
"Sep, Septi … Candra datang tuh! Dih malah tidur," gerutu Kiran sembari menepuk lengan Septi yang sudah lelap. "Aku tinggal ke depan kalau gitu! Sorry ya …!"
Tak menunggu Septi bangun, Kiran keluar kamar untuk membukakan pintu. Kiran menyambut kedatangan Candra dengan senyum lebar. Keramahannya terkesan alami saat mempersilahkan Candra masuk ke tempat biasanya anak kost terima tamu pria. "Masuk sini!"
"Lama nunggu ya?" tanya Candra dengan wajah ceria. Senyumnya benar-benar memikat Kiran yang sedang dilanda rindu.
"Iya lumayan, jam sebelas loh ini! Kamu nggak dapet kendaraan apa nggak nemuin alamatku?"
"Muter-muter dulu tadi cari makanan," jawab Candra mengulurkan bungkusan. "Setengahnya emang kemaleman berangkatnya dari rumah!"
Kiran menerima bungkusan dari Candra, membukanya di atas meja agar segera bisa dimakan bersama. "Serius nggak nyasar?"
Candra mengusap kepala Kiran, "Kamu nggak percaya banget sama aku, biar dari pelosok aku pasti tau kamu tinggal dimana, Sayang!"
Kiran tersipu-sipu, menawarkan minum untuk membuang kecanggungan. "Mau aku buatin minum apa? Teh, kopi, susu?"
"Nggak usah repot, aku bawa minum!" Satu botol air mineral dikeluarkan Candra. Pemuda itu juga membuka jaket flanel kotak-kotaknya, melipat asal dan meletakkan di samping tas punggung di lantai ruang tamu. "Kok sepi?"
"Ada Septi di dalem, tapi tidur kayaknya. Tadi ngebet banget nunggu kamu datang, mau kenalan katanya!"
Candra terkekeh ringan, "Kamu nggak malu kalau aku sampai dilihat temanmu? Bisa diketawain kamu punya cowok kampungan kayak aku!"
Kiran bersungut-sungut kesal, "Kok gitu sih ngomongnya? Yang jalanin hubungan ini aku, siapapun nggak berhak menghakimi keputusanku buat jadian sama kamu!"
"Dih gitu aja marah," kata Candra sambil menjejalkan martabak manis ke dalam mulut Kiran.
"Kamu sih, Septi itu bukan orang yang suka ikut campur pribadi teman. Asal aku senang dia juga senang, aku sahabatan dari SMA sama dia, jadi udah kenal banget. Dia anaknya baik, nggak mungkin dia ketawain pilihanku. Aku malah takut dia ikut-ikutan naksir kamu kalau udah kenal," jelas Kiran tak terima. Mulutnya membuka untuk menerima martabak manis setelah uneg-unegnya keluar. "Perasaan dari tadi aku terus yang makan martabaknya!"
"Aku nggak suka makanan manis, tapi kalau cewek manis suka!"
"Garing tau! Kamu kalau nggak suka manis kenapa nggak beli martabak telor aja?"
"Aku beli itu buat kamu, sogokan biar nggak kesel karena lama nunggu hehehe," jawab Candra cengengesan.
Kiran menunjuk pipinya, "Sun sini biar aku nggak kesel!"
Ah, godaan Kiran membuat Candra tertawa lepas. "Kamu selalu blak-blakan ya kalau mau sesuatu?"
"Nggak boleh ya?" Kiran mengusap-usap pipinya, lalu lehernya, mengingat apa yang pernah Candra lakukan di tempat sensitif itu.
"Boleh …." Candra membersihkan bibir Kiran yang berlumuran coklat keju dengan tissue. Hasratnya untuk ikut mengecap sisa martabak di mulut Kiran harus ditahan. Candra memilih mengecup pipi Kiran. Satu detik.
Kiran melongo mendapati fakta menjengkelkan tersebut, "Kamu pelit bener ya jadi cowok, cium pipi aja pake itungan detik!"
"Ntar kebablasan, Kiran! Aku nggak bisa menahan diri kalau berlebihan," kata Candra membela diri.
"Kamu kira aku percaya? Kita di kamar berdua aja nggak ngapa-ngapain! Itu artinya kamu pinter mengendalikan diri."
"Waktu itu kamu masih orang lain! Aku nggak mungkin kurang ajar sama kamu, nanti kamu marah trus ngelaporin aku ke ayah!" terang Candra menahan senyum.
Kiran menukas dengan tatapan tak percaya, "Sekarang aku udah bukan orang lain, jadi kamu takut apa?"
"Aku takut nggak bisa berhenti, bisa bahaya!"
"Banyak alasan!" Bibir Kiran mengerucut tajam. Rasa rindunya ingin terbalaskan dengan sedikit keromantisan, tapi Candra malah bersikap alim dengan tidak mencium lebih lama. "Nggak peka banget jadi cowok, aku itu kangen banget sama kamu, Can!"
"Kamu maunya dicium yang lama ya?" tanya Candra bodoh. Dia agak takut Kiran akan menyadari kalau dirinya tidak bernafas jika terlibat ciuman lebih dalam.
"Perlu gitu ya kamu tanyain itu?"
Ah, Candra terlalu pengecut! Bukankah Kiran setengahnya sudah dalam kuasa cintanya, tak lagi memperdulikan siapa dirinya?
Tapi hati-hati itu perlu, Candra tidak ingin konyol lekas ketahuan jati dirinya meski memiliki kemampuan untuk memanipulasi pikiran gadis itu. Candra butuh perasaan Kiran padanya semakin dalam, cinta yang sejatuh-jatuhnya hingga merasa tak terpisahkan. Sekaligus ingin menikmati sesuatu yang seabad lalu pernah dilaluinya bersama Ayu.
