
Teh hangat dan makan malam yang perlahan masuk ke mulut Kiran mulai memberi energi bagi tubuhnya yang kelelahan. Demamnya berangsur turun dan rasa tak nyaman di seluruh tubuh memudar, sesaat setelah Candra memberikan jamu pahitan.
"Kok cuma kita yang makan?" tanya Kiran.
Mereka memang hanya makan berdua. Alasan Candra karena waktu santap malam untuk keluarganya masih satu jam lagi. Sedangkan dia tidak mungkin membiarkan Kiran kedinginan dengan perut keroncongan hanya karena menunggu jam makan malam.
"Kamu bisa masuk angin kalau nggak segera makan!"
Kiran hanya mengangguk membenarkan. Sambil makan, sesekali ekor matanya melihat pintu-pintu kamar yang menghadap meja makan terbuka. Keluarga Candra keluar masuk kamar dalam diam, berjalan ke belakang, dapur atau ke depan rumah tanpa menyapa Kiran sama sekali.
"Keluargamu cuek-cuek ya? Selain ayahmu dan Mak Sinah, aku belum pernah bicara pada yang lain."
Candra nyengir, "Ehm, aku justru kurang suka kalau mereka ramah sama kamu! Bisa-bisa kamu lebih milih meladeni mereka daripada aku!"
Kiran mengerang jengkel, "Candra!"
"Hm, apa yang salah dari pendapatku. Aku boleh cemburu dikit, kan?"
Kiran memerah, tapi terkikik geli. "Kamu kayak ABG labil aja! Kita ngobrol di teras, yuk! Aku udah selesai makannya."
"Nggak capek? Kita bisa ngobrol di kamar, kamu bisa istirahat, baring-baring sambil selimutan!"
Kiran mendelik, "Masih sore, Can! Malu aku sama saudara-saudara kamu! Dateng, makan, ngamar … gila aja!"
"Oke, ayo kita ke depan kalau gitu! Bawa tehnya!" Candra tergelak, tapi tak keberatan dengan ide Kiran untuk nongkrong di teras rumah.
Akan banyak sekali penampakan di luar rumah, Candra khawatir Kiran melihat sesuatu yang bisa membuatnya takut. Satu sisi, Candra tidak bisa menolak keinginan gadisnya. Toh cepat atau lambat Kiran juga akan menyadari lingkungannya berada dan siapa Candra sebenarnya.
Kiran mengekori Candra sambil membawa dua cangkir teh. Mereka duduk di kursi kayu bersebelahan, dipisahkan oleh sejengkal jarak sebagai etika kesopanan di rumah orang. Halah!
Kiran masih malu, dia merasa sebagai tamu yang lancang dan terlalu berani karena datang sendirian saat petang menjelang. Dan jelas saja, ujung-ujungnya dia akan tidur di kamar Candra lagi malam nanti.
"Mau cerita apa?" tanya Candra kalem. Meski sudah tau tujuan Kiran datang, bertanya adalah bentuk perhatian.
Kiran menoleh, memperhatikan wajah tampan Candra di keremangan cahaya. "Aku sama Septi kemarin pergi ke rumah orang pintar di Jombang!"
"Ngapain?" tanya Candra antusias. Siap menyimak apapun yang keluar dari mulut Kiran.
"Ya gara-gara Septi sering lihat penampakan, terus Surya kasih ide untuk datang ke orang yang bisa bantu nutup mata batin!"
"Trus gimana hasilnya?"
"Septi bilang sih udah nggak ada gejala bisa lihat makhluk halus lagi, tapi nggak tau juga, orang baru sehari."
"Ya semoga bisa ditutup permanen," ujar Candra, menanggapi tanpa ada ekspresi ketertarikan dengan cerita Kiran.
"Paranormal muda itu bilang salut sama pacarku, aneh nggak sih?" tanya Kiran sembari mengubah arah duduknya hingga menghadap Candra. "Emang kamu kenal sama dukun Jombang itu?"
Candra menjawab dengan nada enggan, "Siapa? Bambang ya? Aku nggak kenal."
Eh, apa Kiran sudah menyebutkan nama dukun muda yang menangani Septi?
Kiran mengernyit heran, "Kok kamu tau kalau namanya mas Bambang?"
"Loh kan kamu sendiri yang nyebutin namanya tadi," jawab Candra sengaja mengelak dan membuat Kiran bingung.
"Masa? Aku lupa! Kamu tau nggak, mas dukun itu juga tertarik sama liontin ini!" Kiran memegang liontinnya, berusaha menunjukkan pada Candra.
"Coba aku lihat!" Candra mendekat, pura-pura mengamati bentuk liontin itu dari dekat. Tak lama dia tertawa kecil, menatap Kiran dalam-dalam lalu mencium liontin itu. "Benda keberuntungan!"
"Maksudnya gimana, Can?" tanya Kiran semakin tak paham.
"Aku dulu punya liontin seperti ini, tapi hilang saat aku mengalami kecelakaan," terang Candra singkat.
"Aku nemu ini di jalur pendakian."
Candra menatap mata Kiran lagi, "Aku kecelakaan di jalur pendakian, sebelum negeri atas awan."
"Can … kamu nggak lagi ngaku kalau liontin ini punya kamu yang hilang, kan?"
"Kenapa memangnya?" tanya Candra main-main.
