berbaju putih, sedang berdiri memunggunginya, hujan-hujanan tanpa kebasahan.
Rambut kusut masai menjuntai hingga lantai, menutupi sepasang kaki yang tampak hitam di keremangan cahaya. Pada malam hari lampu di lantai itu memang hanya satu yang menyala, dan benda bercahaya itu ada di dekat Septi. Menyorot samar ke arah sosok putih yang hanya serupa dengan bayangan.
Masih belum malam, masih ada sisa cahaya senja berwarna kemerahan di batas cakrawala. Tapi Septi yakin pandangannya tak salah, sosok itu bukan terbentuk dari bias cahaya mentari yang baru menghilang ataupun dari lampu yang memijar di atas kepalanya. Sosok itu nyata ada disana sebagai makhluk yang jelas-jelas bukan manusia.
Septi menelan ludah, jalannya turun harus melewati kuntilanak yang entah mengapa betah berdiri di antara hujan yang semakin menderas. Jangankan untuk berlari menggapai tangga, untuk berdiri saja rasanya lutut Septi sudah sangat lemas. Tenaganya lenyap seketika dan pandangannya mulai berkabut.
"Kiran," bisik Septi dengan suara tertelan hujan. Gemetar dan sedikit menyayat.
Tak disangka, sosok putih itu menoleh ke arah Septi. Memamerkan wajah pucat dan mata hitam serupa lorong dalam kegelapan. Mulutnya yang terlampau lebar menganga, lalu membentuk tawa cekikikan yang suaranya bahkan mampu merontokkan jantung yang mendengarkan.
Septi dilanda panik, harapannya untuk pingsan sama sekali tidak terkabul. Matanya justru tidak mau berkedip menatap kuntilanak yang mulai melayang ke arahnya. Bulu tubuhnya menyentak, berdiri tegak, mengisyaratkan waspada dan rasa takut luar biasa.
"Kiran! Kiran … tolong, Kiran!" Jeritan keras Septi akhirnya keluar, menggema di seluruh lantai jemuran hingga kamar Kiran. Hasilnya, memedi perempuan mengerikan itu menghilang dan Septi mendapatkan kekuatan untuk melarikan diri dari area jemuran.
Septi melangkah cepat, setengah berlari menerabas hujan dan lantai yang bisa saja licin. Dia hampir menabrak Kiran yang tergopoh-gopoh naik tangga karena suara jeritannya.
"Ada apa, Sep!" Kiran dibuat bingung dengan raut Septi yang tegang seperti baru melihat setan. Septi tak menggubris, tetap saja pergi secepat mungkin dari tangga tempat Kiran menatap heran.
Tak kalah gesit, Kiran mengikuti sahabatnya sampai ke dalam kamar. Melihat Septi yang masih belum bisa diajak bicara, Kiran memberikan minum dan juga pijatan di telapak tangan.
Septi masih linglung, keringat bercampur air hujan membasahi wajah pucatnya. Setelah mengelap muka dengan lengannya, Septi malah naik ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya hingga kepala. Menggigil ketakutan.
"Sep, kamu jerit-jerit di atas tadi kenapa? Kamu jangan bikin aku takut dong!"
"Please jangan tanya-tanya dulu, Ran! Aku beneran takut," jawab Septi memejamkan mata di dalam selimut.
"Aku buatin teh anget dulu deh!" Kiran keluar kamar Septi. Sebelum ke dapur, dia naik tangga untuk mengintip apa yang ditakuti Septi di lantai tempat jemuran berada.
Selain hujan dan cipratan air di lantai, Kiran tidak menemukan hal ganjil dalam keremangan malam. Rasa penasarannya terobati, mungkin Septi melihat penampakan, pikir Kiran sederhana.
Septi dan Kiran bisa dibilang setali tiga uang soal rasa takut. Kebiasaan berkeliaran di alam bebas membuat keberanian mereka jauh lebih besar daripada cewek umumnya.
Kiran sadar, meski bukan penakut tapi kadang nyali memang menciut tanpa alasan jelas. Ada saat dimana dia juga merasa takut akan sesuatu yang sulit dijelaskan. Mungkin Septi juga sedang mengalami hal itu. Kiran berpikir untuk menemani dan menghibur, kalau perlu mereka tidur berdua saja malam ini.
"Nih tehnya, anget!" Kiran menyentuh tangan Septi lembut.