Lagipula mereka baru saja jadian, misal Candra terlalu liar dalam hubungan manis mereka, Kiran juga belum tentu setuju. Candra lebih suka jika Kiran saja yang agresif dan selalu penasaran padanya.
"Aku mau ambil minum deh, kering di sini!" pamit Kiran tiba-tiba. Dia berdiri dari sisi Candra untuk pergi ke dapur.
Kering? Candra tertawa dalam hati. Dia bisa saja membuat Kiran basah dan mengerang menikmati sentuhannya. Tapi jelas hal itu tidak bisa dilakukan sekarang, di tempat yang menurut Candra tidak terlalu aman. Dia butuh ruang pribadi untuk melakukan hal intim seperti itu.
Candra menarik tangan Kiran hingga gadis itu jatuh di pangkuannya. "Kamu marah terus dari tadi, aku datang kesini bukan buat dengerin omelan kamu, Sayang!"
Kiran sontak merangkul Candra untuk menyeimbangkan duduk miringnya. Candra memangkunya seperti bayi besar dan menghujani wajahnya dengan banyak ciuman kilat. Mau tak mau Kiran tertawa karena geli dan merasa lucu dengan situasi yang terjadi pada mereka.
"Aku kangen sama kamu!"
Candra menatap wajah Kiran lama-lama sebelum menjawab dengan suara beratnya, "Aku juga kangen."
Kiran bergidik saat mata mereka beradu, kehampaan dalam bola mata Candra sangat nyata terlihat. Entah masa lalu apa yang pernah dilalui pacarnya itu hingga sirat-sirat kepedihan ada di sana. Tiba-tiba ada rasa iba dalam hati Kiran.
Tanpa Candra bercerita pun, Kiran bisa menebak kalau sesuatu yang disimpan Candra adalah hal buruk. Ekspresi ceria pemuda itu tidak bisa menutupi binar matanya yang selalu kosong.
Kiran memeluk semakin erat, begitu juga Candra. Hidungnya menempel pada rambut Kiran, tepat di atas ubun-ubun, menyesapi wangi manusia khusus yang sangat menarik kaumnya.
Candra juga mencium puncak kepala gadisnya dengan sayang. Janjinya hanya satu, tidak akan membiarkan Kiran dalam bahaya, apalagi dalam kuasa makhluk lain yang juga menginginkan tubuh wangi tersebut.
Ciuman Candra turun sampai kening Kiran, lalu menggelitik ke arah leher tanpa menyentuh bibir Kiran sama sekali. Kecupan-kecupanya tetap panas dan membakar Kiran meskipun dihantarkan oleh bibir yang dingin.
Kiran mulai melenguh resah dan saat itu juga Candra menyudahi kenakalannya. "Can …?"
"Kamu berantakan!" Candra memperbaiki duduk Kiran dan merapikan anak rambutnya. "Nggak enak nanti kalau ada yang lihat."
Kiran turun dari pangkuan Candra dan makan martabak lagi untuk membuang percikan gairahnya. Ketika melirik jam tangan, Kiran spontan mengeluh, "Jamnya cepet banget sih!"
Satu jam untuk berdua serasa hanya lima menit saja bagi Kiran. Meski ibu kost sedang tidak ada tapi Kiran tidak ingin memanfaatkan keadaan. Tengah malam memang batas akhir jam tamu di kostnya.
"Ya udah aku pulang, kamu tidur yang nyenyak ya!" pamit Candra pengertian.
"Tunggu bentar, aku ada sesuatu buat kamu!" Kiran lari masuk ke kamar mengambil kemeja hitam yang dibelinya khusus untuk Candra. Dia juga membangunkan Septi lebih keras lagi agar bisa melihat Candra.
"Apa, Ran?" tanya Septi malas-malasan.
"Itu Candra udah mau pulang, kamu nggak jadi kenalan? Ayo ke depan sekarang!"
"Ngantuk banget, mukaku juga pasti jelek, malu ah!"
"Huh, nggak jelas kamu ini! Ya udah aku ke depan sebentar, mau ngasih kemeja yang aku beli tadi."
Kiran berlari keluar kamar, menyongsong Candra yang sudah berdiri di depan pagar. Kiran menyelipkan bungkusan ke tangan Candra dan menarik jaketnya agar menunduk. Gadis itu mencium pipi Candra penuh cinta sebelum mengucapkan perpisahan.
"Hati-hati, Sayang!"
Candra tersenyum sembari mengusap kepala Kiran. "Sampai ketemu lagi, mimpi yang indah ya!"
"Hm," kata Kiran melambaikan tangan.
Di dalam kamar, Septi menggeliat malas, matanya tidak bisa terbuka dengan sempurna. Hanya saja rasa penasaran dengan pacar Kiran membuatnya melawan rasa kantuk dengan sepenuh tenaga.
Dia tidak berniat kenalan, tapi setidaknya mengintip dari kamarnya. Melihat Candra dari jauh itu cukup untuk sekarang, biar Kiran tidak terlalu kecewa.
Suara pagar berderit karena di tutup sontak membuat Septi bangun dan beranjak dari ranjang. Dengan cepat dia melongokkan kepala ke pintu, menatap depan kost, berharap masih bisa melihat pacar Kiran.
"Ya Tuhan …."
Alih-alih menemukan sosok Candra, mata Septi justru terpaku dengan memedi lemper berpakaian putih yang sedang meloncat-loncat.
***