"Ya kalau kamu merasa ini milikmu, aku kembalikan!" Kiran bersiap melepas kalungnya.
Kiran termenung, balas melihat wajah Candra yang begitu dekat dengannya. "Jangan bilang kalau ini pertanda jodoh!"
Candra terkekeh-kekeh, mencium pipi Kiran sebentar baru menjawab dengan raut serius. "Aku nggak keberatan berjodoh sama kamu, Sayang!"
Kiran meringis, umurnya belum genap 21 tahun dan Candra menggodanya dengan ungkapan serius. "Bagian mana yang membuatmu tidak berkeberatan? Kita bahkan baru jadian, kenal juga belum satu bulan!"
"Semua!" Candra tidak terdengar seperti sedang menggombal, pemuda itu malah menatapnya dengan intens dan sangat dalam. Cewek mana yang tidak salah paham dengan sikap jantan dan tidak ada unsur main-main itu, heh?
"Semua? Kamu nggak butuh kenal aku lebih lama? Aku banyak kekurangan, Can! Nggak bisa masak, pemalas, cerewet."
Candra menaikkan sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan tipis, "Apalagi?"
"Boros, nggak cantik, suka ngupil sembarangan … pokoknya banyak deh kurangnya!"
"Aku nggak lihat dari apa yang udah kamu sebutkan, aku lebih banyak kurangnya daripada kamu. Yang penting itu … aku cinta sama kamu!"
Kiran spontan cengengesan saat menanggapi, "Aku juga cinta."
"Aku ingin duniaku isinya cuma kamu," lanjut Candra masih saja serius.
"Aku juga," balas Kiran. Kali ini wajahnya juga serius.
"Apalagi yang mau ditanyakan? Wajahmu kelihatan banget kalau masih nyimpan penasaran!"
Kiran mengamati wajah Candra sebelum menjawab, "Aku mau jujur, selain kangen kamu, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku ketahui di sini. Maaf kalau ini kedengaran konyol, aku boleh lihat punden di sebelah rumah kamu ini nggak?"
"Boleh, tapi agak gelap di sana! Tunda sampai besok pagi bisa? Kamu bakal lihat sepuasnya di bawah sinar matahari!"
"Kalau besok nggak ada yang nemenin, kamu kerja, aku juga nggak enak sama ayahmu masa tamu anaknya lihat-lihat punden kayak pengamat aja!"
"Kamu mau besok aku ada di rumah?"
"Wah aku egois dong kalau gitu! Aku mau lihat malam ini aja, besok subuh anterin aku pulang keluar desa cari kendaraan!"
Candra berdiri mengulurkan tangan, "Ayo, bawa lampunya!"
Kiran mengambil lampu badai lalu menyambut tangan Candra. "Aku itu mimpi aneh, aku lihat pasangan suami istri bertengkar di depan punden!"
"Trus kamu penasaran?"
"Ehm … iya, rasa-rasanya pria yang bertengkar itu agak mirip kamu." Kiran menatap wajah Candra cukup lama, lalu mulai melangkah keluar teras. "Ayo!"
"Ohya, seberapa mirip?"
"Masih cakepan kamu, sih!" jawab Kiran berseloroh.
Sampai dekat punden, Candra hanya berdiri mematung, membiarkan Kiran mengelilingi punden memuaskan rasa penasaran sendirian. Kiran berputar sampai dua kali, mengamati dengan teliti tiap sudutnya, dan masih tidak puas. Setelah meletakkan lampu badai di salah satu undakan, Kiran menjauh untuk melihat punden dari jarak yang sama persis dengan mimpinya.
"Iya mirip banget loh, Can! Jangan-jangan mereka memang melakukan pemujaan di sini?"
Candra mengedikkan bahu, menatap lurus sosok yang melayang-layang di belakang Kiran. "Udah selesai belum?"
Kiran menggeleng, tak menyadari ada kuntilanak berdiri miring tepat di belakangnya. "Ehm … kok bau busuk ya, Can? Agak-agak anyir, jangan-jangan ada tikus mati dekat sini."
"Kita masuk yuk, dingin di sini!"
"Sebentar!" Bulu tubuh Kiran menegak seketika, ada udara panas berhembus ringan di sekitar lehernya.
Kiran melonjak kaget, spontan menoleh ke belakang dan menjerit sekuatnya. Candra berlari dan mendekap Kiran secepat kilat, gadisnya histeris ketakutan karena pandangan dua alamnya tiba-tiba terbuka.
Rupanya dukun muda yang dikunjungi Kiran diam-diam membuka mantra Candra. Cerdik, karena hal itu dilakukan dari jauh. Pun saat Kiran sedang bersamanya.
Ah, Kiran pasti tidak sadar apa yang terjadi dengannya saat mas Bambang menjabat erat tangannya sebelum pulang. Mas Bambang memasang pengintai, yaitu satu siluman buaya yang terus mengikuti Kiran pergi. Perewangan dukun muda itu baru pulang ke Jombang setelah Kiran masuk kampung demit.
Sekarang, semua makhluk halus berbagai bentuk dan rupa yang ada di sekitar punden terlihat jelas oleh kedua matanya. Jeritannya semakin menyayat saat menyadari yang mendekapnya bukanlah Candra, tapi memedi paling menakutkan yang pernah dilihat Septi di gang kos-kosan.
Kiran pingsan dalam pelukan wujud terburuk Candra.
***