"Thanks." Septi duduk di pinggiran ranjang, meneguk minuman buatan Kiran yang tidak terlalu panas. "Kamu baru pulang?"
"Hm, capek banget hari ini. Praktikum dua kali."
"Kalau nggak tidur sini aku mau numpang nginep tempat siapa, Septi?"
"Maksudnya tidur kamarku aja ya! Aku takut, sumpah!" Septi melihat ke arah pintu kamarnya yang terbuka dengan wajah masam. "Tutup pintunya, Ran!"
"Takut apa sih?" tanya Kiran beranjak merapatkan daun pintu.
"Beberapa hari ini aku ngerasa aneh, sering banget lihat penampakan. Sial nggak tuh?"
"Trus? Cakep nggak yang kamu lihat?" tanya Kiran mengikik untuk mencairkan suasana tegang.
"Boro-boro cakep, ini yang aku lihat semuanya parah, ancur plus nyeremin! Perasaan dulu-dulu nggak pernah aku ngalamin hal ini, biar orang lain lihat hantu trus cerita modelnya begini dan begitu, aku itu cuma iyain aja karena nggak pernah lihat."
"Hm, aneh juga! Trus kamu udah cerita ke Surya soal ini?"
"Udah, Surya bilang mungkin mata batin aku kebuka. Sarannya sih suruh nutup lagi, pergi ke orang yang pintar ngurusin hal-hal mistis gitu!"
"Ya coba aja, Sep! Kapan rencananya kamu mau ke orang pintar itu?"
"Surya bilang di daerahnya ada orang sakti yang bisa, tapi kapan aku sempat ke sana coba? Mana jauh lagi."
"Di daerah Surya? Jombang brarti? Kalau Jombang ya kamu pulang bareng aku aja, kamu bisa nginep rumahku setelah dari orang pintar itu. Jombang emang banyak orang pintar, bener itu si Surya!" Kiran menceritakan banyaknya klenik dan penanganan yang berhasil dilakukan oleh orang-orang pintar di kawasan Jombang.
"Mas Bambang kalau nggak salah namanya. Aku pingin ketawa loh, masa iya orang pintar dipanggil mas, biasanya kan mbah atau ki
…."
"Masih muda kali," timpal Kiran.
"Iya, kata Surya umurnya sekitar 30 tahunan."
"Wih … keren tuh, ganteng nggak? Ada istrinya nggak? Kali aja bisa tepe-tepe di sana, Sep!" tukas Kiran cengengesan.
Septi mulai ikut tertawa untuk melepas ketegangan. "Ya ampun, Ran! Masa iya aku godain mas dukun? Yang ada aku kena pelet malah lupa pulang gimana?"
"Agendakan aja kapan bisa ke sana, Sep! Atur waktu pas aku pulang kampung sekalian, biar bisa bareng."
"Iya deh, nanti aku omongin ini ke Surya. Apes beneran, aku sampai mikir kenapa kok aku jadi gini? Salah makan apa salah gaul sama siapa sampai mata tiba-tiba punya penglihatan dua alam. Pokoknya sejak pulang dari klinik aku jadi sering lihat yang aneh-aneh!"
"Dah lupain, makin diinget makin takut kamu nanti. Ntar aku tidur sini, jangan dikunci soalnya aku mau kencan dulu!"
Septi seketika protes, "Kencan? Sama siapa? Kamu mau keluar? Aku sendirian dong di kost!"
Kiran tersenyum lebar, "Di ruang terima tamu depan, Sep! Aku belum cerita ya kalau aku jadian sama Candra?"
"Siapa? Anak kampus kamu? Yang kamu bilang lagi ngejar kamu bukan sih?" cerca Septi tak sabar. Ah, mereka memang melewatkan beberapa hari tanpa mengobrol seperti biasanya.
"Itu mah Andra. Kamu inget cowok macho yang aku ceritain pas aku nyepi di gunung? Namanya Candra, aku ketemu dia beberapa kali."
"Dan kamu jadian secepat itu?"
"Nanti aku kenalin kalau dia datang!"
"Boleh deh! Penasaran jadinya, seganteng apa dia sampai seorang Kiran klepek-klepek begini …."
"Candra nggak cuma ganteng, Sep!"
"Hot?" tanya Septi dengan dua alis naik tinggi.
"Kamu lihat sendiri deh nanti!" Kiran cengar-cengir, tapi pujian nakal itu memang layak untuk pemuda macho yang sedang digilainya.
***